Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 75 : A Day Full of Surprise


__ADS_3

“BLADE DANCE..!!” teriak orang itu.


“apa..!!” kata Endou terkejut.


“hmm... Jangan – jangan...” pikir ku sambil melihat orang itu.


“kalau kalian ingin bertarung maka ini bukanlah tempat yang tepat... Pergilah ke Colosseum” kata orang itu sambil menatap tajam kearah kami.


“ternyata benar... Itu adalah kakak...” pikirku sambil terus menatap kakakku.


“sialan kau...!! Player yang levelnya rendah seperti mu menasehati kami yang levelnya lebih tinggi.. Jangan bercanda oi..!! Pengalaman kami lebih banyak dari pada dirimu..!!” teriak Endou marah.


“justru karena itulah kalian harusnya memberi contoh yang lebih baik bagi para pemula...” sahut kakakku sambil menyarungkan pedangnya.


“diam kau sialan..!! Apakah kau tidak tahu etika saat berbicara dengan orang yang lebih kuat dari mu...? Pergilah sana, aku masih mempunyai urusan dengan nona cantik ini” kata Endou sambil menatapku.


“sayang sekali, namun gadis itu adalah milikku...” kata kakakku lagi.


“hah..!! Katakan sekali lagi atau kau akan aku hajar sekarang....!!” teriak Endou.


“oh... Begitu ya...” kata kakakku sambil memegang pedangnya.


“cih pergilah.... Baiklah, ayo kita lanjutkan lagi nona...” kata Endou sambil tersenyum kearahku.


“sayang sekali... Orang yang aku cari sudah ketemu, jadi pergilah dasar pria menjijikan...” kata ku sambil menatap Endou.


“apa katamu...?!!” tanya Endou marah.


“ah, tidak hanya menjijikan tapi kau juga tuli ya..?” tanya ku balik.


“dasar wanita sialan..!!” teriak Endou sambil menyerangku.


“dan juga pemarah...” kata ku sambil menghindari seorang itu.


“dasar pengecut..!! Berhentilah menghindar..!!” teriak Endou sambil terus menyerangku.


“serta bodoh...” kata ku sambil terus menghindar.


“BLADE DANCE..!!” teriak kakakku yang tiba – tiba ikut dan menyerang Endou.


“jangan ikut campur.. Dasar pemula...!!” teriak Endou sambil berusaha menghindari serangan kakakku.


“kemampuan berpedang mu hebat juga... Tapi jika untuk Blade Dance milikku, itu masih bisa dibilang buruk...” kata ku sambil melihat kakakku menyerang.


“kalau begitu bagaimana kalau kau memperlihatkannya kepadaku..?” tanya kakakku sambil terus menyerang.


“baiklah kalau itu mau mu, akan aku tunjukkan bagaimana Blade Dance yang sebenarnya” kata ku sambil sedikit tersenyum.


Sambil menatap Endou, aku pun juga mengambil ancang – ancang, aku menunggu saat yang tepat untuk menyerang Endou.


“aku tidak tahu apa yang sedang kalian rencanakan namun pertandingan ini akan berakhir saat ini juga...” kata Endou mengintimidasi.


“hmm...? Benarkah..?” tanya kakakku sambil sedikit tersenyum.


Kemudian kakakku pun menyerang Endou dari sebelah kiri, Endou pun menyadari hal itu dan mencoba menahannya.

__ADS_1


“Hahaha... Ini adalah kemenangan ku...” kata Endou dengan wajah sombong.


“begitu ya...” sahut kakakku.


Tiba – tiba, sebelum pedang mereka beradu, kakakku melepas pedang nya. Hal itu pun membuat Endou kebingungan namun dia tetap berusaha menyerang kakakku.


“apa..!! Sialan, kenapa kau melepas senjataku...?” tanya Endou kebingungan.


“tentu saja untuk ini..!!” kata kakakku sambil menendang Endou dengan kuat.


Tendangan kakakku sangatlah kuat, Endou pun bahkan bisa terpental menuju kearahku.


“ini adalah kesempatan ku... BLADE DANCE...!!” teriakku sambil menyerang.


Blade Dance adalah sebuah kemampuan yang aku ciptakan sendiri. Ini bukanlah sebuah skill, namun kemampuan asli yang bisa dimiliki siapa saja. Kemampuan ini mengutamakan kecepatan, ketepatan, dan kekuatan. Kemampuan ini mengandalkan stamina jadi bisa dipakai kapan saja asalkan mempunyai banyak stamina dan kemampuan ini tidak menggunakan mana.


Menurutku potensi maksimal kemampuan ini adalah dengan menggunakan dua pedang. Namun karena sekarang aku hanya mempunyai sebuah pedang saja, jadi aku hanya bisa mengeluarkan setengahnya saja.


“apa – apaan skill ini..? Kenapa kecepatannya terus meningkat..?” tanya Endou sambil terus bertahan.


“sebuah kesalahan besar jika kau menyebut ini adalah sebuah skill...”jawabku sambil terus menyerang.


“cih, kalau begitu bagaimana kalau sekarang...!! SECOND MODE...!!” teriak Endou yang tiba – tiba pertahanan nya meningkat.


“percuma...!! Tebasan pertama...” teriak ku sambil menebas tubuh Endou.


“ugh... Sedikit lagi...” kata Endou saat mencoba menangkis seranganku namun gagal.


“Tebasan kedua...” teriak ku.


“Tebasan Ketiga...” teriak ku yang menebas Endou dari atas.


*Cling... Suara pedangku yang berhasil ditangkis oleh Endou.


“dapat... Hahaha... Aku sudah tahu pola seranganmu...!!” teriak Endou senang.


“hoo... Berikutnya, tidak ada yang bisa menangkis serangan ini dari dulu... Bersiaplah” kata ku mengintimidasi.


“kalau begitu akulah yang akan menjadi orang pertama yang menangkisnya...” sahut Endou.


“tebasan terakhir..!!” teriakku.


“ini dia... Perhatikan baik – baik arah dari pedangnya, jika aku berhasil menangkisnya maka akulah yang akan menjadi pemenangnya...” pikir Endou yang sangat fokus melihat pedangku.


“hehe... Dasar bodoh...” kata ku pelan sambil sedikit tersenyum.


Endou pun terkejut saat melihatku sekilas sedang tersenyum, namun dia masih berusaha untuk tetap fokus melihat arah pedangku. Dia menunggu dan terus menunggu namun pedangku masih terus diatas dan belum menyerang sama sekali, kemudian dia pun melihat wajahku.


“aapa yang sedang dia lakukan..? Jangan – jangan tebasan nya...” pikir Endou sambil mengarahkan pedangnya keatas untuk menahan seranganku.


“dasar bodoh...” kata ku.


“apa...!! Jangan – jangan tujuanmu adalah untuk membuatku...” kata Endou yang baru saja menyadari.


“kau baru sadar ya..? Tujuanku sudah terbuka sangat lebar...” sahut ku sambil menendang Endou sekuat tenaga.

__ADS_1


“ugh... Ini bukanlah sebuah tebasan..!!” teriak Endou.


Endou pun langsung terpental menuju kearah Jessie.


“Jessie..!! Sekarang..!!” teriakku sambil menatap Jessie.


“ baik master...” sahut Jessie.


Kemudian Jessie pun langsung menyerang Endou dengan Scythe nya, Endou pun langsung mati dan menghilang.


“eh...? Kenapa aku memanggilnya master..?” tanya Jessie kepada Elina yang sedari tadi hanya diam dan melihat.


“kenapa kau malah bertanya kepadaku..?” tanya Elina balik.


“akhirnya aku menemukan mu...” kata ku sambil berjalan mendekati mereka.


“kau... Siapa..?” tanya Elina kepada ku.


“aah... Kau pasti belum tahu ya...? Terkejut lah kalian...” kata ku dengan bangga.


“Akiko, kenapa kau malah bermain..? Jika kau disini lalu siapa yang menjaga Hideo..? Cepat keluar dan kabari aku kalau dia sudah bangun...” kata White.


“eh...” kata ku yang terkejut karena aku pikir yang sedang memainkan akun ku adalah kakakku.


“eh...” kata White yang terkejut karena aku terkejut.


“eh...” kata Elina yang terkejut karena White membongkar identitas nya.


“eeh...?” kata Jessie kebingungan dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Disaat yang bersamaan, disebuah lorong dirumah sakit, ayahku sedang berjalan bersama dengan kakakku menuju kamar tempatku dirawat.


“hah... Aku ingin segera bermain...” keluh kakakku.


“maaf ya Akiko... Karena ibumu, kau jadi yang harus menghadiri rapat..” kata ayahku.


“cih, hanya karena wajah kami mirip, jadi dia selalu menyuruhku untuk menghadiri rapat diperusahaaan kecil...” sahut kakakku.


“enak juga ibumu... Kalau saja Hideo juga mirip sepertiku, pastinya juga enak” kata ayahku sambil berkhayal.


“aku tidak akan pernah membiarkan adik ku satu – satunya berwajah seperti kakek – kakek tua” sahut kakakku.


*braakk... Suara kakakku membuka pintu.


“kau sangat sayang kepada adikku ya...” kata ayahku.


“tentu saja karena aku adalah...” kata kakakku.


“eeh...” potong ayahku yang terkejut saat melihatku sudah memakai perangkat game.


“hmm..?” kata kakak ku yang bingung dengan ekspresi ayahku, kemudian dia pun melihat kearahku.


“ehh....!!!” kata kakakku yang juga terkejut sama seperti ayahku.


Hari ini pun diisi oleh semua orang yang terkejut dan yang paling mengejutkan bagiku adalah... Selama ini ternyata yang memakai akun ku adalah ibuku.

__ADS_1


__ADS_2