
“aku akan melayani kalian” kata ku sambil mengacungkan pedangku.
“oh, kata – kata yang hebat... Sebenarnya kami sedang mengejar seorang pengitai namun aku lebih tertarik dengan kalian...” kata ketua Guild yang baru saja datang.
“oh, pengintai ya... Sepertinya yang kau cari juga ada disini” kata Ricoris sambil melirik salah satu anggotanya yang mengintai kami.
Kami pun saling menatap, kami memasang kuda – kuda dan menunggu seseorang yang menyerang duluan. Selama itu, kami pun saling memberi kode kepada anggota Guild masing – masing, aku memberi kode kepada kakak dan Elina.
“kalian pergi dulu... Lili dan Jessie, bantu aku...” kata ku sambil melirik keduanya.
“baiklah...” kata kakak sambil membalikkan badan.
“tunggu, kita ini satu guild apapun yang terjadi kita harus saling membantu...!!” teriak Elina menentang.
“kalian masih baru, jangan ikut pertarungan yang tidak perlu... Sekali saja kalian bertarung, mungkin butuh waktu lama untuk kembali pulih setelah itu” kata ku.
“dengarkan dia dan ikuti saja rencananya” kata kakakku meyakinkan Elina.
“kami adalah seorang Assassin, kecepatan kami sangat lah berbeda dari anggota yang lain... Kami akan mengulur waktu lalu menyusul kalian... Ikuti saja kata – kata kakak, seharusnya dia dan PG bisa menjaga kalian saat aku tidak ada...” tambahku sambil melirik Elina.
“baiklah, aku mengerti... Berjuang lah” kata Elina sambil membalikkan badan mengikuti kakak.
“semuanya kita pergi...!!!” teriak kakak memberi perintah.
Kemudian semua anggota Guild kami pun mulai pergi, namun sepertinya guild asing itu tidak mau membiarkannya begitu saja. Ketua Guild asing itu langsung mendekat ke anggota Guild kami, untung saja aku melihatnya, aku pun langsung memblokir nya.
Saat itu aku masih belum mengerti senjata apa yang dia gunakan karena dari awal dia selalu menyembunyikan nya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyerangnya agar kembali mundur, namun seranganku berhasil ditangkis nya.
*Cling... Suara tangkisan.
Secara refleks aku langsung melihat senjatanya, sebuah rapier, dia pengguna kecepatan, Player dengan Role Assassin. Aku sangat dirugikan dalam situasi seperti ini, dia berhasil menangkis seranganku keatas, ini adalah kesempatan emas baginya untuk menyerang balik.
Dengan santai nya, ketua Guild itu mengubah gaya nya untuk menyerang, dia sangat fokus menatapku, mungkin dia sedang memperhitungkan segala hal yang mungkin terjadi nantinya. Disaat dia masih berpikir, tiba – tiba Ricoris muncul dan menyerang nya.
“oh, sangat tidak sopan...” kata ketua Guild asing sambil menghindari dan melompat menjauh.
“kita ini bertiga dan kalian berdua bertarung sendirian, siapa yang tidak sopan sebenarnya..?” tanya Ricoris dengan santai.
__ADS_1
“baiklah, saat nya ronde kedua...” kata ku sambil ikut mundur menjaga jarak.
Jessie dan Lili langsung mendekat kepadaku, mereka langsung mengambil kuda – kuda. Tiba – tiba suara tawa menggema disana, tatapan mereka seperti sedang mengasihani kami.
“lihatlah..!! Mereka melindungi guild nya padahal mereka sudah ditinggalkan, lucu sekali bukan...? Lalu apa yang coba mereka lakukan..? Mereka ingin melawan kami yang jumlahnya 10 kali lipat..? Konyol sekali... Hahaha...!!” ejek ketua Guild asing itu kepada kami.
“Disini bukanlah tempat bagi para pelawak... Oh, jangan – jangan guild tadi dipenuhi oleh para pelawak” sahut temannya.
“berisik sekali ya... Mau bertarung atau wawancara..?” ejek ku kembali.
“baiklah... Kemari” kata ketua Guild asing itu dengan tenang.
“hei – hei... Jangan abaikan kami” kata Ricoris dengan tatapan mengintimidasi.
*Aaagghh... Suara teriakan.
Disaat kami sedang berbicara, diam – diam Hiro meninggalkan formasi dan langsung bersembunyi diatas pohon dibelakang guild asing itu. Neko dan Inu pun juga tidak tinggal diam, mereka langsung menyelinap kedalam formasi musuh untuk mengejutkan dan merusak formasi musuh.
“dalam keadaan seperti ini... Kalian harus tenang” kata ketua Guild itu dengan tenang.
“si-sialan...!! Ugh...” teriak ketua Guild itu namun setelah itu dia terkena seranganku.
“dalam keadaan seperti ini... Kau seharusnya juga tenang” ejek ku sambil memukul perutnya.
Dia pun langsung menundukkan kepala nya dan menarik senjata nya bersamaan agar serang Jessie bisa dia hindari. Namun dibawah masih ada aku, aku langsung memegang kepalanya lalu menendang nya. Sekuat tenaga dia berusaha untuk melepas peganganku, setelah itu dia pun langsung melompat menjauh.
“cih, sialan juga kalian...” kata ketua Guild asing itu dengan tenang.
“kalau kau pikir ini sudah selesai maka kau salah” sahut ku sambil menunjuk ke belakang nya.
Lili pun langsung melancarkan serangan kejutan nya. Ketua Guild itu dengan cepat langsung menggunakan Awakening ketiga nya dan mulai menangkis serangan Lili. Semakin lama, kecepatan serangan Lili makin cepat, dia memaksa ketua Guild itu untuk terus mundur, namun hanya beberapa langkah saja ketua itu mundur, Lili tiba – tiba menghentikan serangnya dan melompat mundur.
“huh... 10 detik, kau hanya bisa menyerang selama 10 detik..? Singkat sekali” kata ketua Guild asing itu meremehkan.
“hanya 10 sudah lebih dari cukup untuk membuatmu berakhir...” kata ku sambil menatap ketua Guild asing itu dengan tajam.
Ternyata alasan Lili mundur kebelakang adalah karena Ricoris yang tiba – tiba berada dibelakang ketua Guild asing itu. Ricoris mengeluarkan semua kekuatannya dalam satu serangan. Tanpa memberi kesempatan menghindar ataupun menahan, kedua tombak Ricoris pun menusuk tubuh ketua Guild itu.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama bagi Ricoris untuk mengakhiri ketua Guild itu. Ketika dia mati, semua anggota Guild nya langsung bingung, formasi nya pecah dan kami pun bisa mengakhiri mereka semua satu persatu.
“baiklah, sekarang... Bagaimana kalau kita lanjutkan hal yang tadi..?” tanya ku sambil menatap Ricoris.
“bukankah sudah jelas...” jawab Ricoris sambil melangkah mendekat.
“hei... Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat untuk kabur, formasi mereka juga belum kembali” bisik Lili.
“apa maksudmu..? Itu tadi bukanlah salah satu dari rencana ku” sahut ku sambil menatapnya.
“hah... Lalu seperti apa sebenarnya rencanamu itu..? Jelaskan kepadaku” kata Lili terkejut.
“sesuatu yang sangat luar biasa, kau pasti akan terkejut nanti, pastikan kau menyadarinya sebelum terlambat” kata ku sambil tersenyum kepada Lili.
“aku tidak mengerti apa maksudmu..?!!” teriak Lili menjauh.
Tiba – tiba sebuah anak panah menusuk lengannya, dia pun langsung berlari kearah ku, namun segera dihentikan oleh Neko yang sudah berada didepannya. Dibantu dengan Inu, Neko pun langsung menyerang nya.
“hei...!! Tolong aku..!!” teriak Lili yang sedang terdesak.
Neko dan Inu pun langsung menghentikan serangannya, Lili pun langsung melompat menjauh.
“Lili..!! Kemari lah..!!” teriak ku.
“baiklah..” sahut Lili sambil mulai berlari kearahku.
“aku akan membantu mu...” kata ku sambil menyeringai dan mencabut pedangku.
Sambil terus menatap Neko dan Inu, Lili pun berlari kearah ku. Ditangannya masih memegang pedangnya untuk berjaga – jaga kalau mereka berdua menyerang. Namun apa yang dilihatnya ketika melihat kearah ku..? Sebuah pedang, sekilas pedang itu mirip dengan yang dimiliki nya. Dia pun langsung melihat pedang yang dibawa nya, namun pedangnya sudah tidak berada digenggamannya lagi.
“dimana pedangku..? Apa jangan – jangan...” pikir Lili sambil kembali melihat pedang yang berada didepannya.
Tubuhnya mematung namun tanahnya bergetar, tatapannya kosong, perlahan dia mulai melihat kearahku. Tiba – tiba dirinya seperti didorong dengan keras, dia melihat ketubuh nya, sebuah pedang menusuk diperutnya. Sekali lagi dia merasakan hal yang sama, satu buah pedang lagi menusuk tepat ditengah – tengah dadanya.
Dengan ekspresi terkejut, dia kembali menatapku pelan, namun aku sudah tidak berada didepannya lagi. Dia merasakan ada sebuah tepukan dibahu nya, dia pun melihat ku yang sudah berada disamping nya dan memegang bahu nya. Dengan senyuman tipis, bibirku mulai bergerak dan dia pun menatapnya, telinganya mulai berdengung namun dia bisa mendengar apa yang aku ucapkan.
“Lili... Kerja... Bagus”
__ADS_1