
"Zahra itu mau ikut suaminya kak, bukan mau perang. Jadi kakak nggak usah khawatir berlebihan, bukankah kakak sudah yakin kalau kak Dion itu pemuda yang baik, kak Dion insyaallah bisa jagain Zahra. Kalau kakak seperti ini, itu akan mempersulit Zahra, dia akan kebingungan dan merasa serba salah. Zahra wanita yang paham agama, dia pasti lebih memilih taat pada suami, sebab sekarang suaminya lebih berhak atas dirinya daripada kita dan kedua orang tuanya. Tugas kita semua sudah berpindah pada suaminya. Kalau kakak kangen Zahra, aku bakal sering ajak Zahra main ke sini, nginep di sini. Zahra masih tinggal di Indonesia, di Jakarta, satu kota dengan kita, kalau kangen tinggal cuuusss sampai deh..."
Zain tersenyum mendengar celoteh istrinya, sejak kapan dia bisa bersikap dewasa. Zain melepaskan tautan tangan Nadine, kemudian memeluknya dari depan.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup ku, mau menjadi istriku dan mengandung buah cinta kita."
"Udah nggak amit-amit lagi." Nadine meledek.
"Tak kenal maka tak sayang." Zain terkekeh, tak memberikan jarak antara bibirnya dan bibir istrinya.
"Kalau untuk ibu Fatima dan suaminya gimana?..." tanya Nadine setelah tautan mereka terlepas.
"Orang tua Zahra berarti orang tuaku juga."
***
"Maaf Nak, kami tidak bisa tinggal di rumah orang tuamu." Ibu Fatima menolak ajakan Dion.
__ADS_1
"Tapi kenapa Bu?..." tanya Zahra dengan gurat sedih.
"Kamu itu ikut suami di rumah mertua. Apa kata orang tentang mu nanti. Kamu harus menjaga nama baik keluarga." ucap ibu Fatima.
"Ibu nggak perlu dengar apa kata orang, Papa dan Mama yang minta ibu tinggal sama kami untuk sementara sampai aku bekerja. Baru bapak sama ibu ikut saya pindah." tutur Dion.
"Bapak sama ibu akan kembali tinggal di kontrakan yang dulu."
"Anda tidak perlu kemana-mana. Anda tetap tinggal di sini bersama dengan saya, istri saya dan Miranda." ucap Zain yang tiba-tiba muncul di tengah perdebatan mereka.
"Tapi Nak, kami tidak mau merepotkan mu, Nak Zain sudah terlalu banyak membantu kami.." ucap Ayah Zahra.
"Tapi dulu Kami tidak bisa memberikan Zahra kehidupan yang layak."
Zahra dan Dion hanya menyimak percakapan orang tua dan kakaknya.
"Anda sudah menjaga adik saya dengan baik, hingga Zahra menjadi seorang muslimah yang taat pada Tuhannya. Jika anda menganggap Zahra sebagai anak, maka anggap juga saya sebagai anak anda."
__ADS_1
"Tapi Nak..."
" Jangan sungkan pak, saya juga titip adik saya Miranda jika saya bekerja dan istri saya kuliah tolong jaga Miranda."
"Terima kasih nak, kami tidak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa?...."
"Jangan bicara seperti itu pak, kalian berdua sudah sangat berjasa pada adik saya. Walaupun saya mengendong anda keliling dunia, itu masih belum bisa membalas jasa kalian." Mendengar setiap perkataan sang kakak membuat Zahra terharu hingga meneteskan air mata.
Zain memperhatikan Dion yang menyeka air mata adiknya.
"Kau boleh membawa Zahra." ucap Zain, Dion tak percaya semudah ini meminta restu walaupun sempat melihat Kemarahan Zain. Zahra mendongak menatap pupil mata sang kakak yang terlihat tenang walaupun kecewa.
"Kakak nggak marah?..."
"Bagaimana bisa aku marah pada adikku!..." Zain tersenyum dengan tatapan yang teduh, tangannya mengusap lembut kepala Zahra.
"Insyaallah aku akan sering main-main ke sini kak."
__ADS_1
"Iya."
"Dan untuk mu, aku tidak akan mencegah mu untuk membawa adikku kemanapun kamu mau. Tapi ingat satu hal, jika kamu sampai menyakiti adikku satu kali saja.... Ingat, satu kali saja kamu menyakiti Zahra, maka dengan atau tanpa persetujuan Zahra dan diri mu, aku akan memisahkan kalian." Zain menegaskan, Dion gugup mendengar ancaman sang kakak ipar.