Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 46 : The Spear of Victory


__ADS_3

“gawat..!! Kami hanya bisa bertahan sekarang...” pikir ku.


Kemudian Hydra itu mengaum dan menyebabkan racun yang berada diudara sekitar Hydra itu menyebar.


“master, gawat racunnya menyebar dengan cepat... kita harus pergi menjauh” kata Jessie yang berada diatas pohon sampingku.


“ya... Dimana tempat yang paling aman sekarang...?” tanya ku sambil berlari bersama Jessie.


“diujung Map... Arah jam 2, disana” jawab Jessie sambil menunjuk tempat dimana Hydra itu muncul pertama kali.


“berarti pemikiran kita sama... Hati – hati mungkin saja ada sebuah lubang bekas Hydra itu muncul pertama kali” kata ku.


“dimengerti” sahut Jessie singkat.


Hydra itu mulai mengejar dan mulai menyerang kami, ada lima kepala yang menyerang kami, masing – masing kepala itu menggunakan elemen yang berbeda – beda, Sedangkan 4 kepala lainnya hanya mengaum. Serangan lima elemen ini mulai menghujani kami, namun kami berhasil menghindari semua serangan itu.


Aku pun melihat kebelakang dan mulai mengamati pola serangan Hydra itu, ternyata setiap kepala hanya bisa menggunakan satu elemen saja. Sekarang 5 elemen telah dikuasai oleh 5 kepala, 4 sisanya masih belum diketahui, namun salah satu dari keempat kepala ini bisa menggunakan serangan racun, kemungkinan besar keempat kepala ini hanya bisa menggunakan beberapa Skil yang tidak termasuk kedalam unsur Elemen.


Setelah beberapa waktu kami berlari, akhirnya kami telah berada diujung Map, Kami seperti sedang terdesak. Kemudian Hydra itu kembali menyerang kami menggunakan kepalanya, kami pun menghindar dan berniat untuk menyerang badannya, tapi ditubuh Hydra masih tersisa sedikit racun.

__ADS_1


Aku dibuatnya berpikir dua kali saat akan menyerangnya, tiba – Tiba Jessie menyerangnya dengan tombak, Jessie melempar tombaknya lalu menariknya kembali sama seperti ketika aku menarik pedangku dengan benang. Aku pun melakukan hal yang sama seperti Jessie, aku melemparkan pedangku dan menariknya, kami melakukan hal itu berulang kali sembari menghindari serangan Hydra.


Tanpa sadar aku mengambil tombak yang ada di inventory ku dan melemparkan nya ke pangkal leher Hydra itu. Aku pun langsung terkejut, aku kira itu akan membuat kepala Hydra terpotong namun tombak itu hanya menancap dan menembus pangkal lehernya.


Aku ingat kalau inti Hydra itu selalu berpindah, namun perpindahannya tidak acak tapi berurutan, dimulai dari badannya lalu kepala ke kepala kemudian menuju kaki dan kembali kebadannya.


Dengan cepat aku langsung mengambil tombak – tombak yang ada didalam inventory ku dan mulai melemparkan tombak itu ke pangkal leher Hydra itu. Kebetulan sekali saat aku kembali ke kota, aku membawa 10 tombak, 1 tombak telah aku gunakan untuk menyerang mata salah satu Hydra itu dan sisanya aku gunakan untuk menyerang pangkal Hydra itu.


Satu persatu tombak itu menancap dipangkal leher Hydra itu, disaat yang bersamaan kepala yang telah aku serang dengan tombak tiba – tiba tidak bisa menggunakan serang elemen dan serangan Skil lainnya. Hydra itu sekarang hanya bisa menyerang dengan serangan secara fisik saja.


Hydra itu pun marah, insting ku berkata aku harus segera berlari menjauh dan ternyata benar, Hydra mulai menyerang dengan kepalanya secara membabi buta sambil berlari menerjang kearah kami berdua. Beruntungnya kami, aku langsung berlari sambil menggendong Jessie pada saat aku mendapatkan insting itu.


Aku pun menggunakan potion ku yang terakhir dan langsung menyerangnya menggunakan Special Lightning Bullet, sekarang inti itu sudah terlihat dengan sangat jelas. Kemudian dengan cepat Jessie mulai berlari mendekati tubuh Hydra itu, lalu dia melompat dan melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaga kearah inti Hydra itu. Ini merupakan sebuah serangan penentuan kemenangan kami, jika serangan Jessie meleset atau tidak dapat menghancurkan inti itu maka kemenangan kami akan mendekati 0%.


Tombak Jessie melesat dengan sangat cepat menuju inti Hydra itu, namun serang itu segera dihadang dengan salah satu kepala Hydra, saat itu jantungku berdetak sangat kencang. Karena kekuatan serangan Jessie sangat besar, kepala Hydra yang menghadangnya menjadi terpotong. Kepala yang lainnya tidak tinggal diam, mereka melakukan hal yang sama, namun itu sia – sia. Semua kepala Hydra itu terpotong karena serang Jessie, detak jantungku semakin kencang, aku bahkan sampai bisa mendengarnya.


Kepala Hydra itu mulai berjatuhan, bahkan salah satu kepalanya terlempar kearah ku dan kemudian menghilang, sebuah tombak pun jatuh dari kepala itu dan menancap didepanku, tombak itu adalah tombak yang tadi menancap dimata salah satu Hydra itu.


Akhirnya serangan Jessie meleset dan mengenai tepat dibelakang inti yang sedang bergerak itu. Aku pun terkejut, seranganku mulai melemah dan secara perlahan mulai habis. Sama halnya sepertiku Jessie juga terkejut, tatapannya menjadi kosong, dia terjatuh didepan tubuh Hydra yang kepalanya mulai beregenerasi, setiap kepalanya menjadi dua.

__ADS_1


Perlahan Jessie bersujud, matanya mulai berkaca – kaca, sambil memukul tanah air matanya mulai menetes.


“master maafkan aku yang tidak berguna ini... Master maafkan aku yang telah mengecewakanmu ini... Master maaf... Maaf... Maaf...” kata Jessie sambil menangis tersedu – sedu.


Aku pun terdiam, Hydra itu kini telah selesai beregenerasi dan mulai mengaum dengan sangat keras. Kemudian aku pun mengambil tombak tadi yang menancap didepanku lalu aku menatap tajam kearah Hydra itu, Hydra itu terlihat sangat marah dan kembali mengaum kearah ku.


“Jangan becanda dasar monster sialan...!!!” teriakku sangat marah sambil melempar tombakku kearah Hydra itu.


Tombak itu melesat sangat cepat, lebih cepat dari lemparkan Jessie. Karena kemarahanku aku melempar tombak itu secara asal – asalkan kearah Hydra itu. Sambil menatap kearah langit aku berteriak sangat keras.


Tanpa aku sadari tombak itu melesat langsung ketubuh Hydra itu, dia berusaha untuk menghindari serangan itu, namun itu malah membuat tombak itu menembus kakinya dan menghancurkan intinya. Perlahan tubuh Hydra itu mulai bersinar dan retak setelah itu langsung hancur tak bersisa.


Ruangan itu mulai berubah dan kami langsung diteleportasikan ke lantai 10 kemudian Fiola pun muncul. Jessie pun masih menangis bahkan saat sedang diteleportasikan.


“y.. Yo kalian berdua... Selamat karena telah menaklukkan Dungeon ini... Nama kalian telah diukir pada batu emas didepan Dungeon ini... Dan tadi itu adalah pertarungan yang sangat hebat bahkan kami telah menyiarkannya pada semua Player yang ada didalam Dungeon ini... Kalian juga mendapatkan masing – masing 1 kali kesempatan memutar sebuah Lucky Spin sebagai hadiah menaklukkan Dungeon ini... Sekali lagi selamat” kata Fiola yang kemudian langsung menghilang.


Aku pun hanya diam saat itu, nafasku terengah – engah, jantungku masih berdetak sangat kencang dan perasaanku bercampur aduk. Sedangkan Jessie masih menangis dan bahkan tidak mengangkat kepalanya sedikitpun. Kemudian aku duduk dan menunggu sampai Jessie sedikit tenang.


Aku menarik nafas dalam – dalam lalu menghembuskannya untuk menenangkan diriku saat itu. Tiba – tiba aku mendengar suara langkah kaki dari belakang, dari suaranya aku menduga kalau ada banyak orang yang datang kemari, aku pun langsung berbaring dan perlahan mulai menutup mataku.

__ADS_1


“Siapa mereka..?” pikirku saat itu.


__ADS_2