
"Mmmm... Rencananya saya ingin menikahi Nadine minggu depan, Pak.... Apakah bisa?..." Nadine langsung mendongak dan menatapnya sinis setelah mendengar permintaan dari Zain.
Semua yang mendengar terperangah.
"Kenapa buru-buru?..." Ibu Azizah bertanya.
"Alasan pertama, karena saya sibuk dengan pekerjaan. Jadwal saya terlalu padat, karena saya juga harus mengurusi perusahaan di beberapa cabang."
"Alasan kedua, Nadine kuliah dan jangka liburnya sangat terbatas. Jadi saya rasa waktu yang tepat adalah selama Nadine liburan kampus."
"Alasan ke tiga, saya dan Nadine tinggal satu atap di rumah Tuan Iqbal. Saya hanya takut tidak bisa menjaga pandangan mata saya. Saya ingin setiap saya melihat Nadine maka menjadi nilai pahala untuk kami. Saya ingin segera menghalalkan Nadine supaya saya terhindar dari jeratan dosa." Pak Taufik manggut-manggut mendengar setiap penjelasan yang keluar dari bibir seksi Zain.
"Giliran di depan bapak saja bawa-bawa agama, tau aja kalau bapak orangnya fanatik kalau soal agama. Modus, pinter banget memanfaatkan keadaan. Kalau di Jakarta suka pegang aku sembarangan. Sekarang jadi sok alim." Nadine menggerutu dalam hati, pembawaan Zain di hadapan orang tuanya sangat berbeda dengan karakter Zain yang sebenarnya selalu bersikap dingin. Modus mantu yang ingin lamarannya di terima.
"Saya suka dengan alasan kamu. Tapi Kalau di Jawa menentukan tanggal pernikahan itu sangat penting. Nikah itu tidak bisa gerusa-gerusu, nanti malam ikut bapak ke rumah guru ngaji bapak ya. Kita tanya tanggal baik untuk pernikahan kalian."
"Kalau sekarang saja bagaimana pak???..." Zain sudah tidak sabaran, menunggu kapan tanggal yang akan di tentukan.
"Memangnya nak Zain tidak capek?..."
"Tidak pak?..."
"Ayolah kalau begitu." Zain berdiri mengikuti langkah kaki pak Taufik. Pak Taufik mencoba mengeluarkan sepeda motornya dari teras.
"Biar saya saja pak yang mengeluarkan sepedanya."
"Maaf ya Nak, jadi ngerepotin kamu." Ucap pak Taufik sembari keluar, memberikan Zain kesempatan untuk membantunya.
"Saya yang seharusnya meminta maaf pada bapak karena sudah merepotkan bapak." Jawab Zain sembari mengeluarkan motornya dari teras. Setelah itu Zain menstater motornya dan membonceng calon mertuanya.
Nadine yang melihat keakraban Zain dan bapaknya dari kaca jendela jadi terharu. Mereka berdua terlihat kompak seperti anak dan bapak.
Nadine keluar dari rumah, melihat kepergian mereka berdua. Sejak dulu pak Taufik menginginkan anak laki-laki, sudah berusaha berobat kemana-mana tapi tetap saja Nadine adalah anak tunggal.
"Nduk, calon suamimu itu ya udah ganteng, sopan, kaya, baik lagi. Kok mau ya dia sama kamu?..." Andaikan Bu Azizah tahu bagaimana liciknya Zain menjerat Nadine, pasti beliau menolak lamarannya.
"Nggak tahu Bu. Itu buat apa Bu?..." Nadine menunjuk kotak makanan dan jajanan oleh-oleh dari Zain yang berada di tangan ibunya.
"Oleh-oleh dari calon suamimu. Mau ibu bagiin ke tetangga."
"Sini, biar Nadine yang bagiin."
"Nggak usah Nduk, kamu pasti capek."
"Ah, nggak apa-apa Bu...Sekalian silaturahmi sama teman-teman." Nadine mengambil oleh-oleh dari tangan ibunya.
***
Nadine pergi ke rumah setiap tetangga dan membagikan oleh-oleh.
"Assalamualaikum...."
"Wa alaikumsalam.... Eh, Nadine....Kapan pulang???..."
"Tadi Fa... Kamu apa kabar?..."
"Alhamdulillah baik... Kamu sendiri apa kabar?..." Jawab Ifa, sahabat baik Nadine sejak kecil.
"Alhamdulillah juga baik..."
"Tadi aku lihat bapakmu boncengan sama cowok ganteng. Siapa sih dia?..."
"Calon suamiku."
__ADS_1
"Wiiiihhhh, serius... Ganteng banget..."
"Eh, ada bunga desa ada di sini..." Ucap Samsul menghampiri Nadine kemudian mentoel dagunya.
"Jangan kurang ajar ya Sul..." Protes Nadine.
"Iiiiiihhhhh, nggak berubah... Tetap galak, tapi aku suka." Samsul memandangi tubuh Nadine dari atas hingga ke bawah.
"Eh preman kampung... Nggak usah jelalatan deh, Nadine itu udah punya calon suami." Celetuk Ifa.
"Greb..." Samsul mencekal pergelangan tangan Nadine.
"Lepasin Sul...." Nadine menarik-narik tangannya.
"Beneran, kamu udah punya calon suami?..." Samsul menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bukan urusan kamu..."
"Bug... Aaaaakkkhhh...." Nadine menendang junior Samsul. Kemudian lari terbirit-birit menuju rumahnya.
"Rasain, emang enak..." Ifa masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
***
Tiga pria sedang duduk bersila ruang tamu yang tidak terlalu besar. Yang satu usianya setengah abad. Dan yang satu sekitar 70 tahunan, terlihat dari rambutnya yang memutih.
"Bulan baik untuk pernikahan 2 bulan lagi."
Ucap pak Imron saat melihat penanggalan.
"Apa tidak ada yang waktu yang lebih dekat lagi" Zain bertanya.
"Ada, tapi waktunya terlalu mepet."
"Dua hari lagi."
"Sip.... Lebih cepat dari perkiraan. Tinggal membujuk camer." Gumam Zain dalam hati.
***
Di rumah Nadine semua keluarga berkumpul membicarakan masalah pernikahan.
"Pernikahan akan di lakukan dua hari lagi..." Ucap pak Taufik, Nadine yang mendengarnya terbelalak. Kenapa mendadak sekali. Ibu Azizah tidak setuju karena lusa waktu terlalu mepet, sulit untuk mengurus ini dan itu. Tapi Zain membujuknya, lusa hanya untuk akad nikahnya saja sedangkan resepsi bisa di lakukan kapan saja asal sah dulu nikahnya. Akhirnya seluruh keluarga setuju. Zain memberikan sejumlah uang yang nominalnya cukup besar pada Ibu Azizah, awalnya beliau menolak tapi Zain terus memaksa.
***
Malam hari di kamar, Zain membuka laptopnya dan meretas sistem keamanan Hp Nadine. Kemudian Zain melihat pesan wa dan panggilan yang di lakukan oleh Dion.
Zain membaca satu persatu pesan dari Dion tanpa terlewatkan satu pun.
"Sayang, kenapa kamu putusin aku begitu saja tanpa alasan?..." Zain tersenyum sinis membaca kata 'Sayang' mengetahui Nadine Sudah memutuskan hubungannya dengan Dion hatinya cukup lega.
"Nadine, kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku. Pesanku pun tidak kamu balas."
"Ada apa dengan mu, sayang...." Zain kesal karena Dion selalu memanggil Nadine 'sayang'. Dan masih banyak lagi pesan dari Dion. Ketika tengah sibuk membaca pesan tiba-tiba hp Nadine berdering, panggilan telepon dari Dion. Zain segera mematikannya.
"Besok Aku akan menyusulmu ke kota Bangil."
Zain menulis sesuatu di layar hp Nadine. "Maaf, aku tidak pernah mencintai mu. Jadi jangan pernah memaksakan diri jika tidak ingin ada yang tersakiti."
"Sayang, baru kemarin kamu berjanji akan belajar mencintaiku. Kenapa sekarang mendadak berubah?... Ini terlalu menyakitkan untukku."
"Mencintaiku yang tak mencintaimu adalah seni patah hati yang kau ciptakan sendiri." Balas Zain. Sudah menunggu cukup lama tapi Zain tak kunjung mendapatkan balasan.
__ADS_1
Zain menghubungi anak buahnya agar memantau gerak-gerik Dion. Kemudian menghubungi Iqbal tentang kabar bahagianya.
"Tuan, 2 hari lagi saya dan Nadine akan melangsungkan pernikahan." Ucap Zain.
"Menikah Zain!!!... Dengan Nadine." Jawab Rani begitu antusias. Putri mengamuk dan merebut hpnya dari tangan Iqbal. Maka dari itu hp-nya ia loud speaker hingga Rani bisa mendengar percakapan antara Iqbal dan Zain dengan leluasa.
"Iya Nona."
"Kamu jangan khawatir, aku akan menyiapkan segalanya. Dari seserahan pernikahan hingga tamu undangan, pokoknya kamu tenang saja. Besok aku akan belanja banyak. Aku mau undang Alyn, Alena dan istrinya Khasanuci ya."
"Resepsi pernikahan akan di lakukan lain waktu Nona, dua hari lagi cuma acara akan nikahnya saja."
"Ah, pokoknya untukmu semua harus istimewa."
"Terimakasih nona."
"Kenapa jadi kamu yang kepo Ran?..." Zain segera mematikan teleponnya, sebab Iqbal sedang mode marah. Si sensitif itu sedang cemburu.
***
Pagi hari Bu Azizah mengajak Nadine dan bi Ijah untuk pergi ke pasar, setelah berbelanja begitu banyak bahan-bahan yang di perlukan, Ibu Azizah membawa Nadine ke bidan.
"Ibu ngapain bawa Nadine ke sini?..."
"Sebelum menikah, calon pengantin harus di vaksin ** untuk pencegahan tiga penyakit, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus."
"Iiiiiihhhhh apaan sih Bu, nggak usah lah..."
"Harus...Ayo...." Ibu Azizah menarik tangan Nadine hingga masuk ke klinik. Bi Ijah mengekor di belakang mereka.
"Dok, saya mau suntik KB." Ucap Nadine meringis kesakitan ketika dokter menyuntikkan cairan ke pinggul Nadine.
"Kamu sudah minta izin belum sama suamimu kalau kamu ikut KB?..."
"Belum Bu..."
"Apa-apa itu harus minta izin sama suamimu. Apalagi tentang masalah anak..."
"Aduh, nggak usah lah Bu...."
"Kamu itu harus nurut sama suamimu selama itu baik untuk mu. Ayo telpon, minta izin dulu." Bu Azizah menyerahkan Hpnya pada Nadine kemudian berdiri di depan pintu.
"Assalamu'alaikum...." Setelah melakukan dua panggilan, Zain baru mengangkat teleponnya.
"Wa alaikumsalam...." Jawab Zain.
"Kak..." Nadine menatap ibunya yang sedang memperhatikan dirinya.
"Ada apa?..."
"Aku mau izin, mau suntik KB."
"Tidak boleh."
"Kok nggak boleh sih?..."
"Buat apa suntik KB, tidak ada gunanya. Katanya tidak mau melakukan itu."
"Iya juga ya... Ya sudah deh kalau begitu... Assalamualaikum..."
"Wa alaikumsalam." Nadine turun dari ranjang kemudian mengembalikan Hpnya pada Bu Azizah. Di tempat lain Zain tersenyum memikirkan istri polosnya yang ingin di buat polos setelah menikah.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Pagi hari Ibu Azizah