
"Yon, elo nggak ilfill liat muka Zahra serem gitu." Alex bergidik ngeri melihat wajah Zahra.
"Pletak... Aawww..." Alex mengusap-ngusap dahinya yang di sentil oleh Dion.
"Sakit bego'...." Alex mentoyor kepala Dion, dari belakang.
"Bacot elo, di sekolahin dulu." ucap Dion ketus. Dahi Zain dan Iqbal mengernyit, berprasangka buruk dengan bisikan Alex.
"Apa yang kalian perdebatkan?..." tanya Zain.
"Maaf kak, saya kebelet pipis. Mana toiletnya ya?..." jawab Alex sembari mengapit kedua pahanya berpura-pura ingin buang air kecil.
"Di sana." Zain menunjuk pintu toilet.
"Terima kasih kakak..." Alex ngicir kabur memasuki kamar mandi."Sial, kenapa jadi kebelet pipis beneran ya."
Nadine menghampiri Zain, memegangi lengannya karena tak ingin melihat perseteruan antara Dion dan suaminya. Sementara Iqbal dan Rani memperhatikan drama cinta segi empat di depan mata. Sementara sang putri terlelap di pangkuan Papanya.
Dion tak henti-hentinya menatap Zahra dengan perasaan iba, memikirkan nasib gadis malang ini membuat hatinya yang sesak kian sesak, seolah ujian tak henti-hentinya menerjang gadis ini.
"Jangan menatap adikku seperti itu."
"Maaf." ucap Dion menundukkan kepalanya.
"Jangan pernah menatap adikku dengan tatapan iba hanya karena wajah cacat adikku." walaupun tahu kalimat yang di ucapkannya akan menyakiti hati Zahra, tapi tetap Zain katakan karena ingin tahu kesungguhan hati seseorang yang tulus menerima adiknya apa adanya.
"Bagiku Zahra tetap lah gadis cantik yang lembut hatinya." balas Dion.
"Ciiihhh... Omong kosong." Zain berdecih.
"Sialan, belagu banget...." Dion menunduk tak berani mendongak.
"Aku bersungguh-sungguh, Kakak." Nadine cekikikan mendengar Dion memanggil Zain kakak, menyembunyikan wajahnya di balik lengan Zain. Membuat Dion semakin menahan rasa malu.
"Hikikikikiki....Furgoso... Furgoso..." Alex yang menguping dari balik kamar mandi tertawa cekikikan.
Zain memperhatikan adiknya yang terlihat bernafas lega, dia bisa menangkap ada perasaan tak biasa di hati Zahra untuk Dion.
"Apa dua penjahat itu yang membuat wajahmu seperti itu?..." Dion memberanikan diri untuk berbasa-basi.
"Bukan kak, tapi aku sendiri lah yang menggoreskan pecahan kaca ke wajahku." semua mata terbelalak melihat Zahra, sebab mereka semua berpikir bahwa Baron dan Darius lah pelakunya.
"Apa maksudmu Mi?..." Zain bertanya gusar.
"Baron dan Darius ingin menjual ku pada seorang pria, jadi aku nekad menyayat wajahku supaya orang itu jijik sama aku." Zain melepaskan tangan Nadine lalu memeluk Zahra. Hatinya begitu sakit, bagai di remas-remas mendengar sendiri cerita dari adiknya. Padahal Iqbal tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya sebab takut Zain akan semakin terpukul.
__ADS_1
"Aku bangga padamu, Ra." ucap Dion, hatinya berdesir, ada perasaan aneh yang tak biasa mulai menyusup. Rasa bangga dan hormat pada gadis yang menjunjung tinggi sebuah kehormatan.
"Kalau sudah selesai bicara omong kosong, cepat keluar." Zain mengusir Dion. Alex keluar dari kamar mandi, untuk mendorong kursi rodanya keluar.
"Tapi aku masih ingin di sini." Dion menahan tangan Alex untuk menghentikan dorongan tangannya dari kursi roda.
"Untuk apa?..." tanya Zain.
"Untuk, untuk...Untuk apa ya?...." Dion balik bertanya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yon, yang di tusuk perut elo, kenapa yang geser otak elo?..." Alex berbisik di telinga Dion.
"Mikir dong, kalau gue nembak Zahra sekarang. Di hadapan banyak orang, apalagi di hadapan masalalu gue, Nadine, terus di tolak mentah-mentah sama si kampret. Mau di taruh mana muka gue?..." Dion berbisik di telinga Alex.
"Iya juga ya, bisa jadi Si Kampret masih benci sama elo dan masih nyimpen dendam ke elo. Pasti elo di tolak mentah-mentah." Alex berbisik di telinga Dion.
"Kalian berdua bicara apa?..." tanya Zain yang kesal dengan kelakuan Dion dan Alex.
"Kami akan pergi kalau Zahra yang menyuruh." jawab Dion.
"Iya...Itu yang kami diskusikan." sambung Alex.
Zain mengeluarkan hp yang berdering dari saku celananya. Dilihatnya panggilan dari bodyguard yang berjaga di depan pintu.
"Ada apa?..."
"Mi, ada Kyai Abdullah dan keluarganya ingin membesuk mu. Apa kamu mengizinkan."
"Tentu kak, mana boleh seorang murid menolak kedatangan gurunya." ucap Zahra berbinar-binar mengetahui kedatangan gurunya.
"Kerudung, kerudung, kerudung, baju, baju, baju, baju...." Rani bangkit dari kursinya lalu menarik-narik dress yang ia kenakan, dress yang panjangnya hanya selutut. Dia berjalan ke sana kemari.
"Kak Rani kenapa?..." tanya Nadine.
"Pinjem baju, aku malu berpakaian terbuka di hadapan ulama."
"Malu kok di hadapan manusia." ucap Iqbal. Rani hanya melirik sebal pada suaminya.
"Ini kak, pakai aja baju ganti ku." Nadine memberikan pakaiannya pada Rani.
"Makasih." Dengan langkah tergopoh-gopoh Rani memasuki kamar mandi.
***
"Assalamualaikum." keluarga Kyai Abdullah dan ibu Fatima kompak mengucapkan salam.
__ADS_1
"Wa alaikumsalam..." semua orang yang mendengar serempak menjawab salam.
Iqbal, Zain, Dion dan Alex bergantian mencium punggung tangan Kyai Abdullah dan Gus Fauzan. Nadine mencium punggung tangan Nyai Wardah, Zahra hendak turun dari ranjangnya untuk sungkem pada gurunya tapi malah di larang oleh Nyai Wardah.
"Tidak usah turun, kamu kan sedang sakit."
Nadine menyuguhkan makanan dan minuman pada semua tamu yang berkunjung."Yang ini siapanya kamu?..." Nyai Wardah mengusap lembut lengan Nadine.
"Dia, istrinya kakak saya."
Rani keluar dari kamar mandi dengan balutan baju syar'i berwarna peach senada dengan hijab yang ia kenakan, di lihatnya semua pria yang menunduk hormat seperti duduknya seorang santri di hadapan sang kiai, Ia berjalan menghampiri nyai Wardah lalu bersalaman, mencium punggung tangannya.
"Kalau yang ini siapa?..."
"Istri dari bosnya kakak."
"Oh begitu.... Oya, Bagaimana keadaan kamu sekarang?..."
"Alhamdulillah nyai, saya sehat."
"Ini Wajah kamu kenapa?..." tanya nyai Wardah, Gus Fauzan melihatnya sekilas lalu menunduk lagi.
Zahra pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya.
"Saya bangga sama kamu Zahra, wanita yang lebih memprioritaskan kehormatannya dari pada penampilan luar yang fana." Zahra hanya tersenyum, duduk menunduk.
"Tadi kami pergi ke rumah kamu. Tapi kata tetangga, bapak kamu di rawat di rumah sakit. Pas kami jenguk ke rumah sakit, kata ibumu kamu juga di rawat di sini."
"Maaf nyai, ada apa ya datang ke rumah?..." Zahra bertanya dengan sesopan mungkin.
Nyai Wardah melihat Gus Fauzan, putranya itu mengangguk.
"Perasaan gue nggak enak Lex..." ucap Dion lirih dan masih bisa di dengar oleh Zain yang duduk di dekatnya.
"Sebenarnya kami datang ke rumah kamu untuk meminang kamu."
Deg.... Jantung Zahra dan Dion berdegup kencang, hatinya sakit, membuat dadanya terasa di remas-remas.
"Yon, kalo elo beneran cinta sama Zahra, perjuangin, jangan malah bengong."ucap Alex berbisik.
"Gue minder Lex, saingan gue bukan hanya Ustadz tapi anak kyai besar. Gue juga nggak yakin kalau Zahra bakal nolak lamaran Gus Fauzan. Sedikit banyak gue tau tentang Zahra. Sikap hormat, ta‟dzim dan kepatuhan mutlak kepada kyai adalah salah satu nilai pertama yang ditanamkan pada setiap santri."
"Apa anda yakin ingin melamar adik saya dalam kondisi wajah adik saya seperti ini?..."
"Saya sangat yakin, apapun yang menimpa Zahra sama sekali tak menyurutkan niat saya. Tekad saya untuk melamar Zahra malah semakin kuat melihat keteguhan iman seorang muslim seperti Zahra." jawab Gus Fauzan.
__ADS_1
Zain memperhatikan gerak-gerik Zahra yang hanya menunduk, meremas tangannya sendiri. Sekilas Zain melihat Zahra yang melirik ke arah Dion.