
Aku mulai menyerang para Player itu, meskipun ada beberapa yang masih bisa memberikan perlawanan, namun itu tetap tidak bisa menghentikanku.
“untuk seorang Assassin kecepatannya lumayan juga... Tapi jika masih dalam kata lumayan aku bisa mengalahkannya dengan mudah” pikir Bella sambil mengamati.
“dan ini yang terakhir...” kata ku sambil menusukkan pedangku ke tubuh lawan.
“ini benar yang terakhir kan...? Hmm... Sepertinya aku salah lagi, masih ada satu yang bersembunyi...” Pikirku sambil melihat ke atas pepohonan.
“itu ya... Dia bisa memilih tempat bersembunyi yang baik, seorang Archer kah...?” Pikirku.
Aku pun menambahkan kecepatan ku kemudian berlari kearah hutan.
“hei kau mau lari ya..!!!” teriak Bella.
Aku menambah kecepatan lagi dan tidak menghiraukan Bella, jika aku memberitahunya maka akan sama saja aku memberitahu rencanaku kepada musuh ku. Alasan aku belari masuk kedalam hutan adalah untuk membatasi penglihatan musuh, jika aku asal menyerang mereka dari depan, mereka pasti akan menyadarinya dan kemudian kabur.
“setelah dia masuk kedalam hutan dia langsung menghilang, tapi aku masih merasakan kalau dia masih berada disini... Sepertinya aku meremehkan kecepatannya....” pikir Bella.
Sekarang aku sudah berada tepat dibelakang Player itu, benar dugaanku kalau dia adalah seorang Archer. Kemampuan bersembunyinya memang hebat namun seharusnya dia juga harus tetap waspada dengan sekitarnya, dia masih belum menyadari keberadaanku.
“yo..!! Menjadi seorang penguntit itu tidak baik loh... Akan aku beri tahu mama mu soal ini” kata ku dengan senyuman.
“berisik..!!! WIND ARROW..!!” teriak Player itu.
“lambat... Ini sangat mudah untuk dihindari” kata ku sambil menghindari serangan itu.
“INVISIBLE... ” kata Player itu pelan.
“hmm...? Menghilang ya... Tapi sepertinya aku masih bisa menyerangmu loh... Tidak percaya...? Baiklah” kata ku sambil melihat sekeliling.
Aku menutup mata ku dan memainkan pedang ku. Aku pun berhenti bergerak sebentar, lalu dengan cepat aku berlari kearah samping kanan dan mengayunkan pedang ku keatas. Aku merasakan kalau aku sudah menebas Player itu, ternyata benar tiba – tiba pyaer itu muncul dan dada nya terlihat terluka terkena tebasan pedang ku.
“arrgghh... Bagaimana kau bisa tahu kalau Aku berada disini..?” tanya Player itu.
“yah kau tahu kan aku tadi sempat dim beberapa saat... Aku tadi sedang berpikir kalau aku adalah dirimu aku akan pergi kemana dan sisanya mungkin adalah insting ku... Dan sampai jumpa lagi” kata ku sambil menyerangnya.
“dia bahkan bisa melihat Player yang menggunakan Skil nya untuk menghilang... Ini sangat menarik” kata Bella.
Aku terus menusuk tubuh Player itu sampai akhirnya Player itu menghilang.
__ADS_1
“kau kejam sekali ya... Apakah kau pernah membunuh orang asli diluar sana..?” tanya Bella.
“hmm... Aku tidak ingat... Mungkin saja” kata ku.
“kau tidak takut atau menyesal...?” tanya Bella lagi.
“sudahlah kenapa kau ikut campur dalam masalah hidupku... Kita mulai saja, kau sudah pulihkan..?” tanya ku sambil melihat pedang ku.
“ya... Aku sudah pulih tapi...” kata Bella melihat kebawah.
“tapi apa..? Jangan bilang semangat mu yang tadi menghilang” kata ku.
“bukan itu... Tapi... Tolong perlakukanku dengan lembut...” kata Bella sambil melihatku.
“kata – katamu membuatku salah paham” kata ku.
Kemudian aku menggengam pedangku dan mengangkat nya sampai kepalaku. Aku melihat pedangku dan mulai mengarahkan nya kepada Bella. Bella pun membalas tindakan ku dengan mengarahkan tongkat nya kearah ku.
“aku datang...” kata ku sambil mengambil ancang – ancang.
“kemari lah...” kata Bella menatapku dengan penuh konsentrasi.
“DOUBLE FIREBALL...!! POWER UP..!!” teriak Bella.
Serang itu awalnya terlihat kecil, namun dengan cepat langsung membesar. Saat aku melihatnya aku langsung mengubah arahku berlari.
“aku tahu kau akan berlari kesana..!!” teriak Bella.
Tiba – tiba didepan ku muncul sebuah dinding dari tanah, aku pun langsung melompat.
“kau yakin...?” tanya Bella kepadaku.
“diatas ada jebakan..!!!” pikirku yang baru saja menyadarinya.
Aku telah masuk kedalam perangkapnya, jika aku terus melompat maka aku akan terkena jebakan yang ada diatas, jika aku tidak melompat maka aku akan terkena serangan Skil nya, satu – satunya jalan adalah menghancurkan temboknya, namun sepertinya ini tidak sesederhana itu. Pasti dia telah menyiapkan jebakan lainnya dibalik tembok.
“heh... Menarik... SPEED BOOST ON...!!!” teriakku.
Saat aku masih berada diatas ketika aku melompat, aku langsung menusukkan pedang ku kedalam dinding. Gerakanku berhenti, aku masih bergelantungan dengan pedang ku ditembak dan itu membuat jebakan yang berada diatas juga tidak sampai aktif, aku pun langsung melompat kebawah. Saat kaki ku menyentuh tanah aku pun langsung berlari kebelakang, namun dibelakang juga muncul sebuah tembok, tidak hanya itu muncul satu tembok lagi disebelahku. Kini aku benar – benar terjebak, sekarang jalan satu – satunya adalah bertahan.
__ADS_1
“Hahaha... Bagaimana jebakan ku...? Apakah kau menyukainya...? Akan aku selesaikan dalam satu gerakan... POWER UP...!!!” teriak Bella.
Serangannya semakin membesar dan warnanya merah darah. Dia berniat untuk langsung membunuhku langsung tanpa memberikan kesempatan bagiku meski sedikit.
“hehe... Sepertinya aku benar – benar terjebak... Aku tidak bisa menghindarinya, aku pun juga tidak punya Skil untuk menahan serangan itu... Kalau begitu aku potong saja serangannya... Awakening tingkat pertama.. RELEASE..!! SWORD OF CALAMITY.. RELEASE..!!” teriakku.
Ini adalah pendapat pribadi ku, bola api terbentuk dengan cara memadatkan api hingga berbentuk seperti bola dan intinya ada dibagikan tengah bola itu. Jika aku asal – asalan memotong bola api itu seperti memotong inti dari bola api maka itu sudah dipastikan akan meledak, namun jika aku memotong bola api itu dibagikan luar maka kemungkinan meledaknya akan menurun.
“... SECOND RELEASE...!!” teriakku.
Aku pun berlari menuju bola api itu yang hampir menutupi jalan keluarku. Lalu dengan cepat aku memotong bagian luar bola api itu untuk menciptakan sebuah celah. Saat celah itu sudah ada, aku langsung keluar dari perangkap itu.
*BOOOM suara ledakan yang diciptakan bola api itu.
Namun masih ada bola api kedua yang ukurannya lebih besar dari bola api pertama.
“Hahaha...!! Bagaimana rasanya bola api itu...?!” teriak Bella.
“sepertinya Bella mengira aku telah terkena serangan bola api nya... Jika begitu ini adalah kesempatanku” pikirku saat mendengar suara Bella.
Aku menambahkan kecepatan ku agar Bella tidak menyadari kalau aku sudah keluar dari perangkapnya. Namun saat baru beberapa saat aku berlari tiba – tiba ada tembok lagi yang muncul.
“APA..!!! apakah dia sudah tahu...?” Pikirku terkejut.
Kemudian aku melihat Bella, sekilas aku melihat namun sepertinya Bella masih belum mengetahui nya, karena dia masih tertawa dan melihat serangannya.
“ah... Ternyata hanya perasaanku” pikirku.
Aku pun menggunakan tembok itu sebagai pijakan untuk menambah kecepatanku. Aku mulai melompat dan mempercepat kecepatanku sekali lagi.
“CANCEL...!!” teriakku.
“eh..? Kenapa jebakan ku yang itu aktif...? Dia tadi bahkan tidak sampai disana” pikir Bella kebingungan saat melihat jebakan keduanya aktif.
Aku mengembalikan pedang ku menjadi satu saat aku melompat. Tujuanku adalah kesebuah pohon yang berada jauh disamping belakang Bella, pohon itu untuk pijakanku yang kedua.
“jika lawan mu belum benar – benar mati, jangan pernah melengahkan penjagaanmu..!!” teriakku.
Bella pun terkejut, dia melihat kearah ku dan berencana untuk membuat pelindung, namun itu sudah terlambat, pedang ku sudah hampir menyentuh lehernya.
__ADS_1
*BOOOM suara ledakan bola api kedua.