Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BADAI MENERJANG


__ADS_3

"Tapi kakak jangan marah." ucap Nadine ketakutan, Nadine tidak mau Zain melukai atau pun melakukan hal buruk pada Riska. Zain tipe pria yang nekat melakukan apapun ketika marah dan terdesak.


"Katakan apa yang kamu lihat di kamar itu." Nadine diam saja tak menjawab, dia teramat takut melihat kemurkaan di wajah suaminya.


"KATAKAN APA YANG KAMU LIHAT." Zain berteriak dengan suara lantang, dia sangat marah dengan mata yang sudah merah, aura gelap menguar terlihat jelas di matanya. Zain meremas bahu Nadine karena sang istri tak kunjung menjawab.


"Ka-kakak ti-tidur meluk wanita itu, ka-kalian te-telanjang tanpa pakaian." jawab Nadine terbata-bata. Jadi ini, ini alasan kenapa Nadine begitu membenci Zain, selain karena Zain menipu bapaknya. Zain melepaskan Nadine, dengan langkah panjang dan nafas yang memburu, Zain berjalan menuju pintu, membuka pintu dengan kasar. Hanya butuh 3 langkah kaki panjangnya berpijak, kini ia sudah sampai di depan pintu apartemen milik Riska.


"Brak, brak, brak...." Zain menggedor-gedor pintu apartemen Riska.


"Kak sabar, tenang dulu." Nadine berusaha menenangkan sang suami, meraih tangan Zain tapi langsung di tepis oleh suaminya. Nadine menoleh ke kanan dan kiri, berharap ada bala bantuan yang datang. Karena tak sabaran, Zain menendang pintu itu hingga terbuka dan pintu itu terpental.


"RISKA, KELUAR KAU..." Zain berteriak seperti orang kesetanan. Riska yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum senang melihat kehadiran Zain yang berdiri di ruang tamu.


"Zain, akhirnya kita bisa bertemu." ucap Riska yang tak peduli dengan ekspresi wajah penuh amarah yang Zain tunjukkan kepadanya. Dengan langkah cepat Zain menghampiri Riska lalu mencekik lehernya, menekan tubuh Riska ke dinding hingga tubuh yang mulai tirus itu sedikit terangkat. Wajah Riska sudah merah dengan mata melotot dan mulut ternganga, nafasnya sesak karena Zain benar-benar mencekiknya dengan kuat.


"Kak, lepas. Lepas... Kak, lepas.... Dia bisa mati kak. Kakak bisa di penjara. Istighfar kak." Nadine yang panik menarik-narik tangan Zain tapi percuma, tangan itu terlalu kuat membelit leher Riska.


"Za-Zain...Ak-Aku ha-hamil anakmu." ucap Riska dengan susah payah.


"Deg...." Zain dan Nadine sama-sama terkejut. Seperti terhipnotis, tangan Zain mulai mengendur melepaskan leher Riska dari cengkeramannya.


Riska terjatuh di lantai, dengan nafas yang tersengal-sengal, dia memegangi lehernya.


"Dasar wanita murahan, setelah menjebak suamiku dan memfitnahnya, sekarang kamu berpura-pura hamil untuk menjerat suamiku." Nadine yang emosi mencaci maki Riska.


"Aku tidak sedang berpura-pura hamil. Aku sedang hamil 2 bulan anakmu, Zain." Riska bangkit dan mengambil hasil USG yang ia simpan di dalam bufet ruang tamu, tempat mereka bertiga kini berada.


Riska menyerahkan hasil USG tersebut ke tangan Zain. "Kamu pikir aku akan percaya pada wanita licik seperti mu." Zain mengayun-ayunkan hasil USG itu ke depan muka Riska.

__ADS_1


Nadine merampas hasil USG itu dari tangan Zain dan melihatnya. Tertera nama ayah si janin di sana, 'Zain Alfaro'. Hati Nadine begitu hancur, terasa di remas-remas. Ini lebih menyakitkan dari pada waktu dirinya melihat Zain dan Riska tidur satu ranjang tanpa busana. Seketika itu pula air matanya jatuh, membasahi hasil USG di tangannya. Baru kemarin ia merasakan indahnya jatuh cinta, baru sekelip mata ia mereguk manisnya surga dunia, dalam sekejap pula dunianya hancur menjadi neraka.


Tangannya gemetar, sakit hati, terluka dan kecewa terus memukul hatinya tiada henti bagai beduk. Kakinya terasa lemas tak bertenaga, dadanya terasa sesak karena sakit hati yang teramat luar biasa. Nadine menangis tersedu-sedu, ia sudah tak tahan untuk membendung air matanya. Ini terlalu menyakitkan. Zain menarik Nadine ke dalam pelukannya, tak tega melihat air mata nelangsa yang istrinya lelehkan.


"Aku tidak bohong Zain, waktu itu kita benar-benar melakukannya setelah gadis itu keluar dari apartemen. A-aku, aku memberimu obat bi-bius bercampur o-obat perangsang." tutur Riska antara rasa takut dan gugup. Zain melepaskan pelukannya dari Nadine.


"Plak..." Satu tamparan keras dari Zain mendarat di pipi Riska hingga ia tersungkur.


"Aku tidak menginginkan anak itu. Aku hanya ingin anak yang lahir dari rahim istriku, Nadine. Dia bukan anakku." Zain menunjuk perut Riska. "Kamu gugurkan terserah, kamu lahirkan juga terserah. Yang jelas aku bukan ayahnya. Aku bersumpah akan akan menghancurkan hidupmu setelah ini." Zain menatap Riska dengan tajam, seperti pedang yang siap menghujam.


Nadine bingung harus melakukan apa, dia sudah tidak tahan berlama-lama berada di antara mereka, Nadine berlari keluar dari apartemennya. Zain mengejar Nadine berlari menuju apartementnya. Nadine memasuki kamar Zain, menutup pintu kamar ketika Zain sudah hampir sampai padanya.


Nadine jatuh merosot di balik pintu, menyandarkan punggungnya di daun pintu. Dia menangis sejadi-jadinya. Menutupi mulutnya agar tak terisak, meremas dadanya yang terasa sakit.


"Sayang, buka pintunya. Kita harus bicara. Percayalah, itu bukan anakku." Zain menepuk-nepuk daun pintu agar Nadine mau membuka pintu untuknya.


"Gimana aku bisa percaya kak, bahkan kakak aja nggak ingat apapun tentang kejadian saat itu." ucap Nadine dengan suara serak terisak.


Zain terduduk di depan pintu, menyandarkan punggungnya di daun pintu dengan kepala menengadah ke atas. Sementara tangan kanannya bertumpu di atas lutut kanannya yang di tekuk dan kaki kirinya berselonjor lurus. Mereka berdua saling memunggungi, hanya di batasi daun pintu. Dia sama frustasinya dengan Nadine. Dadanya tak kalah sesak dan sakit daripada Nadine. Harus berapa kali lagi bagian dari dirinya pergi? Harus berapa kali lagi dirinya akan kehilangan? Setelah kehilangan semua keluarganya, haruskah Zain melenyapkan anaknya. Ya, bisa saja Riska tengah mengandung benih darinya. Tanpa terasa, air mata terjun bebas dari matanya yang tajam.


"Kalau dia mengandung anakmu bagaimana kak?..." dada Nadine terasa sesak memberikan pertanyaan itu. Nadine merasa statusnya kini lebih rendah dari status Riska, mengingat Riska sedang mengandung anak dari suaminya membuat hatinya makin sakit bagai teriris sembilu.


"Aku tidak peduli."


"Kakak harus tanggung jawab, bayi itu tidak bersalah." rasa takut kehilangan suami kini menderanya.


"Aku tidak menginginkan kehadirannya." Zain menggelengkan kepala walaupun Nadine tidak dapat melihatnya.


"Anak itu butuh sosok seorang ayah, kak."

__ADS_1


"Itu bukan urusanku."


"Anak itu lebih butuh Kakak dari pada aku. Nikahi dia, aku mundur karena aku tidak menerima poligami."


"Itu tidak akan pernah terjadi. Jangankan menikahinya, melihatnya saja aku jijik. Kamu istriku, hanya kamu satu-satunya dan tidak akan pernah tergantikan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Zain menegaskan pada Nadine.


Beberapa menit berlalu, hening. Tak ada yang bersuara, masing-masing dari mereka sibuk dengan kemelut di hatinya sendiri.


***


Beberapa saat kemudian.


"Ceklik..." suara pintu terbuka, seketika itu pula Zain menghapus air matanya dan langsung berdiri. Dengan perlahan pintu mulai terbuka, memunculkan sosok Nadine yang terlihat begitu rapuh dengan raut wajah yang begitu sendu, dengan tatapan mata kepedihan penuh luka. Nadine menatap mata suaminya yang juga sendu, dengan raut wajah yang begitu kacau. Nadine menyadari, bukan hanya dirinya yang terluka. Suaminya pun jauh lebih terluka. Nadine berhambur ke dada Zain, memeluk suaminya dengan erat lalu menangis tersedu-sedu di dada yang begitu hangat dan melenakan. Zain balas memeluk Nadine begitu erat. Membelai rambut istrinya dengan lembut. Sembari mengecupi puncak kepala sang istri.


"Aku takut kehilanganmu, kak." Nadine menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami, rasa takut kehilangan menyeruak di dalam hati, membuat rongga dadanya terasa sesak.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan mu, kecuali maut memisahkan kita."


"Tapi bagaimana dengan anak itu, kak???...."


"Aku akan mengurusnya, percayalah."


***


Author...


Maaf ya, author bikin hati readers jungkir balik lagi....Hehehe❤️❤️❤️


*episode ini, Kaget nggak???.….

__ADS_1


*Lanjut baca ya.... detik-detik tamat


__ADS_2