
Kemudian aku pun langsung berdiri, aku terus menatap mobil itu sampai akhirnya mobil itu melewati sebuah toko disamping restoran tempat kami berada. Mereka bertiga pun terkejut saat melihatku tiba – tiba berdiri, ibunya Elina pun langsung menatap ibuku.
“hei... Apa yang sedang kau lakukan..?” bisik ibuku.
“ibu... Tiba – tiba saja, aku melihat sebuah masalah” jawab ku sambil terus melihat keluar.
“masalah itu kita bicarakan nanti saja dirumah, untuk sekarang kita selesaikan ini dulu” bisik ibuku.
“tapi, masalah ini sangatlah penting... Lebih penting dari apapun juga” kata ku.
“jangan bercanda... Ayo cepat duduk, ini juga sangatlah penting” bisik ibuku sambil menarik tanganku.
“kalau begitu, bagaimana kalau aku katakan kalau masalah ini sepenting hidupku” kata ku sambil menatap ibuku.
“hah..? Apa maksud mu..?” tanya ibuku yang sekarang tidak lagi berbisik.
“seperti yang aku katakan, masalah ini sepenting hidupku... Aku harus menyelesaikannya meskipun aku juga ikut mati” jawabku dengan wajah serius.
“oh, masalah apakah itu..? Biarkan bocah – bocah itu saja yang menyelesaikannya, kau duduk saja disini” kata ibuku.
“ini adalah masalah yang sangat rahasia, hanya aku dan dia saja yang mengetahuinya” kata ku.
“dia itu siapa..?!” tanya ibuku yang mulai marah.
“dia... Sudah mati” jawabku sambil menahan emosi dan perasaanku.
Sesaat setelah aku berkata seperti itu, suasananya pun menjadi hening, Elina serta ibunya hanya menatap ku saja dari tadi.
“baiklah, aku akan segera memanggil para pengawal” kata ibuku sambil memegang handphone nya.
“tidak perlu” sahut ku.
“sudah aku bilangkan, kau tidak boleh keluar tanpa seorang pengawal” kata ibuku sambil menatap ku dengan tajam.
“percuma, itu hanya buang – buang waktu” kataku sambil menatap balik.
“ikuti saja...” teriak ibuku marah.
“kalau saja mereka berhasil kabur, aku akan mencari mereka sampai ketemu... Dan aku tidak akan mau pulang sebelum aku menemukan mereka..!!” kata ku sambil menatap ibuku.
Ibuku pun hanya terdiam saat melihat tatapanku, dia masih tidak ingin membiarkan ku pergi sendirian, namun akhirnya dia menyerah.
“baiklah... Apa yang kau butuhkan..?” tanya ibuku sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
“mobil... Berikan aku sebuah mobil” jawab ku.
“baiklah, ini kuncinya...” kata ibuku sambil memberikan kunci mobilnya.
Aku pun mengambil kunci itu, kemudian aku pun langsung berjalan keuara dari restoran itu.
“satu hal lagi..” sahut ibuku menghentikan langkahku.
“hmm..? Apa..?” tanya ku sambil melihat kearah ibuku.
“tatapan itu... Aku tidak tahu siapa yang telah menjadi korbannya, tapi jangan lakukan hal seperti itu lagi...” kata ibuku.
“itu tergantung situasinya” kata ku sambil kembali berjalan.
Aku pun langsung keluar dari restoran itu dan langsung naik kedalam mobil ibuku yang terparkir dihalaman restoran.
“maaf kan anakku” kata ibuku.
“tenang saja, hal – hal yang tidak terduga pasti selalu terjadi... Dan dari yang aku lihat dari tatapan nya itu tadi... Kita – kira sudah berapa kali dia melakukannya..?” tanya ibunya Elina.
“entahlah, yang pasti untuk mendapatkan tatapan itu, setidaknya lebih dari 3 kali” jawab ibuku.
“ibu, sebenarnya apa kalian bicarakan..?” tanya Elina kepada ibunya.
“kau lebih baik tidak mengetahuinya” jawab ibunya sambil tersenyum.
“ngomong – ngomong, kau yakin memberinya mobil mu..? Berapa kali dia naik mobil..?” tanya ibunya Elina.
“ah aku baru ingat, ini pertama kalinya dia mengendarai mobil” Jawab ibuku yang tiba – tiba berdiri.
“ini gawat..!!” teriak ibunya Elina terkejut.
*BRAAKK... suara mobil yang tertabrak.
“hmm..? Apa itu tadi..?” pikirku saat mendengar suara itu ketika aku memundurkan mobilnya.
“woy..!! Lihat – lihat kalau jalan..!!” teriak pemilik mobil itu.
“ah maaf, aku sedang buru – buru” kata ku sambil menancap gas nya.
Aku pun langsung berangkat mengejar mobil tadi, meskipun awalnya aku masih belum terbiasa, namun sekarang aku seperti seorang pembalap.
“ah... Sepertinya kita terlambat” kata ibunya Elina saat mobilku sudah berjalan cepat.
__ADS_1
“dasar anak sialan..!! Dia pergi dengan cepat dan meninggalkan masalah saja..!!” kata ibuku marah.
Akhirnya setelah beberapa saat aku mencari mobil itu, kini aku telah menemukannya. Aku memutuskan untuk mengikutinya terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan dikota ini.
Setelah sekian lama aku mengikutinya, akhirnya kini mereka mulai memasuki jalan menuju pegunungan, sebelumnya mereka berputar – putar terlebih dahulu dikota. Aku mematikan lampu mobil ku agar mereka tidak menyadari kalau aku mengikuti mereka.
Tidak berselang lama, mereka pun mulai membelokkan mobilnya kesebuah jalan kecil didalam hutan. Aku pun memarkirkan mobilku diseberang jalan itu dan memutuskan untuk mengikutinya dengan berjalan kaki.
“setidaknya ada sebuah senjata disini... Tidak mungkin ibuku keluar tanpa senjata, ah ini dia...” pikirku sambil terus mencari didalam kursi mobil.
“sebuah senjata api, granat, bom asap, sebuah katanya, dua bilah pisau dan beberapa bom molotov serta obat bius, tunggu apa ini... Sebuah dokumen..? Ibu sudah mulai pikun ya” pikirku saat melihat barang – barang yang ada didalam kursi.
Setelah itu, aku pun langsung berangkat menelusuri jejak mobil itu, aku hanya membawa bom asap, obat bius dan dua bilah pisau serta untuk berjaga – jaga, aku juga membawa sebuah pistol. Meskipun aku tidak membawa sebuah senter namun berkat sinar bulan aku jadi dapat melihat, aku pun berjalan mengikuti jalan kecil itu, sampai akhirnya aku menemukan sebuah gudang.
Aku melihat mobil yang dikendarai orang itu terparkir didepan gudang itu, beberapa orang terlihat sedang berkeliling menjaga gudang itu. Aku pun juga melihat orang itu mulai masuk kedalam gudang, namun didalam mobilnya masih ada seseorang lagi.
Kemudian aku memutuskan untuk melihat dari dekat, siapa yang berada didalam mobil itu. Namun seorang penjaga telah berhasil menemukan jejakku, dia ingin memberitahu teman – temannya namun aku berhasil menangkapnya. Aku pun berniat mengintrogasinya, dikepala nya aku menempelkan pistol ku, dia pun meletakkan senjatanya dan mengangkat tangannya, dia ketakutan.
“dengar, aku adalah orang yang kejam, sekarang nyawamu ada ditanganku... Aku akan bertanya kepadamu dan kau harus menjawabnya dengan jujur... Gelengkan kepala kalau tidak dan anggukkan kalau iya... Kau paham..?” tanya ku sambil membungkam mulutnya, dia pun mengangguk.
“apakah mereka adalah pelanggan kalian..?” tanya ku, dia pun mengangguk.
“apakah ini ilegal..?” tanya ku, sekali lagi dia pun mengangguk.
“berapa banyak rekanmu disana..? 10...?” tanya ku, dia pun menggelengkan kepalanya.
“lebih..?” tanya ku lagi, dia pun menggelengkan kepala lagi.
“baiklah, selamat malam” kata ku sambil memukul kepalanya.
Orang itu pun langsung pingsan, kemudian aku pun mulai melumpuhkan semua penjaga ditempat itu. Satu persatu telah menghilang, namun tidak ada yang menyadari hal itu, sampai akhirnya aku telah berada dibelakang mobil tadi.
“dia...!! Isumi...!! Apa yang dia lakukan bersama dengan orang itu...!!” pikirku yang terkejut.
Aku pun mulai menggunakan maskerku dan berjalan menuju pintu mobil itu.
“maafkan aku Isumi, tapi kau tidak boleh melihat hal yang selanjutnya akan terjadi” pikirku sambil mengetuk kaca pintu mobil itu.
Tanpa menaruh rasa curiga, Isumi pun langsung membuka jendela mobil itu, dengan cepat aku langsung membius Isumi dan dia pun langsung pingsan. Kemudian aku mulai naik keatas mobilnya dan duduk disana, aku pun mulai menarik nafas panjang.
*DOOORRR... suara tembakan.
Semua orang pun yang berada didalam gudang itu langsung keluar, mereka terkejut saat mendengar suara tembakan dari luar. Orang yang aku incar pun juga ikut keluar, dia sangat terkejut saat melihatku yang duduk diatas mobilnya.
__ADS_1
“yo... Sudah lama ya... Si mata satu sialan” kata ku menyapa nya.
Didalam kegelapan malam, dibawah sinar bulan, dan diatas mobil aku duduk, dengan tatapan yang tajam dari mataku, membuatnya teringat kembali, cerita tentang iblis bersaudara yang telah menghancurkan nya dalam semalam.