
Malam hari Nadine baru saja sampai di rumah Iqbal, setelah seharian belajar di kampus dan bekerja di Cafe. Ketika memasuki rumah Iqbal dengan langkah gontai karena kelelahan tiba-tiba saja Zain muncul dan menarik kasar tangan Nadine.
"Kak, lepas...." Nadine berusaha memberontak tapi cekalan tangan Zain terlalu kuat. Zain membawa Nadine ke dalam ruangan kedap suara dan menguncinya. Setelah sampai, Zain baru mau melepaskan tangannya.
"Kak apa-apaan sih kak, main tarik-tarik aja. Tanganku Sakit tahu nggak." Nadine memegangi pergelangan tangannya kemudian menarik-narik gagang pintu berusaha untuk keluar.
"Kakak ngapain bawa aku ke sini???..." Nadine gemetar ketakutan, takut jika Zain akan melakukan hal yang tidak-tidak.
"Toloooooong....Buka pintunya...."Nadine berteriak sembari menggedor-gedor pintu. Nadine mendorong dada Zain yang makin mendekat.
"Percuma teriak. Ruangan ini kedap suara."
"Kakak mau ngapain aku???..." Nadine menatap Zain seperti tatapan kucing malang.
"Mau, tidak mau. Minggu depan kita harus menikah." Ucap Zain dengan tatapan tajam, membuat mulut Nadine menganga mendengar ucapan Zain."Tutup mulutmu." Lanjut Zain.
"Kakak sudah gila ya.... Aku masih mau fokus kuliah, aku nggak mau nikah apa lagi sama kamu." Nadine ngotot menolak ide gila dari Zain, Nadine menatap Zain dengan sebal.
"Aku tidak peduli dengan pola pikir mu. Minggu depan aku tetap akan menikahi mu."
"Kakak nih benar-benar ngeselin banget sih... Kalau aku bilang nggak mau, ya nggak mau."
"Kamu tinggal pilih, menikah denganku atau orang tuamu ku jebloskan ke penjara."
"Deg...." Jantung Nadine terasa mencelos mau keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Kakak tuh jahat banget sih sama orang tuaku. Salah mereka tuh apa sama kakak?... Aku kan sudah bilang akan membayar hutang orang tuaku nyicil." Nadine menangis tersedu-sedu, tangannya memukuli dada Zain bertubi-tubi.
Zain membiarkan Nadine memukulinya hingga puas, hingga pukulan Nadine mulai melemah.
"Hutang bapakmu sudah jatuh tempo 1 bulan yang lalu. Sesuai perjanjian, jika tidak bisa melunasi hutang-hutangnya maka bapakmu harus bersedia di penjarakan."
"Kamu jahat, kak. Kamu jahat, kamu jahat... Hikzzzzz....Hikzzz.... Kakak udah menjebak bapakku yang buta huruf...Hikzzz. Bapakku cuma orang kampung yang nggak tahu apa-apa. Bapak aja nggak tahu kalau hutangnya melejit." Zain segera mendekap Nadine ke dalam pelukannya. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Nadine menangis seperti ini. Dia juga tidak pernah berniat sedikit pun untuk menjebloskan orang tua Nadine ke penjara. Zain hanya menggertak Nadine agar mau menikah dengannya.
"Aku masih mau kuliah kak, aku nggak mau nikah." Nadine masih menangis tersedu-sedu di dalam dekapan hangat Zain. Zain makin memperkuat pelukannya. Nadine tidak ingin melihat bapaknya mendekam di penjara.
"Tidak ada yang berubah jika kita menikah. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Hanya status kita yang berbeda. Aku mencintaimu, aku tidak rela melihatmu dengan laki-laki lain. Sudah ku katakan berulang kali, aku bisa menahan rindu tapi aku tidak bisa menahan cemburu. Aku cemburu melihat mu menerima cintanya." Zain sangat marah ketika melihat pernyataan cinta Dion yang viral di dunia maya. Apa lagi saat Nadine menerima cinta Dion, amarahnya semakin membumbung tinggi sampai ke ubun-ubunnya. Zain tidak ingin kehilangan orang yang di sayanginya untuk yang kesekian kali. Jadi terpaksa Zain melakukan rencana B.
Zain melepaskan pelukannya kemudian menghapus genangan air mata yang membasahi wajah Nadine.
"Nggak mau..." Jawab Nadine dengan suara serak.
"Besok kita pergi ke Bangil, meminta restu pada kedua orang tuamu."
"Nggak mau..." Jawab Nadine dengan kepala menunduk menutupi wajahnya.
"Kalau bapakmu ku jebloskan ke penjara, mau?..." Zain bertanya dengan nada lembut.
"Nggak mau..." Nadine kembali menangis sesegukan, tubuhnya merosot hingga terduduk di atas lantai.
"Sayangnya kamu cuma punya 1 pilihan. Menikah denganku atau melihat bapakmu mendekam di penjara?..."
__ADS_1
"Beri aku waktu untuk berpikir kak???..." Nadine menatap mata Zain dengan tatapan mengiba, berharap Zain berbelas kasih untuk merubah keputusannya.
"Baik, ku berikan kamu waktu 1 detik untuk berpikir."
"Kak...." Nadine merengek, mana ada waktu berpikir hanya 1 detik.
"Waktu mu sudah habis. Jadi kamu mau pilih yang mana?... Melihat bapakmu masuk penjara?...." Zain kembali bertanya dengan nada lembut. Nadine hanya menggeleng.
"Jadi mau menikah dengan ku???...." Beberapa detik Nadine terdiam kemudian mengangguk.
***
Author....
VOTE nya jangan lupa.
Like nya jangan lupa.
favorit jangan lupa.
Kalau bisa hadiahnya Juga jangan lupa.
Wkwkwkwkwk
Siapa yang bahagia di episode kali komentar dong kasih saran kek???....💚💚💚💚
__ADS_1