
Malam itu bukan hanya sekali Zain melakukannya. Nadine hanya di biarkan istirahatkan sebentar lalu Zain meminta jatah lagi. Zain baru berhenti setelah Nadine menangis sesenggukan. Tulang belulang Nadine terasa remuk redam, sekujur tubuhnya terasa sakit semua walaupun hanya melakukan pergerakan kecil, semalaman Zain terus menggempurnya walaupun sudah tahu Nadine merintih kesakitan. Awalnya Nadine berusaha menahan rasa perihnya demi memuaskan sang suami. Tapi lama-kelamaan Zain semakin menggila, dia tidak akan sanggup jika terus-menerus melayaninya.
Nadine masih menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Zain tanpa sehelai benang pun, warna kulitnya yang putih terlihat kontras dengan warna kissmark yang di berikan oleh Zain. Warna kulit Nadine sudah seperti macan tutul, kissmark ada di mana-mana.
"Cup, cup, cup....Sudah, sudah jangan menangis."
"Kakak tuh jahat banget sih, sakit tahu nggak...." Nadine masih merengek.
"Kenapa nggak bilang kalau sakit."
"Tiap mau bilang, mulutku di bungkam... Hikzzzzz..." Zain malah terkekeh, dia memang sengaja.
"Kalau sampai nggak bisa jalan gimana???..."
"Nanti aku gendong."
"Aaaw Aawww sakit sayang, sakit. Ampun, ampun, ampun..." Akhirnya Nadine mencubiti pinggang Zain karena gemas.
"Syukurin...." Ujar Nadine dengan ketus.
"Lihat nih..." Zain menunjuk bekas gigitan dan tancapan kuku Nadine di bahunya saat Nadine menjadikan bahu Zain sebagai pegangan di tengah percintaan mereka. Nadine mendengus kesal dan memunggunginya, Zain menarik tubuh polos Nadine kemudian memeluknya erat dari belakang. Zain meraih selimut kemudian menutupi tubuh polos istrinya. Membenamkan wajahnya di sela-sela rambut Nadine, menghirup dalam-dalam aroma Nadine yang membuatnya candu.
Nadine yang kelelahan mulai terlelap, Zain menyangga kepalanya di telapak tangan sedangkan sikunya bertumpu di atas bantal. Zain mengusap peluh yang membasahi kening Nadine, berulang kali dia mengecup bahu polos sang istri.
"Terima kasih... I love you." Ucap Zain lirih di telinga Nadine, Nadine yang setengah sadar masih bisa mendengarnya, entah mimpi atau nyata. Zain mengambil Hp Kemudian mensejajarkan wajahnya dengan Nadine lalu memotretnya, Zain mengecup pipi Nadine kemudian memotretnya lagi, dia ingin mengabadikan kebersamaan indah yang dirinya dan Nadine lakukan. Lalu Zain ikut terlelap, mempererat pelukannya kemudian membenamkan wajahnya di rambut sang istri. Menghirup aroma shampoo yang membuatnya terbang melayang-layang.
***
Pagi harinya, Nadine menggeliat. Kenapa sangat sakit ya, lebih sakit dari semalam. Tulang-tulangnya terasa luluh lantak, remuk redam. Ia menyingkirkan tangan Zain yang melilit pinggangnya. Lalu membalik tubuhnya, menatap sang suami yang masih tertidur pulas setelah menggempurnya habis-habisan. Sang suami terlihat lebih segar dan cerah dari biasanya sedangkan dirinya terasa lemas dan sakit semua. Nadine memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur, kakinya menjuntai ke lantai untuk melangkah.
__ADS_1
"Aaaww...." Pekik Nadine merasa sakit dan lengket karena lendir di area inti ketika kakinya melangkah. Rupanya suara Nadine membangunkan sang suami yang tengah terlelap dengan nyenyak. Zain menggeliat kemudian membuka mata.
"Kenapa?..." Zain melihat Nadine yang tengah berdiri memegangi selimut di dadanya. Nadine tak berani melihat ke arah suaminya, bayangan adegan panas yang di lakukannya dengan sang suami membuatnya malu setengah mati.
"Sakit, nggak bisa jalan." Jawab Nadine ketus.
"Kamu mau kemana?..."
"Ke kamar mandi."
Zain bangun lalu mengambil sarung yang tergeletak di atas ranjang, sarung yang ia kenakan untuk sholat isya'semalam. Kemudian mengenakannya sembari tersenyum memperhatikan sang istri tercinta yang berjalan seperti pinguin menuju pintu. Zain menarik tangan Nadine kemudian menggendongnya, sebab tak tega melihat Nadine kesakitan sementara kamar mandi luar agak jauh. Zain terlihat bersemangat dan cerah setelah bercinta dengan Nadine. Berbanding terbalik dengan Nadine yang terlihat lesu dan lemas.
"Kak, turunin. Kalau di lihat bapak sama ibu bagaimana?..." Nadine terlihat panik namun tangannya tetap melingkar di leher Zain, sementara tangan satunya mempertahankan selimut di dadanya agar tidak jatuh.
"Jam segini bapak ibu belum bangun. Kalau pun mereka melihat kita seperti ini, mereka akan mengerti karena kita pengantin baru." Jawab Zain santai, menatap Nadine penuh cinta sembari melangkah menuju kamar mandi sambil menggendong sang istri. Setelah sampai di kamar mandi, Zain meninggalkan Nadine dan kembali ke kamarnya.
Zain berdiri di sisi ranjang, sejenak ia memperhatikan bercak darah yang mengotori seprai kemudian ia mengambil seprai bersih dari dalam lemari lalu mengganti seprai ranjang yang kotor dengan yang sudah baru.
***
Nadine, Zain, pak Taufik dan ibu Azizah berkumpul di ruang tengah untuk membahas acara pernikahan yang rencananya akan digelar sebelum Nadine masuk ke kampus.
Setelah keputusan di dapat, Nadine masih sibuk menonton acara TV komedi yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Zain mencolek pinggang Nadine memberikan kode bahwa ia menunggunya di kamar. Saat Nadine menoleh, Zain menaik turunkan alisnya kembali memberikan kode. Walaupun tak mengerti, Nadine tetap mengangguk. Setelah Zain pergi, Nadine kembali menonton TV.
15 menit sudah Zain menunggunya di dalam kamar tapi tidak ada tanda-tanda Nadine akan datang. Zain yang mulai kesal keluar dari kamar, berjalan ke ruang tengah menghampiri Nadine. Zain menggelengkan kepala melihat istrinya yang tengah asyik menonton TV bersama kedua orangtuanya, sementara dirinya gelisah menunggu Nadine.
"Nadine."
"Iya kak." Nadine, ibu Azizah dan pak Taufik menoleh ke arah suara Zain.
__ADS_1
"Tadi dompet dan laptop ku kamu taruh di mana?..." Zain bertanya.
"Tadi di atas meja kak."
"Sudah ku cari kemana-mana nggak ada, tolong bantu cari."
"Ck... Nunggu iklan lewat ya kak, nanggung nih..." Nadine berdecak kesal dengan ekspresi wajah merengut.
"Aku juga nanggung dari tadi." Zain membatin tak mau kalah.
"Tolong cariin sekarang, ini penting."
"Ck... Iya iya." Nadine berjalan dengan langkah gontai menuju ke kamar di ikuti oleh Zain.
Begitu masuk ke dalam kamar mata Nadine sudah bisa melihat dompet dan laptop di atas meja.
"Ceklik..." Nadine menoleh ke belakang melihat Zain yang sudah mengunci pintu kamar, Zain tersenyum nakal padanya. Kini Nadine mengerti maksud dan tujuan dari suaminya memintanya mencari laptop dan dompet hanyalah alasan untuk meminta jatah ranjang.
Zain mendekati Nadine sembari tersenyum mesum padanya. Nadine yang ketakutan membayangkan adegan semalam yang membuat badan terasa remuk, melangkah mundur hingga lutut bagian belakangnya terbentur sisi ranjang, membuatnya jatuh terduduk di sisi ranjang.
"Kakak mau ngapain?..." Tanya Nadine gugup ketika Zain sudah duduk di sisinya.
"Mengulangi yang semalam." Bisik Zain lirih di telinga Nadine, hidung mancungnya sudah mengendus-ngendus aroma tubuh Nadine.
"Tapi kak, aku masih sakit." Nadine menggeliat kegelian, mendorong dada suaminya yang sedang memberikan kecupan-kecupan kecil di lehernya.
"Aku jamin sekarang kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Sakit hanya untuk yang pertama. Sekarang kamu bisa menikmatinya."
"Uuuuhhhh....Mmmm.... Kak, aku baru selesai mandi." Nadine melenguh ketika tangan suaminya sudah menyusup masuk ke dalam bajunya. "Nanti malam aja ya kak, nanggung kalau mandi junub lagi. Kak ah emmmm...." Nadine tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi ketika Zain membungkam bibirnya. Menggigit-gigit kecil bibir bawah Nadine, kemudian menerobos masuk memperdalam ciumannya, menuntutnya lebih. Suasana dingin menjadi panas karena gelora hasrat yang sedang mereka jalin.
__ADS_1
Nadine mulai hanyut dalam permainan Zain, kembali polos di bawah Kungkungan Zain. Membuat ranjang berderit. Rasanya begitu nikmat, begitu indah. Tak bisa di jelaskan hanya dengan kata-kata. Berulang kali Zain membawa Nadine terbang hingga ke awang-awang, terengah-engah.