
“kita sudah hampir sampai... Bukalah mata mu” kata ku sambil memegang tangan Elina.
“hmm..? Dimana..?” tanya Elina.
“lihatlah sendiri” jawabku sambil menunjuk kearah kota.
“indahnya... Tapi aku sudah berulang kali melihat pemandangan yang seperti ini” kata Elina.
“hahaha... Tunggu saja sebentar lagi” kata ku.
“baiklah” sahut Elina.
“aku akan menjawab pertanyaanmu yang kemarin... Tentang siapa Jessie sebenarnya” kata ku.
“akan aku dengarkan” kata Elina.
“seperti yang aku katakan diawal, Jessie adalah sebuah NPC... Tapi kau pasti akan bertanya – tanya, kenapa dia tidak terlihat seperti seorang NPC, malahan dia seperti seorang Player..? Jujur aku juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu, aku ingin terus merahasiakan hal ini sampai aku benar – benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi... Karena itu aku berbohong kepada mu...” jelas ku.
“begitu ya...” kata Elina pelan.
“karena itulah...” kata ku sambil menghentikan motorku.
Aku pun turun dari motorku, ditengah – tengah kegelapan malam dan pemandangan indah dari cahaya kota, serta dibawah ribuan bintang yang bersinar diatas langit, aku menatap matanya.
“...maafkan aku” kata ku.
Elina pun terkejut seakan – akan dia tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, matanya terus menatapku dan perlahan dia pun tersenyum.
“ternyata pemandangan ini ya... Yang ingin kau tunjukkan kepadaku” kata Elina sambil memalingkan wajahnya.
Dia mengalihkan perhatiannya, dia bingung harus bagaimana, wajahnya memerah, sebuah perasaan yang aneh muncul dihatinya.
“maafkan aku” kata ku mengulanginya lagi.
“temani aku besok, mungkin aku akan memikirkannya” kata Elina.
“apakah kau... Mengajakku kencan..?” kata ku sambil menggodanya.
“a-apa yang kau bicarakan..?! Aku tidak bermaksud begitu” kata Elina.
“aku menolak” sahut ku singkat.
“hmm..? Kau tadi bilang apa..?” kata Elina terkejut.
“aku bilang aku menolak” jawabku.
“kenapa..!! Bukankah kau ingin...” kata Elina marah sambil menatapku.
“karena aku adalah seorang laki – laki... Dan karena itulah, maukah kau pergi denganku besok..?” tanya ku dengan wajah serius.
“baiklah kalau kau memaksa” kata Elina sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“dan pemandangan yang sebenarnya baru saja dimulai” kata ku sambil menunjuk kearah langit.
“hmm..? Hu-hujan meteor..!! Baru kali ini aku melihatnya... Ini indah sekali” kata Elina sambil tersenyum melihat langit.
“aku telah melihat beritanya jadi aku memutuskan untuk melihatnya... Sebenarnya aku akan berangkat sendirian namun karena kau datang maka aku tidak lagi sendirian” jelasku sambil menatap langit.
“Hideo...” panggil Elina.
“hm..? Ada apa..?” tanya ku.
“Terima kasih ya...” kata Elina sambil tersenyum kepadaku.
“ya... Aku juga” sahut ku.
Kami terus melihat pemandangan itu, beberapa menit kemudian pemandangan pun berakhir, diakhiri oleh bintang jatuh yang sangat indah, kami saling berciuman.
“kita pulang..?” tanya Elina.
“baiklah, kita pulang” jawabku.
Sepanjang jalan kami pun saling berbincang – bincang, dimulai dari saat kami berdua bertemu hingga sekarang, semuanya sangat indah. Tiba – tiba hujanpun turun, aku pun menambahkan kecepatanku, akhirnya karena hujannya semakin deras kami memutuskan untuk berteduh, kami berhenti sebuah pemberhentian bus didepan sebuah hotel.
“ting... Ting... Ting... Suara handphone milik Elina.
“halo, ibu ada apa..?” tanya Elina yang mengangkat teleponnya.
“hari ini ibu ada acara, jadi ibu tidak bisa pulang dan kunci rumahnya juga ikut terbawa oleh ibu... Jadi menginaplah dialah satu rumah temanmu” kata ibunya Elina.
*tut.. Tut... Tut.. Panggilan telah diakhiri.
Elina pun menatapku, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepadaku.
“baiklah kita kehotel sekarang” kata ku.
“hah..!! Kita masih sekolah..!!” teriak Elina.
“aku tidak peduli... Kencan kita akan gagal besok kalau kau demam” kata ku sambil menarik tangannya.
Akhirnya kami pun memesan sebuah ruangan, sebenarnya penjaga hotel itu tidak membiarkan kami masuk tapi aku mempunyai berbagai cara untuk menyakinkannya. Kamarnya sangatlah besar namun hanya ada satu kasur disana, aku pun segera mengganti bajuku dan berbaring diatas kasur itu.
“kalau begitu aku akan mandi dulu” kata Elina sambil menuju ke kamar mandi.
“oke” sahut ku singkat.
Aku mulai memejamkan mata ku, tapi tiba – tiba handphone ke berbunyi, kemudian aku pun mengangkat teleponnya.
“halo, siapa..?” kata ku.
“siapa..? Ini ibumu..!! Apakah kau tidak melihat panggilannya..?” tanya ibuku marah.
“ibu..? Ah maaf aku sangat lelah hari ini, jadi ada apa..?” tanya ku.
__ADS_1
“kau pikir sekarang sudah jam berapa..?! Dimana kau sekarang..?” tanya ibuku.
“dihotel” jawabku singkat.
“tunggu, dimana..?” tanya ibuku.
“dihotel” jawabku sekali lagi.
“kau bersama Elina..?” tanya ibuku lagi.
“ya, dia sedang mandi sekarang...” jawabku.
“kelelahan... Malam hari... Dihotel... Elina...!!” kata ibuku yang terkejut.
“karena tadi hujannya cukup deras jadi...” kata ku yang berusaha menjelaskan.
“ah maaf ibu telah mengganggu kalian...!!” sahut ibuku tiba – tiba.
*Tut... Tut... Tut.. Panggilan telah diakhiri.
“hmm..? Masalah muncul lagi” pikirku sambil meletakkan handphone ku.
Elina pun keluar dari kamar mandi, dia telah selesai mandi dan sekarang dia hanya memakai dalamannya saja, dengan rambutnya yang terurai, dia terlihat sangat cantik sekarang.
“apakah ibumu tadi menelepon..?” tanya Elina.
“iya... Dan kau terlihat sangat cantik” kata ku memuji nya.
“apa yang kau lihat..!! Dasar mesum...!!” teriak Elina sambil menutupi tubuhnya denagb tangannya.
“ah maaf, kalau begitu selamat malam” kata ku sambil memejamkan mata ku.
“hanya begini saja..?” tanya Elina sambil terus melihatku.
“memangnya mau ngapain lagi..?” tanya ku sambil terus memejamkan mataku.
“tidak apa – apa..!! Hum” kata Elina kesal.
Akhirnya dimalam itu kami pun tidur, meskipun dalam satu ranjang, kami masih bisa menjaga jarak kami. Dilain sisi saat ibuku baru saja mematikan teleponnya.
“jadi bagiamana...?” tanya ibunya Elina.
“mereka melakukannya... Dihotel...!!” jawab ibuku dengan penuh semangat.
“di-ho-tel...!!” pikir kakakku yang sedang menguping, badannya menjadi lemas dan hampir pingsan, tapi untungnya saat itu ada sekretarisnya yang membantunya.
“benarkah...!! Aku tidak menyangka kalau mereka seberani itu...!! Hahaha... Kalau seperti ini aku akan membuatkan surat ijin untuk mereka berdua besok... Mereka pasti kelelahan” kata bu Haruna.
“kau benar...!! Baiklah kita lanjut minumnya..!! Hahaha” kata ibuku.
Hari pun diakhiri oleh kedua ibu ini, sampai mereka benar – benar mabuk, mereka tidak akan berhenti minum. Kesalahanpahaman antara mereka semua membuat keadaannya menjadi semakin rumit.
__ADS_1