
Bibir Nadine terus melengkung ke atas karena tersipu malu, bibirnya terasa bengkak karena ulah suaminya. Nadine menyembunyikan wajahnya di dada suami tercintanya, menghirup aroma tubuh suaminya dalam-dalam, aroma yang membuatnya candu di mabuk kepayang, melakukan adegan ciuman saja sudah membuat dirinya malu apa lagi membayangkan malam pertamanya nanti. Senyum itu tertular pada suaminya, yang juga tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan.
Terlalu nyaman berada dalam dekapan sang suami membuat kantuk menyerangnya, hingga dia kembali terlelap menyelami mimpi indah di pelukan hangat suaminya. Terlalu memikirkan acara malam pertamanya nanti hingga terbawa ke alam mimpi, mimpi indah yang membawanya terbang melayang-layang.
Berulang kali Zain memberikan kecupan hangat di puncak kepala istrinya. Lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Sesekali membelai rambut istrinya.
"Sayang bangun." Zain membangunkan Nadine ketika hari menjelang sore. Nadine menggeliat, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, matanya menyipit sedikit terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya, dia terlalu malas untuk bangun karena dada suaminya terasa begitu nyaman menenangkan. Kemudian matanya turun di kemeja yang membalut dada suaminya. Matanya terbuka lebar ketika melihat kemeja yang Zain kenakan basah, Nadine menerka-nerka apakah itu keringat, tapi udara begitu dingin menusuk kulit, jadi mana mungkin ia berkeringat.
Apakah itu air liurnya?... Aahh Wajah Nadine bersemu merah menahan malu.
"Ini keringat, bukan air liur." Zain mengurai senyum, mengangkat kemejanya yang basah, ada kilatan mata jenaka menggoda.
"Kakaaaaakkk..." Nadine merengek, mendorong dada suaminya lalu membuang muka karena malu, rasanya ia sudah tidak punya muka lagi untuk menatap suaminya, ingin sekali dia menceburkan diri ke telaga dan berubah wujud hingga tak seorangpun bisa mengenalinya. Zain tergelak, membuat Nadine semakin malu.
Hujan berhenti ketika langit mulai berubah jingga, terlihat pelangi melengkung di atas langit. Sepasang suami istri itu tak langsung pulang, mereka masih menikmati panorama pelangi.
"Langit mulai kelabu, sebaiknya kita pulang." usul Nadine. Zain mengangguk lalu melepaskan Nadine dari pelukannya kemudian menggulung celananya hingga sampai lutut, karena tanah becek berlumpur. Zain mengambil sandal yang ia letakkan di atas gardu.
"Kak, nggak usah." Nadine menolak ketika sang suami memasang sandal bertali di kakinya. Namun Zain tak menghiraukan.
"KAAAKKK...." Pekik Nadine ketika suaminya dengan sekali hentakan sudah menggendongnya ala bridal style.
"Kak, turunin. Aku bisa jalan sendiri. Malu kalau di lihat orang." Nadine memberontak berharap Zain mau menurunkan dirinya. Tapi yang Zain lakukan malah sebaliknya, tangan kokoh Zain makin erat memegangi lutut dan punggungnya.
"Jalannya berlumpur, aku tidak mau kakimu kotor. Lagian sudah tidak ada orang, satu persatu orang sudah pergi sejak tadi." Zain tetap kekeh berjalan sembari menggendong Nadine.
"Nggak mau kak, ayo turunin aku." Nadine terus memberontak mengguncang bahu Zain, berharap suami tukang paksanya akan menurunkannya.
"Jangan banyak bergerak, jalannya licin kalau sampai jatuh bagaimana???..."
"Turunin kaaaakkk...." Nadine kembali mengguncang bahu Zain.
"Clup...." Nadine berhenti memberontak ketika kaki kanan sang suami tergelincir, masuk ke dalam sawah. Mata sepasang suami istri itu bersamaan melihat kaki kanan Zain yang tak terlihat hingga sebatas betis karena terendam di dalam lumpur.
"Bisa diam tidak." Zain menatap Nadine dengan tatapan mata tajamnya. Nadine melipat bibirnya ke dalam, berusaha sebisa mungkin untuk menahan tawa. Zain mengangkat kakinya ke atas dan kembali melangkah.
"Jangan di tahan, tertawakan saja." Ujar Zain dengan nada ketus. Nadine mengalungkan tangannya ke leher sang suami, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zain. Tubuhnya bergetar hebat, tertawa tanpa mengeluarkan suara.
"Kita ke waduh kak, untuk membersihkan kakimu." Ucap Nadine di sela-sela tawanya sembari menunjuk waduk tempat perairan tanaman padi.
Zain menuruni tangga waduk kemudian membersihkan kakinya yang berlumuran lumpur dengan air bening yang mengalir di waduk. Senyum masih menghiasi wajah Nadine ketika melihat Zain sedang membasuh kakinya.
__ADS_1
"Kak..." Pekik Nadine ketika Zain memercikkan air ke wajahnya.
"Suami kena musibah malah di tertawakan."
"Salah sendiri sok Sokan gendong segala."
"Kakiku tidak akan kecemplung kalau kamu pasrah. Nanti malam kamu harus pasrah, jangan memberontak."
"Iiih apaan sih..."
"Abis magrib, langsung garap."
"Iiih apa sih kak, bahas begituan di tempat umum."
"Biar kamu ingat dan nggak lupa sama janjimu."
"Iya ingat, nggak usah di bahas."
***
Di tengah perjalanan pulang, rintik hujan kembali turun.
"Nadine, sebentar lagi hujan akan turun. Kita berteduh dulu ya."
"Aku tidak mau kamu sakit karena kehujanan."
"Kalau kemalaman di jalan, Malam pertamanya juga akan kemalaman."
"Ya sudah, kita langsung pulang."
"Dasar suami mesum." Gerutu Nadine dalam hati. Nadine memeluk Zain dengan sangat erat, begitu air hujan mengguyur tubuh mereka berdua dengan derasnya. Tubuhnya menggigil kedinginan.
"Nanti aku akan menghangatkan mu." Suara Zain terdengar samar di tengah terpaaan suara rintik hujan.
***
Setelah menunaikan ibadah sholat isya' berjamaah bersama dengan keluarganya di mushola kecil yang ada di dalam rumahnya, Zain bergegas pergi mendahului, ketika melewati Nadine, dia mencolek pinggang istrinya itu sebagai kode bahwa dia akan menunggunya di dalam kamar. Seketika tubuh Nadine terkesiap, dia sangat gugup.
Nadine berdiri di depan pintu, dia bingung dan ragu. Jantungnya berdebar tak karuan, kakinya gemetaran saking nervousnya. Ia menerka-nerka apa yang di lakukan suaminya di dalam.
"Nadine, kenapa berdiri di situ???..." terasa bahunya di tepuk oleh sang ibu, membuatnya terpaksa membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Eh, nggak apa-apa, Bu." Spontan Nadine membuka pintu kamar dan langsung masuk ke dalamnya. Dia lupa dengan apa yang ia takutkan. Ketika masuk ke dalam kamar, matanya langsung bertemu dengan netra tajam sang suami. Nadine membuang muka karena malu ketika melihat sosok suaminya yang hanya mengenakan bokser, tongkatnya sudah tegak. Suaminya sudah sangat siap sejak tadi.
Zain menghampiri Nadine yang berdiri di depan pintu dengan mengenakan pakaian babidol berwarna pink bercorak hollo Kitty, gadis itu tampak imut dan manis hingga tak sabar dirinya ingin mencicipinya, setelah mengunci pintu rapat-rapat. Tangan kokoh suaminya itu menggendong Nadine ala bridal style. Meletakkan tubuh istrinya di tengah ranjang dengan lembut.
Zain mengecup seluruh wajah Nadine, di mulai dari kening, pipi, hidung dan berlama-lama di bibir. Zain ******* bibir istrinya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Nadine melingkarkan tangannya di leher sang suami, membalas setiap sentuhan yang Zain berikan padanya. Perlakuan Nadine membuat Zain semakin bergairah, matanya semakin gelap berkabut. Zain melepaskan tautan bibirnya, menatap mata Nadine yang matanya mulai sayu karena terbuai oleh sentuhan yang ia berikan. Zain kembali mencium kening Nadine dengan sayang dan kembali melabuhkan bibirnya ke bibir ranum Nadine. Bibir kecil namun berisi, terasa begitu manis hingga membuatnya candu.
Tangan Zain mulai bergerak aktif, membuka kancing baju badidol yang Nadine kenakan. Kemudian membuka atribut yang terpasang, membuatnya makin bergairah dan menikmati keindahan yang terpampang nyata di depannya.
Zain mulai menurunkan celananya, Nadine yang merasa malu pun menutup matanya.
"Buka matamu."
"Aku malu."
Nadine menahan tangan suaminya ketika ia hendak membuka celana bebidol yang ia kenakan.
"Kenapa?..." Zain bertanya dengan tatapan wajah kecewa, dia sudah berada di puncak. Sudah di ambang batas, tapi Zain sudah berjanji tidak akan memaksa Nadine untuk melakukan itu karena Zain tidak ingin Nadine berpikir bahwa Zain hanya menginginkan tubuh Nadine karena telah membelinya.
"Aku takut."
"Kalau kamu tidak siap, aku tidak akan melakukannya."
"Aku siap kak, tapi aku takut. Kalau sakit gimana???..."
"Sakit awalnya doang, lama kelamaan sakit sakit enak, malah banyak enaknya." Jawab Zain sembari menurunkan celana yang Nadine kenakan.
"Pengalaman banget suamiku ini." Nadine membatin.
Zain dan Nadine teriak bersamaan.
"Kenapa menamparku???...." Zain bertanya dengan kesal, seumur hidup baru pertama kali ini ia di tampar.
"Kenapa nyoblos nggak bilang-bilang. Aku kan kaget jadi refleks nampar. Sakit tau nggak." Nadine marah.
"Maaf, maaf.... Aku terlalu semangat. Lanjut lagi ya..." Zain berusaha menahan emosinya, sudah kepalang tanggung. Dia tidak mau gagal lagi. Bersyukur, Nadine pun mengangguk. Zain kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Nadine meremas seprei ranjang dengan kuat untuk meredam rasa sakit yang ia dera. Walaupun tau apa yang di rasakan oleh istrinya, Zain tetap melanjutkan aktivitasnya. Meraih tangan Nadine, menautkan jemari mereka berdua. Nadine meremas kuat-kuat tangan Zain, seolah-olah memberikan sinyal pada sang suami bahwa dia sangat tersiksa dan kesakitan. Adik Zain terlalu besar untuk ukuran perawan.
***
Author....
Maaf baru nongol.... Authornya mudik.... Maaf ya...🙏🙏🙏 terima kasih sudah pengertian.
__ADS_1
Sebenarnya malu sih, tapi boleh nggak.... Minta VOTE nya lagi, biar nggak tercoreng dari rangking VOTE.🙏🙏🙏