
Nadine dan Zain berjalan memasuki apartementnya, mereka melewati lobby menuju lift. Kini mereka sudah berada di dalam kotak besi yang naik menuju lantai 11.
"Kakak banyak duit ya, sudah bisa beli rumah sendiri."
"Nggak juga, cuma rumah kecil hadiah dari Tuan Iqbal."
"Katanya beli rumah sendiri." Nadine mencebikkan bibirnya.
"Iya, aku yang pilih. Tuan Iqbal yang bayar." Zain terkekeh.
Mereka terus melangkah melewati koridor yang kanan dan kirinya terdapat pintu saling berhadapan sembari berbincang-bincang, Ketika mereka berdua berbelok di persimpangan koridor, Nadine menangkap sosok Riska yang memasuki pintu apartemen tepat di depan apartemen pribadi milik suaminya. Hatinya marah, cemburu dan terluka. Bisa-bisanya Zain satu apartemen dengan wanita murahan itu. Apakah Zain dan wanita itu masih memiliki hubungan terlarang? Siapa wanita itu? Kenapa Zain menikahi Nadine setelah meniduri wanita itu?... Pikiran buruk terus berkecamuk di benak Nadine, tak mau berlama-lama menduga-duga, Nadine memutuskan meminta jawaban pasti dari Zain ketika nanti sudah sampai di apartemennya.
Zain masuk ke dalam apartemen, Nadine masih mengekorinya. Setelah Zain menghempaskan bokongnya di sofa, Nadine menghela nafas sedalam-dalamnya. Berusaha menenangkan gejolak yang sedang bertempur di hatinya. Antara mau memaafkan masa lalu Zain dan meninggalkan Zain jika mereka berdua ternyata masih memiliki hubungan.
"Kemari lah..." Zain menepuk-nepuk sofa tepat di sampingnya kemudian menarik tangan Nadine yang masih berdiri, hingga terduduk di sampingnya.
"Siapa wanita itu, kak?..." Nadine bertanya dengan mata yang sudah mengembun, nafasnya terasa sesak menantikan jawaban dari Zain.
"Siapa maksud mu?..." tanya Zain lalu mencium bibir Nadine.
"Wanita yang tadi masuk di apartemen depan kakak." Nadine menjelaskan lebih rinci setelah mendorong dada suaminya agar melepaskan tautan bibir mereka.
"Riska?..." Zain bertanya untuk memastikan, tangannya masih sibuk menggoda Nadine.
"Kakak masih berhubungan sama dia?..." Hatinya sangat sakit ketika mengingat bagaimana Zain dan Riska tidur satu ranjang tanpa mengenakan busana.
"Hubungan kami sudah lama berakhir." jawab Zain dengan entengnya, Nadine menahan dada suaminya ketika ia hendak mencium Nadine kembali.
"Bisa-bisanya ya kak, kalian berdua tinggal di apartemen yang sama, berhadapan lagi."
"Lalu apa masalahnya?..." jawab Zain dengan begitu santainya. Seketika Nadine langsung menepis tangan Zain. Nadine marah, setelah tidur dengan wanita itu, tinggal di apartemen yang sama dan saling berhadapan, masih bertanya apa masalahnya? Dasar suami tak peka.
"Kalau kakak masih berhubungan sama dia, ceraikan aku saat itu juga." ujar Nadine bangkit dari sofa.
__ADS_1
"Kamu bicara apa?... Kalau bicara jangan sembarangan." Sentak Zain yang tersulut emosi karena ucapan Nadine.
Buliran air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluncur juga, rasa cemburu menyeruak menguasai hati, menyiksa batinnya. Terlebih Zain membentaknya.
"Enak ya kalau jadi cowok, abis kumpul kebo masih bisa santai kayak nggak terjadi apa-apa."
"Nadine, kamu itu kenapa?... Kenapa tiba-tiba bicaramu jadi ngelantur kemana-mana." Zain berdiri lalu memegangi kedua bahu Nadine, mencoba bersikap tenang, menghadapi istrinya yang sedang merajuk tak jelas.
"Memangnya berapa banyak wanita yang pernah kamu tiduri kak?..." Zain mendorong tubuh Nadine hingga terjatuh di atas sofa. Menindihnya dan ******* habis bibir yang sudah bicara sepahit empedu, Zain menciumnya dengan brutal seolah-olah sedang membersihkan mulut pedas istrinya. Jemarinya meremas jemari Nadine hingga buku-buku jari keduanya memutih, seolah Zain sedang meremas semua emosi dan rasa sakit hati atas penghinaan sang istri.
"Perbaiki kosa katamu pada suami." ucap Zain setelah melepas tautan bibir mereka. Air mata semakin deras mengucur, rasa cemburu, takut kehilangan dan sakit hati membaur jadi satu. Membayangkan Zain ada main di belakang Nadine membuat luka hatinya kian menganga, apa lagi ketika membayangkan Zain dan Riska bertemu di apartemen yang sama setiap hari. Bagai luka yang masih basah malah di taburi garam.
"Aku tanya, berapa banyak wanita yang kamu tiduri?..." rupanya Nadine masih marah.
"Demi Allah kamulah satu-satunya wanita yang aku tiduri. Aku tidak pernah mau melecehkan wanita karena aku takut seseorang juga akan melecehkan adikku yang hilang." ujar Zain dengan berang, tiap mengingat Miranda hatinya selalu sakit apalagi dengan Nadine yang tiba-tiba meminta cerai tanpa alasan.
"Halah, munafik. Masih ngeles. Dengan mata kepala ku sendiri, aku lihat kamu tidur satu ranjang tanpa busana dengan wanita itu. Dan sekarang masih mengelak."
"Kalau kamu sedang bermimpi jangan di bawa di dunia nyata." Zain berteriak tak kalah kesalnya.
"Ini bukan akal-akalan mu untuk bisa pergi dari ku kan, supaya kamu bisa kembali pada mantan kekasih mu itu." ucap Zain lirih, dengan tatapan menelisik mencari kebenaran. Nadine menghentikan langkahnya karena tersinggung atas ucapan Zain.
"Memangnya kakak pikir aku wanita macam apa?..." Nadine menatap Zain dengan tatapan sinis.
"Begitu saja marah, apalagi aku yang kamu tuduh suka meniduri banyak wanita."
Nadine tak menjawab, dia sudah malas berdebat dengan suaminya.
"Mau kemana?..." Zain menarik pergelangan tangan Nadine.
"Bukan urusanmu."
"Aku suamimu, Nadine."
__ADS_1
"Suami macam apa?... Suami hidung belang. Sudah tahu salah, bukannya minta maaf, masih aja ngeles. Kamu itu suami menyebalkan, HIDUP LAGI."
"Kalau aku mati kamu jadi janda...Huuuuufffhhh." batin Zain lalu menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Zain mencoba bersikap bijaksana menghadapi ABG labil, walaupun bagaimana pun Nadine masih lah remaja, jiwanya masih bergejolak. Zain menarik Nadine ke dalam pelukannya.
"Ok, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu. Tapi kenapa tiba-tiba kamu marah dan kamu menuduhku suka meniduri banyak wanita. Aku akui, aku suka meniduri mu, tapi hanya kamu. Tidak ada yang lain." Harusnya sejak tadi Zain bersikap tenang, bukannya ikut marah-marah. Karena dia begitu larut dalam emosi atas hinaan sang istri membuat Zain tak bisa mengontrol diri.
"Lah emang bener kan, aku lihat sendiri dengan mata kepalaku, kamu sama wanita itu tidur tanpa pakaian. Udah tahu ketahuan, masih aja ngeles. Atau jangan-jangan kalian masih berhubungan, buktinya apartemen kalian berhadapan. Kalau kakak berani bercinta dengan wanita itu, kenapa kakak menikahi ku?... Apa tujuan kakak yang sebenarnya?... Atau jangan-jangan, dia itu juga istrimu?..." Nadine makin menangis tersedu-sedu dengan segala praduganya.
"Pusing kepala ku dengar ocehanmu yang tidak jelas. Aku tidak pernah meniduri wanita manapun kecuali kamu. Bagaimana caranya aku membuatmu percaya." Zain mengusap lembut kepala Nadine, melepaskan pelukannya lalu menghapus bulir air yang semakin membanjiri pipi Nadine.
"Orang aku lihat sendiri kok, pas aku ambil tasku yang ketinggalan di sini." Nadine menunjuk ke arah sofa tempat tasnya waktu itu bertengger. "Terus aku lihat kakak tidur sama wanita itu di sana. Kalian berdua nggak pakai baju. Kakak peluk dia dari belakang. Emang kalian abis ngapain?... Nggak mungkin kan cuma main TTS doang." lalu Nadine menunjuk kamar Zain.
"Huuuuufffhhh, berarti pas di hari ulang tahunmu." Zain kembali menghela nafas dan bertanya. Nadine pun mengangguk. Zain menghapus bulir air mata yang membanjiri wajah Nadine lalu mengecup keningnya."Sudah ya sayang, jangan menangis lagi. Aku minta maaf karena sudah kasar padamu. Daripada Kita berdebat, lebih baik buktikan ucapanmu benar apa tidaknya lewat CCTV."
"Apartemen ini ada CCTV nya?..." Nadine bertanya dengan nada yang lebih tenang setelah Zain bersikap lembut padanya. Ya, itulah wanita, jika di kasari akan semakin kasar.
"Ada, kecuali kamar tidur dan kamar mandi. Kemari lah." Zain menarik pinggang Nadine hingga tubuh mereka tak berjarak, udara pun tak memiliki celah untuk memisahkan mereka.
Zain mengeluarkan Hp dari saku celananya. Membuka aplikasi yang menyambungkan rekaman CCTV lewat Hpnya.
Zain melihat Riska masuk ke kamar dalam waktu beberapa menit, kemudian keluar dari kamar menuju pintu masuk apartementnya dan membuka kuncinya. Tapi Riska urung keluar dan seperti menguping di balik pintu. Zain masih belum mengerti kenapa Riska urung keluar dari apartemennya dan siapa yang ada di depan pintu apartemen.
Sedetik kemudian, Riska lari terbirit-birit menuju sofa ruang tamu dan menuangkan obat di sapu tangan. Secepat kilat Riska memasuki kamar Zain. Zain masih belum mengerti apa yang Riska lakukan di dalam kamar tanpa adanya CCTV. Besar dugaan Zain, mungkin Riska tengah membiusnya. Tak lama kemudian Nadine masuk ke dalam apartementnya lalu berjalan menuju sofa untuk mengambil tasnya.
Nadine melangkah menuju kamar kemudian menangis tersedu-sedu di depan kamar Zain. Zain mengepalkan tangannya, gerahamnya mengeras, emosinya meluap-luap melihat rekaman CCTV itu. Zain menatap Nadine dengan tajam.
"Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini padaku."
"Kak, maaf aku sudah salah paham." Nadine menunduk merasa bersalah.
"Apa yang kamu lihat di dalam kamar itu." Nadine terlihat ragu, melihat raut wajah Zain yang sudah merah menahan amarah. Nadine takut jika suaminya akan mencelakai Riska.
***
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI