Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
PESTA


__ADS_3

"Tenang saja, gue nggak akan menyentuh istri dari saudara gue." Marco bangkit setelah menepuk pundak Dion."Gue permisi dulu." Marco pergi tanpa menyentuh makanan yang di suguhkan.


Dion membuka pintu kamar, melihat Zahra yang sedang menyuapkan mie ke dalam mulutnya. Dia membersihkan bibir Zahra yang belepotan kuah mie.


"Kok ke sini? Sepupunya mana?"


"Udah pulang."


"Oh, ada perlu apa kemari?"


"Kangen sama aku. Oh ya, Pokoknya kamu jangan deket-deket sama dia, jangan mau menerima apapun darinya."


***


Dion mendongak ketika Zain menempelkan segelas jus alpukat di lengannya, membuat lengan bajunya sedikit basah karena embun di gelas.


"Zahra bilang kamu suka jus alpukat."


"Iya kak, makasih." Dion menerima gelas itu, lalu menyeruputnya lewat sedotan. "Eemmm, kakak juga suka jus alpukat." tanya Dion ketika melihat Zain meneguk jus alpukat. Dion ingin lebih dekat dengan kakak iparnya, begitu pun Zain. Setelah menerima pencerahan dari Nadine yang tiada habisnya, siang dan malam, jika Zain marah maka Nadine akan beralasan ngidam, bayinya ingin melihat ayahnya dekat dengan om Dion, begitulah cicit Nadine tiap malam.


"Aku suka segala buah." Zain duduk di kursi di tengahnya terdapat meja yang memisahkan kursinya dan Dion.


"Tadi kamu membawa Zahra ke apartemenmu?"


"Iya, kak."


"Jangan bawa lagi dia ke sana. Aku kurang leluasa mengawasinya jika kau membawanya ke sana."


"Ma, maksudnya?" dahi Dion mengerut. Masih tak mengerti.


"Sejak kecil Zahra menghilang karena keteledoranku. Setelah dia di temukan, maka aku akan tetap menjaganya walaupun dia sudah menjadi istrimu."


"Kakak, menguntit kami?" tanya Dion tak percaya.


Zain menjawab pertanyaan Dion dengan anggukan.


"Maaf, sudah pernah menculikmu."


"Saking cintanya sama Nadine, rela melakukan apapun."


"Ya."


"Maaf juga sudah mengeroyokmu. Dan terima kasih sudah mau memaafkan kesalahanku dan mau menerimaku sebagai adik ipar."


Keduanya larut dalam perbincangan dan semakin akrab.


"Nah, gitu dong. Kan adem liatnya." Zahra dan Nadine keluar dari persembunyiannya yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Menguping, ya?" Zain menarik tangan Nadine dan Zahra supaya duduk di sampingnya.


"Kamu senang?" Zain mengusap lembut pucuk kepala Zahra seperti biasanya.


"Iya kak, seneng banget."


"Tak terasa, adikku sudah dewasa dan sudah bersuami. Sejak kapan sih, kamu mencintai suamimu?"


"Sejak berseragam putih abu-abu," jawab Dion.


"Iiih kakak sok tahu." Zahra berkilah karena malu.


"Lah, emang bener kan."


"Nggak, benar."


"Aku loh udah baca isi diary mu."


"Iiih kak Dion." Zahra berjalan, refleks memberikan tepukan di tangan Dion. "Itu bukan cinta, tapi kagum awalnya."


"Sakit, Ra." Dion mengusap perutnya.


"Salah sendiri, nggak izin baca diary orang. Dulu aku cuma kagum."


"Hemmm, masih ngeles." Dion mencebikkan bibirnya, dan langsung mendapatkan Capitan di pinggangnya yang keras. Zain menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua. Sementara Zahra dan Nadine tertawa lepas.


***


Dua pasang pengantin itu terlihat sedang bersenda gurau di atas panggung.


"Senang ya, nama yang selalu kamu sebut dalam setiap doa jadi suamimu."


"Apa sih kak, udah deh. Nggak capek apa godain aku terus dari tadi."


"Nggak, soalnya aku selalu gemes sama kamu." Dion tertawa bahagia.


Mama Dion mengundang artis pop untuk menghibur tamu undangan. MC naik ke atas panggung, meminta salah satu tamu yang hadir untuk menyumbangkan satu hiburan. Tak di sangka, tanpa tahu malu Khasanuci maju ke atas panggung dan menyanyikan lagu dangdut dengan suara yang tak enak untuk di dengar. Terlihat Khasanuci sedang berembuk dengan MC, entah hasutan apa yang di berikan oleh Khasanuci hingga MC memanggil nama Brayen, Arya, Zain dan Iqbal untuk naik ke atas panggung.


Mereka berempat menolak karena malu.


Kini Khasanuci, Iqbal, Zain dan Arya sudah berdiri di atas panggung untuk mengucapkan selamat dan doa-doa untuk sepasang pengantin, sementara Brayen lebih memilih duduk manis bersama Alena. MC dan biduan dangdut meminta salah satu dari mereka untuk menyanyikan lagu, tapi Arya, Zain dan Iqbal menolak.


Beberapa saat kemudian teman-teman Dion naik ke atas panggung dan bergoyang, terbawa suasana dengan kemeriahan panggung hingga ikut bergoyang bersama Khasanuci dan sang biduan bohay dan cantik. Sedangkan Iqbal lebih memilih berdiri bersama dengan Zain dan Arya yang berada di dekat mempelai. Kehadiran sahabat Dion dan Khasanuci di atas panggung membuat acara semakin meriah.


"Dasar anak muda Zaman sekarang," gerutu Iqbal.


"Zaman dulu pun sama seperti itu. Memangnya anda tak pernah bergoyang?" tanya Arya.

__ADS_1


"Tidak."


"Kapan-kapan kumpul bareng. Saya yang traktir."


"Tentu."


Raffasa duduk di atas kursi bersisian dengan saudara kembarnya. Kakinya yang menjuntai terus bergerak, sementara mulutnya terus mengunyah menikmati hidangan yang tersaji di atas.


"Mama, dedek cantik itu namanya siapa?" tanya Raffasa, telunjuknya mengacung terarah pada Putri.


"Namanya Putri," jawab Alyn.


"Nanti kalau sudah besal kakak nikah ama Putli ya Ma."


Rani tertawa riang."Lyn, gimana kalau kita jodohkan anak kita. Orang tuanya nggak jodoh, siapa tahu anaknya jodoh."


"Ah, nggak mau. Biar nanti kalau dewasa cari cinta sendiri."


"Ya, coba aja dulu. Kalau nanti mereka dewasa nggak cocok, perjodohan batal."


"Jangan asal jodoh-jodohin anak, pamit dulu Sama pak Su."


"Tenang, aku kan pawangnya Iqbal."


"Aku mendengarnya Ran." tiba-tiba suara Iqbal menggema.


"Eh, Papa. Mama bercanda. Heheh." Rani nyengir.


"Putri tidak akan ku jodohkan dengan siapapun, kecuali dengan laki-laki yang karakternya baik. Ayahnya bocah itu kan tukang selingkuh." Iqbal mengambil Putri dari pangkuan Rani.


"Daripada kamu, tukang nyulik." Rani membela Arya.


"Aku tidak bermaksud menculik, aku hanya memberikan pelajaran karena Arya mengkhianati Alyn."


"Ah, sama saja."


"Sudah, sudah, jangan ribut terus. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah. Kayak kucing sama tikus." Alyn kesal melihat kelakuan mereka berdua.


***


"Kamu kenapa?..."


"Perutku sakit kak."


"Sudah ku bilang. Jangan ikut bantu-bantu, kamu lagi hamil."


"Udah biasa kali kak. Namanya juga lagi hamil. Di usap minyak putih juga udah sembuh.'' Zain menatap Nadine penuh khawatir.

__ADS_1


"Minum dulu." Zain memberikan segelas air putih pada Nadine.


Zain mengusap lembut punggung Nadine, lalu berganti mengusap perut Nadine, di dalam kamar.


__ADS_2