Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
PENCULIKAN


__ADS_3

Nadine, Bi Ijah dan Bu Azizah pergi ke toko baju. Mereka bertiga membeli banyak baju dan kerudung untuk Nadine.


"Bu, ini bajunya udah banyak banget loh, Bu."


"Stok busana muslim mu itu sedikit. Calon suamimu ngasih ibu uang banyak untuk kamu keperluan pernikahan kalian."


"Ingat ya pesan ibu... Layani suami mu dengan baik." Ibu Azizah menasehati Nadine sembari memilih pakaian.


"Iya Bu."


"Berhias untuk suami, bukan untuk orang lain. Ini nih kebiasaan buruk istri Zaman sekarang, di hadapan suami kayak pembantu tapi pas lagi kondangan kayak artis. Kamu nggak boleh ikut-ikutan kayak gitu."


"Iya Bu."


"Kalau keluar rumah harus pamit suami. Kalau suami tidak mengizinkan, harus nurut. Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya." Begini lah Ibu Azizah jika menasehati Nadine selalu panjang lebar. Nadine hanya menjawab iya, sebab jika tidak begitu maka ceramahnya akan semakin panjang seperti kereta api tak berujung.


"Jangan suka mengumbar aib suami. Aib suami adalah aib istri."


"Iya Bu."


"Kalau suamimu meminta haknya di atas ranjang, harus kamu layani."


"Iiih Ibu ni bahas apaan sih!!!...."


"Loh, kamu harus tahu. Dosa loh nolak ajakan suami."


"Iya Bu, iya.... Nadine tau, udah ah nggak usah di bahas. Nadine malu." Wajah Nadine bersemu merah karena malu, bisa-bisanya sang ibu membahas masalah demikian dengan Nadine. Sedangkan bi Ijah malah tersenyum, mengerti dengan apa yang di rasakan oleh anak gadis itu.


***


Pukul 10 menjelang siang, Nadine sudah sampai di depan rumah. Di teras ada Zain yang terus memandanginya tanpa berkedip. Dia pangling melihat kecantikan Nadine, yang memakai jilbab dan baju syar'i.


"Assalamualaikum..." Ucap Nadine, Bi Ijah dan Ibu Azizah serempak.


"Wa alaikumsalam..." Jawab Zain tanpa mengalihkan pandangannya dari Nadine. Nadine sesekali melihatnya dengan tatapan sinis.


"Kok duduk di luar sendirian aja Nak?..."


"Iya Bu, Cari udara segar Bu." Jawab Zain, matanya masih mengarah pada Nadine yang bibirnya mencibir hingga bibir bawahnya condong ke depan.


"Oh, kalau begitu ibu masuk dulu ya." Bi Ijah dan Ibu Azizah pun masuk ke dalam rumah, Nadine masih menatap Zain sinis.


"Ingat.... Jaga mata, jaga pandangan. Katanya ke bapak takut terjerat dosa." Nadine menunjuk-nunjuk matanya sendiri untuk mengingatkan Zain akan ucapannya pada sang Bapak."Di depan bapak saja sok alim." Gerutunya.


Nadine mulai melangkah hendak memasuki rumah tapi Zain menarik lengan baju Nadine."Ini dosa, ini dosa, ngerti." Nadine menunjuk tangan Zain yang memegangi bajunya.


"Ssssttttt.... Jangan berisik, nanti kedengaran bapakmu." Zain tersenyum geli melihat tingkah laku Nadine. Zain tahu jika dirinya sok alim saat berhadapan dengan pak Taufik demi lancarnya lamarannya.


"Bodo'.... Lepas, aku mau masuk."


"Jawab dulu pertanyaan ku, kenapa kamu pakai kerudung?..."


"Mau tau aja???.... Atau mau tahu banget???..."Ingin sekali Zain menarik hidung Nadine saking gemasnya.

__ADS_1


"Mau tau banget."


"Ini nazar kalau aku nikah bakal berhijab."


"Jadi pernikahan kita membawa kebaikan ya."


"Aamiin...." Zain sangat senang Nadine mengamini kebahagiaan untuk pernikahannya.


"Aku makin cinta kalau kamu manis begini."


"Iiiidiiiiihhhh..."


"Bisa duduk di sini sebentar, aku pengen ngobrol sama kamu?..."


"Maaf, nggak bisa." Jawab Nadine masih dengan nada jutek.


"Nadine, nanti aku akan pergi dari rumah ini dan akan kembali lagi dengan iringan pengantin."


"Terserah, pergi aja sana. Lebih cepat, lebih baik." Kemudian Nadine berlenggang pergi. Zain hanya menggelengkan kepalanya melihat Nadine yang masih merajuk padanya.


***


Dion pergi ke Cafe kemudian menghampiri Zahra yang tengah sibuk melayani pengunjung.


"Zahra."


"Eh, kak Dion." Zahra sedikit terkejut melihat penampilan Dion yang terlihat begitu lusuh tak terurus.


"Tapi kak, aku masih kerja."


"Aku minta waktu mu sebentar. Nanti aku yang akan bilang ke manager mu." Zahra mengangguk kemudian mengikuti Dion yang duduk di kursi paling pojok.


"Kakak mau bicara apa?..."


"Tentang Nadine. Kamu tahu dia kenapa???..." Zahra menundukkan pandangannya ketika Dion menatapnya.


"Maksudnya???..."


"Tiba-tiba dia mutusin hubungan kami."


"Serius kak!!!..." Zahra yang terkejut mendengarnya, mendongak. Ketika pandangan matanya kembali bertemu dengan manik mata Dion, Zahra kembali menunduk.


"Kamu nggak tahu???..."


"Nggak tahu kak, Nadine nggak cerita." Zahra menggeleng. "Sabar ya kak, mungkin belum jodoh."


"Dia sulit sekali di hubungi. Mungkin karena aku adalah mantan pacar setengah harinya, jadi dia merasa tidak nyaman dan terganggu denganku."


"Nggak sih kak, Nadine memang tidak bisa di hubungi. Terakhir kali kami komunikasi pagi hari setelah acara pensi, dia minta Izin libur kerja, untuk liburan ke kampung halamannya. Setelah itu dia udah nggak bisa di hubungi lagi."


"Huuuuufffhhh...." Dion menghela nafas berat."Jujur, hatiku masih belum puas dan lega kalau belum dengar dari bibir Nadine langsung."


"Terus rencana kakak apa?..."

__ADS_1


"Aku mau susul dia ke sana."


***


Dion pergi ke bandara SOEKARNO-HATTA internasional, dia melakukan penerbangan dari Jakarta ke Surabaya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam pesawat pun mulai menukik untuk mendarat di bandara Juanda Surabaya. Dari kaca jendela, Dion melihat landasan pesawat yang di lintasi oleh roda pesawat.


Beberapa saat kemudian Dion melangkah keluar dari bandara dengan menggendong ransel di punggungnya. Dion memasuki taksi yang berhenti tepat di depannya.


"Pak, antar saya ke kota Bangil, daerah pondok Sidogiri."


"Baik mas..."


Dion memandang ke arah luar kaca jendela. Nadine terus saya berkeliaran di pikirannya. Hatinya gelisah, sedih dan terluka setiap mengingat gadis itu, semalaman Dion tak bisa tidur memikirkan pesan yang Nadine kirim. Hatinya masih tak rela, tak tenang jika belum mendengar secara langsung dari Nadine. Dirinya yang sedari tadi melamun baru menyadari bahwa taksi yang ia tumpangi tidak menuju ke arah kota Bangil, melainkan ke arah Surabaya.


"Pak, ini bukan ke arah Bangil tapi ini jalur menuju ke Surabaya." Protes Dion yang kepalanya condong ke depan untuk menegur si Sopir.


"Oh, maaf mas saya salah jalur." Si Sopir yang mengenakan masker menoleh.


Taksi berhenti di tempat dua orang pria bertubuh besar berdiri. Dua orang pria tersebut masuk ke dalam taksi.


"Kalian siapa???... Kalian mau apa. Toloooooong... Toloooooong." Dion panik dan memberontak ketika ketiga orang pria bertubuh besar itu memeganginya.


"Mohon kerjasamanya. Kami tidak akan menyakiti anda." Dion tetap memberontak kemudian salah satu pria itu membekap Dion dengan sapu tangan yang sudah di campur obat bius. Dalam hitungan detik Dion sudah tidak sadarkan diri.


***


Nadine duduk di depan cermin dengan balutan kebaya pengantin berwarna putih, dengan desain modern. Pilihan Zain sendiri, spesial untuk calon istrinya. Riasan tipis di wajahnya sudah menyulap wajahnya bagaikan bidadari. Siapapun yang memandang pasti akan terpesona.


"Sempurna.... Calon suamimu pasti kesem-sem liat kamu." Ucap si perias.


Kemudian Ibu Azizah membawa Nadine untuk duduk di atas ranjang bersama dengan dirinya.


"Iringan pengantin datang.... Iringan pengantin datang.... Iringan pengantin datang...." Dari dalam kamar Nadine dan ibu Azizah bisa mendengar suara riuhnya orang.


***


Author...


Kalau mau nanti malam aku update.... Bagi vote ya.... Hihihihihihi.... Baru Nemu ya author edan kayak aku....


Ini yang nyulik Dion siapa ya?... Yang bisa jawab ku berikan hadiah Terima kasih πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Ini malam pertamanya request model gimana?...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ¦ΈπŸ¦ΈπŸ¦ΉπŸ¦ΉπŸ¦Ή silahkan request???


A. Malu-malu kucing 🐱🐱🐱🐱


B. Hot hot pop banget.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


C. Pemaksaan.


D. Nunggu lebaran.


E. Skip ... puasa.

__ADS_1


__ADS_2