
Ganis yang baru saja masuk ke ruangan Zahra melangkah pelan menghampiri Nadine.
"Kok suami mu sama Zahra...." Ganis mentoel lengan Nadine lalu berbisik.
"Nanti aku ceritakan..." Nadine menyela ucapan Ganis.
Setelah puas menangis di pelukan sang kakak, ada sesuatu yang terlintas di benak Zahra.
"Kak Dion." gumam Zahra lirih, lantas melepaskan pelukannya. Ia mengguncang lengan Zain."Kak, Dion di mana kak?... Di mana kak Dion?... Gimana keadaan kak Dion, kak?.…" karena Zain tak kunjung menjawab, Zahra kembali menangis ketika terbayang peristiwa penembakan terhadap Dion.
"Tadi sudah di lakukan operasi pembedahan untuk mengambil peluru yang bersarang di perutnya.
"Antar aku ke kak Dion, kak."
"Mi, kamu sedang sakit. Kamu bisa menjenguknya lain waktu." bujuk Zain.
"Nggak mau. Pokoknya aku mau liat keadaan kak Dion sekarang juga."
"Tapi Mi..."
"Ya sudah aku bisa cari kak Dion sendiri." Zahra sudah menurunkan kakinya tapi langsung di cegah oleh Zain.
"Iya, iya... Kakak antar kamu sekarang. Tunggu kakak ambil kursi roda dulu."
"Nggak mau kak, aku bisa jalan sendiri."
"Nggak. Kamu harus nurut sama kakak, atau nggak boleh ketemu lagi sama pemuda itu."
Zahra pun mengangguk.
***
Rani, Iqbal, putri, dan Nadine mengikuti Zain yang mendorong kursi roda yang Zahra duduki. Dari kejauhan, Zahra melihat kedua orang tua Dion duduk di bangku tunggu tepat di depan ruang operasi. Ibu Kartika menangis di pelukan suaminya. Alex bersandar di dinding ruangan operasi. Sementara Darma berjalan hilir mudik, Agung dan Habibi duduk di samping pak Wibowo.
"Bu..." Ibu Kartika dan pak Wibowo melihat wajah Zahra yang di perban dengan rasa iba. Semua teman-teman Dion tercengang melihat kedatangan Zahra bersama dengan musuh bebuyutan Dion.
"Maafin Zahra pak, Bu... Semua ini terjadi karena kak Dion berusaha menyelamatkan saya."
Ibu Kartika membelai lembut kepala gadis berjilbab itu."Tidak apa-apa."
"Bantu doa untuk Dion ya." ucap pak Wibowo.
"Seandainya saja kak Dion nggak nolongin saya, mungkin saat ini sayalah yang ada di posisi kak Dion."
"Jangan berandai-andai nak, tidak boleh. Semua yang Dion alami adalah ketetapan, takdir dari Allah subhanallah ta'ala." ucap pak Wibowo, Zahra tak sanggup lagi menahan air matanya. Entah terbuat dari apa hati kedua orang tua Dion, kenapa bisa selembut ini. Sementara Zain dan semua yang ada menyimak dengan baik cerita Zahra.
Iqbal menyerahkan Putri pada Rani, lalu menghampiri pak Wibowo kemudian mengembalikan Hp dan dompet milik Dion yang di curi oleh Baron dan Darius.
"Ini, milik putra anda."
"Terima kasih." pak Wibowo menjabat tangan Iqbal.
"Semua uang sudah di kembalikan, beserta biaya untuk pengobatan Dion sudah saya transfer ke rekening ini." ucap Iqbal.
"Saya rasa itu tak perlu. Saya akan membayar semua tagihan rumah sakit sendiri."
__ADS_1
"Saya mohon di terima. Ini sebagai bentuk permintaan maaf dan terima kasih kami pada putra anda karena sudah menyelamatkan adik kami."
"Baiklah. Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
"Papa, Papa, Papa..." Putri menjulurkan kedua tangannya ke arah Iqbal. Pun menghampirinya dan mengambil Putri dari gendongan istrinya.
Ceklek... Suara pintu ruang operasi di buka, memunculkan sosok dokter ahli bedah, membuka masker lalu menyeka peluh di wajahnya dengan lengan. Membuat semua orang yang ada, berdiri dan bergerombol di hadapannya.
"Bagaimana dok, keadaan anak saya?..."
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Pasien akan di pindahkan ke dalam ruangan transisi. Dokter akan terus memantau perkembangan pasien. Kita hanya tinggal menunggu pasien sadarkan diri."
"Syukur Alhamdulillah..." Semua orang mengucapkan syukur.
"Puji Tuhan." ucap Alex, sembari mengetuk kedua dadanya kanan kiri dan berakhir mengecup tangannya.
Mata semua teman-teman Dion membulat sempurna ketika Zain mengecup puncak kepala Zahra. Ibu Kartika pun sakit hati, beliau takut jika Dion akan mengalami patah hati lagi karena cinta ketika melihat Zain mengecup puncak kepala Zahra. Beliau mengusap foto wajah Zahra yang di jadikan wallpaper di Hp milik Dion. Tanpa terasa air mata Kartika menetes, mengingat lukisan Zahra bersama Dion terpajang di dinding kamar putranya.
"Elo ngapain cium-cium kepala calon istri gue?..."Habibi berucap dengan ketus, Ganis langsung menyikut lengannya.
"Kak, dia itu kakak kandungnya Zahra." semua teman-teman Dion makin syok.
"Mustahil." kata Habibi menggelengkan kepala.
"Iiih, nggak percaya. Tanya aja orangnya kalau nggak percaya." tantang Ganis.
"Ra, beneran dia kakak Elo?..." tanya Darma.
"Bi, gempa Bi gempa." Alex memegangi dadanya. Sementara Habibi menutup wajahnya dengan kedua telapaknya.
"Eh, kakak.... Maaf ya." ucap Habibi cengengesan.
***
Dion mulai membuka mata, melihat sekelilingnya ada kedua orang tuanya dan juga teman-temannya, peralatan medis melekat di tubuhnya, bau obat menyengat menusuk hidungnya. Kepingan-kepingan memory ketika dirinya menolong Zahra mulai bermunculan.
"Zahra." Dion berusaha bangkit dari tidurnya tapi perutnya terasa nyeri."Aaaww..." Dion kembali tidur, sembari memegang perutnya yang sakit.
"Jangan bangun dulu nak, kamu baru saja selesai melakukan operasi." ucap Mama Kartika.
"Zahra mana ma???... Aku harus nolongin Zahra. Dia dalam bahaya."
"Dia baik-baik saja nak. Tadi dia kemari, tapi karena kamu tak kunjung sadarkan diri, kakaknya membawanya kembali ke ruang rawat." Mama Kartika menjelaskan.
"Kakaknya Zahra?..." Dion masih ragu.
"Iya."
"Siapa kakaknya?..."
"Suaminya mantan pacarmu." jawab Mama Kartika.
"Maksudnya?..." Dion masih belum paham.
__ADS_1
"Nama asli Zahra adalah Miranda dan ternyata dia adalah adik kandung Zain Alfaro yang lama hilang karena di culik, dia mengalami hilang ingatan ketika ayah yang mengadopsinya menabraknya. Zain Alfaro adalah nama suaminya Nadine." jawab Alex.
"Aah, bercanda lu. Nggak lucu." Dion melempar bantalnya ke wajah Alex.
"Yeeee, nggak percaya... Ya udah." Alex mencibir.
"Apes banget nasib percintaan gue."
"Jangan menyerah Yon, sebelum berperang." Alex mengepalkan tangannya ke udara.
"Gue nyerah, nggak punya muka deketin Zahra. Malu kalau ingat sama kasus yang sudah-sudah."
"Semangat Yon, pantang mundur. Semangat, semangat, semangat." ucap Alex dengan tangan terkepal di udara mengejek Dion.
"Plak..." pak Wibowo menepuk pundak Alex."Kalian itu bicara apa sih?...."
"Hehehe... Bercanda Om."
***
Memikirkan Zahra membuat hatinya gelisah, Dion ingat betul ketika melihat Zahra dalam bahaya, dia begitu panik dan tanpa pikir panjang menjadikan dirinya sebagai umpan hingga peluru menembus kulit perutnya.
Dion berusaha menutup hati untuk Zahra, tapi entah kenapa hatinya jadi tak tenang. Memejamkan mata, wajah Zahra terbayang.
Hingga keesokan harinya Dion meminta pada Alex diam-diam untuk mengantarnya ke ruangan Zahra, bayangan penolakan Zain, dia pikirkan belakangan saja.
Di depan ruangan Zahra, terjadi keributan kecil antara Dion dan Alex dengan bodyguard yang berjaga di depan pintu.
"Ada apa ini?..." karena mendengar suara Keributan, Zain keluar dari kamar Zahra untuk melihat sumber suara. Tatapan matanya tak berubah, masih dengan sorot permusuhan.
"Maaf, tuan... Mereka berdua memaksa masuk."
"Ada perlu apa kau menemui adikku?..."
"Maaf kak, kami hanya ingin mengetahui keadaan Zahra." Dion rasanya ingin menangis ketika menyebut Zain dengan sebutan kakak. Seperti ada biji kedondong tersangkut di tenggorokannya.
"Sejak kapan aku jadi kakak mu?..."
"Sejak tahu kalau Zahra adalah adiknya kakak." jawab Dion sembari menggosok tengkuknya.
"Jangan menyebutku kakak, aku geli mendengarnya."
"Kalau mas, bagaimana?..."
"Aku semakin geli mendengarnya.
"Aku pun juga geli, memanggil mu kakak." Dion berperang sendiri melawan hati.
"Biarkan mereka masuk." ucapan Zain terasa seperti oase di tengah gurun pasir.
Dion tersentak kaget ketika melihat wajah Zahra yang sedang di bersihkan oleh perawat dan dokter. Zahra yang melihat kedatangan Dion dan Alex segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tak ingin menunjukkan wajah buruk rupanya pada sang pujaan hati.
"Zahra, tunjukkan wajahmu padanya." Zain menarik tangan Zahra perlahan, Zahra yang malu menunduk matanya. Membiarkan Dion melihat wajahnya yang jelek.
"Yon, elo nggak ilfil." Alex berbisik di telinga Dion. Ketika menolong Zahra, Dion tak sempat melihat wajahnya, tapi ketika melihat wajah Zahra Dion malah tercengang.
__ADS_1