Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BUKA BAJUMU


__ADS_3

Riska masuk kedalam kamar mandi, tak mau berlama-lama sebab tak ingin Zain terlalu lama menunggunya.


Dengan handuk kimono yang masih melekat di tubuhnya, Riska sibuk mencari pakaian, dia membongkar seluruh pakaian di dalam lemarinya dan melemparkannya di atas ranjang sembarangan.


Riska mematut diri dengan dress berwarna biru yang panjangnya selutut di badan depannya"Ok.."


Dia memilih dress berwarna biru warna kesukaan Zain, hati Riska berbunga-bunga, dia sangat bahagia akhirnya Zain mau memberikannya kesempatan kedua.


Riska memakai make-up sedikit lebih menor dari biasanya kemudian memasang parfum sebanyak banyaknya.


"Sempurna..." Ia mulai melangkah keluar menuju apartemen milik Zain.


Zain melangkah menuju pintu saat mendengar suara ketukan. Riska tersenyum manis pada Zain saat pintu sudah terbuka lebar untuknya.


Dahi Zain mengernyit saat mencium aroma parfum yang menguar dari tubuh Riska kemudian membandingkannya dengan aroma parfum milik Nadine.


Zain memperhatikan penampilan Riska dari atas hingga bawah kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.



"Semangat sekali... Ini baru jam 06.30 malam. Tadi aku bilang jam 7 malam." Ucap Zain dengan wajah dinginnya.


"Tidak apa-apa, daripada terlambat." Jawab Riska sembari tersenyum.


"Tunggu di sini sebentar, Aku akan mengganti pakaian." Perintah Zain, bukan permintaan.


Riska menahan pintu saat Zain hendak menutup pintunya. "Zain, Apa kamu tidak mau mempersilahkanku masuk." Zain hanya menggelengkan kepala kemudian kembali menutup pintu, membiarkan Riska menunggu di depan.


Riska mondar-mandir di depan pintu apartement milik Zain.


"Ck, lama sekali... Ganti baju apa tidur sih." Riska berdecak kesal. Sedangkan Zain masih menonton televisi sambil minum teh di dalam. Tepat pukul 07.00 malam Zain baru mau keluar dari apartemennya untuk menemui Riska.


"Sudah siap?..."Zain bertanya dengan senyuman ramah seperti dahulu saat mereka berdua masih bersama. Riska sedikit heran dengan perubahan Zain, padahal tadi mimik wajahnya begitu dingin namun sekarang begitu hangat.


"Aku sudah siap sejak tadi Zain, kamu ganti baju lama sekali." Zain tidak menjawab ucapan Riska. Dia hanya tersenyum kecil.


"Ayo berangkat." Ucap Zain.


"Memangnya kita mau ke mana, Zain?..."


"Kita jalan-jalan, mengenang masa lalu kita." Jawab Zain dengan senyuman yang begitu manis. Riska sangat bahagia Zain nya yang dulu sudah kembali.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift. Setelah berada di depan lift, Zain memencet tombol lantai dasar.


Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, mereka masuk. Kini mereka sudah sampai di lantai dasar, setelah keluar dari lift mereka terus berjalan menuju parkiran mobil.


Zain memperlakukan Riska begitu lembut, dia membukakan pintu mobil untuk Riska. Kemudian memasang sabuk pengaman untuk Riska.


Zain masuk kedalam mobil dan mulai nyalakan mesin mobil, mobil terus melaju membelah jalanan di kegelapan malam, yang bertabur kelap-kelip lampu kendaraan dan penerangan jalan.


Mobil berhenti di sebuah warung makan sederhana, tempat mereka dulu sering makan bersama dan bersenda gurau. Riska sangat bahagia, Zain masih mengingat kenangan indahnya dahulu bersama Riska.

__ADS_1


Zain menarik kursi untuk Riska duduk kemudian Zain memesankan makanan kesukaan Riska.


"Zain aku sangat bahagia, kamu masih mengingat makanan apa yang aku sukai."


"Bukankah dulu aku sangat baik padamu Riska. Aku sangat mencintaimu. Aku selalu memperlakukanmu begitu baik. Selalu ada di saat kamu rapuh dan berkeluh kesah."


"Iya aku ingat aku, tidak lupa sedikitpun. Maka dari itu, aku tidak mampu melupakanmu dan menggantikanmu dengan orang lain." Ucap Riska, wajah riangnya berubah sendu. Dia sangat menyesali segalanya.


"Lupakan masa lalu itu." Zain menggelengkan kepala sembari tersenyum kemudian membelai lembut pipi Riska dengan ibu jarinya. Riska terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Zain. Hati Riska penuh dengan bunga yang bertebaran.


Mereka berdua mulai memakan makanan yang sudah dihidangkan di atas meja.


Zain mengambil tissue dan membersihkan sisa makanan di sudut bibir Riska. Membuat Riska tertegun dan menatap Zain.


Beberapa saat kemudian Zain mengajak Riska ke taman bermain. Mereka berdua terlihat bahagia, tanpa ragu-ragu Riska meraih tangan Zain dan menggenggamnya.


Seketika Zain menatap tangannya yang bertautan dengan tangan Riska kemudian dia menatap wajah Riska dan tersenyum manis. Lagi lagi Riska terkejut dengan reaksi yang di berikan oleh Zain.


Zain mengajak Riska untuk menaiki twin dragon. Riska berteriak kegirangan diatas twin dragon sedangkan Zain hanya tersenyum.


Mata Zain menyipit dari atas twin dragon yang sedang berayun kencang saat menangkap sosok Nadine yang duduk di samping Dion menaiki bom bom car.


Nadine dan Dion terlihat bahagia dengan tawa yang terus menggema di area bom bom car. Zain meremas erat pengaman yang membelit di dadanya, saat melihat Nadine dan Dion terlihat begitu mesra. Ingin sekali rasanya Dia melompat dari twin dragon yang mengayun-ayun sangat kencang, Tapi itu adalah hal bodoh yang di sebut bunuh diri.


Setelah twin dragon berhenti berayun, Zain segera turun dan berjalan kearah bom bom car, matanya menyusuri setiap sudut namun dia tidak menemukan keberadaan Nadine Dan Dion.


"Zain, kamu sedang cari siapa?..." Riska bertanya.


Riska kembali menggenggam tangan Zain. Kemudian mereka berdua jalan-jalan mengelilingi area taman bermain tanpa arah tujuan. Sedangkan mata Zain sejak tadi berkeliaran mencari sosok Nadine yang tak kunjung ditemukan.


"*B*agai hilang ditelan bumi." Gumam Zain dalam hati.


"Zain kamu kenapa?... Celingak-celinguk dari tadi."


"Tidak apa-apa. Riska ini sudah malam, aku juga sudah lelah, sebaiknya kita pulang."


"Zain Ini baru jam 11 malam."


"Kita pulang sekarang." Ucap Zain. Riska pun mengalah, tidak ingin melihat Zain marah.


Mereka berdua pun pulang menuju apartemen milik Riska. Kini keduanya duduk bersebelahan di atas sofa.


"Riska?..."


"Iya."


"Jujur saja, walaupun kita sudah lama berpisah!!!... Aku masih selalu mengingatmu." Ucapan Zain membuat Riska tersipu malu."Aku sendiri bingung dan ragu tentang perasaan apa ini!!!... Maka dari itu, aku mengajak mu kencan seperti dahulu.... Agar aku bisa merasakan apakah masih nyaman berada di sisimu.... Aku hanya ingin memastikan seperti apa Perasaanku yang sebenarnya padamu!!!..."


"Lalu apa yang kamu rasakan saat ini padaku Zain?..." Riska bertanya dengan penuh percaya diri, mengingat senyuman hangat Zain padanya masih sama seperti dahulu.


"Apa kamu sangat mencintaiku?..." Zain bertanya dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Tentu Zain, aku sangat mencintaimu."


"Riska apa kamu rela berkorban apapun untuk ku?..."


"Tentu Zain, aku akan melakukan apapun asal kamu mau kembali padaku."


"Apakah kamu mau tidur dengan ku." Zain kembali bertanya.


"Deg..." Jantung Riska berdegup kencang mendengar permintaan Zain.


"Zain kamu mau ngetes ketulusan ku padamu?..."


"Iya..."


"Iya, Zain aku mau." Jawab Riska setelah berpikir sejenak.


Jawaban Riska di sambut senyuman oleh Zain.


"Kalau begitu buka bajumu."


"Zain, apa kamu serius?..." Riska kembali bertanya dengan mimik wajah ragu. Zain hanya mengangguk.


Riska berjalan ke arah kamar di ikuti oleh Zain, kemudian Zain menutup pintu dan menguncinya. Riska berdiri di hadapan Zain, menarik tali pakaian yang terikat di leher depannya. Lalu Riska menurunkan pakaian yang bertengger di bahunya.


"STOP... CUKUP..." Zain merentangkan telapak tangannya di hadapan Riska, sebelum baju Riska menuruni dadanya Riska.


"Kenapa Zain?..." Riska bertanya keheranan.


"Kamu tidak berubah Riska, apa seperti ini cara mu dulu menyerahkan diri pada Rangga?..."


"Deg..." Jantung Riska berdenyut nyeri mendengar ucapan Zain.


"Zain..." Ujar Riska lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Pantas saja mudah sekali untuk Rangga meniduri mu. Di rayu sedikit saja kamu mau."


"Zain, bukan begitu. Aku hanya ingin membuktikan cinta ku padamu."


"Berarti, kamu juga mencintai Rangga."


"Zain apa maksudmu yang sebenarnya. Bukannya kamu mengatakan akan memberikan ku kesempatan kedua, kenapa kamu malah mengungkit masa lalu. Zain tersenyum menyeringai...


"Aku hanya mengingatkan mu, seberapa baik aku dulu dan seberapa kejam kamu dulu mendustakan kebaikan ku. Aku hanya ingin tahu, semurah apa dirimu?... Sekarang kau tahu kan, kalau kau tak layak untukku..."


"Dug...." Nyeri nyeri nyeri....


****


Author.


Tebakan readers nggak ada yang benar ya...

__ADS_1


Ayo kita main tebak tebakan, novel ini banyak tebak tebakannya.


__ADS_2