
Zain menghampiri Nadine yang sedang berjalan mondar mandir membaca buku di tempat biasa, yaitu halaman belakang rumah.
"Nadine nanti sore bisa ikut aku, tidak?..." Zain bertanya, dengan ekspresi datar.
"Kemana kak?..."
"Mengantarkan Miranda pulang, besok dia harus sekolah."
"Tapi aku harus kerja kak."
"Iya, nanti sekalian aku mengantarkanmu untuk bekerja. Sebab aku takut dia tidur di jalan seperti semalam."
"Ok deh kalau begitu. Lumayan ngirit ongkos."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu setiap hari."
"Mana bisa....Kakak kan kerja."
"Hehehe iya ..." Zain tersenyum kaku.
Dia berusaha mencari celah untuk bisa mendekati Nadine. Menyatakan cintanya secara langsung, sama saja bunuh diri. Zain ingat betul bagaimana Nadine menolak lamarannya.
Bukannya pergi setelah mengutarakan keinginannya, Zain malah duduk di bangku tepat di bawah pohon.
"Eemmm, Nadine apa yang kamu lakukan?..." Zain mencoba berinteraksi dengan Nadine.
"Lagi belajar kak, besok di kampus ada kuis."
"Bukan itu maksudku!!!.... Kenapa mondar mandir setiap belajar?...." Zain merasa canggung, cuma pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.
"Kalau membaca ya mondar mandir. Tapi kalau ngerjain tugas ya duduk manis. Kebiasaan kali ya kak, rasanya itu kayak cepat nyantol kalau baca sambil berjalan mondar mandir."
Zain tersenyum, ini baru pertama kalinya dia mendengar ada orang belajar dengan cara membaca buku mondar mandir bisa cepat nyantol. Nadine kembali fokus pada bukunya.
Zain memperhatikan Nadine, tampak buliran keringat menganak di wajah dan lehernya. Nadine nampak kebingungan, dia menggaruk kepala dengan pulpen.
"Kenapa?... Apa ada yang tidak bisa kamu mengerti?..." Zain bertanya dengan nada lembut.
"Iya nih kak..." Nadine merengut kebingungan.
Karena penasaran, Zain menghampirinya.
"Sini, biar ku lihat..." Nadine memberikan bukunya pada Zain. Zain berjalan menuju bangku.
"Duduk sini, aku akan mengajarimu." Zain menepuk nepuk bangku persegi panjang yang ia duduki. Nadine beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri Zain kemudian duduk di sebelahnya.
Dalam sekejap Zain sudah menguasai materi dari buku yang di pegangnya. Dengan telaten Zain mengajari Nadine. Zain sangat tidak cocok menjadi seorang guru. Cara mengajarnya sedikit ekstrim, jika Nadine tak kunjung mengerti maka Zain akan mencoret wajahnya dengan pulpen.
__ADS_1
"Iiiiiihhhhh kak nyebelin deh..." Zain terkekeh melihat ekspresi wajah Nadine yang merengut. Tangannya sibuk menghapus coretan di wajahnya.
"Itu konsekuensinya jika kamu tidak kunjung mengerti. Konsentrasi..."
"Iya,,, iya... Nggak ada hukuman lain apa, selain coret mukaku?..."
"Ada..."
"Apa?..."
"C,,,I,,,U,,,M...." Zain menyebutkan huruf satu persatu.
"Apaan tuh?..." Nadine bertanya masih belum ngeh(paham).
"Baca dong..." Zain tersenyum.
"C,,, I,,, U,,,M.... Cium.... Iiiiiihhhhh males..." Nadine mengerucutkan bibirnya setelah menyadari maksud Zain. Seandainya sudah halal pasti bibir itu akan langsung di sergap oleh Zain.
"Hahahaha....Siapa juga yang mau cium kamu. Males... Kamu jelek." Zain tertawa sambil mencoret wajah Nadine lagi.
"Kak, Iiiiiihhhhh nyebelin deh..." Zain bergelinjang saat Nadine mencubit pinggangnya. Setelah beberapa saat kemudian setelah bercanda, kini mereka kembali serius belajar.
"Udah udah ayo belajar lagi."
Nadine mendengarkan setiap materi yang dijelaskan oleh Zain. Mereka habiskan waktu hampir dua jam untuk belajar mengajar. Tanpa terasa mata Nadine mulai kantuk, seharian bekerja membuat kantuk menyerangnya. Nadine mulai terlelap dan bersandar di bahu Zain dengan nyamannya.
Membuat aliran darah Zain berdesir menghangat, perasaan bahagia membuncah di hatinya. Zain mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi kamera dan memotretnya.
Zain tersenyum melihat hasil jepretannya, Nadine terlihat lucu dengan coretan pulpen di wajahnya.
"Nadine, bangun... Katanya mau bekerja." Setelah satu jam, Zain baru membangunkan Nadine yang terbuai di alam mimpi, terpaksa ia lakukan karena Nadine masih memiliki tanggung jawab.
"Emmm..." Nadine hanya menggeliat.
"Nadine..." Zain mengguncang bahunya hingga Nadine terbangun, Nadine terkejut. Dia terperangah ketika menyadari dirinya tidur di bahu Zain.
"Eh kak, maaf... Nggak sengaja.... Aku ketiduran ya... Udah berapa lama aku tidur." Nadine mencerca Zain dengan pertanyaan beruntung.
"Udah satu jam."
"Ya ampun kak, kok nggak di bangunin dari tadi sih..."
"Nggak apa-apa, sering-sering aja kayak gini." Zain menatap Nadine dengan tatapan ganas, membuat wajah Nadine bersemu merah. Kemudian Zain berdiri dari tempat duduknya.
"Iiiiiihhhhh, apaan sih kak..." Nadine jadi salah tingkah.
"Hapus tuh air liur kamu." Zain beranjak pergi meninggalkan. Karena malu, Nadine segera menghapus sudut bibirnya.
__ADS_1
"Iiiiiihhhhh, ngeselin.... Orang nggak ngiler kok." Nadine kembali mengerucutkan bibirnya.
***
Dengan sepeda motornya, Zain mengantarkan Miranda ke rumah bi Nurul kemudian mengantarkan Nadine ke Cafe Asmara tempatnya bekerja.
Setelah mengucapkan terima kasih Nadine bergegas memasuki Cafe dan mulai bekerja.
Zain memacu motornya dengan kencang menuju apartemennya, Zain sampai di apartemen setelah 15 menit berkendara. Dia berjalan melewati lobby menghampiri lift. Kebahagiaan membuncah di dadanya, Senyuman Zain surut ketika lift terbuka lalu masuk dan melihat Riska berjalan ke arahnya. Ah, sial.... Kenapa harus satu lift dengan wanita ini. Di saat hatinya bahagia kenapa dia harus bertemu dengannya. Membuat rasa bahagia di hatinya menjadi kacau balau.
Sudah lama dia tidak kembali ke apartemennya demi untuk menghindari Riska. Tapi sialnya kenapa sekalinya ke apartemen harus bertemu kembali dengannya.
"Zain apa kabar?..." Zain acuh pada pertanyaan Riska.
"Zain, aku minta maaf."
"Maaf...." Zain mengangkat satu alisnya."Untuk Apa?..." Lanjut Zain yang penasaran maksud 'maaf' dari Riska.
"Zain, aku tahu aku salah. Sekarang aku sadar, cinta tak harus memiliki. Aku menyesali sudah membuat mu menyesal telah mengenalku."
"Begitu lah manusia, tidak akan sadar sebelum di tampar penyesalan."
"Aku tidak akan mengganggumu lagi, Zain."
"Bagus lah jika kau sadar. Tapi apakah ucapan mu bisa di pegang???... Terus terang saja, aku lelah dan risih jika kau selalu membuntutiku."
"Aku juga lelah Zain selalu berharap hal yang tidak pasti darimu. Melangkah tanpa tujuan, berharap tanpa kepastian, mendamba tanpa mendapatkan.... Hidup ku hampa dan kosong, aku akan belajar memutuskan harapanku, Zain."
Zain mencerna setiap ucapan Riska, walau bagaimanapun dia pernah menjadi bagian terindah di hatinya. Yang bisa mengurangi rasa sedih yang bergelayut di hatinya Walaupun pada akhirnya dialah yang menyakiti Zain begitu dalam hingga Zain tak mau mengenal cinta lagi karena takut di patahkan hingga hancur berkeping-keping. Terlalu banyak luka yang Zain rasakan.
"Aku pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu, tapi aku malah pergi. Karena rasa kecewaku lebih besar dari rasa cintaku."
"Ting...." Pintu lift terbuka. Zain segera keluar, ia berjalan terburu-buru menuju apartemennya, di susul oleh Riska.
"Zain, Rangga terus merayuku. Maafkan aku yang terbuai oleh rayuannya."
"Ternyata kau tidak benar-benar menyesal. Jangan pernah menyalahkan orang ketiga, karena dia tidak akan masuk jika kamu tidak pernah memberikan celah."
"Zain, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan melupakan perasaan ku pada mu. Apakah tidak bisa kita berteman seperti dulu."
"Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Braaak..." Zain menutup pintu depan kencang, meninggalkan Riska yang tercengang di depan pintu.
"Jika tidak bisa mendapatkan hatimu dengan cara memaksa, maka aku akan mendapatkannya dengan cara yang lembut." Riska membantin penuh percaya diri.
***
😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa like, favorit and vote nya ya kakak🙏🙏🙏