
Saat aku mencoba untuk mendekatinya, tiba – tiba kabut pun datang mengganggu penglihatanku, semakin dekat aku dengan Bos nya maka semakin tebal kabut nya. Aku pun melihat kearah Jessie, meskipun sedikit tertutupi oleh kabut namun aku tetap bisa melihatnya, dia masih berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya, beberapa kali aku melihatnya jatuh tapi dia segera bangkit kembali.
Aku mulai dapat merasakan hawa dinginnya, kemudian aku pun langsung mengambil senjataku. Arena nya sangat luas dan rata, tidak ada halangan seperti batu dan kayu diatas nya, lantai nya juga lincin, tempat ini seperti sudah disiapkan untuk bermain Ice Skating.
“hei...!! Jessie bagaimana..?! Apakah kau sudah menguasai nya...?” tanya ku sambil melihat kebelakang.
“ah..!! Master kau ada dimana..?!” tanya Jessie sambil berusaha mencariku.
Saat itu kabut nya memang sangat tebal karena aku sudah berada didepan bos itu.
“aku disini..!! Lihatlah..!!” kata ku sambil menyalurkan sebagian mana ku kedalam pedangku, pedangku pun menyala.
“ah... Baiklah dengan cepat aku akan meluncur kesana..!!” teriak Jessie sambil melakukan hal yang sama seperti ku.
“baiklah.. hmm..? Tunggu, dengan cepat..? Hei Jessie..!! Pelan – pelan saja atau kita akan..” sahut ku.
*Bruukk suara Jessie menabrak ku.
“aduh... Sakitnya” kata ku.
“hehe maafkan aku master” sahut Jessie.
“hah...!! Ternyata kau belum benar – benar mengerti ya...!!” kata ku sambil memukul kepala Jessie.
“uuuu... Sakit, master jahat” kata Jessie sambil memegang kepalanya.
“itu salah mu sendiri, lagi pula... Eh, dimana pedangku..?” tanya ku terkejut.
“hmm...? Jangan – jangan...” kata Jessie sambil menatapku.
Kami pun langsung melihat kearah bos nya dan kamu melihat kalau pedangku sudah berada dipangkuan nya.
“sudah aku duga... Kemari lah” kata ku sambil menarik pedangku.
*Grrooowww... Teriak bos itu yang terbangun dari tidurnya.
“aku datang...!!” teriak ku sambil bersiap berlari kearah bos itu.
Namun baru saja aku melangkah, aku pun langsung tersandung oleh senjata Jessie.
“hei..!!” teriakku sambil melihat kearah Jessie.
“ah, maaf... Maaf... Maaf..” kata Jessie sambil mengambil senjatanya.
__ADS_1
“hah... Lain kali, hmm..?” kata ku sambil melihat kearah bos nya.
Tiba – tiba bos itu sudah berada didepanku dan langsung menyerangku dari atas menggunakan Giant Sword nya, namun karena aku menyadarinya, aku berhasil menghindarinya. Aku pun langsung melompat kearah tubuhnya yang besar bersamaan ketika pedangnya menyentuh lantai.
“SWORD OF CALAMITY... RELEASE..!!! BLADE DANCE..!!” teriak ku sambil menyerang badannya.
Jessie pun bergerak cepat, dia menahan pedang bos itu agar tetap dibawah menggunakan senjatanya sehingga bos itu dapat menyerangku lagi. Sementara aku masih terus menyerang bos itu, namun meskipun senjatanya tidak dapat digerakkan lagi, dia masih bisa menyerangku menggunakan pukulannya.
Aku pun sudah memperkirakan hal ini, jadi aku menggunakan pedangku untuk menggapai tubuh bos itu dan langsung menariknya, alhasil aku pun seperti sedang menarik diriku sendiri. Kemudian aku pun melompat menjauh dari bos itu, Jessie pun juga langsung menjauh mengikutiku.
Setelah itu, bos itu pun mundur beberapa langkah lalu menghilang didalam tebal nya kabut. Aku dan Jessie yang melihat hal itu langsung mengubah posisi kami, kami saling membelakangi untuk menutupi titik buta kami.
“kau sepertinya sudah mulai menguasai nya ya” kata ku sambil terus waspada.
“yah, sedikit... Sekarang pun aku masih memegang baju master, lihat...” kata Jessie sambil menatap kearah ku.
“lihat..? Hei jangan – jangan, apa kau sekarang sedang menatapku..?” tanya ku sambil terus fokus kedepan.
“master, kau baru menyadarinya ya..?” tanya Jessie sambil tersenyum kepadaku.
“apa..!! Dasar bodoh..!!” teriakku sambil membalikkan badan.
Dengan cepat aku langsung mendorong tubuh Jessie ke samping,.
“eh..? Master ada apa..?” tanya Jessie sambil berusaha melihat kearahku.
“dasar monster sialan...!!!” teriak Jessie marah, dia pun langsung berlari kearah bos itu.
“ah, dia marah... Tapi sepertinya aku dapat memanfaatkannya” pikirku saat mendengar teriak kan Jessie.
“CHANGE BODY : DRAGON FORM..!! DRAGON ARMOR..!! Awakening tingkat kedua... RELEASE...!!!” teriak Jessie saat sedang berlari.
Ketika Jessie sedang berlari, aku pun langsung menahan pedangnya seperti yang dilakukan Jessie sebelum nya. Bos itu pun menyadari kalau Jessie akan menyerangnya, dia pun ingin menghadang Jessie dengan serangan pedangnya, namun dia terkejut karena pedangnya tidak dapat digerakkan, dengan cepat Jessie mengubah senjatanya menjadi sebuah kapak.
“ini adalah akibatnya kalau kau berani menyerang master...!! FULL ATTACK...!!” teriak Jessie sambil menyerang bos itu.
Bos itu pun terpojok, dia hanya bisa bertahan menggunakan satu tangannya sedangkan Jessie masih terus meningkatkan kecepatan serangan nya.
“terus begitu dan perlahan kita akan menang” kata ku sambil melihat Jessie.
Kemudian aku melihat HP bos itu, perlahan HP nya mulai turun dan ketika aku sedang melihat HP nya aku pun baru menyadari.
“ah sial...!! Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal” pikirku saat melihat keatas.
__ADS_1
Sebuah batu tajam besar yang terbuat dari es berada tepat diatas kami. Aku pun berpikir, mungkin ini adalah salah satu cara untuk mengalahkan Dungeon King kali ini. Aku pun langsung mengeluarkan sebuah tombak dari inventory ku lalu melemparkan nya keatas tepat ke samping batu itu. Aku terus melakukan hal itu sampai tombak yang aku lemparkan mengelilingi batu itu.
“baiklah, sepertinya hanya 15 tombak saja yang bisa aku pakai... Jessie..!!” teriakku sambil melompat kearah Jessie.
“aku mengerti..!!” sahut Jessie.
Jessie pun mengetahui maksudku, aku tidak dapat mencapai tombak – tombak yang aku lemparkan tadi dengan hanya melompat saja. Dia langsung menyerangku menggunakan bagian tumpul dari kapaknya dari bawah untuk menambah kecepatan melompat ku. Aku pun langsung melesat keatas menuju salah satu tombak yang aku lempar tadi.
“kena..!! SPEED BOOST.. ON...!! Awakening tingkat kedua... RELEASE..!!” teriakku sambil memegang tombak itu.
Sementara Jessie masih berusaha menahan bos itu, aku pun sekuat tenaga berusaha untuk menjatuhkan batu es itu. Aku melompat dari tombak ke tombak sambil terus menggores permukaan batu itu hingga membentuk sebuah garis dari tombak ke tombak. Aku terus mengulanginya hingga goresannya menjadi lebih dalam dan dalam.
Setelah sekian lama, akhirnya batu es itu pun jatuh. Aku segera melompat kebawah menuju bos itu untuk memberikan serangan kejutan, sedangkan Jessie yang menyadari kalau batunya sudah jatuh, dia langsung pergi menjauh.
“sial... Jessie masih terlalu lambat, jika begini terus maka dia juga akan terkena” pikirku saat melihat Jessie dari atas.
*BOOOM... Suara saat aku memberi serangan kejutan kepada bos itu.
Aku berhasil menyerang bos itu, kini untuk semantara waktu bos itu tidak dapat bergerak. Dengan cepat aku pun langsung berlari kearah Jessie.
“pegang tanganku, kita tidak mempunyai banyak waktu lagi” kata ku sambil mengulurkan tanganku.
“baiklah” kata Jessie sambil memegang tanganku.
“aku adalah yang paling cepat” pikirku sambil memejamkan mata.
Sambil mengambil ancang – ancang, aku pun menekan semua kekuatanku, sambil membuka mata ku aku langsung melepaskan semua kekuatanku dalam satu hentakan.
“belum cukup... Ini masih kurang cepat, lebih cepat...!!” pikirku sambil terus meningkatkan kecepatanku.
“master... Lepaskan saja aku, aku tidak ingin menjadi beban” kata Jessie sambil melihat batu es itu semakin dekat.
“diam..!! Jangan meremehkan ku..!!” teriakku sambil terus mempercepat.
“lebih cepat... Lebih cepat lagi... Lagi.. Lagi..!!” teriakku saat batu itu sudah berada tepat diatas kepala kami.
*BOOOM suara batu itu yang jatuh.
“hah... Dia hampir mencapai nya” kata Gama yang melihat pertarunganku.
“sudah aku bilangan, ini masih belum waktunya.. Kali ini akulah yang memenangkan taruhannya” suara seorang laki – laki.
“baik – baik kau menang, tapi selanjutnya dia pasti berhasil” kata Gama.
__ADS_1
“waktunya sampai akhir musim kan..?” tanya laki – laki itu.
“hah... Sepertinya memang tidak ada pilihan lain ya” jawab Gama.