
Mobil memasuki pekarangan panti asuhan. Ketika Dion turun dari mobil, anak-anak kecil yang bermain engklek dan lompat tinggi berlarian berhambur memeluknya.
Melihat keakraban mereka, Zahra yakin bahwa Dion sering sekali kemari. Tak hanya senyum yang Dion tebar, suaminya juga mengusap-usap rambut para bocah. Suaminya memang baik, tak pernah berubah. Dulu ia jatuh cinta pada pemuda yang selalu bersedekah di lampu merah, ternyata pria yang ia cintai juga suka menyantuni anak yatim. Kepada anak panti saja Sayang begitu, apalagi pada anaknya sendiri, nanti. Entah lah, Zahra sendiri tidak yakin,
"Kak Dion Kok jarang sekali kemari." salah satu bocah mendongak dan bertanya.
"Iya, kita-kita kangen. Pengen main bola bareng."
"Kita kangen gitaran sama kak Dion."
"Iya, maaf kakak sibuk. Jadi baru sempet kemari."
Dion dibantu oleh Zahra mengeluarkan oleh-oleh yang mereka bawa dari dalam mobil, untuk anak panti.
"Horeeee Horeeee Horeeee...." anak panti melompat-lompat kegirangan saling berebut bingkisan yang dibawa oleh Zahra dan Dion.
"Tenang-tenang, satu-satu, jangan berebut ya. Semuanya bakal kebagian kok." ucap Dion.
Dion dan Zahra membagi satu persatu pakaian dan makanan kepada anak-anak panti.
"Kakak sering ke sini ya?" tanya Zahra , tangannya sibuk mengulurkan hadiah untuk anak panti.
"Iya, dulu. Tapi sejak lulus kuliah udah jarang, sibuk kerja." jawab Dion tersenyum lebar padanya.
"Oh, pantas akrab sekali sama mereka." Zahra merasa sangat beruntung bisa menikah dengan Dion, suaminya adalah lelaki yang berhati lembut dan pengertian. Dion tak pernah mengeluhkan apapun padanya, selalu menuruti keinginannya, selalu membuatnya tersenyum, bahkan rela mengorbankan nyawa untuknya. Hingga Zahra merasa bahwa sebagai istri dia tak pernah memberikan apapun untuk suaminya. Maka dari itu Zahra tak ingin mengeluhkan masalah kesibukan suaminya.
Beda dengan teman-teman Zahra, mereka selalu mengeluh tentang suaminya yang cuek, suka marah-marah, pelit, ringan tangan, tak mau membantu pekerjaan rumah. Jika di bandingkan dengan Dion, maka Dion adalah suami yang sempurna.
Pikiran Zahra berkelana tapi tangannya masih terulur membagi oleh-oleh pada anak panti.
__ADS_1
"Eh, nak Dion." berdiri wanita tua memakai hijab dan pakaian berwarna coklat keluar dari balik pintu.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam."
"Anak-anak, nggak boleh berebut gitu. Malu sama kakaknya." ucap Ibu Solehah.
"Tidak apa-apa Bu, namanya juga anak-anak." ucap Zahra.
"Istri kamu ya?"
"Iya." jawab Dion.
"Mari masuk, nak."
Zahra memasuki rumah panti, duduk di samping suaminya, tangannya masih terpaut dengan tangan Dion. Ibu panti pergi ke dapur menyiapkan hidangan. Mata Zahra menyusuri ruangan yang nampak sederhana. Tak terlalu luas, ada beberapa medali, sertifikat Akreditasi , dan foto anak panti bersama ibu panti dan juga donatur yang terpajang di dinding.
"Ini siapa? Kok mirip sama kakak?"
"Itu memang aku." jawab Dion yang sudah berdiri di samping Zahra menghadap foto yang tergantung di tembok.
"Kakak anak panti." Mata Zahra terbelalak.
"Hahahaha, bukan lah. Aku ini anak kandungnya papa mama."
"Terus foto itu?"
"Sejak kecil papa mama sering bawa aku ke sini. Tiap bawa aku mereka selalu bersedekah di hadapanku, katanya mengajarkan aku 'BELAJAR BERBAGI SEJAK KECIL'. Nah, pas anak-anak panti foto bersama, kebetulan ada aku. Aku nangis minta di foto." Dion bercerita sembari merangkul bahu Zahra.
__ADS_1
"Oh, begitu. Aku bersyukur deh punya suami dan keluarga yang baik hati."
"Aku lebih bersyukur memiliki istri sebaik kamu."
"Maaf ya kak, aku belum bisa hamil."
"Kamu ngomong apa sih, Ra. Mungkin aja belum rezeki. Innallaha ma'ashobirin, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar." Dion menatap Zahra dengan tatapan sendu, Dion tak ingin melihat Zahra merasa terbebani.
"Jika Allah menguji kita dengan anak bagaimana?" Zahra hanya ingin meyakinkan hatinya, ingin tahu apa yang di rasakan oleh suaminya.
"Aku percaya dan terima dengan sepenuh hati atas ketetapan Allah. Kita hanya perlu bersabar dan berusaha. Setiap malam kita akan olah raga."
"Iiih, apa sih kak. Malu tahu di rumah orang."
"Sebenarnya aku pengen peluk kamu disini, tapi tuh si bocil pada ngintip di jendela. Takut di jadikan contoh tak baik." Dion menunjuk jendela yang gelap.
"Eh, kenapa berdiri di situ." Ibu panti keluar dari dapur, membawa teh dan cemilan.
"Lagi nostalgia, bu." Dion dan Zahra kembali duduk.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan ibu panti, Dion membawa Zahra ke butik mamanya.
Dion memasuki butik, mengambil 1 gaun dan 3 baju syar'i, lalu membeli 5 baju lagi.
"Kak, buat apa baju sebanyak itu?..." tanya Zahra pada Dion yang masih berkeliaran mencari pakaian yang cocok untuk istrinya.
"Buat kamu pakai lah."
"Loh, buat apa kak?... Pakaian ku masih banyak."
__ADS_1
"Biar istriku senang."
"Hah..."