
ZAIN
Setelah melakukan ijab qobul, hati Zain terasa lega. Perasaan bahagia mengarungi hatinya. Ada perasaan luar biasa yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Pak Taufik membawa Zain ke kamar Nadine.
Ketika Zain hendak memasuki kamar pengantin, pandangannya fokus pada Nadine. Istri barunya terlihat begitu cantik dan menawan. Membuat pikirannya berkelana di atas ranjang. Sudah tidak sabar dia ingin menerjangnya di atas ranjang.
Ketika Nadine menyadari kehadirannya, Nadine terlihat begitu takut dan malu, dapat terlihat jelas ketika Nadine bersembunyi dibalik punggung ibunya. Di mata Zain, tidak ada lagi Nadine yang jutek, tidak ada lagi Nadine yang selalu menatapnya sinis. Yang Zain lihat saat ini adalah Nadine seperti seekor tikus yang terjepit pintu yang ketakutan melihat seekor kucing yang siap memangsanya kapan pun kucing itu mau. Dan kucingnya adalah Zain.
Setelah di bujuk rayu oleh kedua orang tuanya, barulah Nadine bersedia berduaan dengan Zain di dalam kamar. Melihat tingkah Nadine membuat Zain semakin gemas, ingin segera menerkamnya. Sang junior pun sudah meronta-ronta ingin di salurkan.
Perasaan bangga membuncah di hatinya ketika Nadine mencium tangannya. Nadine adalah miliknya, itu sudah jelas dan nyata. Zain menghirup aroma yang menguar dari tubuh Nadine dalam-dalam ketika ia mencium keningnya. Membuat mata dan pikirannya mulai berkabut, Zain menginginkannya saat ini juga.
Nadine menggeser duduknya, namun Zain terus mengejarnya hingga tak ada jarak di antara mereka.
"Ka-Kak sanaan.... Jangan dekat-dekat." Ketika Nadine mendorong dada Zain, gelora yang mengungkung Zain bukannya redup tapi malah berkobar oleh sentuhan tangan Nadine.
__ADS_1
"Istriku sangat cantik. Beruntung aku bisa menikahimu." Ternyata Ucapan Zain membuat Nadine menatapnya, dia terperangah, terkejut, bercampur takut. Zain tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat Zain mengecup bibir Nadine, aksinya membuat Nadine terbelalak.
Ketika Zain hendak menciumnya kembali, Nadine malah kabur. Zain segera mengejarnya dan memeluk Nadine dengan posesif dari belakang, sementara tangan satunya meraih tangan Nadine. Zain sudah tidak tahan. Hasratnya sudah meronta-ronta ingin segera di salurkan. Zain mencium pipi Nadine, hidungnya sudah mengendus-ngendus aroma Nadine yang selalu membuatnya candu. Zain mengeratkan pelukannya. Memberikan isyarat pada Nadine bahwa ia ingin menikmati dirinya.
Seperti ada aliran listrik yang menjalar di tubuh Nadine dan Zain. Dada hangat Zain membuat dada Nadine bergemuruh, begitu posesif Zain membelit tubuhnya. Dalam sekejap membuat Nadine hilang akal sehatnya. Bibir Zain yang menelusuri pipinya membuat Nadine kegelian. Menikmati setiap sentuhan Zain.
"Aku menginginkanmu, seutuhnya. Malam ini."
"Deg..." Jantung Nadine berdegup dengan kencang, akal sehatnya mulai kembali. Ini tidak sesuai dengan perjanjian.
"Katanya dalam perjanjian nggak mau melakukan itu." Ucap Nadine dengan perasaan yang sudah tak karuan sebab gugup melanda.
"Aku tidak pernah berjanji untuk tidak melakukan itu." Jawab Zain dengan suara beratnya, dengan mata yang masih di liputi kabut gairah.
Zain membalik tubuh Nadine hingga menghadap ke arahnya. Namun wajah Nadine berpaling ke samping.
__ADS_1
"Waktu di restoran kakak janji untuk tidak melakukan itu."
"Itu' apa maksudmu???... Kamu menyuruhku berjanji untuk tidak melakukan itu. Bahkan aku tidak mengerti apa yang kamu maksud itu." Nadine yang kesal langsung menghadap wajah Zain, tapi Nadine menyesali itu. Kini hidung mereka saling bersentuhan. Saat Nadine hendak berpaling, namun bibir Zain sudah menyentuh bibirnya yang basah. Tidak ada pergerakan, keduanya sama-sama diam. Hingga satu detik kemudian Zain mulai membuka bibirnya, menggigit-gigit kecil bibir ranum yang terasa manis seperti strawberry.
Nadine mata Nadine terbelalak, ia terkejut. Namun sentuhan lembut bibir Zain membawanya hanyut dan tanpa ia sadari mulai menutup mata. Menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Sangat nikmat, terasa ada aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya, bibir Zain terasa basah, segar beraroma mint. Nikmat bercampur tegang, tangan Nadine terkepal. Merasakan bibir Zain yang terus bergerak menikmati bibirnya. Dari bibir bawah berpindah ke bibir atas. Kenikmatan yang membuat Nadine lupa bagaimana cara bernafas.
Zain melepaskan pagutan bibir mereka. Nadine terengah-engah, menghirup oksigen banyak-banyak. Kakinya masih gemetaran.
Zain meraih tangan Nadine yang mengepal, kemudian meletakkannya di pinggang Zain. Zain kembali merangkum pipi Nadine. Zain mencium kening Nadine, membuat Nadine kembali menutupkan mata, Zain kembali mencium bibir Nadine. Mencecap sembari mengigit kecil bibir itu, membuat bibir Nadine sedikit terbuka. Zain menerobos masuk. Memperdalam ciuman mereka. Ciuman Zain semakin ganas menuntut, tangannya memeluk punggung Nadine, bergerak naik turun. Tidak ada jarak di antara mereka.
Nadine tersentak kaget ketika Zain menyentuh gundukannya. Membuat akal sehat yang tadi sempat terbang hingga ke langit ke tujuh tersadar. Nadine sudah keluar dari alam bawah sadarnya. Nadine segera mendorong dada Zain hingga pagutan bibir mereka terlepas.
"Kenapa???..."
***
__ADS_1
Di skip....puasa😂😂😂🙏🙏🙏