Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 90 : Level Max


__ADS_3

Hampir dua minggu telah berlalu, hari ini adalah hari terakhir sebelum Event dimulai. Aku tidak mengerti kenapa bisa seperti ini namun sekarang levelku sudah mencapai level 496 dan Jessie berlevel 492. Aku terus bertarung dan bertarung, tanpa sadar levelku sudah setinggi ini, Exp yang aku dapatkan seperti digandakan.


Yah, aku tidak begitu peduli sih, malahan aku sangat senang. Digame ini level maksimal para pemain masih belum diketahui, namun menurutku level maksimal nya adalah level 500. Sampai saat ini, aku dan Jessie merupakan Player dengan level yang paling tinggi.


Sekarang, kami pun menghadapi musuh yang paling kuat. Ini adalah percobaan yang ketiga kali setelah aku kalah telak darinya. Dungeon King terakhir, Dungeon King kota kelima, selama ini akhirnya misteri telah terpecahkan. Musuh yang menanti kami, sang malapetaka, sang penghancur, sang pemusnah, Titan.


Aku pun sangat terkejut saat baru pertama kali masuk kedalam ruangannya. Ketika aku membuka pintu nya, aku tidak melihat apapun disana, hanya ada hamparan gurun yang sangat luas dan berdebu. Aku pikir mereka akan mengunakan jumlah untuk melawan kami, namun setelah beberapa saat kami mencari, kami pun memutuskan untuk kembali.


Ketika aku mulai menyimpulkan kalau Dungeon King terakhir hanyalah omong kosong, saat itulah dia menampakkan dirinya. Tepat disamping sebelah kanan dan kiri pintu tempat kami masuk, kami melihat ada sepasang kaki yang ukurannya sangat besar.


Kami pun melihat kaki itu perlahan dari bawah keatas, dan terduduklah kami berdua, ukurannya luar biasa besar, mungkin sekitar 70 meter. Ekspresinya yang datar serta tatapannya yang tajam menghancurkan harapan kami, kami mulai putus asa namun disaat yang sama kami mulai bersemangat.


Kami mulai bangun dan melemaskan tubuh kami, sambil sedikit tersenyum, kami pun mengangkat senjata kami dan memulai serangan. Dengan tubuh yang sebesar itu, seharusnya gerakan nya lambat, itu adalah salah satu pemikiran yang naif.


Dalam kenyataannya, jika aku tidak langsung mengaktifkan kekuatanku, mungkin aku sudah kalah dalam satu serangan. Dihadapan nya, kami seperti seekor semut yang mencoba mengalahkan manusia, terlalu lucu jika dijadikan sebuah candaan.


Saat itu tiba – tiba perasaanku tidak enak, ketika aku mengaktifkan kekuatanku, aku pun dapat melihat kalau dia sudah mengayunkan kakinya kearah kami. Dengan cepat, aku pun langsung berbakti kearah Jessie dan langsung menggendong nya. Serangannya searah jarum jam dan berputar 360°.


Kami berhasil menghindari serangan pertamanya namun tidak untuk serangan kedua. HP kami langsung turun drastis ketika dia berhasil menyerang. Tidak sampai 10 menit, kami pun kalah. Aku pun menunggu selama 8 jam agar Jessie bisa kembali.


Setelah kembali, kami langsung menyerang. Untuk percobaan kedua, meskipun kalah tapi aku bisa mengatakan kalau ini sebuah kemenangan. Kami sudah memiliki banyak informasi tentangnya, dari pola serangan, skill yang dimiliki hingga kelemahan, itulah kenapa aku menyebutnya sebuah kemenangan.


Meskipun aku menyebutnya sebagai kelemahan, namun damage yang kami berikan sangatlah sedikit. Satu hal yang sangat aneh terjedi ketika aku menyerang dahi nya. Didalam game, selama tidak terpotong maka bagian tubuh bisa kembali ke semula.


Saat itu aku hanya bisa menggoresnya saja, dan goresan itu tidak menghilang atau pun kembali pulih. Ketika itulah aku berpikir.


“hei – hei Gama, kau tidak membuatnya konyol kan..?” pikirku dengan wajah terheran – heran.


Lalu tiba – tiba terbesit didalam pikiranku.

__ADS_1


“bagaimana kalau aku mencobanya dulu..?” pikirku.


Dipercobaan ketiga pun aku mencoba nya, sambil terus menyerang, aku pun menuliskan Meth didahinya. Tidak disangka ternyata malah berefek sangat fatal baginya, HP nya langsung berkurang sebanyak 10%.


Kami pun mulai menyipitkan mata, alis kami pun juga turun kebawah, dengan senyuman ringan kami menatapnya. Jackpot, kami menemukan jackpot nya. Dengan wajah menyeringai kami pun langsung menyerangnya.


Tanpa memberi sedikitpun celah, kami pun terus mengulangi nya, tidak ada masalah sedikitpun saat itu. Kami memerlukan cukup banyak waktu untuk mengakhiri pertarungan. Saat Dungeon King nya mati, tiba – tiba Fiola muncul.


Seperti biasa, diawal dia memberi kami sebuah ucapan selamat karena telah menjadi Player pertama yang berhasil menaklukkan Dungeon. Kemudian, masalah pun terjadi ketika penyerahan hadiah.


“hah..!! Apa maksudnya itu..?! Kami telah mengalahkan bos terkuat dan sebagai imbalan nya kami hanya diberikan Exp saja..? Konyol sekali” protes ku.


“yah, mau bagaimana lagi, seharusnya yang menjadi hadiahnya adalah sebuah NPC, namun kau sudah memilikinya” kata Fiola mencoba menjelaskan.


“apakah tidak bisa mendapatkan NPC lagi..?” tanya ku.


Kemudian, entah mengapa aku bisa merasakan tatapan Jessie, aku merasa tiba – tiba nafasku sangat berat saat itu, aku seperti sedang ditusuk olehnya.


“lalu apa gantinya...? Tidak mungkin kalau aku hanya mendapatkan Exp kan..?” tanya ku.


“hmm..? Bagaimana kalau menjadi salah satu dari Game Master..?” tanya Fiola balik.


“jangan bercanda woy... Kalau begitu, bukankah semua Player nantinya bisa menjadi Game Master..?” tanya ku dengan nada datar.


“kau benar..!! Kalau begitu akan aku gandakan statistik kalian berdua...” kata Fiola dengan semangat.


“tunggu..!! Jangan memutuskan dari satu pihak..!!” teriakku.


“syukurlah ya master...” kata Jessie sambil tersenyum kepadaku.

__ADS_1


Jessie terlihat sangat bahagia, mungkin dia sangat tenang karena aku tidak bisa mendapatkan NPC baru lagi.


“hah... Apa..?” tanya ku sambil menatap Jessie.


“baiklah sudah selesai.. Karena tugasku telah selesai, aku pergi dulu..!! Oh iya, tolong jangan sebarkan informasi tentang bosnya ya, Sampai jumpa..!!” kata Fiola yang langsung menghilang.


“tunggu.. Si-siaallll..!!” teriak ku sambil meremas dan menatap tanganku.


Hampir 1 jam aku terus berteriak disana, aku masih tidak menerima apa yang telah mereka berikan kepadaku. Aku mengira kalau aku akan mendapatkan sebuah skill OP atau senjata yang bisa membunuh hanya dalam sekali tebas atau mungkin aku bisa berubah menjadi Titan, tapi mereka menghancurkan imajinasi ku.


Kemudian kami memutuskan untuk kembali, aku ingin menggunakan teleportasi agar bisa sampai didepan rumah, namun Jessie menolak. Dari tatapan matanya, dia ingin memamerkan kalau dia dan aku telah mencapai level maksimal. Yah, menurutku sesekali menjadi sombong tidak masalah juga.


Kami pun berteleportasi sampai didepan kota. Tiba – tiba kepalaku kembali sakit, ini adalah efek samping dari penggunaan kekuatan khusus ku. Badanku mulai lemas karena terlalu memaksakan diri, setiap hari aku hanya tidur selama 3 jam, kemudian aku pun terjatuh ditanah.


“master, ada apa..?” tanya Jessie khawatir, dia pun langsung berlari mendekati ku yang terbaring ditanah.


“jangan dipikirkan, aku hanya sedikit lelah, kaki ku lemas” jawab ku.


“maaf, ini semua adalah salahku karena memaksa mu untuk...” kata Jessie.


“baiklah, seret aku kesana... Ini perintah” kata ku dengan wajah yang masih menempel ditanah.


“dimengerti” sahut Jessie, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintahku.


Jessie pun mulai menyeret ku menuju guild milik Elina. Selama dijalan, aku dapat merasakannya, ada yang merasa kasihan, ada menertawaiku, ada juga yang terkejut ketika melihat level kami, dan ada juga yang tetap diam. Entah mengapa tubuhku menjadi mati rasa, sambil tersenyum aku mulai memejamkan mataku.


“hmm... Lili..? Apa yang dia lakukan disana..? Apakah aku harus menemui nya..? Ah, tidak... Prioritas utama adalah master...” pikir Jessie ketika melihat Lili yang sedang berbicara dengan seseorang.


Beberapa saat kemudian, kami pun sampai di guild milik Elina. Semuanya pun terkejut ketika melihatku yang diseret Jessie, namun mereka juga terkejut saat melihat level kami. Elina pun langsung menghampiri ku dan membantu Jessie untuk memindahkan ku diatas sofa.

__ADS_1


Mereka mengira kalau aku jatuh sakit, tapi sebenarnya aku hanya tertidur, mereka menyadari nya ketika aku mengigau “tiga, bangunan tiga jam lagi” begitulah. Mereka pun langsung tertawa ketika mendengarku mengigau.


Disaat aku masih tertidur mereka pun mengadakan sebuah rapat terakhir menjelang Event besok. Mereka masih belum mengerti rencanaku, jadi mereka berusaha untuk memecahkan nya, beruntungnya Jessie tidak membocorkan nya sedikitpun. Rencana untuk menghancurkan serta rencana untuk menyingkirkan sang pengkhianat masih tersusun rapi. Jadi kita mulai saja, Event dari balas dendam nya...


__ADS_2