Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
Lamaran Dion


__ADS_3

"Keluar lah kalian. Aku butuh ruang." Titah Zain dengan tegas. Dua perawat, 1 dokter itu pun keluar dari ruang rawat Si penculik, hanya menyisakan si penculik, Zain dan 2 anak buahnya.


"Informasi apa saja yang kalian dapatkan?..."


"Dia penculik anak, kemudian menjualnya untuk di jadikan pengemis."


"Deg...." Zain meremas selimut pasien yang ada di depannya. Matanya berubah merah, amarah sudah mengungkungnya, namun dia masih berusaha tetap tenang.


"Lalu?..."


"Jika anak-anak tumbuh dewasa dan sesuai dengan minat pasaran maka...." Anak buahnya tak berani melanjutkan informasi selanjutnya.


"Lanjutkan...." Zain berusaha tegar, menerima segala informasi yang pahit sekalipun.


"Maka akan di jual di rumah bordil untuk di jadikan wanita penghibur...."


"Bug...." Zain yang sudah tak tahan menahan gejolak di hatinya menghantam dengan sangat kuat tangan si penculik. Matanya sudah merah berkaca-kaca, emosinya meledak-ledak. Membayangkan kemungkinan terburuk, membayangkan adiknya akan menjadi pelampiasan nafsu lelaki hidung belang.


"Adikku sangat cantik, bagaimana jika dia sesuai dengan minat pasar???..." Gumam Zain dalam hati.


"Sebagian gadis dan anak-anak akan di jual ke luar negeri." Lanjut tim penyelidik.


"Lakukan penyelidikan lebih ketat di setiap rumah bordil."


"Baik Tuan. Tapi...."


"TAPI APA?..." Hardik Zain yang sudah tak bisa menahan amarah di hatinya. Membayangkan hal buruk yang menimpa adiknya membuat Zain semakin di hantam rasa bersalah.


"Kami belum menemukan informasi tempat di mana adik anda akan di jual. Penjualan gadis bisa di lakukan di rumah bordil manapun. Kami mendapatkan beberapa potret anak kecil yang di jual dan jadi pengemis tapi tidak ada satupun potret dari adik anda. Dan jika adik anda di jual hingga ke luar negeri, maka akan semakin sulit untuk di jangkau."


"Praaaaannnnkkkkk...." Zain melemparkan vas bunga yang terpajang elok di atas meja. "Cari di seluruh rumah bordil, bahkan sampai ke ujung dunia pun cari... KELUAR KALIAN SEMUAAAAA...." Teriakan Zain menggema hingga terdengar keluar dari kamar rawat inap.


Setelah dua anak buahnya keluar, Zain merosot hingga berlutut di atas lantai. Zain pun menangis tersedu-sedu, memikirkan adiknya. Air mata mengalir membanjiri wajahnya tanpa izin.


"Hiiiikkkkkzzzz..... Miranda... Maafkan kakak... Ini semua karena kesalahan kakak yang lalai menjagamu. Maafkan kakak....Ini semua salah kakak....Hikzzz"


***


Nadine merasa ada yang janggal, biasanya Zain akan seliweran kesana kemari untuk menarik perhatiannya, tapi sejak tadi Nadine tak melihat batang hidungnya. Entah kenapa hal itu membuatnya hatinya gelisah. Nadine berharap Zain mengganggunya seperti biasa, aneh bukan.


"Apakah dia marah karena tadi aku cuekin ya...."


Setelah Satu Minggu berlalu Nadine baru bisa melihat batang hidung Zain. Ketika Nadine membersihkan meja, mata mereka saling bertemu. Saling terkunci untuk beberapa detik namun Zain segera memutus kontak mata mereka dan berjalan melewati Nadine. Ya, Zain hanya melewati Nadine bahkan melirik pun tidak. Tapi kenapa hal itu membuat hati Nadine kesal. Zain menatap punggung Zain yang pergi kian menjauh.


Rani, Iqbal dan Zain duduk bertiga di meja makan. Rani memangku Putri sementara Iqbal menyuapinya dengan nasi bercampur sayur sop. Sementara Zain sibuk mengutak-atik laptopnya.


Nadine menghampiri Zain kemudian meletakkan secangkir teh panas di hadapannya namun Zain diam saja memasang ekspresi wajah dingin. Hal itu membuat hati Nadine kecewa, biasanya Zain selalu mengucapkan 'terima kasih' dan akan berceloteh untuk menggodanya.


"Zain tumben diem!!!.... Ada Nadine tuh..." Rani mencoba mencairkan suasana.


"Diam lah Ran, jangan mengganggunya." Sergah Iqbal.


"Dia itu kenapa sih Iqbal???...." Rani yang penasaran masih bertanya.


"Perempuan jangan terlalu ikut campur urusan laki-laki. Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan."

__ADS_1


"Papah....Ga,,,lak..." Celoteh Putri.


"Jangan mengajari Putri hal yang tidak-tidak Ran...." Protes Iqbal sembari membelai lembut pipi mulus putrinya.


"Iiih nggak lah, orang kamu emang galak kok...Iya kan sayang!..." Rani bertanya pada Putri dan langsung di jawab anggukan olehnya.


Iqbal yang sadar dengan kehadiran Nadine di ruang makan memberikan isyarat pada Rani agar menegurnya.


"Nadine kenapa berdiri terus di situ." Nadine yang tanpa sadar sejak tadi memperhatikan Zain pun tersentak kaget, hingga salah tingkah.


"Eh, Emmm.... Itu, Itu ada yang di butuhkan lagi nggak kak?..."


"Oh, nggak ada...." Jawab Rani. Sementara Zain tetap cuek.


"Kalau begitu saya permisi."


"Tunggu... Duduklah di samping Zain. Berangkat kuliah nanti bareng." Ucap Iqbal. Nadine pun menurut, tak ingin Iqbal memerintah untuk kedua kalinya. Nadine curi pandang, merasa aneh dengan sikap Zain yang tidak seperti biasanya.


***


Acara pensi(pentas seni) di kampus Nadine di selenggarakan untuk merayakan kelulusan mahasiswa dan mahasiswi yang lulus dari fakultasnya.


Acara digelar dengan sangat meriah di aula kampus.


Berbagai penampilan di tampilkan oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang menyumbangkan keterampilannya di bidang ekstra kurikuler.


Ada Grub band, seni tari, dancer, ada juga yang menyumbangkan lagu.


Nadine dan teman-temannya berdiri di sisi gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang menonton pentas di atas panggung, musik terdengar sangat kencang. Untuk berbincang pun harus berteriak agar bisa di dengar.


"Bug..." Nadine hampir terjatuh saat Renata dengan sengaja menyenggolnya, beruntung teman teman Nadine menahannya.


"Hey, jangan ngawur kalo jalan." Nadine meneriaki Renata dengan raut wajah yang kesal, tapi Renata hanya melihat Nadine dengan tatapan sinis, lalu melengos dan pergi. Tanpa ada niat sedikitpun untuk meminta maaf.


"Sabar Nad, orang sabar di sayang Allah.." Ucap Ganis setengah berteriak agar suaranya bisa di dengar karena musik sangat kencang, sambil menepuk nepuk punggung Nadine.


"Waaahhh keren sekali ya penampilan dari Grub Band Lolipop, beri tepuk tangan yang meriah dong untuk Grup band kita yang satu ini." Suara pembawa acara menggema di seluruh aula.


"Prok prok prok prok prok prok..." Para penonton bertepuk tangan dengan penuh semangat, begitupun Nadine.


Si pembawa acara terus berceloteh.


"Mana semangatnya..."


"Huuuuuu.."


"Masih mau lanjut???....."


"Lanjut doooong..."


"Mana semangatnya?..."


"Huuuuuuuuu....Prok prok prok prok prok..."


"Baiklah langsung saja, pertunjukan selanjutnya akan di isi oleh saudara Dion yang akan membacakan puisi tentang cinta alias ungkapan hati. Yuk kita sambut Dion, dengan tepuk tangan yang meriah biar semangat."

__ADS_1


Dio pun menaiki panggung. Dia berdiri di tengah-tengah panggung.


"Eheem eheem... Huuuuufffhhh, Gue akan membacakan puisi untuk wanita yang istimewa di hati gue." Dion amat nervous saat menatap manik mata Nadine.


"Filosofi cinta."


"Sejuta rasa lahir dalam dada..."


"Logika memintaku pergi, namun hati ingin bertahan."


"Biarkan aku jadi sang pujangga cinta, merinduimu dalam butiran air mata do'a."


"Jangan salahkan siapa... Tak perlu di bawa ke rumah sakit jiwa."


"Cukup persatukan dalam mahligai cinta."


"Sembuh sudah semua luka."


Selesai


"Prok prok prok prok prok... Huuuuuuu keren." Dion mendapatkan hadiah tepuk tangan dan suara riuh dari para mahasiswa dan mahasiswi yang hadir di acara perayaan kelulusan.


"Tenang semua tenang..." Ucap Dion mengangkat telapak tangannya tinggi tinggi.


Suana pun berubah sunyi. Dion menatap Nadine dengan tatapan penuh cinta dan damba. Menatapnya penuh harapan. Semua penonton tertegun dengan pembawaan Dion di atas panggung. Berulang kali Dion menarik nafas dalam-dalam berusaha meyakinkan diri.


Jantung Dion pun kini ikut berdebar-debar.


"Huuuuufffhhh, sebenarnya Aku sangat nervous berdiri di sini. Tapi aku hanya ingin dia tahu bahwa dia sangat berarti untukku." Dion menunjuk ke arah Nadine.


"Nadine, bisa naik ke atas panggung." Ucap Dion seraya menjulurkan tangannya ke arah Nadine, semua mata kini tertuju pada Nadine.


Nadine tertegun dengan permintaan dari Dion di hadapan banyak orang. Beberapa gadis mendorong Nadine, menggiringnya hingga sampai di atas panggung.


Kini mereka berdua saling berhadapan, seseorang datang memberikan seikat bunga pada Dion. Nadine terkejut ketika melihat Dion bertekuk lutut di hadapan Nadine.


"Nadine, aku sangat mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku. Melahirkan anak-anak untukku?...."


"Deg..." Jantung Nadine berdegup kencang. Nadine melihat sekeliling, begitu banyak penonton yang memadati aula.


"Te-ri-ma.... Te-ri-ma.... Te-ri-ma.... Te-ri-ma....." Semua penonton bertepuk tangan sembari berteriak memberikan dukungan kepada Dion. Nadine kebingungan melihat begitu banyaknya penonton. Jika di tolak Dion pasti akan malu. Jika di terima tapi Nadine tidak cinta. Nadine sama sekali tidak ingin menjalin hubungan asmara dengan siapa pun. Dia hanya ingin fokus kuliah, tujuan utamanya adalah karir.


"Nadine..." Dion memanggil Nadine. Dadanya sudah kembang-kempis menantikan jawaban dari Nadine. Nadine tak tega menolak Dion di hadapan banyak penonton. Dion terlalu baik untuk di permalukan.


"Aku...Aku ma-mau.... Tapi aku nggak siap untuk nikah."


"Nggak apa-apa, kita jalani aja dulu."Hati Dion sangat bahagia. Dia tidak pernah menyangka bahwa Nadine akan menerima cintanya.


***


Author...


Selamat menikmati....


Jangan like kalau nggak bisa komentar ote ote....

__ADS_1


__ADS_2