Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
TERHARU


__ADS_3

"Nadine."


"Apa lagi?..."


"I love you..."


Bukannya menjawab, Nadine malah tersipu malu. Seperti anak gadis yang baru mengenal cinta. Ungkapan cinta dari Zain membuat hatinya berbunga-bunga, Nadine merasa tubuhnya melayang -layang hingga ke nirwana. Bibirnya terkatup rapat, ia menunduk malu. Dia sangat malu, ingin menjawab I love you too. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menutupi kegugupannya.


"Nadine, kenapa masih berdiri di sini. Ayo masuk." Zahra menarik tangan Nadine dan membawanya masuk ke Cafe, Nadine menoleh melihat ke belakang. Zain tersenyum hangat padanya sembari melambaikan tangan.


Setelah tak lagi melihat Nadine, Zain menghela nafas kemudian pergi. Hati Zain belum bisa tenang jika Nadine belum menerima cintanya.


***


Nadine tak dapat fokus dalam bekerja. Pekerjaannya jadi kacau, berulang kali dia salah memberikan pesanan pada pelanggan Cafe. Kata cinta dari Zain sudah menyita pikirannya. Ungkapan cinta dari Zain selalu terngiang-ngiang di telinga dan pikirannya.


"Nadine, kamu kenapa?... Kok aku perhatiin ngelamun terus. Kalau nggak ngelamun pasti senyum-senyum sendiri?..." Zahra mengusap lembut lengan Nadine yang sedang melamun.


"Nggak apa-apa kok... Eeemmm, Zahra... Kamu pernah jatuh cinta nggak???..."


"Kenapa???... Kamu lagi jatuh cinta ya?..."


"Aku juga nggak tahu sih, pokoknya tiap dekat dia aku merasa nyaman, senang, grogi. Kalau jauh ingat terus, kepikiran terus."


"Mungkin itu yang namanya cinta... Sama kak Dion?..." Zahra menjawab sekaligus bertanya.


"Bukan sama kak Dion. Tapi sama kak Zain."


"Siapa lagi itu?..."


"Yang biasa antar aku ke kampus."


"Oh dia... Pasti kak Dion kecewa banget kalo tahu kamu udah jatuh cinta sama lelaki yang lain. Sebenarnya aku tuh kasian loh sama dia, pengorbanannya selama ini sia-sia. Tapi nggak apa-apa sih mungkin belum jodoh. Kamu jangan memberi harapan palsu ke dia."


"Aku nggak pernah ngasih harapan palsu ke kak Dion. Aku udah sering bilang, jangan sampai ada cinta di antara kita. Tapi kak Dion ngotot, ingin mendapatkan cintaku. Nah kalau cintaku jatuh pada pilihan Yang lain bagaimana?..."


"Biarlah waktu yang menjawab. Udah yuk, kita kerja lagi. Nggak enak sama yang lain kalau terlalu lama ngobrol."


"Iya " Jawab Nadine sembari memeluk nampan di dadanya.


***


Nadine mengemasi barang-barangnya kemudian keluar dari Cafe bersama Zahra.


"Nad, aku pulang duluan ya...." Ucap Zahra, dia selalu pulang berjalan kaki sebab Cafe tempatnya bekerja tak jauh dari tempat tinggalnya.


"Iya..."


"Assalamualaikum..." Zahra mengucap salam.


"Wa alaikumsalam..." Jawab Nadine.


Nadine menoleh ke kanan saat mendengar suara deru motor yang sedari tadi menunggunya di bawah pohon tanjung yang di sampingnya berderet pohon Kiara payung. Motor Zain mulai melaju mendekatinya.


"Dari tadi kak???..." Nadine bertanya saat Zain sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


"Baru 17 menit..."


"Waduh... Maaf ya kak lama nunggunya. Soalnya tadi bersih-bersih dulu."


"Nggak apa-apa, lebih baik aku yang standby dari pada kamu yang nunggu." Jawab Zain sembari memasang helm ke kepala Nadine.


"Kenapa nggak nunggu di dalam aja sih kak?..."


"Aku tidak suka melihat mu melayani orang lain."


"Namanya juga kerja, kak." Jawab Nadine seraya naik ke atas motornya. Namun Zain enggan menjawabnya. Dia sadar diri, saat ini dia bukan siapa-siapa.


"Sudah siap???..."


"Siap." Jawab Nadine, Zain pun langsung tancap gas.


Rasa bahagia bergelung di dalam dada kedua insan yang sedang di mabuk asmara. Senyum terus terukir indah di bibir Zain dan Nadine.


"Nadine..."


"Apa?..."


"Cari makan yuk. Ku traktir deh."


"Kak Zain royal banget sama aku, nggak takut uangnya habis."


"Jangan khawatir... Uang ku tak akan habis terkuras jika hanya untuk mentraktir mu makan."


"Kak Zain banyak duitnya ya..."


"Iya..."


"Uangku uangmu juga."


"Iiih ngomong apa sih kak." Ujar Nadine dengan ketus tapi Pipinya bersemu merah, bibirnya mengulas senyum.


"Nadine, kalau nanti kita nikah kamu mau kita tinggal di apartemen atau beli rumah sendiri?..."Zain bertanya serius.


"Iiih kak Zain ngomong apaan sih, nggak usah mengada-ngada deh?..." Nadine menggigit bibir bawahnya agar senyumnya tidak melebar, setiap kata yang keluar dari mulut Zain selalu membuat Nadine terbang melayang-layang.


Zain tersenyum, keluar ide usil di kepalanya.


"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Nadine Sakhi Albiru alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq." Zain membacakan ijab qobul di atas kendaraan.


"Iiih kak Zain apaan sih?... Norak deh." Nadine menutup mulutnya dengan tangan sembari tertawa terbahak-bahak. Dia sudah tidak bisa menahan diri, sedari tadi Zain terus saja menggodanya.


"Tiap hari loh Nad, aku latihan baca Ijab qobul biar kalau akad nikah nggak salah."


"Masak sih ijab qobul di atas motor???..."


"Kalau baca Ijab qobul di depan penghulu, kamu mau nggak?..."


"Nggak mau..."


"Kenapa nggak mau?..."

__ADS_1


"Ya nggak mau aja..."


"Ya sudah, sekarang nggak mau nggak apa-apa. Tapi nanti pas Ijab qobul harus mau ya."


"Ih maksa."


Mendadak motor yang di kendarai oleh Zain mati. Nadine segera turun dari motor di susul oleh Zain. Berulang kali Zain mencoba menstater motornya tapi motor tak kunjung hidup. Peluh sudah bercucuran di sekujur tubuh Zain.


"Businya masih bagus, kenapa ya???...." Ujar Zain setelah memeriksa kondisi businya.


"Mungkin minta di servis kak. Udah sering mogok kayak gini ya?..."


"Nggak pernah, motor ini rutin di servis kok. Kenapa mesti mogok pas lagi baca cewek sih." Zain mengeluh kemudian menendang motornya. Nadine yang mendengarnya terkekeh.


"Mungkin nasib pengen kita berduaan lebih lama deh..." Celetuk Zain.


"Iih sotoy deh.... Kak Zain ini makin ke sini makin alay deh."


"Hahahaha iya kah..." Zain menengadahkan kepalanya ke atas langit."Langit mendung. Bentar lagi pasti hujan. Nadine ayo naik."


"Naik kemana kak?..."


"Naik ke motor lah, masak naik aku."


"Ya tapi kan motornya mati."


"Sudah naik saja, percayalah padaku. Nanti kalau kamu naik, motornya pasti jalan..."


Ucap Zain. Namun Nadine malah diam termangu, menatap Zain dengan tatapan menyelidik."Loh, malah bengong. Ayo naik kalau tidak mau kehujanan."


"Serius nih kak?..."


"Iya, serius." Jawab Zain, walaupun ragu-ragu Nadine tetap naik ke atas sepeda motor milik Zain.


"Loh, loh, loh kak Zain, kok malah di dorong sih?..." Setelah Nadine duduk di jok motor, Zain malah mendorong setir motornya dengan tangan. Kakinya berjalan agak cepat karena takut hujan segera turun. Refleks Nadine berpegangan pada bahunya.


"Ya harus di dorong lah biar bisa jalan."


"Aku turun aja kak, kalau gitu."


"Jangan lah, kamu pasti capek abis bekerja. Kita mampir ke apartemen ku dulu sebentar, aku ambil mobil terus ku antar kamu pulang."


"Tapi kak, kakak pasti capek kalau dorong motor di tambah beban beratku."


"Apa sih yang nggak buat kamu. Apartemen ku deket kok nggak jauh dari sini."


Mata Nadine sudah berkaca-kaca, air mata sudah hampir jatuh dari matanya. Dia begitu terharu dengan perlakuan lembut dan romantis dari Zain. Rasa cintanya pada Zain semakin hari semakin berlipat-lipat.


5 menit, 10 Menit, 15 menit Zain terus mendorong motornya yang diduduki oleh Nadine. Nafas Zain sudah memburu, lelah yang ia rasakan tertukar dengan rasa bahagianya kala berdekatan dengan seorang Nadine. Keringat sudah membasahi tubuhnya. Hingga pakaian yang ia kenakan ikut basah kuyup.


Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Zain semakin mempercepat langkahnya. Setelah sampai di apartemen pakaian Zain dan Nadine sudah basah kuyup semua karena hujan.


Zain menggandeng tangan Nadine dan membawanya masuk ke apartemen. Mereka melewati lobby menuju lift.


Lagi-lagi Zain harus terjebak dalam satu lift bersama dengan Riska. Zain melepaskan tangan Nadine kemudian merangkul bahu Nadine. Sungguh pemandangan yang membakar jiwa Riska, hatinya terbakar cemburu buta. Riska berusaha menenangkan diri untuk memadamkan amarah yang berkobar di hatinya.

__ADS_1


Hati Riska semakin panas saat melihat Zain dan Nadine memasuki apartement yang sama.


Pikiran buruk hinggap di kepalanya, apakah Zain akan meniduri gadis itu seperti Rangga yang dulu menidurinya.


__ADS_2