Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
PERKELAHIAN


__ADS_3

"Aah..." Dion langsung berbalik dan tak sengaja menabrak Zahra hingga terjatuh.


"Maaf, maaf... Aku nggak sengaja." Dion menjulurkan tangannya pada Zahra, ia begitu panik ketika melihat Zahra menangis di atas lantai.


"Maaf, Aku cuma bantuin kamu." Dion menarik kembali tangannya ketika Zahra menggelengkan kepala, ia berjongkok tapi tak berani menyentuh Zahra.


"Zahra, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja."


"Nggak apa-apa kak. Aku yang kurang hati-hati berjalan."


Nadine menghampiri Zahra, merangkul bahunya dan membangunkannya.


"Kamu nggak apa-apa kan, Ra?..."


"Sakit ya?..." tanya Nadine dan Dion bersamaan.


"Nggak apa-apa kok." Zahra segera menghapus linangan air matanya. Zahra sudah berusaha menahan air mata, tapi ketika Dion menabraknya hingga terjatuh, air mata itu meleleh begitu saja.


"Kalau sakit, ayo ku antar ke UKK." ajak Dion dengan raut wajah yang tadinya sendu, berubah panik.


"Nggak usah kak, aku baik-baik saja kok."


"Kamu mau kemana, Ra?..." Nadine bertanya.


"Ke toilet."


"Ayo ku antar." ucap Nadine.


"Iya, Terimakasih."


"Kak, kami permisi." ucap Nadine.


Dion masih berdiri mematung, memperhatikan kepergian dua gadis berhijab itu hingga hilang di balik pintu kamar mandi.


Kedua gadis itu membasuh wajahnya yang sama-sama sembab. Zahra mengambil tissue untuk mengeringkan wajah, matanya tak sengaja bersitatap dengan kotak hadiah Nadine, pemberian dari Dion.


"Kado dari kak Dion ya?..."


"Oh, Iya."


"Kayak kak Dion masih belum rela kamu nikah sama orang lain."


"Kamu dengar percakapan kami ya?..."


"Maaf, aku nggak sengaja."

__ADS_1


"Nggak apa-apa."


"Mmmm.... Kamu kenapa nangis?... Katanya nggak ada rasa sama kak Dion." Zahra masuk ke dalam toilet untuk membuang hajat.


"Aku nangis karena nggak tega, kasihan. Pokoknya campur aduk deh rasanya. Kamu sendiri kenapa nangis?... Jatuh dari sepeda motor sampai kaki dan tangan berdarah nggak nangis. Masak jatuh gitu aja nangis!... Lagi PMS ya."


"Eh, eng-nggak kok, cuma lagi sensi aja."


"Oh, kirain nangis karena cemburu dengar curahan hati kak Dion."


"A...Eh, ya enggak lah." jawab Zahra terbata.


"Hehehe bercanda. Beneran juga nggak apa-apa kok."


"Iiih kamu ini. Ya udah yuk..."


"Iya..."


***


Sore hari anggota geng Dion nongkrong di taman kampus yang letaknya tak jauh dari gerbang utama kampus.


Tiga gadis berjalan keluar menuju gerbang sembari tertawa kecil karena perbincangannya.


"Istri orang lebih menggoda, mau gimana lagi dong. Benar nggak Lik." pungkas Dion.


"Kampret Lo. Sejak masuk rumah sakit, otak Lo jadi gesrek. Gue aja yang player, ogah kalau sama bini orang. Gini-gini gue masih bisa lihat berlian di tumpukan batu akik, noh lihat Zahra, andaikan seagama, udah ku pinang dia. Tapi gue terlalu cinta sama agama gue." ujar Alex.


"Otak Lo juga gesrek, nggak pernah cukup sama satu cewek. Dasar buaya darat. Zahra nggak bakal mau sama elo." balas Habibi yang sudah lama mengincar Zahra tapi tak pernah mendapat kesempatan.


"Itu namanya proses mencari cinta sejati. Brengsek-brengsek gini gue masih perjaka, Bro." ucap Alex.


"Gue nggak percaya, mana buktinya?..." ucap Habibi.


"Liat nih, dengkul gue masih utuh, belum kopong." Alex memijati dengkulnya.


"Hahahaha mana bisa..." Alex di serang oleh semua sahabatnya dengan memberikan dorongan di punggung dan bahunya hingga membuat tubuhnya terhuyung maju, mundur, ke kiri dan ke kanan , kecuali Dion yang terus memperhatikan Nadine melangkah ke arah Zain.


"Udah Yon, nggak usah ngeliatin Nadine kayak gitu. Lihat tuh, suaminya Nadine pandangannya nggak enak gitu." ucap Darma ketika melihat Zain menatap Dion nyalang.


Anggota geng Dion berhenti tertawa ketika melihat Zain turun dari mobil berjalan ke arah mereka. Foto-foto dan video yang di kirim mata-matanya ketika Dion memperdebatkan isi hatinya dan memberikan kado pada Nadine, sungguh membuat hatinya resah.


"Yon, rival Lo jalan kemari. Yuk cabut." ucap Habibi menarik tangan Dion.


"Ah, lepas. Gue bukan pengecut." Dion menepis tangan Habibi, matanya menantang ke arah Zain. Dia masih tak terima dengan peristiwa penculikannya tempo lalu, terlebih Zain menikungnya dari belakang. Bagaimana bisa Nadine menikah dengan Zain, teringat jelas di ingatannya Nadine begitu menghindari pria itu, tapi kenapa tiba-tiba mereka menikah?...

__ADS_1


Nadine yang panik memutar langkahnya mengikuti arah kaki Zain, karena khawatir Zain akan membuat ulah lagi. Zahra dan Ganis mengekor di belakangnya.


"Kak, Zain." Zain tak menghiraukan panggilan istrinya, ia terus melangkah dengan tatapan mata nyalang.


"Berhenti mengganggu istri ku." ucap Zain dengan tegas setelah berdiri di hadapan Dion.


"Wah, wah, wah.... Nad, ternyata suamimu posesif juga ya." bukannya gentar Dion malah membusungkan dada tak gentar, dengan tatapan menantang.


"Aku katakan, jangan mengganggu Istriku lagi, jangankan menatapnya, menyebut namanya pun jangan. Hanya itu yang ingin ku katakan."


"Yon, udah Yon. Jangan bikin ribut." ucap Darma.


"Eh, siapa yang bikin ribut. Nih orang aja yang ribet. Gue aja nggak pernah nyentuh Bininya, eh tiba-tiba datang nyuruh jangan ganggu Bininya."


"Kak, ayo kak kita pulang." ucap Nadine merengek sembari menarik tangan Zain, pun berbalik tak tega dengan tatapan Nadine yang mengiba, rasa cemburunya lah yang menuntun langkah kakinya kemari tanpa ia sadari terlebih mengingat Dion memberi sang istri kado.


"Iya." jawab Zain mengalah. Bukannya tenang, Dion semakin marah, luka hati belum sembuh kini malah terbakar cemburu melihat tangan Nadine melingkar di lengan suaminya.


"Oh, selain pengecut dan licik ternyata elo suami takut istri, takut ya istrinya gue curi." ucap Dion dengan hati yang sakit luar biasa melihat pemandangan di depannya.


"Bugh..." Zain berbalik dan meninju wajah Dion, membuat darah segar mengalir dari hidungnya. Membuat tiga wanita yang sejak tadi menonton perseteruan mereka berteriak histeris.


Para sahabat Dion yang tak terima dengan perbuatan Zain, membalas Zain dengan mengeroyoknya. Terjadi perkelahian pelik satu banding 6. Zain seorang diri melawan 6 mahasiswa. Zain mendapat beberapa pukulan namun mampu membuat para mahasiswa itu tumbang, bangkit dan tumbang lagi.


"Toloooooong, siapapun tolong hentikan mereka." Nadine, Zahra dan Ganis berulang kali berteriak meminta bantuan. Mereka berdiri berhimpitan, akibat rasa takut dan cemas menguasai diri mereka. Keributan mengundang para mahasiswa dan mahasiswi yang penasaran berkerumun untuk menonton kericuhan yang terjadi. Tak lama kemudian datang dua security dan beberapa dosen yang di bantu oleh beberapa mahasiswa laki-laki melerai perkelahian mereka.


***


Di ruang BP mereka semua di sidang langsung oleh rektor kampus. Beliau sangat menyayangkan peristiwa seperti ini bisa terjadi, apalagi Keributan di picu oleh mahasiswanya sendiri.


Setelah Zain menceritakan kejadian perkara, Rektor menskors mereka berenam selama tiga hari.


"Tapi pak, dia duluan yang nonjok wajah saya." ucap Dion dengan penuh kekesalan karena tak terima dengan keputusan yang di buat oleh rektor Universitasnya.


"Itu karena tutur katamu yang tak bisa di jaga, mahasiswa kok tutur katanya tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Terlebih main keroyokan, sudah seperti geng motor saja." Rektor kampus tetap membela Zain, sebab Zain memberikan donasi yang cukup besar di kampus Nadine, dia tidak ingin Zain mencabut fasilitas yang ia salurkan.


Dion semakin marah ketika melihat rektor bersalaman dan meminta maaf kepada Zain."


Dion dan kawan-kawannya keluar dari ruang BP dengan kekesalan.


"Hebat ya, ELO punya laki. KEBAL HUKUM." ujar Dion menatap Nadine dengan tatapan mengintimidasi, serta menekankan kata 'ELO' dan bukan kamu. Zain mengepalkan tangannya sebab geram, giginya sudah gemeretak menahan luapan emosi melihat sikap Dion.


***


Maaf baru bisa update, soalnya lagi sibuk.

__ADS_1


__ADS_2