Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
ZAIN MARAH


__ADS_3

"Sebelum menikah, seorang gadis patuh sama orang tuanya."


"Tapi kamu sudah nggak gadis, Ra." Dion mengerlingkan mata, menggoda istrinya. Zahra tersipu malu, ia mengigit bibir bawahnya.


"Jadi tambah gemes deh kalau liat kamu kayak gini."


"Kan kamu kak, yang udah mengambil kegadisan ku."


"Hehe, terus jadi gimana?..."


"Aku nurut sama kakak aja, kan kakak suami ku, lebih berhak dari orang tua ku tapi kak, lebih baik kita rundingan dulu sama kak Zain dan bapak ibu. Orang tua ku pasti menolak untuk tinggal di rumah Mama dan Papa, rasanya nggak etis kalau orang tuaku tinggal di rumah besannya."


"Tapi kamu janji ya, harus nurut sama suami." Dion mengacungkan jari kelingkingnya.


"Kayak anak kecil aja." Zahra berseru tapi tetap saja menautkan jari kelingkingnya ke jari suaminya.


***


Semua keluarga sedang makan malam bersama di meja makan, duduk mengelilingi meja persegi. Kursi-kursi di isi oleh Iqbal, Rani, Miranda, Dion, Nadine dan Zain, Zahra dan kedua orang tuanya. Dion melirik Zain yang telah selesai menyantap makanan. Ia menghela nafas panjang sebelum mengutarakan niatnya.


"Kak." ucap Dion.


"Bicara dengan ku?..." tanya Zain dengan lembut, karena hatinya telah menerima dengan lapang dada kehadiran Dion di keluarganya.

__ADS_1


"I, iya." Dion tergagap, dia takut merusak suasana hati yang damai dan enak di pandang. Dion menatap Zahra meminta persetujuan, Zahra mengangguk.


"Ada apa?..." tanya Zain sembari meneguk air putih.


"Re, rencananya setelah resepsi pernikahan aku akan membawa Zahra dan bapak ibu tinggal di rumah." tuntas sudah isi pikirannya di jabarkan.


TAAAKKKK.... Zain meletakkan gelas kosong di atas meja makan dengan keras. Membuat semua orang yang ada terperanjat kaget. Dion menunduk ketika mendapatkan tatapan tajam dari kakak iparnya.


"Memangnya siapa kau mau membawa adikku keluar dari rumah ini?... Kalau kau mau keluar dari rumah ini, keluar lah tapi tanpa adikku."


'Suaminya, aku suaminya.' Ingin sekali Dion mengatakannya tapi lidahnya terasa kelu, ia takut membuat Zain semakin marah dan mempersulit dirinya untuk mendapatkan restu membawa Zahra. Zahra menggenggam tangan erat Dion yang bertopang di pahanya.


"Kak, mana bisa seorang istri di pisahkan dari suaminya." sahut Zahra dengan tatapan sendu.


"Kak, tunggu." Zain yang emosi tak mengindahkan panggilan istrinya.


Nadine mengejar kepergian Zain, ia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki suaminya.


"Kak Zain kenapa marah?..." tanya Miranda kecil, ia kebingungan melihat ketegangan yang ada di wajah keluarganya.


Iqbal pun beranjak dari tempat duduknya, tak ingin terlibat dalam prahara rumah tangga orang lain. Rani mengekor di belakangnya.


"Nggak pengertian banget sih, baru aja Zain ketemu sama adiknya, eh adiknya malah mau di bawa pergi." Rani menggerutu.

__ADS_1


"Jangan terlalu ikut campur." ucap Iqbal.


"Loh, aku ini sebel, kasian sama Zain, dia pasti masih kangen sama Zahra, harusnya Zain itu tanya dulu, setelah nikah mau tinggal di mana?... Jangan ujug-ujug main nikahin adiknya."


"Yang ada di pikirannya Zain saat itu hanya lah kebahagiaan Zahra."


Rani berceloteh tak henti-hentinya bahkan sampai ke kamar masih saja menggerutu, Iqbal segera membungkam bibir Rani dengan bibirnya agar berhenti bersuara.


"Ih, Iqbal. Aku kan belum selesai protes." Rani mendorong dada Iqbal hingga tautan bibir mereka terlepas.


"Mending bikin pahala dari pada gibah."


***


Nadine mengejar kepergian Zain, ia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki suaminya.


"Kak..." Nadine mengedarkan pandangannya ketika memasuki kamar, mencari keberadaan suaminya. Matanya menangkap pintu ke arah balkon yang terbuka.


Nadine keluar menuju balkon, di lihatnya sang suami sedang berdiri, tangannya berpegangan pada pagar pembatas. Zain menengadah menatap ke arah langit, memandangi bintang yang bertaburan di sana.


Nadine mendekati Zain, lalu memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar di pinggang suaminya. Zain menoleh melihat Nadine sekilas, kemudian menengadah kembali.


"Kakak masih rindu ya sama Zahra?..." Nadine bertanya tanpa melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Setelah bertahun-tahun lamanya aku mencari keberadaan adikku, dan baru saja aku menemukannya, berkumpul bersamanya, tiba-tiba dia mau mengambilnya dariku."


__ADS_2