
Tanpa di persilahkan masuk Dion sudah berlari ke arah Nadine dan memeluknya.
Nadine terkejut dengan serangan mendadak Dion. Dengan sekuat tenaga Nadine mendorong tubuh Dion hingga tubuh Dion terdorong mundur beberapa langkah."JANGAN SENTUH AKU, KAK." teriakan Nadine menggema di seluruh ruangan.
"Nadine maaf, aku kelepasan saking rindunya sama kamu." Dion sangat menyesalkan tindakannya. Dia yang sangat merindukan Nadine hingga tak bisa mengontrol tubuhnya. Rasa kecewa, sakit hati dan rindu membuat akal sehatnya hilang.
"Kakak ngapain ke sini???..." Nadine bertanya dengan tatapan sendu, seolah-olah dia bisa merasakan apa yang tengah Dion rasakan kini.
Terlihat jelas dari wajah lusuh Dion, pemuda ini tak seceria biasanya. Dia terlihat begitu frustasi, seperti seseorang yang memikul beban sebesar gunung.
"Aku butuh penjelasan Nad, kenapa kamu akhiri hubungan kita tanpa alasan Nad?... Aku sangat mencintaimu, kamu tahu itu kan?..." Ucap Dion dengan tatapan mengiba, di matanya masih ada secercah harapan, berharap Nadine akan kembali menerimanya.
"Singkirkan tangan mu...." Suara bariton Zain menggema di ruang tamu ketika melihat Dion hendak meraih tangan Nadine.
"Elo.... Ngapain elo di sini?..." Dion bertanya dengan tatapan menantang. Zain balas menatapnya sinis.
Zain menghampiri Nadine lalu menarik pinggangnya, mengikis jarak di antara mereka. Hati Dion terbakar cemburu ketika melihat tangan Zain yang melingkar di pinggang Nadine.
"Be reng sek...." Dion yang marah hendak meninju wajah Zain.
"KAAAKKK...." teriak Nadine karena terkejut.
Dengan sigap zain menahan tangannya kemudian memelintir tangan Dion lalu mendorongnya hingga Dion terhuyung mundur.
"Kak, jangan melakukan kekerasan, aku mohon. Kasian kak Dion." Nadine memeluk suaminya, memohon dengan suara terisak.
__ADS_1
"Aku muak mendengarmu membelanya. Katakan padanya, apa hubungan kita." Perintah Zain dengan lantang.
"Nadine, kenapa kamu memeluknya?..." Dion bertanya dengan hati yang mulai cemas bercampur rasa cemburu.
"Karena dia Suamiku." Jawab Nadine masih menyembunyikan wajahnya dalam dada Zain. Dia tidak sanggup dan tidak tega melihat wajah kecewa Dion.
"JEDAAAARRRR...." Dion begitu syok mendengar ungkapan Nadine, dia masih sangsi dengan pernyataan Nadine. Hatinya yang terluka karena di putuskan Nadine kian terkoyak ketika orang yang di cintainya berada dalam pelukan orang lain yang baru saja dia sebut sebagai suami.
"Ti-tidak mungkin... Ka-kamu pasti bercanda kan. Kamu sangat membencinya, mana mungkin kamu menikahinya!!!..." Cerca Dion dengan pertanyaan beruntun.
"NADINE KATAKAN YANG SEBENARNYA..." Dion yang sakit hati karena tak bisa menahan amarah di hatinya pun berteriak lantang.
Nadine melepaskan pelukannya"Maafkan aku kak, Dia suamiku, semalam kami sudah menikah." terang Nadine.
Lutut Dion terasa lemas, dunia terasa berputar, pandangannya tak lagi fokus, dengan cepat Dion berpegangan pada dinding untuk menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.
"Enyah lah kau dari sini sebelum aku melakukan kekerasan padamu." Zain menatap Dion dengan garang, seperti singa lapar yang siap memangsa.
"Terima kasih sudah menjadi lentera dalam hidup ku. Tanpamu, kini hidupku benar-benar gelap. Dalam setiap doaku selalu ku sebut namamu, semoga kamu bahagia, semoga pernikahan kalian barokah dunia akhirat, semoga pilihanmu tidak salah. Aamiin..." Dion berbalik pergi dengan membawa luka yang teramat dalam, dia tidak pernah menyangka kisah cinta pertamanya akan seteragis ini. Dari belakang Nadine dapat melihat Dion sedang menyeka air matanya.
Nadine menatap kepergian Dion dengan tatapan hampa. Sekilas bayangan Dion berkeliaran di ingatannya. Dion yang selalu perhatian padanya, selalu baik padanya, selalu ada untuknya. Membuatnya semakin merasa bersalah, karenanya lah alasan pemuda baik itu patah hati.
Tarikan tangan Zain di lengan Nadine membuyarkan lamunannya. Zain menariknya masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu lalu menguncinya. Zain membawa tubuh Nadine ke atas ranjang kemudian menindihnya. Nadine hanya diam pasrah.
"Sebegitu cintanya kau pada bedebah itu sampai tidak mau melayani suamimu, bahkan sampai berpura-pura datang bulan hanya untuk menolakku." Cerca Zain penuh amarah, matanya merah, marah karena cemburu. Tadi Zain melihat Nadine sholat sembunyi-sembunyi ketika menunaikan ibadah sholat dhuhur. Zain hanya tersenyum, berpikir bahwa Nadine takut dan belum siap melakukan itu untuk saat ini. Tapi kini Pikirannya berubah, saat ini Zain sedang berpikir bahwa Nadine sedang patah hati karena putus cinta dari Dion. Rasa cemburunya membuang logika, merusak akal sehatnya.
__ADS_1
Zain mencium Nadine dengan rakus, menjamahnya sesuka hati. Zain sedikit terkejut ketika Nadine membalas serangannya. Balas menciumnya dengan brutal, tangan Nadine sibuk membuka kancing kemeja Zain. Nadine lebih agresif dari Zain, bahkan Nadine membalik posisinya. Dia duduk di atas Zain, Zain mengerutkan keningnya melihat sikap Nadine. Setelah membuka pakaian Zain, Nadine membuka semua pakaiannya.
Nadine kembali menyerang Zain dengan agresif, Zain yang.merasa aneh dengan sikap Nadine menghentikan gerakan Nadine.
"Kamu kenapa?..." tanya Zain yang sudah duduk sementara Nadine masih berada di pangkuannya.
"Kamu sudah membeliku dengan harga mahal. Aku cuma gadis penebus hutang yang tidak ada artinya. Jadi sudah sepantasnya aku melayani mu dengan baik hingga kamu puas. Kamu sudah membeliku. Kamu bisa menggunakanku dan mempermainkanku sesuka hatimu."
"Deg...." Hati Zain sakit mendengar perkataan Nadine. Dia langsung memeluk Nadine.
"Nadine, kamu bicara apa. Kamu istriku." Zain merasa bersalah karena sudah menyakiti hati istri tercintanya.
Nadine marah, lupakah Zain bagaimana cara dia memaksa Nadine untuk menikahinya. Dan baru tadi dia mendengar Dion di culik olehnya. Nadine tidak suka melihat tindakan Zain yang seperti seorang kriminal. Padahal Nadine sudah bertekad untuk mulai membuka hati dan memaafkan Zain.
"Kalau begitu lakukan tugasmu." ujar Nadine.
"Aku tidak akan melakukannya sebelum kamu siap." Zain menggeleng.
"Aku sudah siap lahir batin." Jawab Nadine tegas.
"Tidak tidak tidak..." Zain memunguti pakaian Nadine kemudian memasangkan satu persatu atribut yang sudah terlepas. Zain merebahkan tubuh Nadine, menggunakan lengannya sebagai bantal untuk kepala Nadine. Zain memeluk Nadine, menenggelamkan wajah istri tercintanya ke dalam dada bidangnya, merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Membelai rambut Nadine dengan lembut.
"Maafkan aku karena sudah bersikap kasar padamu. Aku cemburu melihatmu menangisinya. Sungguh aku tak tahan melihatnya."
"Setelah menjadi lelaki cabul, menjebak orang tuaku kemudian menjadi penculik. Lalu kejahatan apa lagi yang bisa kamu lakukan."
__ADS_1
"Itu bukan kejahatan, tapi proses mencari cinta sejati."
"Dunia akan rusak jika semua orang membenarkan caramu."