
Nadine menangis sesenggukan, memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Dia masih tidak terima dengan sikap semena-mena Zain. Menjebak orang tuanya demi untuk menikahi Nadine.
Zain duduk dengan memeluk lututnya yang ia tekuk. Zain Memangku dagu dengan tangannya, memperhatikan calon istrinya yang sedang menangis sesenggukan karena terpaksa harus menerima lamarannya. Hatinya terasa sakit karenanya lah alasan Nadine menangis.
"Sudah malam, ayo ku antar ke kamar mu." Zain mengajak Nadine dengan nada yang begitu lembut. Membelai kepala Nadine dengan lembut tapi langsung di tepis. Zain sama sekali tidak berniat menyakiti hati Nadine, Zain hanya tidak ingin kehilangan orang yang di cintainya. Zain sudah terlalu sering kehilangan orang-orang yang di cintainya. Kali ini Zain akan mempertahankan apa yang ia sayangi walau bagaimana pun caranya.
"Cepat buka pintunya..." Suara Nadine terdengar serak karena terlalu banyak menangis. Nadine mendorong Zain karena kesal.
Zain bangkit kemudian mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Nadine lari terbirit-birit sembari menghapus air matanya. Zain hanya berdiri menyaksikan rambut kuncir kuda Nadine yang bergoyang mengikuti gerakan tubuh Nadine.
***
Nadine meringkuk menangis di atas ranjangnya. Dia tidak pernah menyangka jika Zain akan melakukan hal ini padanya. Nadine terpaksa melakukannya karena tidak ingin sang bapak masuk penjara.
Nadine meraih hp-nya yang sejak tadi bergetar di dalam tasnya. Hati Nadine kembali bersedih ketika melihat panggilan Dion di layar Hpnya.
Nadine bingung akan mengatakan apa pada Dion. Mengingat wajah bahagia Dion ketika Nadine menerima cintanya, membuat Nadine semakin di hantam rasa bersalah.
Nadine tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Dion jika tahu Nadine akan menikah dengan Zain. Nadine bingung akan mengatakan apa pada Dion. Mengingat lamaran Dion tadi membuat Nadine semakin tak enak hati.
__ADS_1
""*Aku...Aku ma-mau.... Tapi aku nggak siap untuk nikah."
"Nggak apa-apa, kita jalani aja dulu*." Mengingat lamaran Dion tadi membuat Nadine semakin tak enak hati. Dion memberikan bunga yang ia pegang pada Nadine."Terima kasih sudah menerima cintaku. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untukmu tapi aku akan berusaha membahagiakanmu dan membuatmu nyaman di sampingmu. Ayo turun." Dion membawa Nadine turun dari panggung dan mengajak semua sahabatnya dan sahabat Nadine ke kantin. Saking bahagianya Dion hingga dia mentraktir para sahabatnya. Berangkat ke cafe dan pulang ke rumah Iqbal pun Dion yang mengantarkan.
Kelamaan menangis membuat mata Nadine mengantuk hingga iapun terlelap tepat pukul 2 dini hari. Subuh Nadine kesiangan, ia terbangun ketika jam menunjukkan pukul 5 pagi. Nadine segera pergi ke kamar mandi takut melewatkan ibadah sholat subuh.
Setelah menyelesaikan ibadah salat Subuh Bi Ijah menghampiri Nadine.
"Nduk, kemaren Tuan Zain meminta bibi untuk ikut ke Bangil, katanya mau melamar kamu. Apa kamu benar-benar mau menikah sama tuan Zain."
"Iya Bi."
"Karena sebelumnya Nadine nggak pernah tahu rasanya jatuh cinta bi."
"Oh syukurlah.... Bibi takut aja kamu kecelakaan."
"Nggak lah bi. Nadine masih menjaga batasan."
"Ayo siap-siap pagi ini kita berangkat ke Bangil."
__ADS_1
Nadine hanya mengangguk.
Setelah Bi Ijah keluar, Nadine mengemasi barang-barangnya kemudian Nadine mengambil Hpnya dan melihat ada 3 notifikasi pesan masuk dari Dion.
"Sayang, sebelum tidur jangan lupa cuci kaki dan baca doa." Chat semalam.
"Sayang."
"Udah subuh, bangun sholat."
"Dari tadi di telepon nggak di angkat."
Nadine pun membalas pesan wa dari Dion.
"Kak, aku minta maaf dengan sangat. Lebih baik hubungan ini kita sudahi sampai di sini. Mulai sekarang kita putus."
" Jangan berharap apapun dariku lagi. Jangan tanya kenapa. Maaf karena sudah mengecewakan mu." Lanjut wa Nadine.
****
__ADS_1
Mataku nggak bisa di ajak kompromi, ngetiknya merem melek. Kalau ada typo kabari