Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
RENCANA DION


__ADS_3

"Kakak, suka baca karya Kahlil Gibran ya?..." Zahra melirik sekilas buku yang Zain pegang.


"Tidak. Ini Nadine yang minta. Kamu mau?..." Zain mengalihkan pandangannya pada buku karya Kahlil Gibran.


"Katanya untuk Nadine?..."


"Tidak apa. Aku bisa ambil lagi." Zain menyodorkan buku yang tebalnya berkisar 5cm itu pada Zahra.


"Dari mana aja kamu Ra, ku cariin juga..." Tiba-tiba Dion datang, memotong interaksi antara Zahra dan Zain. Dion menyeret tas Zahra, hingga terpaksa kakinya terseret mengikuti langkah kaki Dion, menjauh dari Zain yang tak berkedip memperhatikan sikap Dion yang sewenang-wenang. Dion tak suka Zahra dekat dengan Zain.


"Kak, kenapa sih hobi banget nyeret-nyeret aku kaya' nyeret koper aja."


"Memangnya kamu mau, kita Pegangan tangan?..." Zahra hanya menggelengkan kepala.


Dion membawa Zahra menuju kasir dan membayar semua buku-buku yang mereka pilih. Karena suasana hati Dion sedang tak nyaman, ia langsung membawa Zahra pulang.


***


Selama satu Minggu Zahra bekerja di butik, Mama Dion selalu memperhatikan gadis cantik itu. Dia sangat rajin dalam bekerja, serta komunikasi dengan para pelanggannya juga sangat baik. Pelayanan prima Zahra terhadap pelanggan sangat memuaskan. Hal yang Mama Dion sukai adalah Zahra selalu tepat waktu dalam melakukan ibadah, sungguh calon menantu idaman.


Setiap malam Dion selalu menjemput Zahra, walaupun Zahra selalu menolak tapi Dion tetep kekeh memaksa, dengan alasan bahaya jika seorang gadis keluar malam sendirian.


Hari ini adalah hari ulang tahun Dion, sang Mama ingin memberikan kejutan istimewa pada putra semata wayangnya.


Mama Dion sudah menunggu Zahra di taman kampus, semalam sebelum pulang bekerja mereka berdua sudah janjian untuk bertemu di sana.


"Assalamualaikum." Sapa Zahra yang tiba-tiba muncul di hadapan Mama Dion.


"Wa alaikumsalam."


"Maaf Bu, bikin ibu nunggu lama."


"Nggak kok, saya baru saja sampai. Kalau begitu ayo." Mama Dion beranjak dari kursi taman di ikuti oleh Zahra hingga memasuki mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di parkiran mobil.


***


Mobil sudah sampai di pekarangan rumah Dion. Zahra turun dari mobil, ia melihat sekeliling, memperhatikan halaman yang begitu luas dan indah.


Mama Dion membawa Zahra memasuki rumah Dion yang begitu besar, dia terkagum-kagum melihat kemewahan yang di isi dengan barang-barang mewah. Langkah mereka tertuju pada dapur.


"Kita mau ngapain di sini Bu." Zahra kebingungan, sebab semalaman mama Dion hanya mengatakan akan melakukan pekerjaan di luar butik.


"Kita akan masak." jawab Mama Dion yang ingin mencicipi masakan buatan tangan calon mantu.


"Masak???..." Zahra mengulang Ucapan bosnya untuk memastikan, kenapa Zahra harus memasak, bukannya pekerjaan Zahra sebagai pramuniaga di butiknya.


"Iya. Hari ini anak saya ulang tahun. Saya ingin masak sesuatu yang istimewa untuknya dan saya ingin kamu yang memasak untuknya."


"Kenapa harus saya, Bu."


"Iya, kenapa ya?..." Mama Dion terkekeh dan balik bertanya."Ya Sudah ayo mulai masaknya, keburu dia datang.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi Zahra mulai meracik bumbu yang di berikan, sementara Mama Dion memperhatikan Zahra yang sedang membersihkan ikan dan merajangnya. Gadis itu begitu cekatan, seperti seorang istri yang terbiasa memasak untuk suaminya.


"Aaakkkkhhhhh...." Baju Zahra dan hijab basah karena kerudungnya terkait pada panci yang berisi air, beruntung airnya sudah tak mendidih.


"Wah, Zahra baju kamu basah. Ayo ikut saya ke kamar."


"Iya Bu..."


Sesampainya di kamar, Mama Dion memberikan Zahra baju dan hijab miliknya, lalu menyuruhnya berganti pakaian di dalam kamar mandi. Kebetulan sekali postur tubuh mereka hampir sama.


"Wah, ukurannya pas ya."


"Iya Bu."


***


Di dapur, sesuai instruksi dari bosnya, Zahra membuat adonan untuk membuat kue tart rasa brownis kesukaan Dion.


"Zahra, saya tinggal sebentar ya, mau terima telepon dulu."


"Iya."


Setelah kepergian Mama Dion, Zahra kembali berkutat dengan adonan kuenya.


Dion masuk mengendap-endap ke dalam dapur ingin mengejutkan Mama yang sedang memasak.


"Daaaaa....." Dengan penuh semangat Dion menepuk pundak Zahra, membuat si empunya terkejut dan melemparkan tepung ke wajah Dion.


"Aaaww...." pekik Dion menggetok kepala Dion dengan entong nasi.


"Heh, kalian berdua ngapain?..." Mama terkejut melihat penampakan putranya. Dion tak menjawab, dia malah pergi meninggalkan Zahra dan mamanya.


"Maaf Bu, dia siapa ya?..."


"Itu anak saya yang mau ulang tahun hari ini. Kacau nih kejutannya." ucap Mama Dion, bukannya marah dia malah merasa lucu melihat wajah Dion karena ulah Zahra.


"Maaf Bu, dia udah terkejut karena ulah saya."


"Sudah, tidak apa-apa. Kita makan malam bersama aja."


***


Setelah semua makanan di hidangkan di atas meja, Zahra bertanya pada bosnya tentang pekerjaan apa lagi yang harus ia lakukan. Tapi sang bos malah menyuruhnya duduk di meja makan untuk menunggu suami dan putranya.


Zahra terkejut ketika melihat Dion berjalan di sisi seorang pria paruh baya menuju meja makan.


"Jangan terkejut, Dion anak saya." Ucap Mama Dion membuat Zahra semakin tak percaya.


"Biasa aja ekspresinya nggak usah kayak gitu."ucap Dion menatap Zahra yang cemberut sembari duduk di kursi yang berada di samping Zahra. Zahra tak berani menjawab, sebab tahu posisinya dimana.


"Zahra, ambilkan aku nasi dan rawon." pinta Dion. Zahra pun segera melakukan instruksi sesuai permintaan Dion.

__ADS_1


"Zahra, ayo makan." ucap Mama Dion yang menyadari bahwa Zahra sedang canggung berada di sekitar keluarga kecilnya.


"Iya Bu."


"Nggak usah malu-malu. Anggap seperti keluarga sendiri." ucap Papa Dion.


"Hemmm.... Enak banget masakan ini. Siapa yang masak?..." tanya Dion.


"Zahra." jawab Mama.


"Wah, hebat kamu Ra." ucap Dion dengan mulut yang masih terisi penuh dengan makanan.


"Cocok kan, jadi istrimu."


"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk..." Zahra dan Dion sama-sama tersedak ketika mendengar ucapan sang Mama.


Zahra dan Dion sama-sama meraih gelas yang sama tak sengaja tangannya bersentuhan.


"Kamu minum duluan." Dion mengalah dan memberikan segelas air minum pada Zahra.


"Ini Yon." Papa Dion menyerahkan segelas air putih miliknya pada Dion.


Dion dan Zahra sama-sama salah tingkah untuk beberapa saat. Zahra terharu memperhatikan kebahagiaan keluarga kecil Dion, perhatian dan kasih sayang yang orang tuanya berikan pada Dion sangatlah besar. Ia mengenang masa lalunya yang tidak jelas, membuat pandangan matanya kabur karena genangan air mata. Zahra segera menyeka air matanya sebelum terjatuh. Namun sayang, aksinya tertangkap basah oleh Dion.


Setelah jam menunjukkan pukul 8 malam, Zahra berpamitan untuk pulang. Mama Dion memberikan begitu banyak oleh-oleh pada Zahra, tak lupa beliau juga memberikan makanan yang di masak oleh Zahra.


***


"Zahra, kamu kenapa bersedih?... Apa aku dan keluargaku ada salah atau ada kata yang menyinggung hati kamu." tanya Dion, pandangan matanya masih fokus ke depan melihat jalanan.


"Nggak kok kak, keluarga kakak baik banget orangnya."


"Terus kenapa kamu sedih?..."


"Aku sedih karena tidak ingat masa kecilku kak."


"Katamu masa kecilmu tidak penting."


"Tapi sekarang penting kak."


"Kenapa mendadak berubah?..."


Zahra terdiam sejenak, pandangan matanya kosong menatap ke jendela mobil.


"Ternyata aku cuma anak angkat orang tuaku. Mereka menemukanku di jalan saat keadaanku tidak ingat apapun."


"APA?... Kamu serius?..."


"Iya. Aku nggak punya info apapun untuk mencari keluarga ku yang sebenarnya."


"Apa kamu punya foto masa kecil mu?... Kita bisa upload foto kecilmu di sosmed. Siapa tahu ada yang mengenal mu?..."

__ADS_1


__ADS_2