
“hmm... Apa yang terjadi..? Ah sial aku ketiduran, satu hati terlewati dengan sia – sia.. “ kata ku.
Aku pun segera bangun dan bersiap – siap untuk berangkat sekolah. Setelah itu aku turun dan berpamitan kepada ayahku dan kakakku yang sedang sarapan.
“aku berangkat...” kata ku.
“tidak sarapan lagi ya...?” tanya ayahku.
“aku sedang terburuk – buru...” jawabku tergesa – gesa.
“ehem..” suara kakak pura – pura batuk.
“sepertinya kakak sudah tidak marah lagi...” pikirku saat melihat kakak.
“hati – hati dijalan dan ingatlah jangan sampai nilai mu turun terlalu kebawah” kata kakak.
“oke” jawabku.
Setelah berpamitan aku langsung berangkat, dan seperti sebelumnya ayah menyuruh beberapa pengawal untuk menemaniku ke sekolah.
“seperti sebelumnya, kita berhenti sebelum gerbang” kata ku.
“tuan muda, sepertinya kita sedang di ikuti oleh mobil yang dibelakang” kata sopir itu.
“hmm... Benarkah..? Sejak kapan kita mulai di ikuti..?” tanya ku.
“sepertinya sejak kita baru saja berangkat dari rumah tadi” jawab sopir itu.
“berhenti... Turunkan aku disini” kata ku.
“tapi jaraknya bahkan lebih jauh dari yang kemarin dan juga sekarang kita sedang di ikuti, keamanan tuan muda adalah prioritas kami” jelas sopir itu.
“biarkan para pengawal yang mengurus mereka, aku akan tetap turun disini” kata ku.
“baiklah” kata sopir itu.
Kami pun menepi dan saat kami berhenti mobil dibelakang kami juga ikut berhenti. Meskipun aku tidak merasakan kalau mobil yang mengikuti ku tidak bermaksud jahat tapi semua pengawal itu langsung menodongkan pistol mereka kearah mobil yang mengikuti kami.
“cepat kita sedang di ikuti..!! Lindungi tuan muda..!!” teriak para pengawal keluar dari mobil.
“keluarlah dan jangan melawan atau kami akan menembak..!!” teriak salah satu pengawal sambil menodongkan pistol dan perlahan mendekati mobil itu.
“huh... Kalau aku tetap disini maka aku akan terlambat... “ kata ku sambil keluar dari mobil.
“tunggu ini salah paham” kata sopir yang mengendarai mobil yang mengikuti ku.
“jadi seperti ini ya sikapmu kepada tunangannya sendiri...?!” kata Elina keluar dari mobil yang mengikutiku.
“hmm...tunangan..? Sejak kapan kau menyetujui menjadi tunaganku..? Aku bahkan tidak setuju” kata ku.
“huh... Jangan salah paham, jika tidak karena mama ku yang memaksa, aku juga tidak mau menjadi tunanganmu” kata Elina.
“lalu kenapa tunangan ku ini mengikutiku diam – diam..?” tanya ku.
“ka.. Kali ini juga jangan salah paham, aku tadi tidak sengaja lewat didepan rumahmu dan kebetulan tujuan kita sama, jadi wajar saja kan kalau aku berada dibelakangmu” kata Elina.
__ADS_1
“jadi semua ini hanya kebetulan ya..?” tanya ku menggoda.
“sudah aku bilangkan ini hanya kebetulan..!!” teriak Elina dengan wajah memerah.
“baik – baik, kalau begitu aku pergi dulu... Sampai jumpa” kata ku meninggalkan Elina.
“tunggu dulu..!! Kenapa mau tidak naik mobil saja..?” teriak Elina.
“apakah aku harus naik mobil..? Aku hanya ingin jalan kaki saja” kata ku.
“Bukankah gerbangnya masih jauh, akan lebih cepat jika kita naik mobil dari pada jalan kaki kan...? Lagi pula jalan kaki hanya buang – buang waktu” kata Elina mulai mengejarku.
“jaraknya terlihat jauh karena kau tidak pernah jalan kaki terlalu jauh... Setidaknya cobalah sekali wahai putri manja..” kata ku.
“huh... Karena kau yang memaksa, maka putri manja ini akan menemanimu” kata Elina.
“buat apa aku memaksamu..?” tanya ku.
*Bruumm... Ciiit...
Tiba – tiba ada sebuah mobil yang mendekat.
“eh bukankah ini adalah putriku yang cantik, secantik bunga mawaruu..?” kata seorang pria yang memegang bunga mawar.
“Katsuki, itu membuatku jijik” kata Elina.
“bukankah dia adalah si pangeran itu..? Namanya Katsuki ya..? ” tanya ku sambil menunjuk pria itu.
“oh jadi kau belum mengenaliku ya...? Perkenalkan namaku adalah Togawa Katsuki, kau pasti sudah tahu kalau ketampananku ini, aku disebut sebagai seorang pangeran disekolah ini, dan aku adalah seorang calon suami masa depan Elina, jadi tolong jauh – jauh darinya karena yang pantas menjadi pendamping sebuah permata adalah sebuah permata lainnya, kau bahkan membuat Elina jalan kaki menuju sekolah, kau tidak pantas berbicara dengannya...” kata Katsuki.
“jadi kau kenal orang yang menjijikan ini..?” tanya ku kepada Elina.
“tidak” sahut Elina dengan cepat.
“kalau begitu tinggalkan saja dia, kita sudah hampir terlambat” kata ku.
“baiklah” sahut Elina.
“hei tunggu dulu..!! Sudah aku bilang kan kau tidak pantas untuk...” kata Katsuki.
“pengawal..!!!” teriakku.
“apa perintah anda tuan muda..?” tanya para pengawal.
“urus pria yang menjijikan ini” kata ku.
“siap laksanakan” kata para pengawal.
“tu... Tunggu dulu, ini salah paham aku hanya... Ah... Tidak... Aghh..” teriak Katsuki.
Aku dan Elina pergi meninggalkan Katsuki, aku tidak akan menceritakan bagaimana para pengawal ku memperlakukan Katsuki. Saat akan tiba didepan sekolah.
“kau tadi bilang kita akan terlambat bukan.? Tapi bukankah ini 30 menit lebih awal..?” tanya Elina.
“karena itulah aku bilang kita akan terlambat...” jawabku singkat.
__ADS_1
“aku sungguh tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu itu” kata Elina.
“kau memang tidak harus mengerti” sahut ku.
“kau pandai bermain kata ya...” kata Elina.
“berisik... Yang lebih penting sekarang kita akan berpisah disini... Jangan sampai orang lain mengetahui hubungan kita jika tidak maka...” kata ku sambil memutar rekaman kemarin.
“kau... bagaimana kau bisa mempunyai rekaman itu..?” tanya Elina kaget.
“lakukan saja” kata ku.
“baiklah.. Tapi kau nanti harus bertanggung jawab ya...” kata Elina pelan.
“hah... Kenapa aku harus bertanggung jawab..?” tanya ku.
“bukan..!! Kenapa telingamu sangat sensitif sekali...?!” teriak Elina sambil pergi meninggalkan aku.
“apa – apaan wanita itu...? Apa salahnya jika telingaku sangat sensitif..?” Pikirku.
Elina pun melakukan apa yang aku suruh tadi, dan kini semua orang tidak ada yang tahu hubunganku dengan Elina, kecuali orang itu.
*Braakk...
Aku membuka pintu ruangan kepala sekolah.
“bu Haruna kita mulai saja ujiannya...” kata ku.
“eh... Masih ada 15 menit loh sebelum ujiannya dimulai, kau bisa belajar dengan anakku dan sedikit bermesra...” kata bu Haruna.
“langsung saja” potongku.
“cih, pria memang merepotkan... Tapi tidak apa – apa lagi pula aku akan memberitahu dunia kalau anak ku sudah bertunangan denganmu, dan pestanya...” kata bu Haruna.
“hentikan itu kau mungkin tidak peduli dengan reputasi mu tapi jika reputasi anakmu apa yang akan kau lakukan..?” ancamku sambil memutar rekaman kemarin.
“bisa tidak kau tidak memotong saat aku berbicara..?” tanya bu Haruna sambil memberi kertas ujiannya kepadaku.
*Kringg... Kringg... Kringg...
15 menit kemudian suara bel masuk telah berbunyi dan ujianya akan segera dimulai.
“mama ayo kita mulai ujiannya...” kata Elina saat baru masuk kedalam ruangan.
“selesai... Aku pulang dulu..” kata ku.
“eh kau sudah selesai...? Ujiannya baru dimulai loh..!!” kata Elina kaget.
“hah... Soal hari ini bahkan jauh lebih mudah dari yang kemarin, lagi pula aku sudah mengerjakannya 15 menit sebelum bel berbunyi, jadi ini wajar saja” jelas ku.
“tunggu... Setidaknya tolong beritahu kami bagaimana caramu belajar hingga bis sehebat ini..?” tanya bu Haruna.
“gampang kok... Beli lah sebuah pistol lalu saat kau belajar suruh seseorang untuk menodongnya kepada mu, anggaplah ini adalah situasi yang menentukan hidup dan matimu, juga tembak saja kalau dia tidak menurut” jelasku sambil menutup pintunya.
Waktuku kemarin terbuang sangat sia – sia, aku bahkan belum sempat log in kemarin. Hari ini aku harus mengganti kerugian kemarin. Aku harus segera pulang dan bermain.
__ADS_1