Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 55 : Improve Relationships 1


__ADS_3


Setelah hari itu, meskipun kami berdua bertemu disekolah, kami bersikap seperti tidak saling mengenal. Dia menganggapku tidak pernah ada didalam hidupnya, dan kejadian kemarin adalah sebuah mimpi baginya.


Dari dalam jendela kelas, aku dapat melihat dedaunan mulai berjatuhan, suhu semakin lama semakin dingin, musim gugur akan segera datang. Perasaan itu telah kembali, perasaan yang paling aku benci yaitu perasaan hampa. Musim gugur, aku membencinya namun aku juga merindukannya, tidak hanya sekali namun dua kali aku telah kehilangan orang yang berharga dimusim ini, sekarang aku sendirian.


Hari – hari ku menjadi tidak berwarna, waktu berjalan sangat lambat, ekspresiku menjadi datar, aku kembali lagi ke garis Start.


“sungguh membosankan... Apa yang sebenarnya aku lakukan sampai sekarang..? Dan kenapa aku berada disini..?” pikirku sambil memainkan pensilku.


Tatapan ku menjadi kosong, tanganku berhenti bergerak, aku tidak bisa mendengar suara bu Suzue yang sedang menjelaskan didepan, sangat sunyi dan hening.


“ini benar – benar membosankan...” kata ku pelan.


“huh..!! Siapa yang berbicara tadi..?” tanya bu Suzue sambil melihat kearah murid – muridnya.


Semuanya diam, tidak ada yang menjawab pertanyaan bu Suzue, kemudian satu persatu mulai melihat kearah ku.


“Hideo apakah itu kau..?” tanya bu Suzue.


Aku pun hanya menatap bu Suzue sebentar lalu memalingkan wajahku lagi, aku sungguh tidak ingin berbicara saat ini, meskipun aku berhasil memecahkan kesunyian ini tapi nantinya aku akan dilahapnya kembali, siklus yang membosankan.


“semuanya diciptakan berlawanan, kau dapat merasakan kesunyian meskipun didalam keramaian dan kau juga bisa merasakan keramaian meskipun sedang berada didalam kesunyian... Hanya saja kalau kau terlalu hanyut kedalamnya maka kau akan dimakan dihidup – hidup olehnya...” pikir ku sambil melihat keluar jendela.


“a-anu... Se-sebenarnya... Ada apa... De-denganmu...?” tanya Bella gugup.


“salah satunya adalah dia... Didalam game dia adalah seseorang yang tidak kenal takut, dia selalu berani menghadapi apapun, namun disisi lain... Dia adalah seseorang yang penakut, aku tidak mengerti ada apa dengannya... dan bagaimana menjelaskannya, anggap saja dia memiliki kepribadian ganda...” pikirku.


Aku pun hanya meliriknya sebentar lalu kembali memalingkan wajahku lagi, kemudian aku menyangga kepalaku dan memejamkan mataku.


*kriinggg... Suara bel sekolah.


Akhirnya sekolah pun selesai, kebanyakan siswa yang bersekolah disini mengikuti sebuah ekstra jadi mereka akan pulang nanti sore, dan aku tidak termasuk dari kebanyakan siswa itu. Aku pun berjalan meninggalkan kelas, meskipun suasananya sangat ramai namun aku tidak dapat mendengar suara mereka, hanya tersisa suara langkah kaki ku saja yang dapat aku dengarkan, hampa.


“kau sudah membelinya..?” tanya ku sambil masuk kedalam mobil.


“sudah, tuan muda” kata sopirku.


“baiklah langsung jalan...” kata ku sembari melihat keluar dari dalam mobil.


Sekilas aku dapat melihatnya, seseorang sedang melihatku dari balik jendela salah satu kelas. Aku sempat berpikir kalau itu adalah Elina, namun aku mengabaikannya dan menganggap kalau itu hanyalah seorang murid yang kebetulan melihatku keluar.


Setelah beberapa saat sejak aku meninggalkan sekolah, akhirnya aku sampai disebuah pemakaman. Aku pun berjalan menuju tempatnya beristirahat, disini sangatlah sunyi, aroma dupa yang terbakar dapat tercium disini. Hanya ada suara angin yang dapat terdengar disini, dan angin itu perlahan datang dan menerpaku.


“satu masalah lagi telah aku ciptakan... Aku ingin dia membenciku, agar saat aku meninggalkannya nanti... dia tidak akan merasakan rasa sakit sesakit diriku saat itu... Aku bisa merasakannya, mungkin aku tidak akan dapat melihat musim selanjutnya... Aku akan segera datang, lalu kita dapat bertarung kembali... Sampai jumpa nanti...” kata ku sambil meletakkan seikat bunga diatas makamnya.


Aku pun kembali berjalan, kali ini kesebuah makam lainnya, dia juga sama berharganya bagiku, dialah yang mengajarkanku apa itu yang dimaksud dengan perasaan dan wanita, dia seorang keluargaku lainnya.

__ADS_1


“hah... Aku benar – benar yang terburuk... Padahal kau dulu berjuang sangat keras untuk kami, tapi aku malah mengacaukannya... Tapi asalkan tujuanku tercapai, jadi buruk pun aku rela... Sampai jumpa nanti...” kata ku sambil meninggalkan bunga diatas makamnya.


Aku pun kembali kerumah, disepanjang perjalanan aku selaku berpikir, apakah ini adalah yang terbaik atau hanya aku saja yang berpikir ini adalah yang terbaik. Matahari mulai tenggelam dan aku telah sampai di depan rumah.


“aku pulang...” kata ku sambil membuka pintu.


“oh selamat datang dirumah... Kemari lah” kata ibuku.


Aku pun terkejut dengan situasi saat ini, ibuku tib – tiba pulang, dia menungguku pulang bersama dengan Elina serta ibunya. Aku pun segera duduk disamping ibuku, wajahnya terlihat marah, untuk sesaat suasananya menjadi hening.


“akh yakin kau pasti sudah paham hanya dengan melihat situasinya saat ini... Jadi coba kau jelaskan” kata ibuku.


“sebenarnya aku...” kata ku dengan tatapan kosong.


“masuklah kedalam kamarmu...” sahut ibuku.


“hah..? Bukankah... Baiklah” kata ku sambil berdiri.


“bawa Elina bersamamu” sahutnya lagi.


“ayo ikuti aku” kata ku mengajak Elina.


Elina pun hanya diam, aku mencoba untuk berjalan namun dia tetap diam dan tidak bergerak dari tempatnya duduk. Aku menghampirinya lalu menarik tangannya, aku terus memegang tangannya sambil menuju kamarku.


“kau yakin ini akan berhasil..?” tanya bu Haruna sambil mengambil secangkir teh yang telah disiapkan.


“tenang saja, dia tidak seperti ayahnya yang kikuk saat berhadapan dengan seorang wanita, aku tidak tahu siapa yang mengajarinya soal wanita tapi aku berterima kasih kepadanya” jawab ibuku.


“Terima kasih” sahut ibuku.


Sedikit canggung rasanya saat aku membawanya kedalam kamarku, namun aku juga ingin meminta maaf kepadanya. Elina hanya diam, setelah kejadian kemarin dia sekarang menjadi seorang yang pendiam, aku merasa bersalah.


“sepertinya kata – kata ku kemarin sangatlah menyakitkan bagimu...” kata ku sambil menutup pintu kamarku.


Elina hanya diam, dia bahkan tidak mau melihatku sedikitpun.


“kau tidak mencintai hanya karena aku adalah tunanganmu kan..? Kau pasti memiliki alasan lain, namun kau juga pasti mempunyai alasan kenapa kau tidak mengatakan alasanmu itu... Kalau begitu apa yang akan kau lakukan kalau aku mati nanti..?” tanya ku sambil membuka jendela kamarku.


“kau benar... Kalau kau mati aku pasti akan sangat bersedih, namun jika itu benar – benar terjadi maka aku akan meminta kepada dewa untuk mempertemukan kita kembali dan menyatukan kita berdua...!!” teriak Elina sambil memandangku dengan serius.


“hmm..? Hahaha... Dewa ya... Kalau begitu ayo ikut aku, hari ini aku akan menjawab semua pertanyaanmu, aku bersumpah..!! ” kata ku sambil menarik tangan Elina.


“hei...!! Kenapa kau menarik tanganku..? Lepaskan...!!” teriak Elina marah.


“agar kau mau pergi bersamaku... Dan tidak akan..!!” kata ku sambil mulai menggendongnya.


“apa yang kau lakukan..? Dan kenapa kau menuju jendela..!! Hei..!!” teriak Elina ketakutan.

__ADS_1


“sudah jelaskan... Untuk keluar dari rumah...!!” kata ku sambil melompat.


“bukankah kamarmu ada dilantai dua..? Apa aku akan mati hari ini..?!!” tanya Elina.


“benar dan juga kau akan tetap hidup..!!” jawab ku.


Aku sudah memasang sesuatu ditanahnya, jadi meskipun aku jatuh lebih tinggi dari lantai 2, aku tetap akan baik – baik saja.


“ahh... Tidak...!!” teriak Elina sambil menutup matanya.


“jangan takut... Aku ada disini” kata ku sambil menatapnya.


“hah..? Tidak terjadi apa – apa pada kita kan..?” tanya Elina.


“tidak akan aku biarkan sesuatu terjadi kepadamu” sahut ku.


“huh...!! Kalau kau pikir kata – kata itu dapat membuat hatiku senang maka kau salah” kata Elina cemberut.


“hmm..? Tenang saja, lebih baik kau menutup mata mu sekarang” kata ku sambil berlari menuju tembok pagar rumahku.


“eh..? Kenapa..?” tanya Elina kebingungan.


“karena kau akan terbang” jawab ku.


“aku salah dengar kan..?” tanya Elina.


“tidak dan sekarang adalah waktunya..!!” teriakku sambil melempar Elina keluar.


“ahh... Hideo kau laki – laki sialan...!!” teriak Elina sambil menutup matanya.


Aku pun melompat menyusul Elina.


“ahh... Eh..? Tanahnya sangat empuk..?” pikir Elina.


“kemari lah..” kata ku sambil memegang tangannya.


“kita mau kemana..?” tanya Elina.


“naiklah... Aku akan membawamu melihat sesuatu yang indah” kata ku sambil naik ke sepeda motorku.


Karena ayahku selalu melaranhku untuk pergi tanpa pengawal, aku selalu meletakkan motorku diluar pagar rumahku untuk kabur.


“tidak ada helm..?” tanya Elina sambil naik keatas motor.


“tentu saja tidak” jawab ku sambil mulai berjalan.


“kau bawa surat – suratnya..?” tanya Elina.

__ADS_1


“selalu aku tinggal dirumah” sahut ku sambil menambah kecepatan.


“kalau tidak begitu setidaknya pelanlah sedikit..!! Kau terlalu cepat..!!” teriak Elina ketakutan.


__ADS_2