
** Investigasi hari pertama dimulai **
“baiklah, hari ini tujuan kita adalah menjelajahi tanah suci yang dulu kita pernah temukan..!!”
Aku mengucapkan hal itu dengan penuh semangat, namun hanya butuh sekitar 1 jam untuk membuat semangat ku hancur. Satu hal yang belum terpikirkan oleh ku saat itu dan kini telah menjadi masalah yang paling besar untukku.
“aku lupa, kan kami masuknya secara tidak sengaja... Lagi pula saat itu juga ada Update System” pikirku sambil terus mencoba membuka dan menutup pintu depan Altar.
Saat itu aku pun berpikir, kalau aku terus melakukan hal ini, mungkin saja aku bisa masuk lagi kedalam. Aku pun kan mencobanya dan itu membuatku seperti orang gila yang bermain – main dengan pintu.
“anu... Apakah kalian Player pemula..? Bagaimana kalau aku memandumu..?” tanya seorang Player perempuan, Ras nya Elf.
“hah..!! Jangan ajak aku bicara ketika aku sedang berpikir...!!” jawab ku dengan tatapan mengintimidasi.
“hii... Eh..!! Wajah itu... Jangan – jangan kau adalah...” kata perempuan Elf itu.
“Jessie..!!” teriak ku memanggil Jessie.
“aku mengerti” sahut Jessie sambil menyekap mulut perempuan Elf itu.
Aku pun perlahan berjalan mendekat, aku menatapnya tajam. Dengan wajah kebingungan dan sedikit ketakutan, perempuan itu pun langsung memejamkan matanya.
“dengar ya, kami sekarang sedang menjalankan Quest... Jadi tolong rahasiakan hal ini, oke” kata ku sambil menatap matanya dari dekat.
“ah... Baiklah” kata perempuan itu dengan wajah memerah.
Dengan ekspresi kesal, Jessie pun langsung melepas perempuan Elf itu. Sambil terhuyung – huyung, perempuan Elf itu pun berjalan meninggalkan kami. Setelah itu, kami pun kembali mencoba berbagai macam cara, tentu saja kami menjadi pusat perhatian lagi.
5 Menit kemudian, tiba – tiba aku mendengar suara yang aku kenal.
“Hideo..!! Hideo..!! Dimana kau..?!” teriak Lili mencariku.
Saat itu pun aku langsung memegang tangan Jessie lalu menariknya masuk kedalam Altar. Kemudian aku membuka pintu itu sedikit untuk mengintip Lili.
“bagaimana..? Dimana dia..?” tanya Elina yang tiba – tiba muncul.
“oh, kata perempuan tadi dia berada disekitar sini...” jawab Lili sambil melihat Altar.
“pantas saja aku tidak menemukannya dijalan...” keluh Elina.
“hei... Ayo kita coba cari didalam” kata Lili sambil menunjuk kedalam Altar.
Dari dalam Altar, aku melihat mereka mulai berjalan kesini. Aku pun langsung menutup dan menahan pintunya.
“sial... Terus bagaimana ini..?” pikirku kebingungan.
__ADS_1
“master... Bagaimana ini..?” tanya Jessie.
“lah, dia malah bertanya kepadaku...” pikirku dengan tatapan datar menatapnya.
Suara langkah mereka semakin dekat, aku pun langsung menarik tangan Jessie lalu menciumnya.
“aku... Ingin pergi kesana...!!” pikirku saat mencium Jessie.
*Kreekk... Suara pintu terbuka.
“ah, mereka juga tidak ada disini...” keluh Lili setelah melihat kedalam Altar.
“hmm... Mungkin mereka sudah pergi kedalam Dungeon... Biasanya mereka disana” sahut Elina sambil berjalan keluar.
Ketika aku mencium Jessie, tiba – tiba badan kami mulai bersinar seperti sedang diteleportasi. Kami pun menutup mata sebentar dan ketika kami membuka mata, kami sudah berada didalam hutan.
“dimana ini..?” tanya Jessie
Aku pun langsung melihat Map, semuanya hitam, aku tidak melihat apapun didalam Map selain warna hitam.
“kita... Kita berhasil Jessie..!!” teriakku sambil memeluknya.
“ma-master... Tidak bisa kah kita melakukannya ditempat yang sedikit nyaman..?” tanya Jessie dengan wajah malu – malu.
“itu, maksudku adalah...” jawab Jessie, namun dia tiba – tiba teringat ketika aku menciumnya, dia pun langsung terdiam dengan wajah memerah.
*Roaaarrr... Suara raungan yang sangat keras.
“hmm... Yah, bodo amat... Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi yang pasti kita sudah disambut, monster macam apa ini..? Aku tidak sabar... Hehe” kata ku sambil mulai mengambil pedangku.
Aku pun langsung mengambil ancang – ancang dan terus menatap kesumber suara.
“aku bisa mendengarnya, langkah kaki ketika dia berlari kemari... Dia terus mempercepat lari nya, jadi kemungkinan ini adalah monster bertanduk... Baiklah, aku mengerti” pikir ku sambil terus bersiaga.
*Roaarr... Suara monster itu semakin mendekat.
Sesaat kemudian, monster itu pun muncul dari balik semak belukar. Monster itu berbadan seperti banteng yang sangat besar dan bertanduk seperti rusa. Aku pun langsung menyerangnya, aku kira dia memiliki level tinggi namun ternyata aku salah, hanya dalam sekali tebasan dia langsung mati.
“ayo kita lanjutkan...” kata ku sambil menyarungkan pedangku.
“ma-master... Kau mungkin akan terkejut” sahut Jessie.
“apa..? Jangan bilang kalau monster selemah itu Item Drop nya tingkat SSR...” kata ku.
“lihatlah dulu...” kata Jessie.
__ADS_1
“oh, maksudmu ada sebuah bug... Apa..!!” kata ku terkejut ketika aku melihat kearah monster nya.
Aku kira monster nya akan menghilang dan tidak menjatuhkan Item sama sekali namun aku salah, monster itu masih utuh dengan kepala terpenggal karena seranganku dan darahnya berceceran disekitarnya.
“jangan bilang...!!” teriakku sambil melihat pedangku.
Aku pun terkejut ketika melihat pedangku berlumuran darah, aku pun langsung membersihkan nya sebelum menjadi kering. Aku mendapatkan satu misteri lagi.
Kami pun memutuskan untuk menyimpan monster itu kedalam inventory lalu melanjutkan perjalanan kami. Banyak monster yang kami kalahkan selama diperjalanan, kami pun menyimpan semuanya didalam inventory.
4 jam telah berlalu dan kini kami melihat sebuah kota atau lebih tepatnya adalah sebuah kerajaan. Kami memutuskan untuk pergi kesana, kami pun masuk menyusup kesana. Keanehan lagi – lagi terjadi, disana semua NPC tampak hidup seperti Jessie. Berdagang, mengurus rumah, anak – anak bermain dan beberapa prajurit yang sedang bertugas, mereka semua hidup.
Mungkin karena pakaian kami terlalu mencolok, kami pun menjadi pusat perhatian. Aku tidak mau seperti ini terus, jadi aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang aku dapatkan setelah mengalahkan para Gorgon. Aku pikir sekarang seharusnya sudah cukup untuk terlihat seperti penduduk biasa.
Ketika kami kembali berjalan – jalan, kami menemukan sebuah tempat dimana banyak orang berkumpul disana. Mereka menggunakan armor dan juga pedang, mungkin mereka adalah para Player.
“yah, aku hancurkan saja...” kata ku sambil berjalan masuk.
Aku ingin mengukur kemampuan para Player yang ada disini, jadi aku memutuskan untuk menantang Guild ini, namun...
“maaf, disini bukan tempat untuk bertarung... Apakah anda ingin menjadi seorang petualang..?” tanya resepsionis Guild itu.
“hah..” kata ku terkejut.
Ternyata arti sebuah guild disini sangat berbeda, disini adalah tempat untuk mengambil sebuah Quest dan menjual barang – barang dari monster. Aku pun teringat kalau aku mempunyai banyak barang – barang seperti itu jadi aku ingin menjual semuanya.
Aku kira mereka akan terkejut karena aku menjual banyak monster dalam satu waktu, namun mereka malah lebih terkejut ketika aku membuka Inventory ku. Mereka berkata sihir tingkat tinggi dan sebagainya, dari situlah aku menarik sebuah kesimpulan, mereka adalah orang aneh. Bukannya semua Player mempunyai hal ini, bahkan sejak awal bermain, yang pertama mereka lakukan adalah mengambil senjata mereka didalam Inventory kan.
“kami telah menghitung semuanya, total nya adalah 20.000 meins..” kata resepsionis itu sambil menyerahkan uangnya.
Meins, mungkin ini adalah mata uang di area ini, padahal aku kira mata uangnya sama seperti yang ada didalam game. Setelah itu, kami pun langsung kembali jalan – jalan. Tiba – tiba hidung ku mencium sesuatu, itu berasal dari sebuah toko atau mungkin sebuah bar.
Jessie pun memaksaku untuk masuk. Banyak orang didalam sana, seorang pelayan datang menghampiri kami untuk menanyakan pesanan. Aku pun hanya memesan sebuah minuman karena aku pikir rasanya mungkin juga sama, tawar tidak berasa. Jessie pun memesan makanan yang paling mahal.
Beberapa menit kami menunggu akhirnya pesanan kami telah diantar. Dengan wajah datar tanpa semangat, aku pun mulai meminumnya. Aku terkejut, aku bisa merasakan minuman itu, ini sangat berasa, ini asli. Dengan cepat aku pun mengambil sendok yang sedang dipakai Jessie, aku mencoba makanan nya, ini juga berasa.
“kita kembali..” kata ku sambil mulai berdiri.
“eeh.. Kenapa..?” tanya Jessie kebingungan.
“otakku tidak bisa memikirkan keanehan semua ini... Hari ini kita pulang dulu, kita kembali lagi besok” jawab ku sambil memegang kepalaku.
Setelah itu, kami pun kembali kerumah kami, banyak keanehan yang aku temukan hari ini. Satu hal yang pasti, ini tampak seperti dunia nyata, tidak ada Player dan tidak ada NPC, semuanya benar – benar hidup.
** Investigasi hari pertama... Membuat otakku terasa meledak **
__ADS_1