Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
DION DAN ZAHRA


__ADS_3

"Sekali lagi kau mengganggu istriku, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan mu."


"Udah ya kak, jangan di ladeni." Nadine segera menghampiri Zain yang sudah naik pitam lalu menarik paksa tangan suaminya dan membawanya pergi.


"Udah Yon, jangan cari masalah lagi. Kasian tuh si Darma yang beasiswanya terancam di cabut gara-gara masalah ini. Lihat nih, muka kita semua udah pada bonyok demi ngebela elo." ucap Alex, mereka semua mulai beranjak tetapi langkahnya terdekat saat Zahra dan Ganis menghadang jalannya, Dion yang berada di baris terdepan keningnya mengerut.


"Ini, kotak P3K untuk kalian semua." Zahra menyodorkan kotak P3K pada Dion.


"Kenapa kamu masih baik padaku, padahal aku sudah kasar pada sahabat mu?...'' Dion bertanya.


"Berbuat baik tidak perlu alasan kak." ucap Zahra.


"Kami kangen sama kak Dion yang dulu." sambung Ganis.


"Cepat kembali ya kak, tersesatnya jangan lama-lama. Jangan sampai karena keadaan, kita mengabaikan kebenaran." imbuh Zahra yang mulai berbalik dan beranjak pergi. Namun langkahnya tercekat ketika Dion memanggilnya...


"Zahra... Thanks ya..." ucap Dion tulus.


"Sama-sama kak?..." Zahra dan Ganis pun beranjak pergi.


"Nggak malu loh, di ceramahin sama bidadari surga." ucap Alex.


"Kalau elo mau melihat dan mencari lebih dalam lagi, masih banyak kok kebahagiaan yang bisa elo dapat, nggak hanya mentok Sama satu cewek. Elo mantan santri, elo punya ilmu dan pengetahuan. Di pake dong, jangan mau kalah sama kita-kita para pendosa yang nggak bisa baca bismillah." nasehat Habibi. Dion menghela nafas berat, merenungkan setiap nasihat dari para sahabatnya.


"Maaf ya, gara-gara gue, elo semua jadi dapat masalah."


"Nggak apa-apa. Kita sahabat yang selalu ada di saat suka ataupun duka."


"Jangan cuma minta maaf, lupakan masa lalu dan buka lembaran baru. Kita nggak mungkin selamanya bisa dukung elo kalau posisi elo salah."


"Iya, Terima kasih nasehatnya. Jangan pernah lelah menasehati gue."


"Siap Bro."


***


"Aduh, duh duh sakit. Pelan-pelan dong Sayang." Zain mengaduh kesakitan ketika Nadine mengompres wajahnya yang lebam.


"Makanya jangan norak, pakai cara berkelahi di kampus segala. Kampungan, bikin malu tahu nggak."


"Kalau dia bisa jaga ucapannya, aku nggak mungkin melakukan kekerasan."


"Lagian Kakak sendiri ngapain turun dari mobil terus nyamperin mereka, kalau kakak tetap santai di mobil, perkelahian nggak akan terjadi."


"Kenapa kamu selalu membelanya?..."


"Bukannya membelanya Kak, tapi kalian semua itu udah kayak anak kecil tau enggak pakai berantem di tempat umum. Aku itu nggak suka kekerasan, aku nggak mau ya kalau kejadian kayak gitu terjadi lagi."


"Iya-iya."


Nadine beranjak dari sofa sembari mengangkat wadah berisi air untuk mengompres wajah Zain. Tiba-tiba pusing melanda, pandangannya mulai kabur, ruangan terasa berputar-putar ia pun kehilangan kesadaran beruntung dengan sigap Zain merengkuhnya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sayang, sayang bangun." Zain menepuk-nepuk pipi Nadine tapi Nadine tak kunjung sadar.


"Kak Nadine kenapa, kak?..." Miranda yang baru saja melewati ruang tamu bertanya .


"Nggak tau Mi."


Zain menggendong Nadine dan membawanya ke atas ranjang, ia mengambil Hp kemudian menghubungi dokter pribadinya.


Zain yang panik berulang kali mengusap keringat yang membasahi kening istrinya, sedangkan Miranda memijat-mijat telapak tangan Nadine.


Setelah menunggu beberapa saat, bel rumah pun berbunyi. Zain beranjak untuk membukakan pintu untuk dokter Wisnu.


Setelah sampai di kamar, dokter Wisnu mengeluarkan stetoskop lalu mulai melakukan pemeriksaan untuk kondisi Nadine dengan konsentrasi penuh. Setelah memastikan dan mendapatkan kesimpulan dari setiap pengecekan yang ia lakukan, dokter itu menghela nafas lega.


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter Wisnu?..."


"Dari prediksi awal setelah melakukan pengecekan, sudah dapat di simpulkan bahwa istri anda sedang hamil. Tapi untuk memastikan hasil yang lebih akurat, lebih baik pergi ke rumah sakit dan periksa kandungan ke dokter spesialis kandungan."


Zain masih tercengang, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Dia masih sangat terkejut dengan kebahagiaan yang tiada tara.


"Kak Zain, kok malah bengong." guncangan di bahunya yang di lakukan oleh Miranda menyadarkannya.


"Hah..."


"Kak Nadine hamil. Bentar lagi aku punya keponakan." Miranda memeluk Zain, bentuk kebahagiaan yang bisa ia tunjukkan. Senyum Zain merekah lebar, ternyata dia tidak salah dengar. Kehadiran Nadine sungguh membuat kebahagiaannya berlipat ganda.


Apa anda yakin istri saya hamil?... Zain bertanya dengan wajah yang berbinar.


"Oh, baik lah terimakasih." usai dokter memberikan resep obat, dokter menyalami Zain untuk berpamitan pulang.


"Di jaga kondisi kesehatannya, jangan sampai kelelahan dan stress."


"Iya, pasti. Anda boleh pergi sekarang."


Setelah kepergian dokter Wisnu, tak henti-hentinya Zain mengucapkan puji syukur sembari mengecupi punggung tangan Nadine hingga ia membuka mata.


Nadine meminta pelipisnya, sebab kepalanya masih terasa berat. Melihat tangan mungil Miranda yang tertidur sembari memeluknya. "Kak."


"Gimana keadaan kamu?..."


"Nggak apa-apa, emang kenapa?..."


"Aku punya kabar gembira buat kamu." Zain mengusap perut Nadine yang masih rata sedang tangan yang satunya, tak henti-henti mengecupi punggung tangan Nadine. Senyum terus terukir di wajah Zain.


"Sebentar lagi kita akan punya anak, kamu hamil sayang." Nadine terkejut, ekspresi wajahnya tak terbaca.


"Kamu kenapa?" dahi Zain mengerut tak paham dengan reaksi yang Nadine tunjukan, ia pikir setelah mengetahui kabar kehamilannya Nadine akan sama antusiasnya dengan dirinya.


"Kok cepet banget sih kak hamilnya. Kita kan baru aja nikah. Ku pikir aku bakal sama kayak ibu, lama hamilnya."


"Kamu tidak bahagia mengandung anakku?..."

__ADS_1


"Bukan tidak bahagia kak, cuma kaget aja. Rasanya aku belum siap punya anak, umurku aja masih 19 tahun."


"Sayang, di syukuri aja ya. Ini anak kita, buah cinta kita. Anugerah terindah yang Allah titipkan pada kita. Allah yang memberikan kepercayaan pada kita, masak iya kamu mau protes." Zain berusaha sabar menghadapi Nadine.


"Nggak berani lah kak."


"Kamu jangan khawatir ya, aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan menjadi Papa yang siap siaga untuk kamu dan anak kita. Hahahaha..." Zain tertawa ketika menyebut dirinya 'Papa'


"Kok ketawa sih kak." Nadine cemberut.


"Senang aja, bentar lagi akan ada yang memanggilku Papa."


Nadine ikut bahagia ketika melihat kebahagiaan di wajah suaminya walaupun awalnya tak terlalu berharap dan cenderung menolak kehadiran janinnya karena terlalu cepat. Tanpa terasa, tangan itu membelai pipi sang suami.


"Aku ikut bahagia kalau kakak bahagia."


"Terima kasih sayang, sudah mau menjadi ibu dari anakku."


"Terima kasih juga, selalu baik sama aku."


"Oh, itu harus. Karena aku suami kamu."


***


Zahra sibuk di cafe, berjalan hilir mudik menanyakan dan mencatat pesanan para pengunjung, hingga langkah kakinya berjalan di meja depan, meja yang di isi oleh 2 pemuda dengan jaket kembar berwarna silver berlogo Serigala berwarna hitam dengan bordiran yang bertuliskan serigala hitam.


"Permisi mas, mau pesan apa?..." Zahra bertanya dengan ramah setelah memberikan daftar menu makanan, tangannya memegang pulpen dan note book, siap untuk mencatat pesanan yang akan di pesan.


"Pesan nomor Hp elo boleh nggak?..." tanya salah satu pengunjung itu.


"Maaf mas, yang bisa di pesan cuma menu yang ada di daftar makanan itu mas." Zahra berusaha sabar menghadapi pengunjung yang tak sopan.


"Sombong banget sih, nggak bakal rugi kenalan sama kita-kita."


"Kalau tidak ada yang mau di pesan saya permisi dulu."


"Berapa sih harga elo?..." ucapnya ketus ketika Zahra hendak melangkah.


"Jaga sopan santun mu, harga diriku tidak bisa di beli." ucap Zahra dengan tegas kemudian berbalik karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharganya untuk meladeni pemuda urakan seperti mereka.


"Plak..." emosi Zahra meluap-luap ketika salah satu dari mereka menepuk bokongya.


"Plak...." Satu tamparan keras mendarat di pipi salah satu pemuda tersebut.


"Berengsek, berani elo sama gue." teriak pemuda itu dengan lantang.


"Plak." dia balas menampar Zahra hingga tubuh Zahra terpental, beruntung Dion segera menangkapnya hingga tubuhnya urung terjatuh.


***


happy reading

__ADS_1


__ADS_2