Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 80 : Something has Risen


__ADS_3

Saat itu kami sedang dalam keadaan terdesak, tenaga kami sudah terkuras banyak saat berhadapan dengan bos nya, namun hal yang tidak disangka muncul, ternyata yang kami lawan adalah familiar nya.


“Jessie bagaimana keadaanmu..?” tanya ku.


“aku baik – baik saja” jawab Jessie.


“kau sudah memperkirakan hal itu..?” tanya ku sambil meliriknya.


“untuk lawan yang satu ini, kurasa sudah” jawab Jessie.


“baiklah kalau begitu... Sebelah kanan” kata ku sambil melihat kekanan.


“aku mengerti..!!” kata Jessie mengikutiku.


*Cling... Suara saat Jessie menangkis serangan itu.


Kemudian aku pun langsung menyerang bos itu menggunakan Blade Dance ku, Jessie pun melakukan hal yang sama, kami bergantian saat menyerangnya. Bos itu pun mulai terpukul mundur namun kami terus menyerang nya. Disaat aku merasa kalau bos itu akan kembali menuju kegelapan, aku pun langsung berlari menuju kegelapan lebih dulu untuk menghadang nya.


Bos itu pun melakukan hal yang sama seperti yang aku rasakan, dia langsung berubah menjadi sebuah asap lalu masuk kedalam kegelapan. Saat itu aku memperhatikan nya terlebih dahulu, aku menunggu dia berubah agar bisa menyerangnya. Ketika dia berubah, aku pun langsung menyerangnya, Jessie yang tidak sengaja melihat kami pun langsung ikut membantuku.


*Kyaa.... Suara teriakkan.


“apa ini..?!” pikir ku sambil melihat kearah Elina dan yang lainnya.


“sepertinya mereka tidak bisa melawannya...” jawab Jessie mengikutiku.


“kau benar, Assassin akan lebih kuat di pertempuran satu lawan satu...” kata ku sambil terus melihat mereka.


Elina dan Bella sangat tidak diuntungkan saat itu, namun Lili masih tetap bertahan walaupun kecepatannya tidak sebanding dengan lawannya. Sementara kami disini lebih mendominasi, dan terus menyerang.


“Jessie pergilah kesana, aku akan mengikutmu sambil menahannya...” kata ku sambil menatap familiar yang berada didepanku.


“dimengerti” kata Jessie.


“tetap lah waspada, mereka mungkin juga akan menyadarinya” sambung ku.


“baik” sahut Jessie sambil mulai berlari menuju Elina dan yang lain.


Kami pun langsung berlari menuju mereka, sambil berlari aku pun melindungi Jessie dari musuh yang berada dibelakang kami. Familiar itu terus menyerangku, namun aku bisa menangkis semua serangnya, sesekali dia mengincar Jessie tapi aku selalu menghentikannya dengan serangan ku.


“bagaimana ini..? Kita kita bisa seperti ini terus, kita harus segera keluar..!!” teriak Lili sambil terus menangkis serangan familiar yang menyerangnya.


“AEGIS SHIELD..!! kau mungkin bisa keluar dengan kecepatanmu namun begaimana dengan kami..?” tanya Bella yang masih terpojok.


“dia benar... Kita juga tidak bisa menggunakan teleportasi nya karena kita sekarang masih berada didalam ruangan bos ini” sahut Elina.


“tapi jika tetap seperti ini maka hasilnya juga akan sama..!!” teriak Lili.


“kalau begitu, keluarlah sendiri..!! Kami akan melawan mereka... Akan kami coba untuk mengulur waktu untuk mu” kata Bella.


“tidak mungkin..!!” sahut Lili.

__ADS_1


“dengar..!! Setidaknya ada yang berhasil keluar hidup – hidup, aku akan marah jika kau gagal” kata Elina sambil tersenyum kearah Lili.


“cih, kata – kata mu membuatku muak..!! Apa – apaan itu..?!” teriak Lili marah.


“kalau begitu, kita hanya mempunyai dua pilihan saja...” kata Bella sambil ikut tersenyum.


“bunuh atau dibunuh” sahut Elina.


“dan kita akan memilih...” tambah Lili.


“bunuh..!!!” sambung mereka bersamaan.


Mereka pun kembali bersemangat setelah mengatakan hal itu. Mereka mulai mengeluarkan semua skill nya untuk mengalahkan familiar itu. Sedikit demi sedikit mereka mulai mendominasi, namun meski begitu jika mereka membuat satu kesalahan kecil maka keadaan akan kembali semudah membalikkan telapak tangan.


Mereka semakin menggila, aku dan Jessie pun masih berusaha untuk mendekat. Saat jarak kami mulai mengecil, tiba – tiba semua familiar itu langsung pergi menjauh dan berkumpul didalam kegelapan.


“bagaimana keadaan kalian..?” tanya Elina khawatir ketika kami baru saja sampai.


“kami baik – baik saja... Kalau kalian..?” tanya ku.


“seperti yang kau lihat tadi... Kami masih terpojok” jawab Elina.


“lihatlah mereka” kata Bella sambil menatap para familiar yang sedang berkumpul menatap kami.


“entah mengapa tiba – tiba aku merinding saat melihat mereka” sahut Elina saat melihat nya.


“dasar... Sekarang kita juga berkumpul dan jumlah kita lebih banyak, jadi apa yang kau takutkan..?” tanya ku.


“tapi aku juga pernah menjadi seorang perempuan” kata ku pelan.


“hah..? Kau berkata apa tadi..?” tanya Bella yang sempat mendengarku.


“baiklah kita akan menyerang mereka mengunakan formasi 2 penyerang dan 2 pendukung” kata ku.


“kenapa kau tidak menjawabnya...?” pikir Bella.


“hah..? Bukankah kita ada lima, kemana 1 nya..?” tanya Elina terkejut.


“yang satu itu adalah aku...” jawabku.


“dasar pengecut..!! Kau mau lari..?!” tanya Elina marah.


“siapa juga..? Akan aku beritahu strategi yang aku gunakan untuk menghancurkan musuh ku dulu... Kalian disini akan menjadi ujung tombaknya sedangkan aku akan menjadi tongkatnya” jawabku.


“tugas tongkat adalah mengarahkan ujungnya agar dapat dengan mudah menusuk targetnya... Dan tugas dari ujungnya adalah..?” tanya ku.


“menusuk dan mengakhiri targetnya... Tapi apakah kau yakin kalau kau bisa..?” tanya Elina.


“tentu saja tidak” jawabku singkat.


“lalu kenapa..?” tanya Elina terkejut.

__ADS_1


“karena dari dulu aku sudah terbiasa berada diposisi seperti ini” jawab ku sambil langsung menyerang.


“tunggu dulu... Hei..!!” teriak Elina.


Aku pun langsung menuju kearah mereka, mereka pun merespon, mereka langsung menyerang kearahku secara bersamaan.


“baiklah... Sekarang dimanakah celah mereka...” pikirku sambil menatap mereka satu persatu.


“dikanan, tidak... Kiri, tidak... Atas, bawah, belakang, tidak semuanya... Sialan...!! Aku dipaksa bertahan ya..” pikirku sambil mengambil kuda – kuda.


Untuk serangan pertama mereka langsung menyerang secara bersamaan, aku tidak bisa menahan semuanya, HP ku berkurang drastis. Kemudian mereka menyerangku bergantian, mereka ingin mengurangi stamina ku lebih dulu.


Tiba – tiba sebuah serangan menuju kami, serangan itu berasal dari Bella. Elina pun juga ikut membantu, dia berhasil membuat para familiar itu menghentikan serangannya dan kembali menjauh.


Aku pun langsung menyerang mereka, aku tidak mau memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerang. Kemudian 2 diantara mereka melewatiku dan menuju kearah Elina dan Bella, namun disana ada Jessie dan Lili yang menghentikan kedua familiar itu.


Sekarang aku berhadapan dengan 2 familiar sekaligus, meskipun saat itu aku dibantu oleh Elina dan Bella namun aku merasa kalau pergerakanku malah semakin terbatas. Aku harus menghindari serangan mereka yang meleset dan juga menangkis serangan familiar itu.


Akhirnya setelah sekian lama aku bertahan, kini pertahanan ku tertembus juga. Mereka menggunakan combo yang sama seperti yang telah aku lakukan dengan Jessie ketika aku melawan familiar yang sebelumnya.


Aku sangat terkejut saat itu, tidak hanya bisa menghilang dan mengabaikan semua serangan, mereka juga bisa meniru serangan. Mereka terus menggunakan combo itu, dengan cepat HP ku pun turun, kini HP ku tinggal 10%.


“Hideo..!! Mundur lah, HP mu tinggal sedikit..!!” teriak Elina.


“diam..!!” teriakku dalam hati.


“dia benar master..!! Kembali lah..!!” teriak Jessie yang masih berhadapan dengan familiar itu.


“berisik..!!” teriakku lagi.


“hah..!! Padahal kau tadi mengucapkan kata – kata yang keren, namun ternyata kau hanyalah pembual..!!” sahut Bella.


“aku... aku...” pikirku yang terkejut saat mendengar kata – kata Bella.


“ah..!! Apa yang aku katakan..? Aku lupa kalau dia adalah Hideo” pikir Bella yang baru saja teringat.


“sepertinya kita memang tidak mempunyai kesempatan” kata Lili pasrah.


Kemudian aku pun berhenti menyerang, kedua familiar itu pun juga bergerak mundur, mereka kembali menuju ke kegelapan. Aku memejamkan mataku dan tiba – tiba aku melihat sebuah bayangan, dia mirip dengan sahabat ku dan dia berkata.


“dasar lemah... Sejak kapan kau menjadi seperti ini”


“ah... Kau benar juga... Sejak kapan aku menjadi kacau” kata ku sambil melihatnya.


“tidak aku sangka rival ku yang dulu, sekarang menjadi lemah...” suara itu muncul lagi.


“lemah..? Aku... Yang sekarang lemah..? Aku tidak menerimanya..!!” teriakku.


Mereka pun terkejut ketika aku tiba – tiba berteriak, lalu mereka mulai menatapku. Aku pun menarik nafas panjang, kemudian mulai membuka mataku, ekspresiku pun berubah, yang tadinya aku sangat tertekan kini menjadi datar, sangat datar.


Aku terus menatap kedepan, tubuhku tidak bergerak sedikit pun meski kedua familiar itu sedang mendekati ku. Tanpa menatap mereka, perlahan aku mulai mengangkat kedua pedangku lalu mengarahkannya ke kedua familiar itu.

__ADS_1


“sekarang... Adalah ronde kedua...!!”


__ADS_2