Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
CIUMAN


__ADS_3

POV NADINE


Malam ini begitu sulit bagiku memejamkan mata, masih penasaran dengan ucapan kak Zain tadi pagi!... Perlakuan lembutnya selalu terngiang-ngiang di ingatan ku. Siluman es itu tak lagi kaku, senyumannya terkadang membuatku terpaku, entah karena apa???... Dia lebih murah senyum sekarang. Kini ingatanku kembali pada saat dia mengajariku di halaman belakang, ternyata siluman es itu bisa tertawa lepas. Tawanya bikin dia tambah ganteng, sesuatu yang langka melihatnya tertawa.


Sekarang dia lebih asyik di ajak berteman mungkin karena dia sudah tidak kaku lagi kali ya!!!...


"Tok tok tok tok...." Ku paksakan tubuhku yang amat letih ini untuk bangkit dari ranjang bukan dari alam kubur ya. Dengan langkah terseok-seok aku menghampiri pintu dan meraih gagang pintu.


Lagi lagi aku terpaku melihat tatapan mata tajam seperti elang yang siap mengulitiku.


"Assalamualaikum..." Muncul sosok gadis kecil dari belakang lutut kak Zain, gadis itu tersenyum membuat mata bulatnya semakin menyipit.


Ah, iya... Haruskah ada gangguan dulu setiap mataku dan mata kak Zain terpaku, baru bisa terputus.


"Assalamualaikum...." Miranda mengucapkan salam untuk yang kedua kalinya.


"Oh, wa alaikumsalam... Maaf ya telat jawab salamnya." Aku pun langsung menjawab salamnya.


"Iya, nggak apa-apa kak."


Walaupun aku menunduk dan pura-pura tak tahu. Dari sudut mataku, aku bisa merasakan bahwa kak Zain menatapku dengan intens. Kenapa sih belakangan ini dia jadi aneh begini. Ah sudah lah, sejak pertama kali bertemu dia memang sudah aneh. Mungkin memiliki kepribadian ganda. Aku mencoba mengacuhkannya.


"Miranda tumben ke sini?... Ada apa?..." Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menarik-narik tangan kak Zain.


"Miranda ingin tidur bersama denganmu. Apakah kamu bisa menemani dia?..."


"Bisa kak..."


"Ok, tidur di kamar waktu itu ya..." Kak Zain pun berlalu pergi. Aku segera menutup pintu kamarku, Miranda meraih tanganku dan menggenggamnya.

__ADS_1


Kami berdua berjalan mengekori kak Zain. Sekarang aku mulai memberikan penilaian, Ku tatap punggungnya yang tegap, Tingginya mungkin sekitar 180cm, kakinya panjang menjuntai, bokongnya... Kenapa mataku jadi terkutuk melihat hal yang tidak seharusnya goyang kanan dan goyang kiri. Ah, bokongnya padat pada saat memakai celana slim fit. Aduh, otakku kenapa ya???...


Aku dan Miranda memasuki kamar, Aku mengibas-ngibas tempat tidur sebelum naik ke tempat tidur dengan menggunakan kain. Pasalnya, setan dan jin biasanya menempati kasur atau tempat tidur yang tidak ditempati oleh manusia. Ini yang selalu di katakan dan di lakukan ibuku sejak aku kecil. Sebenarnya sih jarang ku praktekkan tapi melihat Miranda membuatku teringat masa kecil ku.


Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadist berikut, “ Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud


Setelah itu ku angkat Miranda lalu ku tidurkan di atas ranjang empuk kemudian ku selimuti dia dengan selimut yang lembut ketika tersentuh tangan. Beda sekali dengan selimut ku. Kulihat Miranda menengadahkan tangan kemudian membaca doa sebelum tidur. Dia gadis pintar, sangat menggemaskan bukan!!!....


Sudah 30 menit aku membacakan kisah para nabi tapi mata gadis ini masih berbinar-binar. Aku terus bercerita sampai akhir kisah tapi gadis ini masih belum terlihat tanda-tanda mengantuk.


"Miranda kok belum tidur?..."


"Nggak ngantuk kak..."


"Emmm.... Miranda, menurut kamu kak Zain itu gimana?..."


"Ganteng..."


***


Aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum ke dapur tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Aku terkejut, mataku terkontaminasi oleh perbuatan kedua majikanku yaitu Iqbal dan Rani yang saling bertukar air liur di dapur. Aku yang syok tak bisa menutup mata, kakinya terlalu kaku untuk di gerakkan. Tiba-tiba telapak tangan besar menutup kedua mataku dan menarikku menjauh dari tempatku berdiri.


Kak Zain menatap lekat-lekat wajahku yang merona, peluh bercucuran bukan hanya di wajah tapi di sekujur tubuhku. Kak Zain membuka segel dan tutup botol air mineral kemudian menyerahkan padaku.


Ku rasakan tangannya yang lembut mengusap keningku yang basah karena peluh. Membuat ku yang gugup tambah gugup, aku menengadah ke atasnya demi bisa menatapnya yang tubuhnya tinggi.


"Kenapa???...Penasaran rasanya ciuman bagaimana???... Mau mencobanya denganku."


"Deg..." Pertanyaan beruntun dari kak Zain membuat dadaku bergemuruh, aku gugup, aku grogi, tanganku semakin erat memeluk botol air mineral, tanganku penuh keringat. Aku semakin nervous apalagi ketika melihat kak Zain melangkah semakin lama semakin dekat, membuat tubuhku mundur hingga terbentur tembok.

__ADS_1


Tapi kenapa kak Zain tetap melangkahkan kakinya, mengikis jarak yang terbentang antara kami. Hingga menyisakan jarak satu jengkal. Wajah kak Zain mulai mendekatiku. Wajahnya condong maju mendekati wajahku. Tanpa di suruh dan tanpa di sadari aku menutupkan mata. Aku bisa merasakan nafasnya menyapu wajahku....


Satu detik, dua detik, 3 detik.... Bodoh, bodoh, bodoh, kenapa aku malah menutupkan mata. Aku mulai tersadar dari kebodohan ku apalagi ketika bibir kak Zain, suara lembut itu mulai mendesah terdengar seksi, suara beratnya berbisik di telingaku.


"Nunggu halal dulu...." Dalam hitungan detik aku langsung membuka mata. Ku tatap wajahnya, senyuman yang menghiasi wajahnya tertuju padaku. Tatapan matanya begitu teduh, membuatku semakin tersipu malu.


Aku mendorong dada Kak Zain agar tidak menghalangi jalan ku. Aku pun berlari secepat kilat, menjauh dengan tangan yang masih memeluk sebotol air mineral."Ya Allah, malunya aku.... Maaf aku khilaf, khilaf, khilaf...." Aku terus berlari sampai akhirnya aku duduk di atas ranjang. Memegangi dadaku yang masih berdebar. Hatiku gelisah, Hatiku tidak tenang.


Setelah beberapa saat kemudian aku mulai merasa lega.


Baru saja aku hendak memejamkan mata, Hpku sudah menggelepar. Ku lihat layar ponsel ku, ternyata panggilan Video call dari kak Dion. Setelah menggeser tombol hijau, aku segera keluar menuju balkon takut mengganggu tidur nyenyak Miranda.


***


Pikiran Zain masih tertuju pada Nadine, membayangkan adegan yang baru saja terjadi membuatnya sulit untuk memejamkan mata. Padahal Zain hanya ingin menggodanya saja, tapi kenapa Nadine malah menutupkan mata.


Ekspresi wajahnya yang merah merona seperti terbakar membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Tiba-tiba telinga Zain mendengar suara seseorang dari balkon kamar. Zain beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju balkon.


Zain menajamkan pendengarannya, menguping dari dinding pembatas, demi untuk mengorek isi perbincangan mereka. Hati Zain panas dingin ketika mendengar Dion melayangkan rayuan gombal pada Nadine yang membuat Nadine tergelak.


"Nadine, apa kamu menyukai ku?..." Dion bertanya dengan nada tegas.


"Siapa sih kak yang nggak suka sama kakak, baik, pinter, perhatian lagi."


Zain terbakar api cemburu, amarah menguasai hatinya. Rahangnya mengeras, giginya sudah gemeretak, tangannya terkepal hingga membuat buku-buku jarinya terkepal. Baru saja ia melayang-layang ke udara karena sempat berpikir bahwa Nadine juga menyukainya, tiba-tiba terjungkal ke dasar. Pertanyaan Dion, apalagi jawaban dari Nadine sungguh menyayat hati. Ini sudah yang kesekian kalinya Zain patah hati karena Nadine.


***


Jangan lupa likenya di setiap episode, sama VOTE n FAVORIT.... Soalnya itu penting untuk popularitas Novel ini.😂😂😂

__ADS_1


Selalu dukung novel ini ya kakak....Biar Aku semangat ngehalunya 😂😂😂🙏🙏🙏....


Ini rela begadang loh demi Readers setia n tercinta 😂😂😂😂


__ADS_2