
Kulit kacang, tissue dan pakaian wanita **** berserakan di mana-mana. Zahra mengambil satu kemeja putih pria yang ukurannya sama dengan ukuran suaminya, tergeletak di lantai, ada bercak lipstik membentuk bibir di bagian dada dan lehernya. Zahra memicingkan matanya menatap Dion yang terlihat salah tingkah, dengan tatapan mengintimidasi.
"Ra, itu bukan punyaku." Dion melambaikan kedua tangannya di depan muka untuk meyakinkan istrinya.
"Terus punya siapa?" dadanya kembang kempis, pikirannya sudah traveling kemana-mana. Membayangkannya saja hati Zahra sudah sesak karena di landa rasa cemburu.
"Nggak tau, ku cek CCTV dulu ya. Udah jangan marah." Dion menarik Zahra dan membawanya ke ruang CCTV.
"Siapa dia kak?" tanya Zahra ketika melihat CCTV, seorang pemuda tampan berwajah blesteran membawa wanita cantik berpakaian seksi, berjalan sembari bercumbu menuju kamar.
"Yang laki-laki, Dia sepupuku, namanya Marco."
"Sepupu?..."
"Iya, dia keturunan Indonesia Jerman. Dia kuliah di Amrik. Biasanya dia kesini tiap liburan, mengunjungi nenek tapi lebih sering nginep sini, makanya dia tau kode apartemen ini dari Papa pastinya. Mungkin sekarang balik ke sini karena pernikahanku."
"Dia udah nikah?..."
"Belum."
"Terus siapa perempuan yang dia bawa ke sini?..."
"Mungkin pacarnya!" jawabnya santai.
"Jadi tempat ini di jadikan tempat untuk maksiat." Zahra berkomentar dengan kilat ketidak sukaan.
"Nggak lagi, nanti ku ganti kode pintunya biar dia nggak bisa masuk lagi ke sini. Aku lapar, kayaknya di kulkas masih tersedia makanan instan." Dion berdiri, pergi ke dapur di buntuti Zahra.
__ADS_1
"Sini jangan jauh-jauh." Dion merangkul bahu Zahra. Untung persediaan makanan masih banyak. Waktu itu, Dion dan teman-temannya berbelanja banyak untuk kumpul bareng dan bersenang-senang sebelum melepas masa lajangnya. Mumpung masih satu kampus mereka menikmati kebersamaannya, jika sudah berkeluarga dan bekerja, mereka pasti akan sulit membagi waktu.
Dion mengeluarkan beberapa makanan instan dari dalam kulkas, keduanya begitu kompak saling membantu. Zahra menyalakan kompor, meletakkan penggorengan mengisi dengan minyak goreng dan panci berisi air di kompor yang memiliki dua tungku. Dion membuka bingkisan mie instan, lalu memotong sosis hingga menjadi potongan kecil.
"Wow.... your wife, she is so beautiful." ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, Dion berdiri, menutupi wajah Zahra yang bersembunyi di balik punggung bidangnya.
"Gila Lo ya, bisa-bisanya bawa jal*ng ke sini." ucap Dion dengan nada ketus, dia tak suka apartemennya di jadikan tempat yang tidak senonoh, dia tidak mau basa-basi menunjukkan ketidaksukaannya.
"Ayolah, sepupu datang malah marah-marah. Harusnya senang dong gue kemari."
"Keluar dulu sana, tunggu gue di ruang tamu."
"Ok, ok." Dion menatap punggung Marco hingga hilang di balik pintu. Ia berbalik menatap Zahra yang bibirnya sudah mengerucut lalu tersenyum. Tangannya membelai lembut pucuk kepala Zahra.
"Nggak apa-apa, ada aku di sini."
"Tambahkan porsinya, kita kedatangan tamu. Oya, dia biasa minum apa, kak?"
"Cappucino. Biar aku yang buat." Dion mengambil toples lalu menuangkannya ke dalam gelas dan memasukkan air mendidih.
"Kamu tunggu di sini, aku mau antar ini dulu." ada kilatan ketertarikan di mata Marco pada istrinya, dan Dion tak suka hal itu.
"Ada istri gue di sini. Elo jangan berbuat aneh-aneh atau gue laporkan ke Oma kalo elo bawa cewe kemari."
"It's Ok." jawab Marco sembari angkat tangan seperti seseorang yang tengah di todong pistol.
Dion kembali ke dapur, membantu Zahra menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Kamu makan di kamar, jangan keluar. Dan jangan deket-deket sama dia Walaupun dia saudaraku."
"Iya, kak."
Dion membawa nampan berisi dua porsi makanan dan minuman. Ketika sampai di depan pintu kamar tidur, Dion membuka pintu, Zahra pun masuk.
"Jangan melihat istriku seperti itu." ucap Dion sembari meletakkan hidangan di hadapan Marco. Ia tahu, sejak tadi Marco memperhatikan Zahra.
"Istrimu cantik, kenapa wajahnya di sembunyikan?...."
"Karena aku tidak mau berbagi dengan siapa pun?"
"Hey, jangan menatapku penuh kecurigaan begitu, aku ini saudaramu."
"Aku lebih percaya pada sahabatku daripada kamu."
Marco memicingkan mata, lalu tertawa.
"Masih marah padaku, beda lah. Dia istrimu, yang dulu itu cuma Art." ucap Marco dengan logat bicara bahasa Indonesia yang kaku.
Dion tak suka pada sepupunya ini, dulu waktu masih sekolah kelas 3 SMA mereka sempat bermusuhan, sebab ia pernah memergoki Marco hendak melecehkan seorang gadis yang mabok di pesta pernikahan Omanya, Marco kabur setelah berkelahi dengan Dion. Melihat pakaian yang di kenakan gadis itu sudah acak-acakan, ia mengedarkan matanya mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh gadis itu, tapi tak ia dapati sebab posisinya berada dalam gudang. Terpaksa membuka kemejanya untuk menutupi tubuh gadis itu. Tapi sayang, setelah ia membuka kemeja, Papanya malah memergokinya dan berpikir Dion lah yang berusaha melecehkan gadis itu. Dion di sidang habis-habisan, dan di suruh mempertangungjawabkan dengan menikahi art tersebut. Bahkan Dion menerima tamparan dari sang Papa karena menolak bertanggung jawab, untuk apa mempertanggung jawabkan hal yang tidak pernah Dion lakukan. Untung gadis yang merupakan Art di kediaman Oma sadar lalu menceritakan segalanya, Marco memaksanya meminum alkohol. Setelah mabuk berat, Marco membawanya entah kemana, ia tak terlalu ingat.
Awalnya Marco tak mau mengakuinya, tapi setelah sampai di Amrik dia baru mau jujur sebab tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sejak saat itu Dion membenci Marko karena harus menanggung beban karena perbuatan saudaranya.
Tapi Mama dan Papa membujuk Dion agar tak membenci saudaranya terlebih Marco sudah minta maaf, akhirnya mereka kembali akur walaupun Dion masih memiliki rasa tak suka terhadap saudaranya.
__ADS_1