
Tersenyum meskipun hati hancur, seperti itulah keadaanku saat ini. Aku berusaha untuk terlihat seperti ini karena mungkin saja ini adalah terakhir kalinya kami bisa saling menghormati. Kita pernah bertarung dan berpetualang bersama, menurutku ini wajar untuk menghormati nya.
“jadi, kau yakin tidak mau bergabung..?” tanya Liam dengan nada serius.
“100% sangat yakin... Lagi pula, dari awal aku sudah memutuskan untuk tidak bergabung dengan Guild manapun” jawab ku sambil menatap Jessie.
“hah... Jadi ini semua salah kami ya..? Kalau begitu kenapa kau tidak membuat Guild sendiri saja..?” tanya Liam menatapku.
“oh, itu juga menarik... Tapi aku tidak mau repot seperti itu, aku ingin bersantai...” jawab ku.
“anu...” sahut Claire.
“oh, sudah lama ya... Akhirnya kau mau berbicara” kata ku sambil menatap Claire.
“siapa dia..?” tanya Claire sambil menunjuk Jessie.
Tiba – tiba Liam dan Atom pun langsung menatapnya sambil sedikit tersenyum.
“Ah, tidak maksudku bukan seperti itu... Dia itu kuat jadi, jangan salah paham...!!” teriak Claire sambil menutupi wajahnya.
“hahaha... Baiklah, sepertinya cukup sampai disini, meskipun hasilnya sudah jelas tapi tetap saja hadapi kami dengan serius... Kalau kami kalah, kami akan membubarkan Guild kami...” kata Liam sambil mulai berdiri.
“tentu saja, lagi pula aku sudah tidak bisa menekan emosiku lagi...” kata ku sambil ikut berdiri.
“setelah tujuanmu tercapai, apa yang selanjutnya akan kau lakukan..? Kalau kami, mungkin kami akan bergabung atau kembali mendirikan sebuah Guild lagi” kata Liam sambil memegang senjatanya.
“hmm... Benar juga, mungkin aku akan menguak beberapa misteri yang aku temui selama ini” jawab ku dengan mudah.
“jadi begitu... Yah, setidaknya kau mempunyai tujuan” kata Liam yang tiba – tiba langsung menyerangku.
Endou, Atom, dan Gorgonaz maju dibarisan depan, mereka menggunakan sebuah formasi untuk menyerangku. Aku dan Jessie pun juga langsung menyerang, Jessie berlari didepanku dan aku berada belakangnya, aku berlari zig – zag untuk membingungkan musuh.
Endou pun terus menatapku, dia berencana untuk menahan ku ketika aku menyerang, namun dia masih bingung dari mana aku akan menyerang, dari kanan Jessie atau dari kirinya. Tidak sempat untuknya berpikir lama, aku pun yang masih berlari zig – zag, kini dengan cepat aku melakukan serangan kejutan, aku melompat tepat ketika berada dibelakang Jessie.
Hanya sekilas saja endou melihatku, namun karena dia mempunyai insting yang tajam, akhirnya dia pun dapat menghadang ku. Dengan wajah yang sedikit terkejut, aku pun langsung menebasnya, aku berputar dan terus menyerang. Disaat yang bersamaan, Liam dan Claire pun langsung membidik kami.
“FULL POWER..!! SWITCH... NOW..!!” teriak ku setelah melirik Liam dan Claire.
__ADS_1
Jessie pun yang sedang melawan Endou dan Gorgonaz langsung berpindah tempat denganku.
“SWORD OF CALAMITY... RELEASE..!! ACCELERATION... BOOST..!!” teriak ku.
Aku pun langsung berlari kearah Liam dan Claire, meskipun Endou dan Gorgonaz berusaha untuk menyerangku, aku pun mengabaikannya. Saat itu, Liam pun terkejut ketika melihatku yang sudah berada didepannya, dia pun langsung melepaskan anak panahnya kearahku.
Tiba – tiba aku lenyap dari pandangannya, dia pun langsung melihat kebelakang. Dengan cepat aku langsung berlari kearahnya dan ketika aku akan menyerang, dia pun tersenyum. Saat itu aku menyadari, ada jebakan disana, sekali lagi aku pun menghilang.
“cih, tidak berhasil ya...” pikir Liam sambil melompat mundur.
Tiba – tiba dia merasakan perasaan aneh yang muncul dari atas, dia pun terkejut saat melihat keatas.
“haaah... Serangan telak kah, kalau begini sudah pasti aku akan kalah...” pikir Liam sambil menutup matanya.
Aku pun langsung menerjang kebawah, aku pun menyerangnya bertubi – tubi, tidak butuh waktu lama akhirnya Liam pun kalah.
“THUNDER BIRD ATTACK..!!” teriak Claire.
Tepat setelah Liam menghilang, Claire pun langsung menyerangku. Aku pun langsung memotong serangan itu, meskipun aku juga terkena efek dari serangan nya, namun itu tidak banyak memberi damage kepadaku.
Kemudian aku pun langsung bergerak kearahnya, ketika aku berada didepannya, dia pun menggunakan Aegis Shield. Aku pun mundur sesaat, dia pun langsung menyerang ku menggunakan Skill tadi. Aku pun menghindari serangan itu dan kembali menyerang balik. Karena HP Wizard lebih sedikit dari Archer, aku pun dengan sangat mudah bisa mengalahkannya.
Wajah mereka tampak terkejut menyadari kalau aku bisa menangkis serangan yang seperti itu. Mereka pun langsung menyerang lompat kebelakang untuk menjaga jarak. Kini aku pun telah terkepung oleh mereka.
Dengan tatapan, mereka pun saling memberi kode untuk menyerang. Atom yang pertama kali menyerang, dia langsung menusuk ku dari belakang, aku pun menghindar kesamping. Saat itu Endou langsung menyambutku dengan ayunan pedangnya, dengan kecepatan serangan nya serta kecepatan saat aku menghindari serangan Endou membuatku mau tidak mau harus menahan serangnya dengan kedua pedangku.
Aku pun menatap nya dan dia pun juga menatap balik, dengan sedikit tersenyum dia pun menghentakkan pedangnya.
*Cling... Suara tangkisan.
Aku tidak menyadarinya, namun tiba – tiba Jessie muncul disamping ku dan menangkis serangan Atom. Ternyata setelah aku menghindari serangannya, dia pun langsung bergerak menuju Gorgonaz dan Gorgonaz pun langsung membantu Atom untuk mengubah arah nya, beruntung Jessie melihat hal itu.
“cih, wanita yang merepotkan...” kata Endou sambil terus menekan.
“master...” kata Jessie memberiku kode.
“baiklah” sahut ku sambil sedikit meliriknya.
__ADS_1
Aku pun berbalik mendorong Endou, ketika Endou terdorong Jessie pun langsung mengayunkan Scythe nya kearah Endou sedangkan aku langsung berbalik arah lalu menyerang Atom. Aku pun tidak memberi kesempatan untuk Atom, aku langsung mengakhiri nya.
Jessie pun juga melakukan hal yang sama, namun dia gagal melakukannya karena pertahanan Endou lebih kuat, juga karena saat Gorgonaz langsung mendekat dan membantu Endou. Aku dan Jessie pun melompat mundur, kami saling menjaga jarak.
Nafas kami terengah – engah, mata kami saling memandang, tubuh terasa berat. Setelah beberapa saat, kami semua mulai mengambil nafas panjang lalu kembali saling menyerang. Kali ini pertarungan semakin sengit, beberapa kali aku terkena serangannya, mungkin ini karena tubuhku hampir mencapai batasnya.
“bagaimana..?! Apakah kau merasa seperti nostalgia..?!!” teriak Endou disaat kami sedang beradu pedang.
“sayangnya kali ini aku akan serius...” jawab ku.
“oh, kalau begitu...” kata Endou sambil menatapku tajam.
“kita akhiri saja..!!” sahut ku sambil membalas tatapannya.
Serangannya pun tiba – tiba bertambah kuat, aku merasa tertekan dengan serangannya, tapi disaat yang sama kecepatannya pun turun. Disaat yang sama, Jessie pun terus memojokkan Gorgonaz, tanpa henti Jessie membuatnya terus mundur.
“hati – hati belakangmu..” kata ku setelah melirik kebelakang Endou.
“hah.. Apa..?” tanya Endou sambil melihat kebelakang.
*Brakkk... Suara benturan.
Saat itu, Jessie menghempaskan Gorgonaz kearah Endou dengan senjatanya, endou pun tidak dapat menghindari nya, dengan wajah terkejut mereka pun langsung bertabrakan. Aku melihat kesempatan, dengan sangat cepat aku langsung menebas mereka berdua.
*Slaaashh... Suara tebasan.
“One Slash... Double Kill...” kata ku sambil menyarungkan pedangku.
Tampak ditubuh mereka, bekas sayatan menyilang menembus badan mereka, akhirnya mereka pun menghilang.
“akhirnya... Tercapai sudah tujuanku...” kata ku sambil menggengam tanganku keatas.
Meskipun begitu, aku tidak merasa senang sama sekali, pada akhirnya aku kembali merasa hampa. Perlahan aku mulai memejamkan mataku, aku menghadap kelangit dan membiarkan angin menerpa ku. Saat aku membuka mata ku, Jessie pun yang berada disampingku terus menatapku.
“ayo” ajak ku sambil mulai berjalan.
“baik” sahut Jessie mengikutiku.
__ADS_1
Kami pun langsung menuju ke tempat Elina dan yang lain. Meskipun kekuatan kami belum pulih, namun aku yakin kalau kami bisa kabur ketika ada Guild yang menyergap. Ketika kami hampir sampai, tiba – tiba aku mendengar suara ledakan yang sangat keras, aku pun langsung menghentikan langkahku dan langsung melompat keatas pohon untuk memantau. Saat itu aku bisa melihat, sebuah bola api yang sangat besar muncul.
“apa – apaan itu..?”