
Tak lama kemudian dokter Aldo datang. Ia segera memeriksa kondisi Fatma.
"Dia mengalami gejala tipes. Aku akan memberikan obat untuk penurun panas dan anti muntah. Tapi jika kondisinya tidak kunjung membaik lebih baik segera bawa ke rumah sakit. Jangan dulu di beri makanan yang kasar, pedas dan makanan yang masam seperti buah."
"Baik dok." ucap Zahra.
Dokter membuka tasnya lalu memberikan obat dan sirup pada Zahra. "Sirup ini di minum sebelum makan dan obat ini di minum sehari tiga kali, 1 jam setelah makan."
"Iya dok, Terima kasih."
Setelah Dion membayar semua biaya pemeriksaan, dokter Aldo pun segera pergi.
Setelah kondisi Fatma membaik, Zahra menghampiri Dion yang duduk bersandar di bingkai pintu karena tak ingin mengundang kesalahpahaman warga setempat.
"Kak, ini udah malam. Lebih baik kakak pulang."
"Kamu ngusir aku?..." ucap Dion tanpa melihat Zahra.
"Bukan gitu kak, ini udah malam. Kalau kakak di cariin orang tuanya gimana?..."
"Aku udah izin sama Mama, akan pulang malam."
Zahra tak lagi bersuara, dia memilih duduk bersandar di dinding yang terbuat dari papan triplek.
"Jadi kamu tinggal di sini?..."
"Nggak kak, aku ngontrak rumah sepetak sama Bapak dan ibu."
"Lalu anak-anak ini siapa?..."
"Mereka anak jalanan, yang tinggal di bangunan liar."
"Orang tua mereka di mana?..."
"Mereka hidup sebatang kara dengan berbagai alasan." Zahra menghela nafas berat sebelum memberikan jawaban, seolah juga bisa merasakan beban berat yang mereka alami.
"Lalu bagaimana mereka mencari makan tanpa orang tua?..."
"Mereka mengamen di lampu lalu lintas setiap hari. Ada yang membersihkan mobil dengan kemoceng di lalu lintas."
"Kok bisa kamu sedekat ini dengan mereka?..."
Zahra tersenyum "Entah lah kak, aku merasa dekat sekali dengan para anak jalanan. Aku seperti merasa pernah ada di dunia mereka sebelumnya."
"Maksudnya?..."
"Aku juga nggak ngerti kak, aku tidak ingat masa kecil ku dulu kayak apa..."
"Kok bisa gitu?..." Dion masih penasaran dengan kehidupan Zahra yang tak biasa.
"Kata ibu, dulu waktu aku umur 8 tahun aku jatuh dari motor sampai bocor, terus nggak ingat apa-apa."
"Amnesia maksudnya?..."
__ADS_1
"Iya, karena benturan keras di kepala. Jadi aku nggak ingat apa-apa." Dion manggut-manggut mendengar cerita Zahra.
"Oh... Kamu nggak penasaran sama masa kecil kamu?..."
"Nggak, biasa aja." Dion kembali manggut-manggut.
"Eemmmm, Zahra...Apa kamu udah punya pacar?..."
"Aku nanti aja pacarannya setelah menikah."
"Kenapa?..."
"Pacaran adalah terbukanya pintu perzinahan. Dosa besar itu berawal dari dosa kecil, awalnya pacaran, terus pegang pegangan tangan, lalu cipika-cipiki, kemudian ciuman....Dan...."
"Stop, aku udah tau jawabannya."
"Emang aku nggak mau lanjutin kok..." Zahra mendekati Fatma lalu memeriksa suhu tubuh gadis kecil itu, suhu panas di tubuh Fatma sudah menurun.
"Nunung, Nunung..." Zahra mengguncang kaki Nunung pelan untuk membangunkan gadis kecil yang sedang terlelap itu hingga menggeliat kemudian membuka mata lalu terduduk.
"Fatma udah nggak panas. Kakak harus pulang dulu soalnya udah malam, takut ibu nyariin."
"Iya kak, makasih."
"Kalau ada apa-apa, langsung cari kakak ya."
"Iya kak, Kakak pulangnya hati-hati ya."
Zahra dan Dion keluar dari bilik kecil itu, mereka berdua berjalan melewati bilik kecil yang di bangun liar di dekat rel kereta api.
"Kamu kayak kenal betul daerah sini."
"Iya kak, dulu aku sama temen-teman mengajari anak-anak di sini untuk baca tulis. Di situ tempatnya." Zahra menunjuk bilik kecil yang pintunya di gembok, di dalam bilik itu terdapat begitu banyak buku bacaan dan papan tulis.
"Kata Nadine kamu juga ngajar di pesantren."
"Iya, dulu waktu SMA tiap pulang sekolah mengajar anak madrasah. Tapi sekarang udah nggak sempat buat ngajar."
"Loh kenapa?..."
"Sejak bapak sakit-sakitan dan nggak bisa kerja, aku udah nggak bisa ngajarin mereka lagi. Nggak punya waktu, kan harus kerja cari duit. Sekarang yang ngajarin mereka ya teman-teman ku yang lain. Aku ngajar paling kalau pas libur kerja."
"Jadi kamu sekarang jadi tulang punggung ya."
"Di bantu Ibu, jualan gorengan yang di titipkan ke tiap warung. Ibu juga terima cucian dari kompleks di sana."
"Ternyata hidup mu tak selancar jalan tol ya Zahra. Aku bangga padamu."
Zahra tersenyum setelah melihat Dion sekilas.
"Alhamdulillah kak, masih banyak nikmat dari Allah subhanallah ta'ala yang harus aku syukuri."
Dion merasa salut dan bangga pada Zahra, walaupun hidup penuh kesulitan tapi tak pernah berkeluh kesah. Secara terang-terangan Zahra tidak malu menceritakan kehidupannya yang tak berada, terbesit niat di hatinya untuk mengangkis Zahra dari kemiskinan.
__ADS_1
Dion mengambil motornya yang ia parkir di pintu masuk lorong bangunan liar. Kemudian melajukan motornya setelah Zahra duduk berboncengan di belakang.
Dion mengantarkan Zahra sampai di depan gangnya. Berulang kali Dion memaksa akan mengantar Zahra hingga sampai di kontrakannya tapi Zahra menolak, alasannya takut di marahin sang ibu.
***
Malam hari di rumah Zahra yang berukuran 4X5 meter, yang terdiri dari kamar sepetak dan dapur di lantai dasar dan satu tingkat di atas yang merupakan kamar untuk Zahra. Dia terbangun untuk mengambil air minum di dapur karena tenggorokannya terasa kering. Setelah sampai di dapur dan meminum air satu gelas hingga kandas. Zahra bergegas hendak balik ke kamarnya.
Baru saja ia hendak menaiki anak tangga, tak sengaja Zahra mendengar namanya di sebut-sebut dari kamar kedua orang tuanya. Zahra mulai memasang telinganya agar lebih tajam dan memposisikan telinganya di daun pintu.
"Sampai kapan kita menyembunyikan semua ini dari Zahra, Bu. Bapak ini sudah tua dan sakit-sakitan, Zahra berhak tahu kenyataan yang sebenarnya."
"Tapi ibu takut pak, kalau Zahra akan marah setelah mengetahui kalau kita bukan orang tua kandungnya. Ibu takut kalau Zahra mengetahui segalanya, dia akan pergi meninggalkan kita dan mencari tahu keberadaan keluarga yang sesungguhnya. Ibu nggak rela kalau harus kehilangan putri kita satu-satunya pak. Ibu nggak mau kehilangan anak lagi."
Zahra terkejut, dadanya terasa begitu sesak. Dia tidak pernah menyangka bahwa kedua orang tuanya menyimpan rahasia besar tentang dirinya selama ini. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang tua yang sangat ia sayangi dan juga menyayanginya ternyata bukanlah orang tua kandung Zahra. Tanpa terasa air mata menetes dari mata bulatnya yang indah. Zahra segera menghapus air matanya. Dia begitu penasaran dengan masa lalunya, akhirnya tanpa permisi membuka pintu kamar orang tuannya.
"Lalu Zahra anak siapa Pak, Bu?..." Zahra bertanya to the point.
"Zahra, kamu ngapain ke sini nak?..." tanya ibu yang terlihat panik. Sang bapak pun juga terkejut, langkah Zahra semakin dekat kemudian duduk di sisi ranjang berhadapan dengan ibunya sedangkan bapaknya terbaring lemas di tempat tidur.
"Apa benar yang Zahra dengar barusan kalau Zahra bukanlah anak ibu dan bapak?..."
Bapak dan ibu saling pandang, kemudian bapak mengangguk, sudah tidak ada gunanya berdusta. Zahra bukan anak kecil yang mudah untuk di kelabui.
"Ibu jawab Bu, sebenarnya Zahra itu anak siapa?..." Zahra menangkup kedua tangan ibunya, bertanya dengan tatapan memohon. Berharap agar pertanyaannya di jawab dengan sejujur-jujurnya.
"Ibu harap, setelah ibu menceritakan kejadian yang sebenarnya, kamu nggak akan marah."
"Ibu sendiri juga nggak tahu kamu anak siapa?... Dulu bapakmu nggak sengaja nambrak kamu yang tiba-tiba lari di tengah jalan, kamu terluka parah dan langsung di larikan ke rumah sakit, pas kamu sadar kamu udah nggak bisa ingat apa-apa. Kami yang takut terjerat kasus pidana karena nambrak kamu sampai hilang ingatan memilih bungkam dan memutuskan untuk mengadopsi kamu, apa lagi saat itu kami baru kehilangan seorang putri." ibu menjeda ceritanya, air mata juga mengalir deras dari mata yang kulitnya mulai mengeriput. Zahra terus mendengarkan cerita sang ibu, walaupun dadanya terlalu sesak hingga air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan tumpah ruah bagaikan bendungan yang pecah.
"Awalnya kami ragu dengan keputusan kami untuk mengadopsi kamu karena memikirkan orang tua kandungmu yang pasti cemas mencari mu tapi ketika melihat tubuhmu penuh luka cambukan. Tekad kami semakin kuat untuk mengadopsi mu, karena kami yakin kamu berasal dari keluarga toxic. Zahra maafkan kami Nak."
"Lantas ibu dan bapak tidak ada niatan untuk mencari tahu latar belakang Zahra."
"Nggak nak, bapak dan ibu terlalu sayang sama kamu, kami takut jika mengetahui keluarga kamu akan membuat tekad kami surut untuk mengadopsi kamu. Apa lagi ibu udah nggak bisa hamil lagi."
"Di mana bapak dulu menambrakku?..."
"Di Surabaya, kami berasal dari kota Surabaya. Maafkan kami Nak."
Zahra merasa putus asa, Surabaya kota yang jauh. Bagaimana caranya dia mencari tahu jati dirinya di kota asing, ia bangkit. Dengan langkah gontai Zahra melangkah menuju pintu keluar.
"Zahra kamu mau kemana, Nak?..."
"Zahra ingin istirahat Bu, Zahra butuh waktu untuk sendiri."
"Zahra, kami minta maaf." ucap bapak, Zahra menoleh dan memaksakan senyum.
Zahra memasuki kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat, lalu membaringkan dirinya di atas ranjang. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi kehidupan yang ia alami. Hatinya begitu sedih, walaupun orang tua angkatnya sangat baik tapi bagaimana dengan perasaan orang tua kandungnya yang kehilangan seorang putri?... Apakah benar Zahra berasal dari keluarga toxic yang suka melakukan kekerasan fisik dan batin padanya?... Seperti apa sebenarnya hidup yang pernah Zahra alami?... Apakah benar dia berasal dari kota Surabaya?... Zahra masih ingat dengan bekas cambukan di sekujur tubuhnya, kulit putih bersih yang penuh dengan goresan merah, dengan telaten ibunya mengoleskan salep di setiap luka cambukan di tubuhnya. Setiap Zahra bertanya, luka karena apa itu?... Ibu selalu menjawab, luka karena jatuh.
***
Selamat menikmati
__ADS_1