Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 67 : King Drodas


__ADS_3

Setelah hari itu, ibuku pun marah besar kepada ku, hampir 2 jam dia menceramahiku. Mobil yang baru saja dia beli, sekarang telah hancur didalam jurang. Untung saja aku membawa dokumen – dokumen yang ada didalam mobil, kata nya dokumen itu lebih penting dari mobilnya.


Aku pun dihukum, aku tidak diperbolehkan keluar rumah selama 3 hari kedepan, bahkan untuk sekolah sekali pun, tapi bukankah ini adalah malah menjadi sebuah surga bagiku. Aku bisa terus bermain game sepanjang waktu, dengan begini levelku akan cepat naik dan tujuanku juga akn cepat tercapai.


“selamat datang kembali master...” kata Jessie menyambutku.


“ya, aku kembali” sahut ku sambil berjalan menuju sofa.


“mau aku buatkan teh..?” tanya Jessie.


“ya, tolong” jawabku sambil duduk disofa.


Kemudian Jessie pun segera menuju dapur dan membuatkan aku teh, sedangkan aku tiduran diatas sofa sekarang ini.


“hah... Masih lama untuk mencapai tujuanku, sepertinya aku harus cepat – cepat naik level lagi” pikirku sambil memejamkan mata.


“master... Master... Bangunlah... Master” kata Jessie sambil menggoyang – goyangkan badanku.


“hah...!! Aku ketiduran..!!” kata ku sambil mulai bangun.


“kau tidak apa – apa master..? Sepertinya kau kelelahan” tanya Jessie.


“tenang saja, disini terlalu nyaman sampai – sampai aku ketiduran” jawabku.


“ngomong – ngomong, wajahmu tadi sangatlah imut saat sedang tidur” kata Jessie.


“hmm.. Sudah berapa lama aku tertidur tadi..?” tanya ku.


“sekitar 15 menit, ini teh nya..” jawab Jessie sambil meletakkan teh nya diatas meja.


“Terima kasih... Jadi selama itu kau selalu menatapku ya..?” tanya ku sambil mengambil teh nya.


“entahlah” jawab Jessie singkat.

__ADS_1


Aku pun segera menghabiskan teh itu, kemudian aku pun berdiri dan berjalan menuju depan rumah.


“hah... Masih tetap sama ya...” kata ku sambil melihat – lihat disekeliling depan rumah.


“hari ini kita akan kemana..?” tanya Jessie yang mengikutiku dari belakang.


“hmm..? Kau sekarang sudah level berapa..?” tanya ku.


“sekarang aku sudah berlevel 215, memangnya ada apa..?” tanya Jessie.


“215 ya.. Masih jauh sekali, baiklah hari ini kita lanjutkan kedalam Dungeon” kata ku sambil mulai berjalan kembali.


“baiklah...” sahut Jessie.


Kemudian kami langsung menuju Dungeon, aku memutuskan untuk tidak memakai teleportasi karena aku ingin jalan – jalan sebentar sambil menuju ke Dungeon. Kali ini suasana dikota tidak terlalu ramai karena sebagian besar pemain disini adalah pelajar dan sekarang masih jam sekolah. Tidak ada hal spesial yang terjadi dikota, bahkan tidak ada informasi tentang Event selanjutnya.


Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami telah sampai didepan Dungeon. Kami memutuskan untuk mengulanginya lagi dari lantai pertama karena jumlah Exp yang didapatkan masih termasuk besar. Kami menggunakan cara yang sama seperti dulu, menurutku cara ini lebih efektif dari yang lain.


Beberapa jam pun telah berlalu dan kami telah berhasil menaklukkan lantai 10, sekarang kami pun akan segera berhadapan dengan Dungeon King. Menurutku Dungeon King kali ini sedikit lebih lemah dari yang sebelumnya, yang membuatnya sulit adalah arenanya.


Hal itu membuat kerajaan – kerajaan lainnya takut dan akhirnya mereka membuat sebuah aliansi untuk melawan raja Drodas. Akhirnya perang pun dimulai, perang yang melibatkan seluruh kerajaan didunia, perang dunia yang pertama. Karena kekuatan mereka seimbang, perang itu pun terus berlangsung selama lebih dari 10 tahun, selama itu dunia telah tertutupi oleh kegelapan.


Puluhan ribu pasukan mati setiap harinya, dunia menjadi sangat kacau, tidak ada tempat yang aman lagi didunia itu. Karena kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi, raja Drodas pun berani mengatakan kalau dia adalah seorang dewa. Perintahnya adalah mutlak, rakyatnya mulai menyembah nya dan tidak ada yang berani menentang nya.


Namun tidak lama setelah itu, peperangan pun mulai memperlihatkan hasilnya. Pasukan raja Drodas perlahan mulai terdesak hingga akhirnya mereka terpaksa bertahan dibenuanya. Raja Drodas pun murka, dia memerintahkan semua orang untuk ikut berperang. Tidak hanya para tentara, petani dan bahkan anak – anak juga ikut berperang. Semakin lama keadaan semakin memburuk sampai – sampai untuk mengganjal perut, mereka harus memakai bangkai saudaranya.


Situasi itu membuat pasukannya menjadi pasukan bar – bar, mereka seperti binatang buas yang kelaparan, darah adalah minuman nya dan daging adalah makanannya. Pasukan raja Drodas pun berhasil memberikan perlawanan untuk sementara waktu.


Hingga suatu hari, akibat terlalu banyak tekanan, pasukannya pun menjadi gila, mereka menyerang secara membabi buta bahkan mereka sudah tidak mengetahui kawan atau lawan, mereka terus membunuh. Akhirnya pasukannya lenyap dan kehancuran kerajaannya sudah dipastikan, dia dengan gagah berani maju sendirian ke medan perang, dihadapan puluhan ribu pasukan lawan dia berkata.


“aku memang kalah hari ini... Meskipun begitu aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh tanahku..!!”


Itu adalah kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum dia mengorbankan dirinya dan membuat kerajaannya diselimuti oleh salju, tanahnya pun berubah menjadi es. Dia menjadi seorang Undead dan dikutuk untuk terus merasakan dinginnya es abadi yang menyelimuti kerajaannya.

__ADS_1


Setelah sekian lama, salju yang menutupi kerajaannya mulai menumpuk dan membentuk sebuah gunung es. Dia terperangkap didalam gunung itu bersama dengan kerajaannya, dia terus menunggu dan menunggu, satu hal yang dia inginkan saat itu, dia ingin merasakan kehangatan kembali. Kini benua tersebut dikenal sebagai benua es.


Sekarang aku telah dipindahkan kedalam arenanya, tempatnya berada didepan singgasana nya. Aku dapat melihatnya sedang duduk disana, dia tidak akan bergerak jika aku tidak menyerangnya duluan.


“lantai yang licin.. Kekuatan serta kecepatan yang tinggi... Kekebalan terhadap sihir yang tinggi... Dan kabut yang menghalangi penglihatan... Benar – benar kombinasi yang hebat, entah apa lagi kejutan darinya tapi sekarang aku sudah serius, aku akan mengalahkannya” kata ku sambil menatap nya.


*Bruukkk...


“aduh... Sakitnya...” kata Jessie yang terjatuh.


“hmm... Padahal aku baru saja berkata kalau lantai nya licin” kata ku sambil melihat Jessie.


“master...” kata Jessie sambil merengek.


“hah... Baiklah” kata ku sambil mengulurkan tangan.


Tiba – tiba Jessie langsung menarik tanganku dan membuatku ikut jatuh.


“sakit...” kata ku saat jatuh.


“hehehe” suara Jessie yang tertawa kecil saat aku jatuh.


“apa yang kau lakukan...!!” teriakku sambil memukul kepala Jessie pelan.


“Aduh... Uuuuu” kata Jessie kesakitan sambil memegang keoalan


“jangan lakukan hal itu lagi..” kata ku yang sudah berdiri.


“master jahat... Hem” kata Jessie cemberut.


“Jessie jahat... Hem” kata ku menurunkan Jessie.


“ah...” kata Jessie yang terkejut.

__ADS_1


“ah...” sahut ku.


Akhirnya kami berdua pun sama – sama cemberut.


__ADS_2