Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
MIRANDA


__ADS_3

"Dia bukan urusan kita Pak. Lompat lah." Zain berbalik pergi seraya merangkul bahu pak supir, pura pura tak peduli walaupun hatinya ketar ketir. Dia berusaha keluar dari belenggu masa lalunya yang kelam tapi Riska malah mempersulitnya 'Sialan'.


Riska sangat kecewa melihat Zain yang mulai melangkah pergi, dia tidak lagi peduli padanya. Ancaman yang Riska berikan pada Zain tak ada gunanya. Zainnya dulu, yang begitu hangat padanya sudah tidak ada lagi. Yang dia lihat saat ini hanya lah Zain yang dingin dan acuh padanya. Riska hendak turun tapi kakinya malah tergelincir hingga dia terperosok jatuh.


"Aaakkkkhhhhh...." Baru 3 langkah kakinya berpijak dia sudah mendengar teriakan Riska. Zain segera berbalik, dia terkejut saat melihat Riska sudah tidak ada.


Jantung Zain berpacu dengan cepat, dia berlari menuju tempat Riska tadi berdiri. Zain melihat ke bawah jembatan, entah Zain harus menangis atau tertawa melihat Riska bergelantungan. Tangannya berpegangan pada besi jemputan. Dia bernafas lega saat melihat Riska masih di ujung tanduk, belum terjatuh.


"Zain, tolong aku." Ujar Riska dengan suara bergetar, tubuhnya menggigil ketakutan. Sesekali dia melihat ke bawah. Air mengalir begitu deras. Akan membuat siapapun yang jatuh akan hanyut terombang ambing oleh gelombang air sungai yang terjal.


"Zain, aku takut. Aku tidak bisa berenang."


"Tunggu sebentar..." Zain memberikan isyarat pada pak supir untuk tidak ikut campur.


"Tapi Tuan." Ujar sang supir ragu. Tapi Zain tak peduli, dia merogoh saku celananya dan mengambil HP.


"Riska, lihat sini." Ujar Zain, Riska pun mendongak." Cekrek, cekrek, cekrek..." Zain memotret Riska.


"Untuk apa Zain, kamu memotret ku?..."


"Sebelum menolong orang yang terkena musibah, foto dulu, update status di sosmed baru tolong orangnya. Jangan khawatir, wajah mu ku samarkan."


"Zain kamu gila ya..."


"Aku apa kau yang gila!!!... Kau pikir aku tidak tahu, jika kau yang mengempeskan ban mobil ku!..." Ucap Zain sambil mengibaskan ngibaskan ID card milik Riska yang ia temukan di dekat ban mobilnya.


"Zain tolong aku, tangan ku sudah tidak kuat."


"Kau membuat ku semakin ilfil." Ujar Zain kemudian mengulurkan tangannya dan menarik Riska ke atas di bantu oleh pak supir.


Riska selamat tapi tubuhnya masih gemetaran, tiba tiba ia pingsan di hadapan Zain. Terjatuh di atas jalan beraspal. Zain sangat jahat, tidak ada niat sedikitpun untuknya menangkap Riska yang tadi sempat terhuyung.


"Dia sangat merepotkan." Keluh Zain seraya mendesah.


Zain menyuruh supir taksi online tersebut untuk menggendong Riska dan memasukkannya ke dalam mobil bagian penumpang, kemudian Zain memberikan sejumlah uang pada pengemudi supir online tersebut dan menyuruhnya pergi.


Zain mengambil tas milik Riska yang terletak di atas jok mobil bagian depan, dia membongkar isinya.

__ADS_1


"Sial dia tidak membawa identitas diri." Zain yang terlalu lelah dan malas berpikir akhirnya melajukan mobilnya dan membawa Riska ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Zain menghubungi ART yang biasa membersihkan apartemennya agar dia datang kemari dan menemani Riska.


Zain pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, beberapa saat kemudian dia keluar dengan menggunakan handuk kimono. Tubuhnya terlihat segar dengan tetesan air yang menetes dari rambutnya menyusuri leher dan hilang di balik handuk kimono yang ia kenakan. Tangannya sibuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Buatkan aku susu, Bi." Ucap Zain pada ART yang baru saja masuk ke dalam apartemennya.


"Iya Tuan. Jawab Bi Nurul.


"Jika dia bangun, buatkan dia makanan. Setelah itu suruh dia pulang." Ucap Zain.


"Maaf Tuan, siapa maksud anda?..."


"Gadis yang tidur di kamarku."


"Oh baik, Tuan."


"Bagaimana keadaan Miranda?..." Zain bertanya.


"Kenapa kamu tidak mengajaknya kemari?..."


"Maaf Tuan, Dia sedang tidur tidak tega banguninnya. Apa Tuan tidak merindukannya!..Sudah lama anda tidak menemuinya."


"Kapan-kapan saja aku menemuinya, sekarang Aku sangat lelah aku ingin segera istirahat tapi tidak disini di rumah Tuan Iqbal."


"Baik Tuan."


Zain masuk ke dalam kamar, dilihatnya Riska masih terlelap. Dia mengambil pakaian dari dalam lemari kemudian keluar dan berganti pakaian di kamar sebelah.


Tak lama kemudian Zain keluar dari dalam kamar dengan balutan kemeja berwarna hitam putih bergaris horizontal dengan lengan panjang dan celana panjang angkle pants slim fit berwarna hitam serta sepatu berwarna putih.


"Aku keluar dulu bi." Zain berpamitan pada Bi Nurul setelah meneguk susu hingga kandas.


***


Zain mengemudikan mobilnya membelah jalanan malam, terlihat kelap-kelip lampu berpijar berderet di sepanjang jalan, matanya fokus ke depan memperhatikan kendaraan yang menyapu jalanan beraspal.

__ADS_1


Sekian lama perjalanan akhirnya dia sampai di rumah Iqbal, gerbang di buka untuknya. Mobilnya pun melesat masuk menuju parkiran, dia memarkirkan mobilnya berjajar dengan mobil milik bos besarnya.


Zain keluar dari mobil dan mulai melangkah untuk memasuki rumah Iqbal. Langkahnya terhenti di ruang tamu, ada sosok yang tak asing di matanya, dia berkaca tebal dengan rambut yang di kuncir kuda. Gadis itu mondar mandir membaca buku tebal dengan wajah yang menunduk khusu' sepertinya. Terlihat lucu dan menggemaskan.


Entah kenapa kaki Zain tertarik berjalan sendiri menghampiri Nadine yang kini berjalan memunggunginya, di pegangnya rambut kuncir kuda tersebut dengan lembut hingga saat Nadine berjalan rambut itu terseloroh lepas dari genggaman Zain. Nadine berbalik, dia terkejut melihat Zain sudah ada di hadapannya.


Wajah Nadine bersemu merah, dia lari terbirit-birit saat mengingat inside pelukannya bersama dengan Zain. Seulas senyum terbit dari bibir Zain saat melihat rambut kuncir kuda itu bergoyang kiri dan kanan, mengikuti gerakan tubuh Nadine.


***


Pagi hari Riska terbangun, dia mulai membuka matanya, mengerjap-ngerjap mengumpulkan puzzle puzzle kejadian semalam sebelum ia pingsan, matanya nya berkeliaran melihat setiap sudut kamar yang ia tempati. Dia memaksakan diri untuk duduk, kepalanya sakit akibat benturan saat ia terjatuh di aspal.


Dia turun dari ranjang berjalan kesana kemari memperhatikan kan dekorasi kamar dan melihat barang-barang yang ada di kamar tersebut.


Dia melihat di atas nakas bertengger sebuah figura Zain berseragam SMP sedang memeluk gadis kecil berseragam SD adik kandung Zain yang hilang di culik. Dia mengambil figura tersebut dan mengusap lembut wajah Zain.


"Siapa gadis ini, Zain." Gumam Riska.


"Dia Miranda." Ucap Bi Nurul tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Maaf anda siapa?..."


"Saya ART di sini."


"Di mana Zain?..."


"Sejak semalam Tuan Zain keluar. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda. Seperti pesan dari Tuan, Setelah Anda bangun harus segera keluar dari apartemen ini."


"Apakah Zain benar-benar menyuruhmu seperti itu."


"Iya nona." Riska hanya mengangguk kemudian dia keluar mengikuti Bi Nurul ke ruang makan.


Dia tidak langsung duduk di meja makan, dia malah keluar dari meja makan dan berkeliling melihat seluk beluk apartemen. Dan masih di ikuti Bi Nurul, apartemen Zain begitu luas dekorasi modern dengan cat berwarna silver berpadu dengan warna gold tampak maskulin dan dingin mencerminkan karakternya.


***


Jangan lupa like dan komentar

__ADS_1


__ADS_2