Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BONCAP MERDEKA


__ADS_3

Angin segar berhembus menerpa wajah ketika melihat kedatangan polisi. Brayen, Arya dan anak buahnya datang bersamaan.


Polisi di bantu anak buah Iqbal dan Brayen segera menyergap para musuh. Beberapa ada yang kabur.


Zain segera di larikan ke rumah sakit.


Arya membantu Iqbal berdiri, memapahnya menuju mobil.


"Apa perlu ku gendong?..."


"Tidak. Aku masih bisa jalan kaki. Kenapa baru datang?..." kata Iqbal.


"Ketika mendengar dari teman Brayen, bahwa anak buah Steven akan menyerbumu. Aku dan Brayen langsung kemari, tapi jalanan macet total." jawab Arya.


"Zain terluka parah."


"Anak buah Brayen sudah membawanya lebih dulu." Iqbal di papah oleh Arya. Tak menyangka, yang dulu lawan Kini jadi kawan.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Cepat sembuh, kita belum ngopi bareng."


"Tentu."


***


Nadine sudah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Dia masih tercengang dengan tatapan kosong.


"Nduk, kamu harus makan. Jangan kayak gini, kasian Aaron." Bi Ijah menyodorkan sendok ke bibir Nadine, tapi sang keponakan hanya menggelengkan kepalanya.


"Suamimu Ndak apa-apa. Hanya nunggu siuman. Pelurunya sudah di keluarkan, untung pelurunya masuk di samping perut sedikit."


"Bibi nggak bohong kan? Kok tadi suamiku nggak sadar?"


"Dia pingsan karena kelelahan."


"Bener ya, bi." satu tetes air mata kembali terjun bebas.


"Iya, bibi Ndak bohong." Akhirnya Nadine mau mengisi perutnya yang kosong. Hingga nasi di piring kandas.


"Antar aku menemui Suamiku, Bi." ucap Nadine sembari melihat Aaron yang sedang terlelap di atas ranjang.

__ADS_1


***


"Kak, bagaimana keadaan kak Zain?..." pertanyaan pertama ketika Zahra sadarkan diri.


"Dia baik-baik saja, cuma nunggu siuman."


"Kakak, serius kan. Nggak bohong cuma untuk menghibur aku."


"Ngapain bohong. Dia cuma butuh tukang urut, badannya pasti pegel semua."


"Kak, aku serius."


"Iya, aku juga serius."


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Dion, pada dokter yang sedang memeriksa kondisi Zahra.


"Dia tidak apa-apa, hanya syok saja. Tolong untuk lebih berhati-hati menjaga kondisi kesehatan istri anda. Usia kandungannya masih sangat muda, usia yang rawan untuk keguguran."


"Sebentar-sebentar. Maksudnya keguguran gimana?" tanya Dion, kebingungan tapi ia tetap berharap apa yang sedang dia pikirkan benar adanya.


"Istri anda hamil, usia kandungannya masih 4 Minggu. Apakah anda tidak tahu?..."


"Dokter jangan bercanda." Dion menepuk lengan dokter wanita itu.


"Untuk hasil lebih pasti, anda bisa cek lewat tespek."


"Tidak apa-apa kalau hasilnya negatif. Kita masih punya banyak waktu. Aku juga masih belum ingin punya anak, kita pacaran aja dulu." ucap Dion yang selalu ia berikan tiap kali Zahra bersedih karena tak kunjung di karuniai seorang anak.


Zahra mengeluarkan tespek yang ia sembunyikan di balik punggung. "Aku hamil kak." wajah Zahra mendadak cerah.


Tangan Dion gemetaran menerima tespek dari Zahra.


"Allahuakbar." Dion merosot, sujud syukur. Tak menyangka bisa menghamili istrinya. Sejujurnya ia sangat mendambakan seorang anak dari rahim Zahra. Walaupun dia mengatakan pada semua orang bahwa dirinya masih belum menginginkan anak, itu ia lakukan semata-mata untuk menjaga perasaan Zahra.


Dion menghubungi keempat orang tuanya dan sahabatnya, bahkan ia membuat status di sosmed bahwa istrinya hamil. Agar semua orang yang mengatakan Zahra mandul bisa membuka mata, kesabarannya membuahkan hasil. Kehamilan Zahra membuat Dion sejenak lupa pada masalah yang baru saja terjadi.


***


Rani menangis tersedu-sedu di pelukan Iqbal.


"Yang sakit aku. Kenapa jadi kamu yang nangis?"


"Aku takut, aku khawatir kamu kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Buktinya aku baik-baik saja."


"Aku kan sudah bilang, tinggalkan dunia hitam."


"Aku sudah lama meninggalkannya. Hanya berteman tanpa menggangu satu sama lain. Tapi mereka yang datang mengusik." jawaban Iqbal membuat Rani semakin bersedih hingga memeluk Iqbal lebih erat.


"Aaaaahhhh." Iqbal berseru.


"Kamu kenapa?"


"Pengen."


"Iiih, nyebelin deh. Orang lagi sakit juga."


"Udah tahu aku sakit. Tapi kamu meluknya kekencangan."


"Oh, gitu ya. Maaf." Rani segera melepaskan pelukannya.


"Kenapa di lepas."


"Katanya sakit?..."


"Sini, biar aku yang peluk kamu. Tekanannya lebih sesuai." Rani kembali berhambur ke pelukan Iqbal.


***


Ketika pertama kali membuka mata, Nadine lah yang Zain lihat. Berulang kali Nadine mengecup tangan Zain.


"Kenapa menangis?" Zain mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi Nadine."Kakimu sakit?..." Nadine menggeleng. Harusnya itu adalah pertanyaan yang di ucapkan Nadine. Nadine tak mampu berkata apa-apa lagi, dia sangat bahagia suaminya sudah siuman. Nadine memeluk Zain yang masih terbaring di ranjang. Zain membelai rambut Nadine.


"Sudah jangan menangis. Di mana Aaron."


"Sama Bi Ijah." kata Nadine kemudian menghapus air matanya.


"Kenapa nangis?..."


"Aku tuh khawatir sama kakak. Aku takut kehilangan kamu. Aku nggak siap jadi janda."


"Katanya nggak enak punya suami nyebelin yang suka bangunin kamu yang lagi enak-enak tidur tiap tengah malam. Terlebih suka ngatur lagi."


"Itu dulu."


"Sekarang apa masih mau ngebantah suami lagi."

__ADS_1


"Nggak kak, aku kapok."


"Bagus."


__ADS_2