Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 63 : Golem


__ADS_3

“lawan kita sekarang adalah Floor King lantai 9 kan..?” tanya ku sambil melihat sebuah pintu yang cukup besar didepanku.


“benar master” jawab Jessie.


“ah maaf, karena monsternya terlalu mudah dikalahkan, aku jadi sedikit lupa” kata ku.


“karena itulah aku ada disini, master” sahut Jessie sambil tersenyum kepadaku.


“hah... Kau ini ya...” kata ku sambil menyentuh pintu itu.


“hehe... Baiklah ayo kita berjuang master..!!” kata Jessie yang bersemangat.


“kau sekarang sudah lebih berani ya...”kata ku sambil masuk kedalam.


Kemudian sampailah kami didalam ruangan Floor King itu. Disana hanya ada bongkahan batu yang sangat besar. Bongkahan itu berada tepat ditengah – tengah arena.


“jadi begitu, dia pasti nya adalah golem” kata ku saat melihat bongkahan batu itu.


“benar, tapi tenang saja master... Kita hancurkan saja intinya yang berada didada nya itu. Sahut Jessie.


“aku sudah tahu” sahut ku dengan cepat sambil berjalan menuju bongkahan batu itu.


“begitu ya...” kata Jessie sambil mengikutiku.


“setelah jaraknya sudah dekat, dia akan langsung menyerang kan...?” tanya ku sambil mengeluarkan pedangku.


“yah, biasanya itu sedikit mengejutkan” kata Jessie.


Setelah cukup dekat, aku pun menghentikan langkahku, aku dapat merasakan kalau selangkah lagi aku sudah berada dijangkauan serangannya. Aku pun menatap tajam bongkahan batu itu, kemudian aku mengambil ancang – ancang, sedangkan Jessie pun hanya duduk diujung arena.


“master..!! Berjuanglah..!! Aku akan memberi master hadiah jika master menang..!!” teriak Jessie memberi semangat.


“oh, hadiah ya... Kalau begitu kau pasti sudah menyiapkannya kan..?” tanya ku sambil menatap Jessie.


“tentu saja, dari awal aku sudah menyiapkannya” jawab Jessie.


“apa itu..?” tanya ku.


“sebuah ciuman spesial dariku” jawab Jessie sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya serta mengedipkan salah satu matanya.


“baiklah aku mengaku kalah” kata ku sambil kembali menyarungkan pedangku.


“eh...? Ehhh...!! Kenapa...?!” teriak Jessie terkejut.


“kenapa kau malah bertanya kenapa..!! Bukankah ini aneh sekali...?!” sahut ku.

__ADS_1


“aneh..? Benar sekali... Ini aneh, padahal didalam buku cara ini selalu berhasil” kata Jessie kebingungan.


“maksudku kenapa hadiah mu aneh sekali... Dan juga jangan membaca buku yang aneh – aneh” kata ku.


“memangnya kenapa..?” tanya Jessie sambil menatapku.


“kau tahu..? Sekarang kau tidak seperti Jessie yang aku kenal” jawab ku.


“jahat..!! Hem..!!” kata Jessie cemberut.


“kenapa malah kau yang marah..?” tanya ku.


“tidak tahu” sahut Jessie dengan cepat.


“ya sudahlah, aku juga tidak peduli” kata ku sambil mengeluarkan pedangku lagi.


“eh...!! Master...” kata Jessie yang terkejut.


Aku pun langsung berlari menuju bongkahan batu itu dan seperti yang aku perkiraan, batu itu langsung berubah menjadi sebuah golem berukuran besar. Saat itu juga, golem itu langsung menyerangku dengan pukulannya yang besar.


“lambat..!!” pikirku sambil menghindari serangan golem itu.


Aku pun langsung menyerang dada golem itu, namun serangan ku tidak berhasil karena badannya terlalu keras.


“keras sekali..!! Kalau aku tahu badannya sekelas ini, mungkin aku akan menggunakan kekuatan penuhku tadi” pikirku sambil melompat kebelakang dan menjauh dari golem itu.


“kalau begitu, bagaimana cara Jessie mengalahkannya..?” pikirku sambil melihat Jessie serta menghindari serangan golem itu.


Jessie pun menatapku dan tiba – tiba dia memiringkan kepala nya, dia seperti sedang bertanya “ada apa...?” kepada ku.


Golem itu pun kemudian mulai berjalan mendekati ku sambil menyerangku dengan lemparan batunya. Aku pun baru menyadarinya saat salah satu serangan itu melesat tepat disamping ku.


“seranganmu itu menakutkan ya... Tapi soal kecepatan akulah pemenangnya...!! SPEED BOOST.. ON..!! SWORD OF CALAMITY... RELEASE..!!” teriakku sambil berlari mendekatinya.


Golem itu pun berusaha untuk menangkapku, namun aku berhasil menghancurkan tangannya. Kemudian secara berurutan aku mulai menghancurkan tangannya yang satunya lagi lalu kedua kakinya dan yang terakhir aku memenggal kepalanya.


“sekarang tinggal serangan penghabisan...” kata ku yang berada diatas tubuh golem itu.


Aku pun langsung melompat keatas dari tubuh golem itu, aku melompat setinggi yang aku bisa. Perlahan tubuh golem itu mulai menyatu kembali dan pertahanan nya pun mulai meningkat.


“sekarang adalah waktunya... Awakening tingkat kedua... RELEASE..!!” teriakku saat masih berada diudara.


Kilatan – kilatan petir mulai muncul disekitar tubuhku, kemudian dengan cepat aku langsung meluncur dari atas menuju tubuh golem itu. Salah satu tangan golem itu telah selesai menyatu, golem itu berusaha untuk menahan serangan ku menggunakan tangannya, namun itu sudah terlambat.


Seranganku terlalu cepat untuk dia tangkap, kecepatanku bagaikan sebuah petir yang menyambar tanah. Bahkan petir yang menyelimuti tubuhku tadi masih tertinggal diatas, meskipun setelah itu petir itu mulai menghilang mengikuti gerakanku tadi, namun serangan itu terlihat seperti petir didunia nyata.

__ADS_1


*BOOOM... Suara seranganku.


Aku pun berhasil menghancurkan inti golem itu, tubuh golem itu berubah menjadi pasir dan muaki beterbangan membentuk sebuah pintu.


“baiklah, ini masih sama seperti dulu...” kata ku sambil melihat pasir itu membentuk sebuah pintu.


“dan sekarang...” kata ku sambil melirik Jessie.


“ah, master... Maaf” kata Jessie sambil berjalan mendekati ku dan menundukkan kepalanya.


“hah..? Buat apa..?” tanya ku.


“buat... Buat yang tadi..” jawab Jessie kebingungan.


“Hahaha... Jangan dipikirkan, aku hanya terkejut dengan perubahan sikapmu yang tiba – tiba... Itu saja” kata ku sambil mengeluh kepala Jessie.


“baik..!!” sahut Jessie yang kembali ceria.


“oke kita lanjutkan lagi... Ke lantai 10” kata ku sambil membuka pintu itu.


Akhirnya aku pun telah sampai dilantai 10, kami kembali melanjutkan tujuanku. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, sekarang ini adalah waktunya untuk kami untuk bersinar, setelah itu kami pun mulai menghabisi seluruh monster yang kami temui.


Kami berdua terus bertarung didalam lantai 10 itu hingga akhirnya kami menemukan sebuah pintu yang sangat besar. Namun aku bisa melihatnya meskipun agak tidak terlalu jelas, namun yang pasti dia adalah seorang Player.


“akhirnya kau sampai juga” kata Elina.


“oh yah, jadi ada apa..?” tanya ku.


“coba jelaskan apa yang dimaksud tadi” sahut Elina sambil menatapku dengan tajam.


Beberapa menit kemudian, aku pun menjelaskan semuanya kepada Elina, dia pun hanya duduk terdiam setelah aku menceritakan nya.


“ngomong – ngomong, dimana yang lainnya...?” tanya ku sambil melihat ke sekeliling.


“mereka masih harus menempuh jalan ini, mereka sangat jarang menuju Dungeon” jawab Elina.


“begitu ya... Baiklah” sahut ku sambil memegang pintu menuju Floor King lantai 10.


“tunggu sebenarnya tempat apa yang berada dibelakang rumahmu..?” tanya Elina.


“hmm..? Aku juga tidak terlalu mengerti, namun aku menggunakan nya sebagai tempat latihan” jawab ku.


“begitu ya, baiklah ayo kita susul mereka” kata Elina penuh semangat.


“tapi aku ingin segera melawan Floor King ini” kata ku sambil menunjuk kearah pintu itu.

__ADS_1


“kita jemput mereka dulu, baru melawannya” sahut Elina sambil berjalan menuju kearah lantai ke 9.


“hah... Padahal aku selalu ingin bertarung sendirian” pikirku sambil mengikuti Elina.


__ADS_2