
Zahra tercengang, tak habis pikir dengan sikap suaminya. Walaupun Zahra hanya bekerja sebentar di butik ibu mertuanya tapi dia tahu betul baju yang terpajang di butik ini tak ada yang harganya di bawah satu juta. Apalagi yang di pilih Dion berada di area baju yang harganya di atas sepuluh juta. Membuat jiwa misquinnya meronta-ronta, pasalnya selama ini Zahra hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak terbiasa dengan kemewahan yang berlebihan.
"Aku beli semua yang tergantung di rak ini." Dion menunjuk rak yang terdapat baju bergelantungan di sana. Ada dua pramuniaga yang mengekor di belakang Dion, membawa setiap pakaian yang Dion pilih.
Buru-buru Zahra menghampiri Dion yang sudah berdiri di depan kasir.
"Ini mau di bayar atau gratis." tanya gadis muda penjaga kasir.
"Bayar." Dion hendak mengeluarkan dompetnya tapi urung karena Zahra menyerobot.
"Nggak jadi beli mbak, baju-bajunya di kembalikan lagi ke tempatnya semula."Zahra mengambil semua baju yang tergeletak di atas meja kasir. Memeluknya erat.
"Loh, kenapa Ra?..." Dahi Dion berkerut kebingungan tapi Zahra malah memberikan tatapan tak setuju.
"Ini tuh baju mahal kak. Totalnya bisa jadi 100 juta lebih."
"Teruuuuuus?" bibir Dion monyong.
"Kakak kan punya hutang sama Papa buat modal usaha, dari pada uangnya di dihambur-hamburkan lebih baik kan buat bayar hutang. Nyicil." cicit Zahra.
Dion menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. Tangannya memegang kedua bahu Zahra.
"Ra, ini butik Mamaku. Kalau pun aku bayar banyak, masuknya tetep ke rekening orang tuaku. Aku anak satu-satunya, jadi uangnya itu tetep kembali ke sakuku suatu saat nanti, karena aku ahli warisnya. Bukannya ngarep warisan sih, tapi kan skenarionya akan tetap seperti itu. Anggap aja kita lagi main rumah-rumahan. Walaupun tau jalurnya Kemana, tetap di jalani semana mestinya."
"Tapi, kak...,"
"Sssttttt...." Dion menutup bibir Zahra dengan jari telunjuknya, hingga bibir yang berada di balik cadar itu kembali terkatup rapat.
"Dengan membahagiakan hati istri, maka rezeki suami akan lancar. Usahaku udah mulai jalan, mulai ada pemasukan. Izinkan aku membahagiakanmu, istriku."
"Cukup berada di sampingmu, aku sudah bahagia, kak."
"Ah, masak sih. Aku jadi terhura." Dion terkekeh setelah mencolek dagu Zahra.
__ADS_1
"Aaaww." satu Capitan mendarat di pinggang Dion.
"Jangan di borong semua." ucap Zahra.
"Teruuuuuus."
"Kakak beli baju tanpa meminta pendapatku, aku ambil sebagian yang aku suka aja ya."
"No, no, no, aku suka semua yang aku pilih."
"Ya udah aku nggak mau pake." Zahra tetap tak suka pemborosan, apapun alasannya.
Dion pun mengalah, ia duduk manis di sofa sembari menggelengkan kepala. Memperhatikan Zahra dan para karyawati menata ulang baju yang Dion pilih. Zahra memperhatikan bandrol harga dan memilih harga yang paling murah. Ia hanya mengambil 1 baju syar'i.
'Gila, di balikin semua. Lain kali beli baju nggak usah ajak Zahra.'
Dion menghampiri Zahra, menghalangi Zahra yang hendak mengembalikan gaun cantik untuk istrinya.
"Yang ini jangan di balikin." ucap Dion.
"Aku mau ajak kamu ke acara pernikahan temanku. Dan mulai saat ini kamu akan lebih sering aku ajak untuk menghadiri setiap acara. Aku mau pamer kalau aku sudah punya istri."
"Siapa yang nikah."
"Agung."
"Oh, kak Agung."
"Eh, kalian ada di sini!" Dion dan Zahra berbalik, melihat Mamanya yang melipat tangan di dada.
"Iya, Ma." jawab Dion dan Zahra kompak.
"Tumben." kedua alis Mama terangkat.
__ADS_1
"Beli baju untuk Zahra."
Zahra menunduk malu, meremas jemarinya sendiri, tak enak hati dengan Mama. Sebab Dion membeli baju yang harganya sangat mahal.
"Oh, untuk Zahra. Udah pilih bajunya." tanya Mama.
"Udah dong, Dion bayar pakai uang pribadi loh." Dion tersenyum manja, memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Udah, nggak usah bayar. Anggap itu hadiah untuk menantu Mama tersayang." Mama memberikan senyuman termanisnya.
"Ah, yang benar ma? Ini serius kan?"
"Iya. Serius."
Dion mencomot satu baju lagi dari gantungan dan membawanya ke kasir.
"Gratis kan, Ma." ucap Dion. Zahra menarik-narik ujung baju Dion. Dia merasa canggung dengan sikap suaminya.
"Iya." jawab Mama tersenyum sembari menggeleng melihat kelakuan putra semata wayangnya. Dion menikmati sikap Zahra yang menggemaskan.
Karyawati datang membawa kantong kresek besar berisi rujak manis.
"Ini, bagikan sama semua karyawan." Setelah mengambil 3 bungkus rujak manis dari kresek."Ini sayang, bawa ke ruangan Mama."ucapnya pada Zahra.
Mama Kartika memberikan rujak pada salah satu karyawannya dan memberikan perintah untuk membagikan pada semua karyawannya. Kebetulan dia membeli lebih.
"Uangnya udah aku transfer ke rekening mama." Dion berbisik ke telinga ke telinga mamanya.
"Adu, duh duh duh..." telinga Dion di jewer sang Mama.
"Jangan suka ngerjain istri." ucap Mama.
"Salah sendiri di beliin baju nggak mau. Di pikir Dion nggak sanggup apa beli baju."
__ADS_1
"Harusnya bersyukur punya istri nggak matre."