Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
WISUDA


__ADS_3

Zahra melihat Dion yang baru keluar dari kamar mandi, melihat tubuh suaminya yang bertelanjang dada dan hanya terlilit handuk di pinggangnya. Tangan kanan suaminya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Mata Zahra beralih pada bekas luka di perut Dion karena tembakan. Zahra begitu terharu dan bersyukur memiliki suami yang rela mengorbankan nyawa untuknya.


Dion tersenyum nakal, menghampiri Zahra.


"Mau lagi?..." tanya Dion sembari meletakkan tangan Zahra ke dadanya. Tapi tangan Zahra malah turun menuju ke bekas luka di perut Dion lalu mengusapnya.


"Kalau kakak mau lagi, aku siap kok melayani." Zahra mendongak, menatap pupil mata Dion. Dion merebahkan Zahra ke atas ranjang, ia hendak mencium bibir Zahra tapi sang istri menahan dadanya.


"Kenapa?..."


"Makasih, untuk semuanya." Dion hanya tersenyum lalu mencium Zahra.


***


Setiap malam Zain selalu menyediakan air putih di atas meja sebelum Nadine tidur, sejak hamil dia sering bangun malam karena harus. Zain lebih posesif dan perhatian pada Nadine, mengusap dan mencium perut buncit Nadine seolah sedang mencium bayinya, adalah kebiasaannya setiap malam.


Tujuannya menemukan Zahra sudah terwujud, kini dia harus menjaga keselamatan keluarganya. Menyelidiki seluk beluk keluarga Dion, Zain tak ingin kecolongan lagi. Marco sekalipun tak luput dari pengawasan.


Kini Zain dan Nadine duduk di pendopo yang menghadap pantai, menikmati indahnya hamparan lautan biru, langit mulai senja, Matahari mulai sembunyi ke peraduan, menciptakan pantulan di permukaan laut.


Bersandar di bahu kokoh Zain begitu menenangkan. Mereka tidak pernah menyangka cinta yang mereka miliki akan sedalam ini.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, usia kandungannya sudah menginjak 9 bulan. Perutnya sudah besar dan mulai turun.


Hari ini adalah acara wisuda untuk Dion, dia mengenakan baju toga. Dion tersenyum lebar melihat kehadiran Mama papanya, Nadine, Zain, dan Zahra di hari bersejarah dalam hidupnya.


"Selamat ya, kak." Zahra memeluk suaminya dengan rasa syukur dan bangga, cukup lama mereka berpelukan sampai suara Nadine memisahkan mereka.

__ADS_1


"Aduh, antri nih yang mau ngasih selamat." ucap Nadine, melihat Dion dan Zahra lupa tempat.


"Selamat ya." Zain menjabat tangan Dion lalu berbelukan.


"Selamat ya kak Dion." ucap Nadine.


Pak Wibowo memeluk Dion, dia bangga atas kelulusan anaknya. Mama Kartika memeluk Dion dan berulang kali mencium wajah Dion.


"Udah, Ma... Malu di lihat orang."


"Mama seneng banget, nggak nyangka anak Mama yang dulu segini udah sebesar ini. Nggak kerasa." Mama mengukur dari pinggang ke atas kepalanya. Membuat semua orang tertawa.


Mereka semua mengabadikan momen bahagia ini lewat kamera. Dion berdiri di samping di samping Zain, Zahra dan Nadine berdiri di sisi suaminya.


Mama papanya sebenarnya ingin ikut berfoto tapi dosen mengajaknya mengobrol. Mereka akan mengambil gambar setelah mengobrol.


Pertama berpose saling merangkul, lalu melompat melempar topi toga wisuda ke udara dan berteriak. "Yeeeaaaahhh ..."


Zain merangkul bahu Nadine dan Zahra, mereka tersenyum simpul melihat Kebahagiaan Dion dan para sahabatnya.


Zain berpaling menatap Nadine, istrinya berdesis, tangannya memegangi perutnya.


"Kamu kenapa?..." Zain dan Zahra kompak bertanya.


"Perutku sakit, kak." peluh memenuhi wajah Nadine.


"Ayo ke rumah sakit." ajak Zain.

__ADS_1


"Biasanya minum air putih sakit bisa reda." ucap Nadine.


"Nadine kenapa?..." tanya Kartika yang tiba-tiba datang bersama dengan pak Wibowo. Dion dan temannya menghampiri mereka saat melihat wajah Zain yang terlihat khawatir dan Nadine pucat.


"Sakit, Tan."


"Mungkin mau melahirkan."


"Nggak tahu, Tan. Mungkin hanya kontraksi, akhir-akhir Ini sering kontraksi."


"Aduuuuhhh...." Nadine semakin meremas tangan Zain, rasa sakitnya kian menerjang.


Zain menggendong Nadine, membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu pergi ke rumah sakit.


Zain masuk ke dalam rumah sakit, berteriak memanggil-manggil dokter. Wajahnya panik, melihat Nadine kesakitan hatinya terasa di robek.


Zain begitu cemas, walaupun Nadine tak mengatakannya tapi terlihat jelas bahwa Nadine kesakitan. Sebisa mungkin Nadine menahan rasa sakit yang membuat nyawanya ingin keluar dari raganya. Dia tidak pernah menyangka bahwa melahirkan akan sesakit ini. Dalam perjuangannya melahirkan ia mengingat sang ibu, dia berjanji tidak akan ngambek lagi pada ibunya.


Berulang kali Zain mengusap peluh di kening Zain, sedangkan satu tangannya di remas oleh Nadine.


Zain sangat gugup, takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak dan istrinya.


Zain mengeluarkan ponselnya, ada panggilan telepon dari Iqbal.


"Zain, istriku mau melahirkan."


"Apa? Ehemm, istri saya juga melahirkan Tuan."

__ADS_1


"Apa?'' Keduanya sama-sama terkejut.


__ADS_2