
"Buka borgolnya biar lebih menantang." ucap salah satu dari preman itu.
"Tidaaaak, aku mohon jangan lakukan ini padaku. Kasihanilah aku."
***
"Tuan, saya rasa itu sangat keterlaluan. Tidak seharusnya kita melecehkan wanita, apalagi dia sedang hamil. Hancurnya nama baik dan karirnya sudah pasti membuatnya terpuruk. Apalagi orang tuanya yang selalu menjunjung tinggi reputasi keluarga, pasti akan menolak kehadirannya." Cerca Zain setelah Iqbal keluar dari ruangan itu. Zain melewati Iqbal untuk membebaskan Riska.
"Apa kau pikir aku serendah itu." ucapan Iqbal membuat langkahnya terhenti.
"Apa maksud Anda?..."
"Nasibnya tergantung mulut jahatnya." jawab Iqbal kemudian pergi berlalu. Zain berdiri termangu di depan pintu mendengarkan jeritan histeris dari Riska yang terdengar begitu pilu dan permohonan dari Rangga agar tidak menyentuh Riska.
"Zain, maafkan aku. Ini anak Rangga bukan anakmu." Akhirnya kalimat yang di tunggu keluar dari mulut Riska, sungguh melegakan hati. Zain segera memasuki ruangan itu, terlihat para preman sudah menjauhi Riska.
"Ini peringatan untuk kalian berdua agar tidak mengusik hidupku lagi." ucap Zain dengan ekspresi datar sembari membuka jas yang ia kenakan lalu menyampirkannya pada tubuh gemetar Riska yang sedang menangis tergugu, memeluk dirinya sendiri, sebab pakaian yang dia kenakan robek sana-sini.
"Zain, tolong bebaskan kami. Demi bersahabat yang pernah kita jalin di masa lalu." ucap Rangga.
"Pengkhianat seperti mu, tau apa tentang arti persahabatan." Rangga tak lagi berani menyanggah ucapan Zain, dia sadar betul akan kesalahannya di masa lalu.
"Aku mentolerir kesalahanmu karena tengah hamil. Jika masih mengusik hidupku, tidak ada ampun lagi bagimu." Zain menatap Riska. "Bebaskan mereka berdua." titah Zain pada bawahnya dan berlalu pergi.
Rangga menarik Riska ke dalam pelukannya. Menenangkan wanita yang sangat ia cintai yang terlihat begitu menyedihkan, rasanya ia tak akan sanggup jika melihat para preman itu benar-benar melecehkannya.
"Rangga aku takut."
"Maafkan aku yang tak bisa melindungi mu. Berjanji lah kamu tidak akan lagi berhubungan dengan orang-orang seperti mereka. Aku akan selalu ada untukmu." Riska pun mengangguk.
***
Dengan langkah tergopoh-gopoh Zain berjalan melewati koridor menuju apartementnya, tak sabar ingin memberikan kabar gembira pada istrinya.
"Nadine...." kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah memasuki apartemen. Nadine segera keluar dari kamar, menghampiri asal suara. Nadine terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat sang suami melangkah sedikit berlari ke arahnya, menggendong panggulnya hingga tubuhnya terangkat keatas.
"Kakaaaaaakkk..." Nadine memeluk erat kepala Zain di pinggangnya, sebab suaminya itu tertawa bahagia sembari membawa tubuhnya berputar-putar di gendongan Zain.
"Kakak kenapa?... Kepalaku sampai pusing di puter-puter. Turunin." Nadine berteriak.
"Aku sedang bahagia." ucap Zain setelah menurunkan istrinya tapi masih merengkuh pinggangnya erat.
"Bahagia kenapa?..." Nadine mendorong dada suaminya sedikit memberi jarak.
"Hanya kamu yang akan melahirkan anak-anakku."
"Maksudnya?..."
__ADS_1
"Riska mengandung anak Rangga, bukan anakku."
"Serius???..." Senyum langsung mengembang dengan lebar di parasnya yang nyaris sempurna.
"Iya." jawab Zain kemudian mengecup bibir Nadine.
"Emuuacc, Emuuacc, Emuuacc, Emuuacc..." Nadine merangkum wajah suaminya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Zain."Alhamdulillah kak, hatiku plong sekarang." ucap Nadine dengan hati berbunga-bunga. Kepedihannya seketika runtuh setelah mendengar kabar bahagia itu.
"Kamu minta hadiah apa dariku?... Aku akan mengabulkan semua permintaan mu."
"Serius?..."
"Iya."
"Emm... Apa ya, aku bingung."
"Mau bulan madu nggak?..."
"Bulan madu?..."
"Iya, kamu mau bulan madu kemana?..."
"Kemana aja kak, asal sama kakak. Meskipun di pojokan rumah, akan terasa indah."
"Terus kamu mau minta apa dariku."
"Kalau mau bikin anak di kamar aja."
"Hahahaha...." Zain tergelak."Istri ku tambah pintar sekarang. Ayo kita bikin anak." Zain langsung menggendong Nadine dan membawanya memasuki kamar.
***
1 Minggu kemudian Nadine turun dari mobil dengan mata yang tertutup kain berwarna merah, di bawah gelapnya malam bertabur gemerlapnya bintang di langit dengan udara dingin yang menusuk-nusuk kulit.
"Kakak, kita ada di mana?... Kok dingin banget." Nadine memegangi penutup matanya. Sedangkan Zain berada di sisi Nadine, merangkul bahunya, Nadine mengikuti kemana pun langkah Zain mengarahkan dirinya.
Tak lama kemudian Zain mendudukkan Nadine di sebuah kursi lalu membuka penutup mata Nadine. Ketika membuka mata, yang pertama kali Nadine lihat adalah Zain yang tersenyum manis padanya, lalu sajian makanan yang terlihat menggugah selera tertata begitu rapi di atas meja di hadapannya, saat menoleh ke sebelah kanan, gemerlap pijaran lampu kota terlihat begitu indah dari atas bukit.
"Iiiihhh.... So sweet banget...."
"Kamu suka."
"Suka banget. Berasa ada di dunia halu, kayak di film-film. Mimpi apa aku bisa punya suami seromantis kakak."
"Gitu, dulu sok jual mahal. Harusnya kamu bersyukur bisa menikah dengan pria tampan dan **** seperti ku."
"Iiih, kepedean banget sih suamiku."
__ADS_1
"Itu fakta."
"Kak, aku lapar. Boleh nggak aku makan sekarang."
"Boleh. Itu makanan ada untuk di makan kok, bukan untuk di lihatin." jawaban Zain sembari tergelak, membuat Nadine mencebikkan bibir.
Mereka berdua mulai menikmati hidangan yang tersaji, setelah perut terisi, Zain meraih tangan Nadine, membawanya ke tepi bukit untuk menikmati indahnya gemerlap malam. Zain memeluk tubuh Nadine dari belakang, menghangatkan tubuh sang istri yang menggigil kedinginan. Tiba-tiba terdengar suara seperti ledakan lalu bertebaran kembang api di langit yang gelap, membingkai sebuah pola yang begitu menawan. Membuat kebahagiaan di hati Nadine berlipat ganda. Apa lagi letusan terakhir membentuk huruf I LOVE YOU di atas langit. Membuat senyum di bibir Nadine kian merekah.
"Kakak serius, ini indah banget. Baru pertama kali ini lihat langsung di depan mata." tutur Nadine.
"Aku takut kamu seperti kembang api, terlihat begitu indah tapi hadirnya hanya sementara."
"Aku akan selalu ada di sisi mu kak, menemanimu hingga rambut ku usang dan memutih, hingga jiwa ini tak lagi bersemayam dalam raga."
"Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu. Oya, sejak kapan kamu jadi puitis gini?..."
"Iiih, kakak. Nggak bisa di ajak romantis banget sih." Nadine cemberut, setelah menghentakkan kaki. Zain bukannya marah, ia malah semakin gemas melihat tingkah manja dan merajuk istrinya.
"Mukanya nggak usah di cantik-cantikin gitu, bisa nggak..." Zain menggoda Nadine.
"Iiih kakak." Nadine mencubit pinggang Zain, membuat si empunya mengadu kesakitan.
"Aduh duh duh duh.... Sakit sayang, sakit, ampun deh ampun."
"Makanya nggak usah ngeledek."
"Siapa yang ngeledek. Kamu emang beneran cantik kok."
"Udah ih kak, kuping ku tambah mekar nih..."
"Iya, iya.... Tapi aku makin gemes sama kamu kalau lihat bibirmu yang mengerucut."
"Tuh kan lagi." Nadine merengek lagi, dengan kaki yang menghentak tanah.
"Iya, maaf."
Beberapa saat kemudian.
"Maaf ya kak, aku nggak bisa ngebalas semua kebaikan yang kakak berikan untukku."
"Kehadiran dirimu di dalam hidupku adalah anugerah terindah. Sebelum kamu hadir, duniaku terasa gelap dan hampa. Tapi semenjak kamu ada di sisiku, hati dan jiwaku terasa tenang. Hidupku terasa lebih bergairah, indah dan berwarna."
"Ya ampun kak, aku jadi GR." ucap Nadine dengan wajah yang sudah bersemu merah.
***
Selamat menikmati
__ADS_1