
"Kenapa???..." Zain bertanya dengan dahi yang berkerut. Dia sedikit kecewa atas penolakan Nadine. Zain menghapus air mata yang mulai meluncur membasahi pipi istri tercintanya.
"A-aku sedang datang bulan. Aku, aku juga belum siap." Nadine berbohong. Dia masih sakit hati dengan perlakuan Zain pada orang tuanya. Apalagi ketika mengingat Zain yang tidur dengan wanita lain, membuat dadanya terasa sesak, itulah alasan kenapa dirinya menolak Zain. Ketika Zain menciumnya menggebu-gebu, terbesit bayangan wanita itu di mata Nadine.
"Kamu sedang tidak berbohong kan?..." Zain menatap manik mata Nadine, mencoba menelisik dusta di matanya. Namun yang ia dapati adalah mata penuh luka dan takut.
"A-aku masih belum siap melakukan itu." ucap Nadine tergagap. Zain mendekati Nadine mengecup keningnya lalu memeluknya, ia berusaha mengerti keadaan Nadine. Dialah yang memaksa menikahi gadis itu dan tanpa mau tahu apa keinginan Nadine, dia main maksa.
"Maaf kalau aku membuatmu takut. Kita lakukan pelan-pelan saja ya. Sampai kamu siap." Zain mengusap kepala Nadine yang tertutup oleh hijab.
"Iya." Nadine melingkarkan tangannya, balas memeluk erat suaminya, membiarkan wajahnya bergumul di dada hangat sang suami. Cinta, benci, dan polos itu beda tipis. Benci tapi nyaman berada di pelukan suaminya.
Cukup lama mereka berdua dalam posisi berpelukan sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali dari luar.
"Nak, sudah belum... Itu tamu-tamunya udah pada nunggu." terdengar suara ibu Azizah dari balik pintu.
"Iya Bu..." Nadine segera melepaskan pelukannya. Zain membantu merapikan diri Nadine yang berantakan karena, bahkan lipstik Nadine sudah cemong-cemong. Zain berusaha menahan tawa, tak ingin menyinggung hati Nadine.
***
Nadine keluar dari kamar dan pergi menuju rumah bibinya, di mana para tamu perempuan di tempatkan.
Semua tamu yang hadir berdiri ketika melihat Nadine memasuki ruang tamu. Nadine menyalami semua tamu yang hadir. Langkahnya terhenti pada Miranda yang berdiri di depan bi Nurul, yang berada di samping Rani.
"Miranda juga ikut???..." Nadine membelai pipi tembem Miranda setelah gadis itu mencium punggung tangannya.
"Iya kak."
"Miranda nginap sini ya."
"Pengennya sih gitu. Tapi sama kak Zain nggak boleh."
"Kenapa?..."
"Katanya kak Zain mau bikin adik buat aku."susah payah Nadine menelan ludahnya yang terasa serat di tenggorokan ketika mendengar celoteh Miranda, sementara para tamu tergelak.
"Miranda pengen punya adik berapa?..." Rani menimpa, ikut nimbrung menggoda pengantin baru.
"Sepuluh." Jawab Miranda dengan penuh semangat sembari melayangkan 10 jarinya. Para tamu semakin tergelak, sementara Nadine semakin tersipu malu.
***
Di dalam kamar pengantin, Nadine bersandar di headboard ranjang. Dia duduk dengan memeluk lututnya sendiri. Dia bingung, dia gugup. Nadine semakin mengkerut ketika mendengar suara pintu berderit. Nadine menatap Zain yang menutup pintu lalu menguncinya. Ketika Zain menatapnya Nadine kembali menunduk.
Zain melangkah semakin mendekatinya, membuka jasnya lalu melemparkannya ke ujung ranjang. Nadine berhenti bernafas sejenak ketika Zain sudah duduk di sisinya, tak memberi jarak hingga lengan mereka bersentuhan. Jantung Nadine meletup-letup ketika Zain merangkul bahunya. Tubuhnya semakin mengkerut.
"Kamu nggak gerah, pakai kebaya sama kerudung terus?... Cup." Selalu sembarangan mencium pipi Nadine tanpa permisi. Membuat wajah Nadine kian merona.
"A-aku ganti baju dulu." Nadine melepaskan tangan Zain dari bahunya.
__ADS_1
"Aku bantu ya..."
"Nggak usah kak, aku bisa sendiri." Nadine beringsut mundur, menyilangkan tangannya di dada sebagai tameng.
"Aku penasaran sama isi di balik bajumu!!!..."
"Ngomong apa sih kak... Nyebelin."
Nadine mulai gugup. Ketika Zain menarik jarum pentul yang tertancap di kerudungnya tepat di bawah dagu. Sedetik kemudian Zain sudah membuka kerudungnya.
"Jangan takut, nanti kamu akan terbiasa."
"Kakak itu tukang bohong. Sukanya ingkar janji."
"Semua pasangan suami istri pasti akan melakukan itu. Dan hal itu tidak mungkin bisa di hindari."
Nadine menepis tangan Zain ketika tangan itu hendak membuka kancing kebaya yang melekat di tubuhnya.
"Nggak usah pegang-pegang. Aku bisa ganti baju sendiri." selorohnya dengan nada ketus dan bibir mengerucut hingga bisa di kuncir, lagi-lagi Nadine menyesalinya sebab Zain tiba-tiba menyerang bibirnya.
"Kak jangan." Ucap Nadine ketakutan ketika Zain melepaskan pagutan mereka. Zain mendorong tubuh Nadine hingga terjatuh ke atas ranjang. Hati dan pikiran Nadine menolak tapi tubuhnya merespon lain. Kata-kata Zain tidak bisa di pegang, baru tadi dia mengatakan akan melakukannya pelan-pelan sampai Nadine siap. Sekarang dia sudah melucuti pakaian Nadine, hanya menyisakan rok batik yang masih melekat karena Nadine sedang datang bulan, pikirnya. Zain memberikan banyak kiss Mark di sekitar leher, dada dan perutnya. Membuat tubuh Nadine terlihat seperti macan tutul.
Zain menarik selimut menutupi tubuh Nadine hingga batas dada. Zain memeluk tubuh Nadine dari belakang, menjadikan tangannya sebagai bantal untuk kepala Nadine. Nadine menutup wajahnya ketika mengingat perlakuan Zain barusan, Dia sangat malu bercampur kesal, walaupun jujur ia juga menikmati gelenyar aneh yang timbul karena sentuhan bibir dan tangan Zain.
"Kak, udah. Aku ngantuk, nggak bisa tidur kalau tanganmu pegang-pegang." Nadine protes karena tangan Zain yang masih aktif bergerak.
Zain membalik tubuh Nadine hingga menghadap dirinya, melingkarkan tangan Nadine ke pinggangnya. Lalu memeluk Nadine dengan begitu posesif.
"Aw..." pekik Zain ketika Nadine mencubit pinggangnya. Lalu Zain mengecup puncak kepala Nadine.
***
Keesokan paginya Nadine terbangun ketika sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang. Dia menyingkirkan tangan Zain yang melingkar di pinggangnya secara perlahan, di tatapnya dengan seksama wajah pria yang semalam sudah menjadikannya sebagai seorang istri.
Ia tatap lekat wajah tampan itu, telunjuknya menelusuri pahatan wajah yang begitu sempurna. Hidupnya begitu runcing, lebih runcing dari hidung bangir Nadine, bulu matanya lentik, alisnya tebal seperti terukir, bibirnya tipis terasa manis dan segar dengan aroma mint. Nadine masih bisa merasakan rasa kenyal bibir Zain bahkan sampai saat ini.
Nadine beranjak dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk kemudian beribadah sembunyi-sembunyi. Setelah itu Nadine membangunkan Zain yang masih terlelap.
Nadine menusuk-nusuk lengan Zain dengan telunjuknya, tapi Zain hanya menggeliat. Nadine baru tahu Jika suaminya tidur seperti kebo. Terselip ide jahil di kepalanya. Nadine tersenyum, sedetik kemudian ia mengibas-ngibaskan rambut basahnya ke wajah Zain hingga terpercik air membasahi wajah rupawan itu. Zain mengerjap-ngerjapkan matanya, menjadikan tangannya sebagai tameng untuk menutupi wajahnya.
"Nadine, berani kamu ya..." Zain menarik tangan Nadine hingga ia terjatuh di atas tubuh Zain, pun kemudian membelit tubuh Nadine.
"Kak, lepas..."
"Nggak mau."
"Iiih kak udah pagi, ayo bangun." Nadine memberontak tapi sia-sia.
"Cium dulu."
__ADS_1
"Iiih, apaan sih kak. Nggak mau, semalam kan udah."
"Semalam udah, sekarang belum." Zain mencondongkan pipinya, ketika Nadine hendak menciumnya, Zain malah mengarahkan bibirnya hingga bibir mereka bersentuhan. Akhirnya Zain membalik posisi Nadine di bawah dan menciumnya lebih lama hingga Nadine terengah-engah tak bisa bernafas.
Setelah melepaskan pagutan mereka, Zain terkekeh ketika Nadine menghirup udara sebanyak-banyaknya. Zain segera turun dari tubuh Nadine. Dan pergi ke kamar mandi.
***
Dion mengerjap-ngerjapkan matanya ketika matahari menyusup masuk lewat jendela kamar, menyinari wajahnya. Dion memperhatikan sekelilingnya, kepingan kejadian kemarin mulai terkumpul di ingatannya. Membuatnya terhenyak dan memaksakan diri untuk duduk walaupun kepalanya terasa begitu berat.
Dion melihat ke segala arah, dia berada di atas ranjang yang tak terlalu besar. Dengan ukuran kamar 4mX4m dengan dinding berwarna putih seperti peta karena rembesan air hujan. Dion melihat tasnya yang tergeletak di atas meja dan terdapat sepucuk surat di atasnya yang bertuliskan "Maaf sudah mengganggu perjalanan anda, ada sedikit uang untuk ongkos kepulangan anda, dan sebagai permintaan maaf, kami memberikan bingkisan oleh-oleh untuk anda bawa pulang. Kami juga telah menyediakan makanan yang bisa anda makan setelah terbangun."
Dia melihat kardus makanan yang terletak di samping tasnya. Dion membuka ranselnya dan memeriksa isinya. Semuanya masih utuh, tidak ada yang hilang. Bahkan ada amplop berwarna coklat yang cukup tebal. Ketika di buka, benar saja isinya uang.
"Sebenarnya apa tujuan mereka menculikku!!!..."
Dion segera keluar dari ruangan itu. Dion melihat sekeliling, dia berada di tempat yang gersang dan tandus, seperti tempat pembuangan mobil dan motor bekas. Sepi, tidak ada rumah. Hanya ada satu rumah yang tadi dia tempati.
Dion segera keluar dari area itu dan pergi mencari rumah makan, dia sangat kelaparan. Dion memasuki rumah makan Padang. Dia memakan makanannya dengan lahap seperti orang yang sudah lama tidak makan. Kemudian dia pergi ke pom bensin yang tidak jauh dari tempatnya makan untuk menumpang mandi dan berganti pakaian.
Dion memesan taksi online lewat ponselnya, tak lama kemudian taksi online yang ia pesan datang.
"Pak, antar saya ke Bangil." titah Dion setelah dirinya duduk di kursi penumpang.
"Baik, mas."
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, akhirnya Dion sampai di kota Bangil. Ketika melewati pondok pesantren Sidogiri, kenangan masa lalu ketika dia masih menimba ilmu di sana berkelebat di pelupuk mata.
"Apakah masih jauh pak?..."
"Asalkan tidak macet, 20 menit sudah sampai mas."
Dada Dion semakin bergemuruh ketika menyadari jaraknya dengan Nadine tak lagi jauh. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis yang sangat di cintainya. Seumur hidup dia tidak pernah merasakan jatuh cinta kecuali pada Nadine.
***
Nadine sedang menata piring yang di gunakan untuk acara semalam di ruang tamu. Di rumah hanya ada dirinya dan Zain yang tengah terlelap karena kelelahan membantu mertuanya membereskan semua yang berantakan sisa acara semalam.
"Assalamualaikum...."
"Wa alaikumsalam..." Nadine mendongak, melihat ke arah asal suara. Mata Nadine terbelalak ketika melihat Dion berdiri di depan pintu. Seketika itu Nadine berdiri, menatap Lekat-lekat wajah Dion. Dada Nadine terasa sesak melihat kekacauan yang terlihat jelas di wajah Dion. Gurat kecewa dan sedih tampak begitu jelas di wajahnya. Membuat Nadine semakin di hantam rasa bersalah.
Tanpa di persilahkan masuk Dion sudah berlari ke arah Nadine dan memeluknya.
***
Author
Mak emak di sini lagi nunggu adegan enak'enak ya.... Mohon sabar, lagi puasa.ππππππ
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya???..π¦Έπ¦Έπ¦Έ
Apakah Zain akan bertepuk tangan melihat istrinya di peluk sang mantan?...π¦Ήπ¦Ήπ¦Ή