
Rani tersenyum getir, membayangkan betapa terlukanya dan rasa bersalah yang menghantui Zain hingga tiap doanya dia selalu meneteskan air mata. Rani menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.
Rani mulai menceritakan masa lalu kelam Zain. Nadine mendengarkan dengan seksama setiap detailnya.
Sejak kecil Zain tinggal bersama dengan neneknya. Sedangkan orang tuanya tinggal di luar negeri untuk bekerja. Ketika orang tuanya kembali ke tanah air, mereka membawa gadis kecil berumur 2 tahun namanya Miranda. Mereka bilang itu putrinya.
Baru beberapa bulan tinggal di Indonesia mereka sudah kembali lagi ke luar negeri, meninggalkan Miranda bersama dengan Zain dan neneknya.
Waktu Miranda berumur 4 tahun, Zain mengajaknya jalan-jalan ke pasar malam. Dia yang sibuk memilih baju dan sandal untuk adiknya jadi lengah. Saat melihat ke samping Miranda sudah tidak ada. Dia sudah mencarinya kemana mana tapi tidak di temukan. Mengelilingi pasar malam, setiap tempat dan setiap sudut, Miranda tetap tidak di temukan. Zain sudah mencari Miranda kemana-mana, tapi tetap tidak ditemukan.
Zain selalu menyalahkan dirinya sendiri, rasa bersalah terus menghantuinya. Setelah mengetahui kabar hilangnya Miranda, orang tua Zain kembali ke Indonesia.
Kehadiran orang tuanya semakin membuat rasa bersalah Zain melebar dan terkoyak. Dia berharap kedua orangtuanya memarahinya dan memukulinya, berharap dengan itu rasa sakit di hati Zain bisa gugur sedikit demi sedikit. Tapi tangisan sang ibu pecah, tak rela, tak ikhlas, tak terima membayangkan bagaimana nasib Miranda. Bagaimana jika dia di jual, di sakiti, di jadikan pengemis. Pikiran buruk terus bergelayut di pikirannya, membuat hati semua orang hancur.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, kedua orang tua Zain mengalami kecelakaan hingga menyebabkan mereka kehilangan nyawa. Lengkap sudah penderitaan Zain.
Meratap, menyesal, dan hancur. Itulah beban yang selama ini Zain pikul. Setelah kehilangan Miranda, dia juga kehilangan orang tuanya. Kematian adalah takdir dan sudah jelas. Sedangkan hilangnya Miranda tentu masih jadi beban tersendiri bagi seorang Zain, sebab tidak jelas seperti apa nasib yang di alami adiknya.
Zain sering pergi ke pasar malam, berharap bisa bertemu dengan adik kecilnya kembali walaupun itu tidak mungkin.
***
Setelah Zain sukses...
Setiap satu bulan sekali, Zain akan pergi ke panti asuhan untuk mendonasikan sebagian uangnya. Entah kenapa dengan melakukan hal itu membuat hatinya sedikit lebih lega.
Apa lagi ketika melihat balita kecil berumur 3 tahun bernama Miranda. Dia cantik dan cerdas. Di usianya yang kecil dia bisa menghafal dan mengikuti lantunan sholawat dan doa doa yang terdengar dari Madrasah dan masjid yang tempatnya berderet dengan panti. Karena terbiasa mendengar jadilah ia hafal dengan sendirinya. Maka dari itu Zain mengadopsinya, tidak ingin Miranda di rawat oleh orang lain, apalagi namanya sama dengan adiknya yang hilang.
Kini usia Miranda adik adopsinya sudah genap 5 tahun. Dia gadis yang cerdas. Terbukti dari nilai sekolahnya yang selalu mendapat peringkat satu.
__ADS_1
Nadine merasa iba dengan apa yang sudah di alami oleh Zain dan adiknya. Dia tidak menyangka jika Zain pernah mengalami masa-masa sulit karena Kehilangan adiknya. Nadine mulai membanding-bandingkan nasibnya dan nasib Zain. Walaupun Nadine bukan orang kaya tapi dia selalu di kelilingi oleh orang orang yang selalu menyayanginya dan selalu ada untuknya. Memikirkan hal itu membuat matanya berkaca-kaca, seolah bisa merasakan kesedihan yang Zain rasakan.
"Lalu neneknya kak Zain di mana kak?..."
"Sudah lama meninggal, saat Zain masih duduk di bangku kuliah."
"Seperti apa ya wajahnya Miranda yang hilang?..."
"Kenapa?... Buat apa?..." Rani bertanya.
"Ya, siapa tahu ketemu aku kak..."
Rani tersenyum di buatnya, pandangannya teduh menatap wajah Nadine.
"Miranda, adik Zain yang hilang itu sangat cantik." Ujar Rani dengan tatapan kosong, menerawang entah kemana.
"Kakak emang pernah ketemu sama adiknya kak Zain?..." Nadine bertanya sedikit bingung.
"Umur 4 tahun kok pakai seragam SD?..."
"Ceritanya pas Zain baru pulang sekolah, Miranda ngamuk, nangis nangis gitu minta sekolah SD seperti anak tetangganya, jadi Zain hanya membelikannya seragam SD. Di rasa momen itu lucu, langsung saja di abadikan oleh Zain pakai kamera."
"Oh...." Nadine sendiri bingung, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya ikut sedih membayangkan saja sudah tak tega apalagi bagi yang mengalami.
"Kamu kok kayak sedih gitu."
"Siapa sih kak yang nggak sedih kehilangan saudara. Pasti sampai sekarang kak Zain masih kepikiran sama Miranda yang hilang. Makanya kak Zain suka sekali ke pasar malam."
"Miranda nggak hilang, Miranda ada di sini." Ujar Miranda tiba tiba mengalihkan pandangannya dari boneka mainannya. Seketika itu pula Rani dan Nadine tergelak dengan kepolosan Miranda yang ada di hadapannya.
__ADS_1
***
Zain membuka ponselnya, mengaktifkan fitur CCTV. Ya , Zain cukup berkuasa berada di rumah Iqbal, sebab Iqbal sudah menganggapnya saudara. Dan mempercayakan Zain untuk mengurusi segala sesuatu si rumah Iqbal. Iqbal hanya cukup terima beres.
Zain juga memiliki wewenang untuk mengatur sistem, prosedur dan keamanan rumah Iqbal.
Zain mencari keberadaan Miranda dan Nadine lewat CCTV, bibirnya tersenyum ketika menemukan mereka berada di bawah pohon beralaskan tikar. Miranda sedang bermain boneka, kemudian membuka tasnya dan mewarnai gambar.
Zain berlari kecil menuju ke balkon, agar lebih leluasa menatap secara langsung wajah-wajah orang tersayangnya.
Zain berdiri di balkon, memperhatikan Miranda dan Nadine yang bersama. Kebahagiaan menyelimuti hatinya, melihat kedekatan Nadine dan Miranda.
Apa yang sedang di pikirannya. Kenapa Nadine melamun sembari tersenyum-senyum sendiri melihat Miranda, yang sedang mewarnai gambarnya sambil memeluk bonekanya. Apa yang sedang gadis itu pikirkan hingga membuatnya tersenyum senyum seperti itu?... Apakah dia sama seperti Zain yang selalu memikirkannya.
Nadine memang tersenyum memikirkannya ketika mengingat Zain yang salah tingkah karena memakai parfum yang sama dengan Nadine, yang katanya baunya bikin pusing.
Tiba-tiba muncul Rani yang ikut bergabung duduk di sebelah Nadine.
Beberapa saat kemudian Zain sedikit bingung dengan perubahan ekspresi wajah Nadine yang murung dan ekspresi wajah Rani yang terlihat serius. Entah apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya apa yang sedang mereka bahas.
Zain berinisiatif untuk mencari tahunya.
***
Author.
Terimakasih ya kakak....Berkat dukungan dari kalian, novel ini masuk rangking VOTE walaupun masih di angka ratusan ke atas.😂😂😂
Berkat dukungan kalian author jadi semangat buat lanjutkan novel ini. Kalau masuk rangking kan jadi semangat double up 🔥🔥🔥 Aku usahakan mulai sekarang.
__ADS_1
Terus dukung ya kakak.... Kalau perlu VOTE nya yang banyak.....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Mengharap masuk sepuluh besar.
Berasa nggak sia sia gitu kalau bisa masuk rangking. Love you Mak emakku tercinta 😂😂😂😂