
“ahh... Nyaman sekali... Sudah aku putus kan... Hari ini aku akan tetap berada diatas sofa ini...” kata ku sambil menggeliat diatas sofa.
“hehehe... Tapi master bukan kah hari ini adalah...” kata Jessie sambil terus melihatku.
“ah... Dia seperti seekor kucing.... Aku ingin memeluknya...!!” pikir Jessie sambil mengkhayal.
“aku sudah tidak peduli lagi... Aku tidak akan keluar dari zona nyamanku kali ini...” sahut ku sambil berputar – putar diatas sofa.
“bagaimana dengan Gacha nya..?” tanya Jessie yang sedari tadi terus melihatku dan bahkan belum pberkedip.
“akan aku wakilkan kepadamu... Ahh.. Aku ingin memeluk sesuatu.. Aku butuh bantal guling” kata ku pelan.
“memeluk sesuatu..!! Seperti... Bantal guling...!!” pikir Jessie sangat kaget.
“anu... Master kalau kau mau... Aku bisa menjadi sebuah guling kok...” kata Jessie malu – malu.
“a-apa yang kau katakan..?” tanya ku kaget.
“master, jika kau ingin memeluk sesuatu, kau bis memelukku kok... Anggap saja aku adalah sebuah boneka...” kata Jessie dengan penuh percaya diri.
Jessie membuka tangannya lebar – lebar dan melihatku dengan serius, dari tatapannya dia seperti ingin berkata peluk aku, peluklah aku.
“sepertinya aku berubah pikiran..” kata ku sambil memalingkan wajahku.
“eh... Eeeehhhhhh.... Ada apa master...? Apakah ad yang salah dariku..? Apakah master ingin aku hanya memakai dalaman..?” tanya Jessie.
“tentu saja tidak...!! Sudahlah cepat pergi sana...!!” teriakku yang sangat terkejut.
“cih, mengecewakan...” kata Jessie pelan.
“hah..? Kau mengatakan sesuatu..?” tanya ku.
“tidak, kalau begitu aku pergi dulu” sahut Jessie yang sedang sedikit marah.
Jessie pun langsung pergi meninggalkanku.
“ada yang salah dengan kepalanya hari ini... Lagi pula apa maksudnya hanya memakai dalaman itu” pikirku.
Tiba – tiba aku bisa membayangkan bagaimana Jessie hanya memakai dalaman dan dia berkata
“aku peluk atau master yang memelukku sendiri..?”
__ADS_1
Begitulah yang telinyas didalam pikiranku, wajahku langsung memerah dan ketika aku ingin melupakannya, aku malah bisa membayangkan hal seperti itu lainnya, memakai pakaian pelayan, baju renang, dan yang lainnya. Kemudian dengan cepat aku membenturkan kepalaku disofa itu untuk mengalihkan perhatianku.
“lupakan... Lupakan... Lupakan... Kenapa aku tidak bisa melupakannya..!!!” teriakku sambil terus membenturkan kepalaku.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya aku bisa melupakannya, namun tiba – tiba aku teringat sesuatu.
“oh iya, aku terus membayangkan Jessie dari tadi, sampai – sampai aku lupa bagaimana keadaannya ya..? Sepertinya aku harus segera menjemputnya...” pikirku sambil bangun dan duduk disofa.
“sepertinya tidak” lanjutku sambil kembali berbaring.
Dilain sisi, saat Jessie baru meninggalkan rumah.
“nananana (nyanyi)... Akhirnya aku bisa mendapatkan video saat master bertingkat seperti seekor kucing... Ahhhh... Imutnya” kata Jessie sambil melihat rekamannya.
Jessie ternyata diam – diam telah merekamku, meskipun didalam game tidak ada kamera atau yang sebagainya, namun karena Jessie sebelumnya juga merupakan sebuah NPC yang berhubungan dengan sistem dalam game, akhirnya Jessie bisa menciptakan alat seperti itu sendiri.
Sambil berjalan menuju tempat untuk melakukan Gacha, disepanjang jalan Jessie terus melihat rekaman itu, tidak ada seorang Player pun yang dapat melihatnya karena rekaman itu diputar didalam kepalanya, seperti ingatan.
Tempat untuk melakukan Gacha ada disetiap kota, dan untuk melakukan Gacha kita harus memiliki tiket, 1 tiket untuk sekali Gacha. Kemudian tiket itu hanya perlu disentuhkan ke sebuah mesin khusus untuk Gacha, lalu bola yang berada didalam mesin itu akan berputar, tunggu sampai bole yang ada didalamnya keluar, jika sudah keluar kita hanya perlu membukanya dan yang ada didalamnya akan menjadi milik kita.
Ada dua jenis Gacha didalam game ini, yang pertama adalah Normal Gacha dan yang kedua adalah Special Gacha. Tiket untuk Normal Gacha dapat dibeli, namun level hadiah yang didapatkan hanyalah sampai ke tingkat S. Sedangkan untuk Special Gacha, tiketnya hanya bisa didapatkan ketika kita telah memenangkan suatu Event Khusus atau dengan menaklukkan sebuah Dungeon, level hadiahnya adalah antara tingkat S – SSR.
Karena tingkat level hadiah yang berbeda, warna bola juga dibedakan menurut tingkatnya, warna pelangi untuk hadiah peringkat pertama dikedua Gacha. Warna Emas untuk hadiah peringkat kedua, dan yang terakhir adalah warna putih untuk hadiah peringkat ketiga.
Mesin itu berputar cukup lama, kemudian keluarlah sebuah bola yang berwarna pelangi.
“ah sudah muncul... Baiklah kemudian adakah milikku...” kata Jessie.
Jessie pun mulai menekan tombolnya lagi, sebuah bola berwarna pelangi yang kedua telah keluar.
“hah..? Berwarna pelangi lagi ya...? Ini terlalu mudah... Hmm... Lebih baik biarkan master saja yang membuka nya” kata Jessie sambil melihat bola itu.
Kemudian Jessie pun meninggalkan tempat itu sambil membawa bola itu ditangannya. Dia tidak sadar kalau ada seorang Player yang terus mengawasinya dari tadi. Kemudian dengan cepat Player itu menyerang Jessie dari belakang, Jessie pun mencoba mengelak namun terlambat, Jessie pun terdorong sedikit jauh.
“hmm..!! HP Jessie tiba – tiba berkurang...!! Apa yang telah dia lakukan..?!” pikirku saat melihat status anggota Party.
Dengan cepat, aku langsung pergi mencari Jessie, aku mencoba menelusuri jalan menuju ke tempat Gacha.
“siapa kau...?!” tanya Jessie yang sangat marah.
“ahh... Tidak langsung mati ya... Mau bagaimana lagi, gadis kecil bagaimana kalau kita ngobrol sedikit” kata Player itu.
__ADS_1
“kau menyerangku tiba – tiba kemudian kau mengajakku ngobrol seperti tidak terjadi apa – apa... Jangan bercanda...!!” teriak Jessie sambil memasukkan bola yang tadi dia pegang kedalam Inventory lalu mengambil senjatanya.
“hah... Mau bagaimana lagi... Gadis kecil berikan item yang kau bawa tadi..!!” kata Player itu mengancam Jessie.
“Kenapa aku harus memberikannya kepadamu..?!” tanya Jessie.
“kau masih belum tahu... Sudah jelaskan, item yang bagus harus dipakai oleh Player yang bagus dan temanku ini adalah Player yang tepat untuk memakainya” kata Player itu sambil melihat temannya.
“Memangnya aku peduli..!!” teriak Jessie.
“kalau begitu bagaiamana kalau kita...” kata Player itu.
“berkompetisi...?” sahut ku yang berada diatas sebuah bangunan.
Setelah aku berlari dan menelusuri jalan, akhirnya aku menemukan Jessie, saat itu aku memutuskan untuk mencarinya lewat udara, jadi aku melompat dari bangunan ke bangunan. Berkat itu aku dapat menemukan Jessie yang sedang berbicara dengan 2 orang Player.
“master...!!” teriak Jessie senang.
“yo... Maaf aku butuh sedikit waktu untuk menemukanmu” kata ku sambil melompat turun dari bangunan itu.
“tidak, ini tepat waktu” sahut Jessie sambil berjalan mendekati ku.
“aku senang mendengarnya... Dan bagaimana ya... Sudah lama tidak bertemu ya... Sang pengecut Ricoris...” kata ku sambil melambaikan tangan.
“kau... Kenapa kau lagi...!! Aku tidak punya urusan denganmu, menyingkirkan...!! Ini adalah urusanku dengan gadis itu..!!” teriak Ricoris marah.
“heh..? Tapi jika kau memiliki urusan dengannya, itu berarti kau juga memiliki urusan denganku...” kata ku dengan tenang.
“Kau...!! Hah... Baiklah ayo berkompetisi” kata Ricoris yang menahan amarahnya.
“apa hadiahnya..?” tanya ku.
“hadiah..? Tentu saja item yang dibawa gadis itu” jawab Ricoris sambil menunjuk Jessie.
“itu buka milikmu kan..? Setelah kau kehilangan semua item mu dulu, apakah sekarang kau menjadi seorang perampas..?” tanya ku sambil menutup mata dan menggeleng – gelengkan kepala.
“Kau..!!” sahut Ricoris sangat marah.
“apa..? Begini saja... Kalau kami kalah, kami akan berikan item ini kepadamu dan jika kami menang kami akan mengambil item yang kau pakai saat ini” kata ku menawar.
“heh... Item yang aku pakai ini masih terbilang item sampah... Ini sudah waktunya untuk dibuang ditempat sampah... Baiklah aku terima itu” kata Ricoris dengan wajah serius.
__ADS_1
“oke, sepakat” kata ku sambil mengulurkan tanganku.
Akhirnya kami pun bersalaman dan langsung pergi menuju Colosseum dikota kedua, pertarungan akan segera dimulai.