
Ceklek....
Dion melempar diary tersebut ke bawah bantal, lalu berpura-pura tidur ketika mendengar suara pintu terbuka. Posisinya membelakangi Zahra...
Zahra keluar dari kamar mandi, berpakaian babidol dengan gambar hello Kitty berwarna pink. Rambutnya hitam dan lebat tergerai indah. Tanpa cadar.
Terdengar langkah kaki Zahra mulai mendekat di pendengaran Dion, ranjang terasa bergoyang ketika Zahra duduk di tepi ranjang.
Zahra menoleh, menatap punggung Dion. Dia sudah siap untuk menyerahkan kehormatan untuk sang pemilik kehormatan, yaitu suaminya."Kak, sudah tidur..." Walaupun ia amat malu setengah mati, Zahra tetap memberanikan diri menusuk-nusuk lengan Dion. Karena tak ada tanggapan, dengan rasa cemas, malu, dan gugup, ragu-ragu Zahra membuka selimut lalu beranjak naik ke atas ranjang. Ia memangku wajah dengan tangannya, tidur menghadap Dion. Memandangi punggung suaminya sejenak, kemudian terlelap.
Dion masih penasaran dengan Isi diary itu, ia masih belum menamatkan bacaannya.
Setelah mendengar suara dengkuran halus dan memastikan bahwa istrinya sudah terlelap. Dion membalik tubuhnya perlahan dengan mata terpejam, takut si istri belum tertidur. Dion membuka sedikit matanya, tapi ada yang aneh, sepertinya Dion salah melihat.
Dio memutuskan untuk membuka kedua matanya lebar-lebar.
"MasyaAllah...." Dion terbelalak melihat wajah Zahra begitu cantik tanpa goresan, lalu di mana bekas luka di wajahnya?... Kenapa tak berbekas?... Dion berulang kali menelan salivanya, wajahnya mulai maju, bibirnya sudah monyong ingin mengecup bibir ranum Zahra. 'Tapi, tunggu, ada yang lebih penting dari pada malam pertama.' Dion melambaikan tangan di depan muka Zahra. Aman. Bahkan mentoel hidung Zahra, aman dia tidur nyenyak. Dion membelai lembut pipi Zahra.
Dion mengambil kembali buku diary Zahra, dan mulai membacanya.
Dear diary.
Nadine, teman baruku, tepat di hari pertama masa orientasi mahasiswa baru ia pingsan tepat di hadapanku. Namun ada seorang pemuda yang datang merengkuh tubuhnya hingga ia urung jatuh ke papingan. Satu tahun tak bertemu, eh dia malah nongol di depan mataku. Tapi kenapa melihatnya membopong Nadine hatiku tercubit.
"Eh, tunggu-tunggu.... Yang bopong Nadine di hari pertama kuliah kan gue.... Kayak ada kesalahan teknis nih.... " gumam Dion lirih.
Dear diary.
Setelah beberapa hari di kampus, aku baru tahu namanya pemuda yang aku kagumi ternyata adalah Dion Alfarizi.
"Hah, kok gue...." Dion menunjuk dirinya sendiri, tak percaya. Tapi tetap saja, senyum terbit di parasnya. Menyinari wajahnya yang tadi sempat kusut.
__ADS_1
Dear diary
Aku mencoba membohongi perasaanku, menguburnya dalam-dalam. Tapi kenapa seolah-olah takdir selalu memberikan jalan agar dia selalu datang padaku. Di mana ada aku, di situ pula ada Nadine. Dan di manapun Nadine berada, di situ pula selalu ada kak Dion yang selalu menggodanya. Entah kenapa, kebersamaan mereka membuat hatiku merasa tercubit. Sungguh, aku tak ingin mengenal cinta. Tapi kenapa cinta ini tumbuh dengan sendirinya tanpa bisa di cegah. Jika mencintai adalah sebuah dosa, tolong maafkan hamba, ya Allah.
Dear diary...
Aku selalu berusaha menghindarinya, membuang jauh-jauh semua rasa. Tapi kenapa dia selalu datang padaku, berbagi keluh kesah padaku. Membuat setiap usahaku untuk melupakannya menjadi sia-sia.
Dear diary...
Dia datang padaku di jam kerjaku di cafe. Sungguh aku tak tega melihat wajah kacaunya karena patah hati, sebab aku tahu sendiri rasa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
Dion menutup buku diary Zahra, di pandangannya wajah lelap Zahra. Dion tak pernah menyangka bahwa Zahra akan mencintainya sebesar itu. Di kecupnya puncak kepala Zahra, sebagai curahan hati dan rasa syukur karena sudah di cintai sedalam itu.
***
"Puk, puk, puk.... Ngapain?..." Zain menepuk-nepuk lengan Nadine yang tengah menguping dari pintu kamar Zahra.
"Aneh apa maksudmu?..."
"Mereka nggak ngapa-ngapain kayaknya?..."
"Jangan ganggu mereka. Bukan urusanmu juga kan." Zain merangkul bahu Nadine dan membawanya pergi."Sudah malam, ayo istirahat."
Zain menidurkan Nadine, menyelimuti tubuhnya kemudian mengecup keningnya.
Zain menaiki ranjang, dan terlelap di samping Nadine sembari memeluknya.
"Kak..."
"Hemmm...."
__ADS_1
"Tumben langsung tidur?..."
"Memangnya kenapa?..."
"Biasanya tiap malam, main?..."
"Emangnya kamu pengen main?..."
"Enggak kak, cuma tanya."
"Jangan mancing-mancing."
"Jangan macam-macam, aku capek banget. Punggung ku aja terasa sakit."
Zain duduk lalu mengambil minyak Zaitun dari dalam laci, ia urung tidur."Buka bajumu biar ku pijit." Nadine pun membuka baju kemudian Zain memijatnya.
"Gimana?... Masih sakit." Zain bertanya setelah satu jam memijat punggung Nadine.
"Udah nggak."
Baru saja Zain terlelap, ia mendengar suara hp menggelepar. Tertera ID Caller berinisial Iqbal.
"Hallo Tuan."
"Syukur Alhamdulillah."
"Baik tuan." Zain menutup panggilan teleponnya.
"Ada apa kak?..."
"Kata tuan Iqbal, Nona Rani hamil lagi."
__ADS_1
"Alhamdulillah " Nadine berucap syukur.